DIBAYAR LUNAS
_oOo_
 
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah LUNAS DIBAYAR:
karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
[ 1 Korintus 6:20 ]
 
 
Pendahuluan.
 
Istilah “dibayar lunas” di dalam Alkitab terkait erat dengan kata “penebusan.” Kata ini terutama selalu dilekatkan pada Kristus terkait dengan apa yang sudah Dia kerjakan. Itu sebabnya, Kristus disebut sang Penebus. Kata “penebusan” ini begitu berharga dan sering diucapkan oleh orang Kristen.
Berbicara tentang Penebus, seorang teolog bernama BB Warfield, pernah mengatakan bahwa secara khusus kita seharusnya selalu mengingat nama Kristus di salib, dan setiap kali mengucapkannya, hati kita dipenuhi dengan ingatan penuh kasih dari Allah di dalam Kristus yang telah rela membayar hutang dosa-dosa kita, memberikan nyawa-Nya sendiri sehingga kita diselamatkan.
 
Berbicara masalah keselamatan, mau tidak mau kita harus berbicara juga tentang pribadi Kristus yang melalui-Nya kita memperoleh penebusan.
Tindakan penebusan Kristus menghasilkan pendamaian antara Allah Bapa dengan kita. Allah Bapa membenarkan kita, orang berdosa, melalui kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada kita sehingga melaluinya kita beroleh keselamatan. Jelas, di dalam keselamatan yang kita peroleh tidak ada sedikitpun kontribusi ataupun jasa kita di dalamnya. Itu semua semata-mata oleh karena jasa Kristus melalui karya pengorbanan-Nya di kayu salib yang dianugerahkan kepada kita.
 
Walau demikian, konsep penebusan di Alkitab yang berarti membebaskan dengan pembayaran harga tertentu seringkali disalahmengerti. Sebagian kita berpikir bahwa keselamatan itu selalu membutuhkan harga yang harus dibayar. Oleh karena itu, Allah sesungguhnya telah menjual perkenan-Nya dan akibatnya keselamatan itu sesungguhnya bukan lagi suatu anugerah. Tentu saja anggapan ini tidak bisa diterima. Alasannya, karena Yesus, Anak Tunggal Allah, menebus kita dengan nyawa-Nya sendiri yang dikorbankan demi membayar lunas hutang dosa-dosa kita kepada Allah Bapa.
 
Menurut James Montgomery Boice di dalam bukunya, “Foundations of The Christian Faith” (Diterjemahkan oleh penerbit Momentum dengan judul: Dasar-Dasar Iman Kristen), hal penting yang mendasari kata “menebus” adalah:
Pertama, keadaan asal ketika pertama kali manusia dicipta adalah tanpa dosa. Di sana manusia berada dalam persekutuan yang intim dengan Allah. Di dalam konteks ini, kita memahami penebusan dalam pengertian dibeli kembali untuk menikmati keadaan sebelumnya (asal mulanya). Hal ini sangat bertentangan dengan pandangan yang menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya ada dalam keadaaanya yang tidak sempurna, tetapi berangsur-angsur tumbuh menuju ke hal yang lebih baik. Ini juga berlawanan dengan fakta bahwa manusia yang asalnya tidak berdosa, tetapi jatuh ke dalam dosa dan tidak ada kemungkinan menyelamatkan dirinya kecuali campur tangan Allah sendiri melalui Yesus Juruselamat manusia.
Kedua, hal penting yang mendasari kata “menebus” adalah kejatuhan itu sendiri. Kita melihat adanya kesejajaran antara kejatuhan dengan perbudakan pada masa kuno. Seseorang menjadi budak dapat dikarenakan beberapa faktor, misalnya karena dilahirkan dari orang tua yang juga seorang budak, karena menjadi tawanan musuh akibat kalah perang, atau karena memiliki hutang banyak dan tidak sanggup membayarnya. Faktor penyebab seseorang menjadi budak pada masa kuno di atas tentunya mempunyai kemiripan atau kesejajaran dengan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Maka hal penting lagi menyangkut kata “menebus” adalah yang ketiga, yaitu Yesus Kristus telah membayar dan menebus kita dari dosa dengan bayaran/tebusan darah-Nya sendiri supaya kita dibebaskan dari hukuman dosa.
 
1 Korintus 6:20
 
Pada bagian sebelumnya Rasul Paulus membicarakan tentang immoralitas (asusila) yang dilakukan jemaat di Korintus, seperti: pelanggaran susila yang sangat serius (1 Korintus 5:1-3), pemakaian pengadilan kafir dalam menyelesaikan perkara hukum (1 Korintus 6:1-11), dan melakukan pelbagai bentuk percabulan (1 Korintus 6:12-18). Meski demikian, jemaat di Korintus sangat mengagungkan pengetahuan (gnosis). Tetapi celakanya, pengetahuan yang mereka peroleh dan telah memberikan mereka kebebasan itu justru mereka gunakan untuk melakukan perbuatan dosa. Mereka berhubungan dengan pelacur, ikut serta dalam penyembahan berhala, dan tidak menghiraukan segala keberatan-keberatan dari saudara-saudaranya yang lemah iman. Di dalam kondisi bobroknya jemaat di Korintus ini, Rasul Paulus memberikan penegasan kepada mereka bahwa mereka telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Oleh sebab itu, tubuh mereka seharusnya tidak lagi dicemari oleh perbuatan dosa, tetapi digunakan untuk memuliakan Allah.
Di sini, kata “dibeli” langsung merujuk pada apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan di kayu salib sekali untuk selamanya. Tuhan Yesus rela membayar lunas seluruh hutang dosa kita dengan nyawa-Nya sendiri.
 
Jika konsep “dibeli” pada tradisi kuno di mana seorang budak dapat dilepaskan dengan cara dibeli dari tuan yang memiliki dan menguasainya, maka Tuhan Yesus membeli kita dengan harga yang mahal untuk menebus dan membebaskan kita dari perbudakan dosa.
Jika di masa Perjanjian Lama umat yang berdosa harus datang kepada imam untuk menerima pengampunan dosa dengan cara membawa binatang korban untuk dipersembahkan di atas mezbah korban bakaran, tetapi di masa Perjanjian Baru tradisi ini semuanya sudah digenapi oleh Tuhan Yesus yang menjadi korban penebus dosa. Itu sebabnya, umat yang berdosa tidak perlu lagi membawa binatang korban untuk dipersembahkan, karena Tuhan Yesus telah menjadi korban pengganti melalui kematian-Nya bagi penebusan dosa sekali untuk selamanya (Ibrani 10:10).
 
Allah menebus kita bukan dengan barang yang fana, tetapi dengan darah yang mahal, yaitu darah Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh karena itulah, Rasul Paulus pada bagian ini sangat keras menentang segala perbuatan dosa susila yang telah mengikat kita dan menyengsarakan kita. Kita yang sudah ditebus dengan harga darah Tuhan Yesus sendiri harus memuliakan Allah. Tidak hanya sekedar menahan diri untuk tidak menyerahkan diri kepada dosa percabulan, tetapi dengan menyerahkan seluruh keberadaan kita bagi pelayanan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati (Roma 12:1).
Jika tubuh ini adalah milik-Nya (1 Korintus 6:19), maka adalah wajar apabila kita dituntut untuk memuliakan Dia melalui tubuh kita (1 Korintus 6:20b). Namun, aplikasi perintah ini sangat luas, bukan sekedar tubuh jasmani saja yang memuliakan Allah, tetapi seluruh keberadaan kita harus melayani Dia.
 
Dari sisi perspektif budaya Yunani, penebusan tubuh (1 Korintus 6:20a) dengan penggunaannya untuk memuliakan Tuhan (1 Korintus 6:20b) merupakan suatu yang aneh. Dualisme Yunani cenderung melihat tubuh (materi) secara negatif. Tubuh adalah penjara jiwa yang harus dijauhi. Dan keselamatan dapat diperoleh dengan keterlepasan dari tubuh.
Konsep kekristenan mengenai tubuh sangat berbeda dengan dualisme Yunani. Kekristenan memandang tubuh dan roh sama berharganya di mata Allah. Untuk itulah kita diminta untuk menjaga kekudusan tubuh kita dan mempersembahkannya untuk kemuliaan Allah.
 
Penutup.
 
Penebusan, menurut James M. Boice, membawa dua akibat.
Yang pertama, kita ditebus berarti kita telah dibebaskan dari kuasa dosa. Kita bebas, namun tidak berarti kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan, apalagi melakukan perbuatan dosa tanpa dihukum. Kita diberi kebebasan untuk menghendaki yang baik, menaati dan mengasihi Yesus karena kita bukan milik kita sendiri tetapi milik Yesus yang sudah menebus kita dengan darah-Nya yang mahal. Penebusan adalah sesuatu yang mulia. Mengingat dan merenungkan penebusan Allah seharusnya membuat kita bersyukur memuji dan memuliakan Allah kita.
 
Yang kedua, penebusan memanggil kita untuk segera membuat komitmen penuh untuk menyerahkan diri dan melayani Dia. Sebagaimana Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya demi membayar dan menebus hutang-hutang dosa kita, demikian pulalah kita berkomitmen menyerahkan diri kita untuk melayani Tuhan Yesus dengan segenap keberadaan kita. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa-dosa kita, tetapi oleh karena kasih-Nya yang besar, Dia mati bagi kita. Tiada kata yang dapat melukiskan betapa besarnya kasih Allah kepada kita. Itulah satu-satunya alasan mengapa kita harus bersungguh hati mengasihi dengan melayani-Nya.
Selamat Paskah 2013.
[ Ranto Manoto ]