Kristus, Adam Terakhir Menjadi Roh Yang Menghidupkan
_oOo_
 
Seperti ada tertulis:
“Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,”
tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
[ 1 Korintus 15:45 ]
 
Di dalam ayat ini, Paulus menyebut Adam sebagai “manusia pertama” dan Kristus sebagai “Adam yang akhir (The last Adam),” “manusia kedua.” Sebutan “Adam yang akhir” dalam pemikiran Paulus memiliki aspek eskatologis, di mana Kristus dinyatakan sebagai “pembuka jalan” bagi ciptaan yang baru, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati juga yang menjadikan-Nya “Adam yang akhir.”11.
Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Grand Rapids: Eerdmans: 1997), p. 56
 
 
1 Korintus 15:21-22
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
 
 
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam akhir menjadi roh yang menghidupkan. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.22.
1 Kor. 15:45, 47, 49
Namun, ketika Paulus menyatakan Kristus sebagai Roh yang menghidupkan, apakah ia sedang memakai Perjanjian Lama khususnya Kejadian 2:7 dan Kejadian 5:3 sebagai latar belakang pemikirannya terhadap 1 Korintus 15:45? Gordon Fee, salah seorang pakar dalam bidang eksegesis, berpendapat 1 Korintus 15:45 tidak disampaikan atau disimpulkan dalam teks kitab Kejadian.33.
Gordon Fee, First Epistle to the Corinthians (NICNT; Grand Rapid: Eerdmans, 1987), p. 788.
Penulis tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut penulis, jika kita menelaah surat-surat yang ditulis oleh Paulus, kita melihat bagaimana Perjanjian Lama sangat membentuk pemikirannya, tak terkecuali dengan konsep Kristus sebagai Roh yang menghidupkan.
Di dalam Kejadian 2:7 dikatakan: “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Leonhard Goppelt melihat ayat ini menjadi sebuah penggenapan tipologi yang menunjuk kepada Kristus.
 
 
“This is not an inference that Paul makes, but something he perceives (in Gen 2:7) to be a typological fulfillment with respect to Christ.”44.
Leonhard Goppelt, Typos: The Typological Interpretation of the Old Testament in the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1982), 134.
 
 
Beberapa theolog berpendapat, perkataan Paulus di 1 Korintus 15:45 mungkin saja memakai teknik penafsiran Yahudi yang dinamakan “pesher”.55.
Pesher” maksudnya: suatu bagian Kitab Suci diberikan interpretasi yang diilhami dan diaplikasikan ke dalam situasi sekarang, dan pada umumnya berkaitan dengan eskatologi.
Dan di dalam terang Kejadian 1-5, tidak menutup kemungkinan kalau Paulus memakai teknik ini dalam menafsirkan 1 Korintus 15:45, dengan mengaitkan Kristus dengan Adam. Adam menjadi makhluk yang hidup dan Kristus, Adam yang terakhir, menjadi Roh yang menghidupkan. Dengan demikian, melalui Kejadian 2:7 kita boleh mengerti kaitan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang percaya dalam 1 Korintus 15.
 
Kristus, Adam yang terakhir menjadi Roh yang menghidupkan.
 
Di dalam terang kisah penciptaan manusia di Kejadian 2:7, Paulus mengkontraskan Adam sebelum kejatuhan dengan Kristus.
 
 
The psychical body of verse 44b is the pre fall, creation body, to which the characteristics (corruption, dishonor, weakness) of the psychical body of verse 44a do not belong. This inference is supported by Paul’s appeal in verse 45 to the creation of Adam. In fact, these two factors-the argument of verse 44b and the use of Genesis 2:7 in verse 45-together enforce the view that psychical body of verse 44b is the pre fall body.66.
Richard B. Gaffin, Jr., Resurrection and Redemption, (P&R Publishing: 1987), p. 81-82.
 
 
Maksudnya, tubuh jasmaniah yang dimaksudkan Paulus di sini bukan tubuh setelah kejatuhan, melainkan tubuh sebelum kejatuhan, sebagaimana Paulus mengkontraskan Adam yang berdosa dengan Kristus (bdk. Rm. 5:12-21). Penggunaan kisah penciptaan di Kejadian 2:7 ke dalam ayat 45 bersama-sama menguatkan pandangan bahwa tubuh jasmani dari ayat 44b bukanlah tubuh sebelum kejatuhan. Lebih dari pada itu, keduanya nampak bukan sebagai individu acak, melainkan sebagai representasi yang tidak hanya mengkontraskan tubuh yang jasmani dan rohani, tetapi juga tubuh sebelum kebangkitan dan tubuh yang dibangkitkan.
 
 
The contrast between Adam and Christ as living soul and life-giving spirit, repectively, is not only pointed but also comprehensive and exclusive. They are in view not only as individuals but primarly as heads representing and constituting the existence of others of life, two aeons, two world-periods, in a word, two creations-the one psychical and earthly, the other, pneumatic and heavenly.77.
Ibid., p. 85.
 
 
Sebagai sebuah representasi, Adam pertama menunjukkan bahwa tidak ada satu pun manusia lain yang dicipta sebelum Adam yang melaluinya seluruh umat manusia berdosa dan mengenakan tubuh yang dapat binasa ini. Dan Kristus, Adam yang akhir, menunjukkan bahwa tak ada seorangpun di antara Adam pertama dan Kristus, Adam yang akhir, yang dibangkitkan selain Kristus itu sendiri yang mana melalui kebangkitan-Nya menunjukkan dimulainya suatu konsumasi atas tubuh yang tak dapat binasa.
Melalui analogi Kristus, Adam yang akhir, dengan Adam pertama ini kita dapat memahami kontras antara alamiah-rohaniah secara tepat. Jika alamiah artinya berbagian dalam Adam pertama, maka rohaniah artinya berbagian dalam Adam kedua. Paulus menjelaskan karakteristik Adam pertama dengan beberapa penekanan. “Karena Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidupnya, maka ia menjadi makhluk yang hidup” di mana hidup yang ia terima disebut alamiah, berasal dari debu tanah, dan bersifat jasmaniah (Kej. 2:7), tubuh yang bersalutkan daging dan darah (1 Kor. 15:50), tubuh yang dapat binasa dan yang dapat mati (1 Kor. 15:53). Semua keturunan Adam berbagian dalam semuanya ini. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah (1 Kor. 15:48).88.
Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 542.
 
 
As the era of the first Adam, the psychical order is the preeschatological aeon, the incomplete, transitory, and provisional world-age. As the era of the last Adam, the pneumatic order is the eschatological aeon, the complete, definitive, and final world-age.99.
Richard B. Gaffin.Jr, Resurrection and Redemption (P&R Publishing; 1987), 83
 
 
Dikatakan di sini bahwa era Adam pertama yang bersifat jasmaniah adalah aeon pra eskatologis, tidak sempurna, fana, dan sementara. Sedangkan era Adam yang akhir yang bersifat rohaniah adalah aeon eskatologis, sempurna, pasti, dan akhir dari suatu zaman.
Sebagai antitesis Adam pertama sebagai makhluk yang hidup, Paulus menempatkan Kristus, Adam kedua dan akhir sebagai Roh yang menghidupkan. Selain itu, ia juga mengkontraskan rupa rohaniah dengan rupa alamiah yang berasal dari Adam pertama. Dari caranya mengaitkan hal rohaniah dengan Kristus, maka semakin jelaslah bahwa perbandingan alamiah-rohaniah di sini tidak memiliki arti antropologis dualisme, namun menunjukan dua modus eksistensi ragawi di mana kebangkitan Kristus menjadi titik balik.1010.
Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 543.
Paulus tidak mengatakan Kristus sebagai Roh yang hidup sebagaimana Adam dikatakan makhluk yang hidup, tetapi ia mengatakan Kristus sebagai Roh yang menghidupkan. Kristus tidak hanya memiliki Roh, tetapi Ia sendiri adalah Roh (bdk. 2 Kor. 3:17). Pernyataan ini tidak ingin menyatak an bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Kristus dan Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya bagi diri-Nya sendiri Kristus memiliki Roh, tetapi juga bagi umat-Nya demi tujuan kekal-Nya. Oleh karena itu, Paulus menyebut Kristus sebagai Roh yang memberi hidup.
 
 
The last Adam did not simply become πνεύμα but ”life-giving” πνεύμα The ”spirit” in view is not merely an existing entity but an acting subject. Paul’s use of this verb elsewhere proves decisive here, especially his sweeping assertion about the new covenant in 2 Cor 3:6: ”The Spirit gives life.” in the contrasting parallelism that stamps this passage too, few if any will dispute that ”the Spirit” (τό πνεύμα) in v.6 is ”the Spirit of the living God” just mentioned in v.3 – in other words, the Holy Spirit. Again, Rom 8:11 attributes the ”life-giving” activity of resurrection to the Spirit (cf. John 6:63). For these reasons, πνεύμα in 1 Cor 15:45 is definite and refers to the person of the Holy Spirit.1111.
Richard B. Gaffin, Jr, Life-Giving Spirit:Probing The Center of Paul’s Pneumatology, (Journal of The Evangelical Theological Society; 1998), 577-578.
 
 
Jadi, menjadi milik Kristus tidak hanya berkenaan dengan anugerah pneuma dalam hidup ini, tetapi meliputi kebangunan yang masih dinantikan seturut kebangkitan Kristus. Kebangkitan orang percaya di dalam kesatuan dengan Kristus tidak hanya bicara tentang masa yang akan datang (future), tetapi telah dimulai sekarang (present) (bdk. Rm. 6:2-6; Gal. 2:20; Ef. 2:5-6; Kol. 3:1-4). Kristus sebagai manusia kedua dan Adam yang akhir adalah Dia, di dalam kebangkitan-Nya, kehidupan baru dari ciptaan baru telah datang dan telah menjadi realitas dalam dispensasi ini.
Paulus kembali mengatakan, “tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang roh kemudian yang rohaniah.”1212.
1 Korintus 15:46
Perkataan ini bukan bicara tentang prioritas dalam pengertian antropologi umum, tetapi dengan ini Paulus ingin menolak pandangan bahwa aspek rohaniah mewakili dasar utama yang akan mendahului eksistensi alamiah, yang terpisah dan berlawanan dengannya, dan yang di dalamnya manusia tidak berbagian sampai melalui kedatangan dan kebangkitan Kristus. Paulus mengcounter pandangan ini dengan sifat sejarah penebusan dari tubuh yang diberikan dalam Kristus dan oleh kuasa Roh yang memberi hidup. Adam pertama dan kedua tidak mewakili dua prinsip dualistik di luar waktu atau modus yang saling berlawanan, tetapi berdiri dalam relasi sejarah penebusan di mana dalam pengaturan penebusan ilahi, Adam adalah “pertama” dan Kristus “kedua” atau “terakhir.”1313.
Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 545.
Oleh karena itulah Paulus tidak berkata bahwa Kristus akan mengubah tubuh kita yang hina ini serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukan segala sesuatu kepada diri-Nya. Di sini, Kristus kembali disebut sebagai Roh yang memberi hidup yang akan mengubah tubuh umat-Nya. Meski manusia pertama disebut sebagai gambar dan kemulian Allah (1 Kor. 11:7), namun ia tetap dibatasi oleh eksistensi fananya yang berasal dari debu tanah. Berlawanan dengan itu, menjadi serupa dengan tubuh kemuliaan Kristus sebagaimana dikatakan Roma 8:29, serupa dengan rupa Anak Allah, menunjukkan keberbagian dalam kemuliaan Allah dan dalam ciptaan ulang oleh Roh, yaitu mengenakan tubuh kebangkitan yang kekal dan tidak dapat binasa.
[ Mulatua Silalahi ]
 
Notes.
 
1 Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Grand Rapids: Eerdmans: 1997), p. 56
 
2 1 Kor. 15:45, 47, 49
 
3 Gordon Fee, First Epistle to the Corinthians (NICNT; Grand Rapid: Eerdmans, 1987), p. 788.
 
4 Leonhard Goppelt, Typos: The Typological Interpretation of the Old Testament in the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1982), 134.
 
5Pesher” maksudnya: suatu bagian Kitab Suci diberikan interpretasi yang diilhami dan diaplikasikan ke dalam situasi sekarang, dan pada umumnya berkaitan dengan eskatologi.
 
6 Richard B. Gaffin, Jr., Resurrection and Redemption, (P&R Publishing: 1987), p. 81-82.
 
7 Ibid., p. 85.
 
8 Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 542.
 
9 Richard B. Gaffin.Jr, Resurrection and Redemption (P&R Publishing; 1987), 83
 
10 Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 543.
 
11 Richard B. Gaffin, Jr, Life-Giving Spirit:Probing The Center of Paul’s Pneumatology, (Journal of The Evangelical Theological Society; 1998), 577-578.
 
12 1 Korintus 15:46
 
13 Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Eerdmans; 1997), 545.