Relasi Allah dan Manusia didasarkan atas Kovenan
_oOo_
 
 
Teologi Paul Tillich: “Menaklukkan Keterasingan”.
 
Paul Tillich, sama halnya dengan filsuf-filsuf eksistensial lainnya, selalu memisahkan secara mutlak antara obyek-obyek yang dapat diamati dalam alam ini dengan sesuatu yang melampaui segala yang ada. Ia kemudian memisahkan juga “esensi” dengan “eksistensi.”
Esensi adalah dasar dari eksistensi. Esensi bersifat kekal, sedangkan eksistensi bersifat sementara atau fana. Oleh karena itu bagi Tillich, Allah sebagai “Keberadaan” yang tidak dapat dipersamakan dengan keberadaan lainnya yang ada di dalam dunia ini, tidak mungkin dapat dijangkau dan dipahami oleh “ada” lainnya. Dia adalah kuasa yang ada, yaitu yang kepadanya kuasa manusia dan makhluk lainnya bersumber dan bergantung. Allah bukanlah suatu keberadaan yang berpribadi oleh karena dia adalah “ada” itu sendiri.
 
Sebagai sebuah “esensi,” Allah adalah dasar keberadaan atau sumber yang bersifat kekal dan eksistensi tidak terbatas. Berbeda halnya dengan manusia yang esensi dan eksistensinya terbatas dan bersifat sementara. Oleh karena itu, sebagai “ada,” Allah tidak mungkin dapat diketahui dan dikenal oleh manusia dan dengan demikian ia merupakan sesuatu yang asing bagi manusia. Keterasingan ini disebabkan oleh karena adanya pemutusan dari kesatuan esensi dengan Allah.
Manusia di dalam eksistensinya mengalami keterasingan dari dasar keberadaan-Nya (Allah), dari keberadaan yang lain, dan dari dirinya sendiri. Dalam keterbatasannya itu, manusia yang esensinya bersumber dari Allah dan yang eksistensinya terbatas, hanya dapat mendekati Allah dengan dua cara, yaitu: dengan overcoming estrangement dan meeting a stranger.
Pertama, overcoming estrangement (Hyper-Immanence) maksudnya adalah upaya manusia menaklukkan keterasingannya dengan cara bertemu langsung dengan Allah tanpa perantara, yaitu melalui kesadaran dari dalam diri. Namun, manusia tidak dapat memberi jawaban atas persoalan keterasingannya itu sampai ia berusaha sendiri untuk menaklukkannya. Dan untuk menaklukkannya, manusia perlu suatu pengetahuan visi atas kesadaran keterasingannya.
 
 
“If we think of God as ’the innermost center of man which is in kinship with the Deepest Reality in the Universe’;…if the concept of vision is used again and again, for our knowledge of God, we are in an ontological atmosphere.”11.
Paul Tillich, “The Two Types of Philosophy of Religion, Theology of Culture” (New York: Oxford University Press, 195).
 
 
Kedua, meeting a stranger maksudnya adalah perjumpaan manusia dengan Allah sama seperti seorang yang asing (a stranger). Allah tetap merupakan “ada” yang asing dan “tidak mungkin dapat kita kenal”. Kalaupun manusia pada akhirnya dapat berjumpa dengan Allah, hal itu adalah suatu kebetulan saja. Mereka (maksudnya Allah dan manusia) mungkin saja berteman untuk sementara, akan tetapi tidak akan pernah ada kepastian mengenai apakah Allah sebagai “orang asing” itu dapat diketahui.22.
Ibid.
 
Epistemologi Kovenan.
 
Kejatuhan, menurut Michael S Horton, memang membuat relasi Allah dengan kita seperti seorang asing (a stranger). Akan tetapi relasi itu dimungkinkan untuk dapat dijembatani bukan dengan cara “overcoming estrangement” (Hyper-Immanence), tetapi melalui perjanjian (kovenan). Artinya, relasi antara Allah dan manusia ini tidak mungkin terjembatani dengan cara “ontologi” Paul Tillich, yaitu melalui sebuah kesadaran manusia akan keterasingannya, melainkan hanya melalui kovenan.
Di dalam kovenan lah kita dapat mengenal siapa Allah dan berelasi dengan-Nya. Di dalam relasi itu kita tidak bisa memulainya dari objek-objek yang bisa diamati dan diselidiki untuk membangun kesadaran pemahaman “keberadaan” atau “being” itu sendiri, tetapi harus dimulai dari TUHAN Perjanjian. Karena di dalam Alkitab, Allah tidak dinyatakan sebagai “supreme being,” melainkan sebagai Pencipta yang secara bebas menentukan dapat tidaknya segala sesuatu berelasi dengan-Nya di dalam lingkup ciptaan.
 
 
“In the first way (‘overcoming estrangement’ or the ‘ontological’ view) man discovers himself when he discovers God; he discovers something that is identical with himself although it transcends him infinitely, something from which is estranged, but from which he never has been and never can be separated.”33.
Ibid., 10
 
“The Bible never operates with an abstract concept of God, but always describes Him as the Living of God, who enters into various relations with His creatures, relations which are idicative of several different attributs.”44.
Louis Berkhof, Sytematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1941)
 
 
Menurut Meredith Kline, kovenan adalah “a relationship under sanctions.” Oleh karenanya, kovenan seharusnya diresponi dengan penuh tanggung jawab. Implikasi dari kovenan itu sendiri adalah:
 
 
“divine “presence” and “absence” are ethical and relational rather than ontological categories.” Presence” (or nearness) is synonymous with salvation and divine favor – righteousness, sabath peace (shalom), while “absence” names the judical curse for covenant breaking (Lo-ammi, “not my people”).”55.
Michael Horton, Lord and Servant: A Covenant Christology (WJK, 2005)
 
 
Umat perjanjian dipanggil dan diperintahkan untuk taat kepada perintah Allah dan berpegang pada janji-janji-Nya. Di dalam kovenan-lah umat perjanjian memiliki relasi dengan TUHAN perjanjian.
Kehadiran Allah di tengah-tengah mereka mengkomunikasikan perintah dan janji Allah yang harus didengar dan taati. Mereka dapat mengenal Dia hanya ketika mereka mendengar Firman Tuhan yang disampaikan kepada mereka.
Pengetahuan mereka akan TUHAN Allah bukan dimulai dari kesadaran yang dibangun dalam diri, tetapi ketika mereka mendengar perkataan Tuhan melalui firman-Nya. Pendengaran atas Firman Tuhan menimbulkan iman, dan melalui Maka mereka memiliki iman, dan melalui iman itu mereka memiliki relasi dengan Allah.
 
Kovenan menjadi dasar relasi Allah dengan kita.
 
Horton pernah berkata, “God’s relation to us as a stranger, the covenant is the site where strangers meet.”66.
Michael Horton, “Meeting A Stranger: A Covenantal Epistemology,” WTJ 66 (2004).

Di dalam kejatuhan manusia di dalam dosa, relasi Allah terhadap kita menjadi sebuah relasi yang asing karena memang kita tidak akan dapat berelasi dan mengenal Dia, namun demikian kita dapat mengenal Dia sejauh Allah menyatakan diri-Nya kepada kita. Maka seperti yang Michael Horton katakan, kovenan adalah tempat di mana kita sebagai orang asing dimungkinkan berjumpa dengan Allah.
 
Peristiwa perjalanan ke Emaus menceritakan kepada kita akan perjumpaan dua orang murid Yesus dengan seorang asing, yaitu Tuhan Yesus yang sudah bangkit. Lukas mencatat, pada hari itu dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus. Ketika mereka sedang bercakap-cakap tentang berita Tuhan yang bangkit, maka datanglah Yesus mendekati mereka. Namun mereka tidak mengenal-Nya karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Mereka menganggap-Nya sebagai orang asing. Kedua murid Yesus tidak dapat mengenal Yesus yang sudah bangkit, sehingga mereka tetap ada di dalam kedukaan karena kubur Yesus yang kosong. Perjumpaan mereka dengan Yesus yang sudah bangkit tetap menjadi sebuah pertemuan yang asing bagi para murid.
Namun, ketika mereka mendengar perkataan Yesus, mereka disadarkan bahwa Yesus Tuhanlah yang datang kepada mereka. Hanya melalui Allah yang datang kepada kita lah sebagaimana yang terjadi di Emaus itu, “meeting a stranger” itu terjadi. Bukan kita yang mencari Allah sekalipun kita tidak mengenal Dia, tetapi Allahlah yang mencari kita. “...Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” (Lukas 24:18-19). Bagi mereka, peristiwa kubur kosong bukanlah tanda dari Kristus Tuhan yang sudah bangkit dan hidup. Bukan tanda Dia telah mengalahkan kematian, tetapi hanya ketiadaan belaka, tanpa sebuah jejak. Para murid tidak mengingat janji Tuhan kepada mereka bahwa pada hari ketiga setelah peristiwa kematian-Nya, Yesus akan bangkit. Yesus datang kepada mereka, akan tetapi mereka tidak mengenal “orang asing” di perjalanan ke Emaus itu sebagai Yesus yang sudah bangkit. Itu sebabnya Yesus menegur mereka dan berkata, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemulian-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” (Lukas 24:25-27).
 
Maka sesudah Yesus menerangkan Kitab Suci kepada mereka, Dia mengadakan perjamuan. Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Dia lenyap dari tengah-tengah mereka. Horton berkata, “In word and sacrament they had met a Stranger.” Melalui kitab Suci dan Sakramen mereka mengenal orang asing itu (a stranger) sebagai Yesus Tuhan yang sudah bangkit.
Sakramen mengingatkan kita akan kovenan yang Yesus nyatakan kepada para murid. Di dalam kovenan itulah memungkinkan kita bertemu dengan Allah dan memiliki relasi dengan Dia. Maka persoalan alieanasi antara Allah dan manusia hanya dapat dipertemukan melalui kovenan. Di dalam kovenan ada berita Firman Tuhan yang dibukakan kepada mereka. Melaluinya mereka disadarkan akan Tuhan Allah yang hadir di tengah mereka dan mereka beroleh pengetahuan akan Allah. Allah sudah menyatakan perjanjian-Nya kepada kita melalui Kristus Tuhan dan Dia adalah Allah yang hadir di tengah umat-Nya, sehingga memungkinkan kita mengenal Dia. Namun demikian kita tidak mungkin menjadikan kehadiran-Nya menjadi “Hyper-Immanence” karena tetap Dia adalah Allah yang transenden.
 
Menyambut peristiwa Paskah, marilah kita mengingat perjanjian-Nya (kovenan-Nya). Kristus sudah mati dan bangkit dan melalui-Nya kita orang berdosa beroleh keselamatan. Kita boleh memiliki relasi dengan Dia serta mengenal-Nya sebagai Pencipta dan Penebus kita. Hal-hal yang tidak kita pahami tentang Kristus Tuhan kita sepatutnya membawa kita kepada kekaguman kepada-Nya yang sudah mati dan bangkit bagi kita.
Lalu bagaimana dengan mereka yang belum memiliki relasi itu? Bagaimana mereka dapat percaya akan Kristus Tuhan Allah yang sudah bangkit, jikalau tidak ada yang memberitakannya? Bagaimanakah mereka dapat mengenal Dia sebagai Tuhan Allah jikalau tidak ada yang memberitakan Injil?
Biarlah berita Paskah menjadi berita Injil yang tetap diberitakan sehingga manusia berdosa boleh menerima keselamatan. Dan di dalam Kristus manusia berdosa boleh memiliki relasi dengan Tuhan Allah, bukan lagi sebuah relasi yang asing melainkan sebuah relasi yang benar dihadapan-Nya.
Selamat Paskah 2013.
[ Mulatua ]
 
 
Notes.
 
1
Paul Tillich, “The Two Types of Philosophy of Religion, Theology of Culture” (New York: Oxford University Press, 195).
 
2
Ibid.
 
3
Ibid., 10.
 
4
Louis Berkhof, Sytematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1941).
 
5
Michael Horton, Lord and Servant: A Covenant Christology (WJK, 2005).
 
6
Michael Horton, “Meeting A Stranger: A Covenantal Epistemology,” WTJ 66 (2004).