Renungan di balik Lagu
“Tercurah Darah Tuhanku”
_oOo_
 
Tercurah darah Tuhanku di bukit Golgota;
yang mau bertobat ditebus, terhapus dosanya,
terhapus dosanya, terhapus dosanya,
yang mau bertobat ditebus, terhapus dosanya.
 
William Cowper,
English poet and hymnodist, Britania Raya, 1731 – 1800.
 
Pendahuluan
 
Syair di atas merupakan terjemahan dari lagu yang judul aslinya adalah There is a Fountain, yang ditulis oleh William Cowper (1731-1800). Adalah suatu hal yang menakjubkan apabila seseorang yang memiliki kelemahan dan kisah hidup seperti Cowper ini bisa menulis lagu indah seperti ini. Penulis mengajak pembaca untuk mengetahui secara sekilas kisah hidup pencipta lagu ini dan latar belakang terciptanya lagu ini. Di sini kita bisa melihat bagaimana Tuhan dapat memakai siapa saja untuk pekerjaan-Nya, apakah itu melalui sebuah lagu dan lain sebagainya. Lagu yang diciptakan Cowper ini memiliki kekuatan yang dapat dipakai untuk menyemangati orang-orang percaya dalam merenungkan karya Kristus yang sudah mencurahkan darahnya di kayu salib. Lagu ini sampai sekarang terus dinyanyikan oleh gereja dan tidak lekang oleh waktu.
 
Latar Belakang.
 
William Cowper lahir pada tahun 1731 di dalam suatu keluarga yang cukup berada di Inggris. Ayahnya seorang pendeta berkedudukan tinggi di gereja Inggris. William Cowper adalah seorang anak pendiam dan pemalu. Ia lebih akrab dengan ibunya. Sayang sekali ibunya yang tercinta meninggal pada waktu ia berumur enam tahun. Pengasuhnya, secara polos, menghibur anak kecil itu dengan berbohong: “Jangan menangis, ‘nak, Ibumu akan kembali lagi besok.” Tetapi ibunya tidak pernah kembali lagi.

William kemudian bersekolah dan harus tinggal di sebuah asrama. Pada umur delapan tahun oleh karena kelemahan mata William tidak boleh bersekolah lagi. Bahkan selama dua tahun ia pun dilarang membaca. Kemudian ia dimasukkan pada sebuah sekolah yang lebih cocok baginya dan mendapat pendidikan yang lebih baik. Bertahun-tahun kemudian atas anjuran keluarganya ia belajar ilmu hukum, hal yang ia sendiri sesungguhnya kurang berminat. Bertahun-tahun lamanya ia hidup berfoya-foya dengan kawan-kawan sebayanya di London. Kadang kala ia belajar. Ada kalanya ia mengerjakan profesi ahli hukumnya dan menulis untuk surat kabar atau majalah. Ada kalanya pula ia bermalas- malasan saja.
 
Ia kemudian melamar saudara sepupunya yang cantik. Tetapi ayah pemudi itu tidak menolak lamarannya, oleh karena penghasilan pemuda itu yang sedikit sekali dan kehidupannya masih belum menentu. Beberapa lama kemudian ia mendapat kesempatan untuk menjadi seorang ahli hukum Parlemen Inggris, hal yang memberi harapan baru. Untuk memanfaatkan kesempatan itu ia harus lulus ujian. Ketakutan akan ujian itu menyebabkan William Cowper menjadi sungguh gila. Empat kali ia berusaha bunuh diri. Selama satu setengah tahun ia harus hidup terkurung dalam rumah sakit jiwa.
“Bedlam” adalah sebuah istilah bahasa Inggris yang sesungguhnya kurang begitu mulia, karena artinya adalah tempat pengurungan orang sakit jiwa. Namun, beberapa waktu kemudian, William Cowper dengan terus terang menggambarkan dirinya sendiri sebagai “seorang yang bertobat di Bedlam.”
Sejak kecil ia telah diajarkan tentang isi Alkitab, akan tetapi rupa-rupanya bagi dia itu hanya suatu tradisi biasa saja. Kini, saat ia masih dirawat di rumah sakit jiwa, ia baru sungguh-sungguh mengalami pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Tidak lama kemudian, ia pun diizinkan pulang dari tempat perawatan itu.
 
Syukurlah ada seorang kawannya yang mengundang William Cowper ke rumahnya. Bapak dan ibu dari kawannya itu sangat baik hati terhadap Cowper yang sudah terlalu banyak menderita sengsara batin itu. Selama tigapuluh tahun lebih William Cowper tetap tinggal serumah dengan keluarga yang ramah itu. Oleh seorang pendeta setempat, yang bernama John Newton, keluarga itu kemudian diajak pindah ke sebuah desa kecil.
Pendeta Newton menolong mereka mendapatkan sebuah rumah yang dekat rumahnya sendiri. Bahkan halaman belakang dari kedua rumah itu kemudian dihubungkan sedemikian rupa. Di situ, dalam suatu tempat yang agak terlindung dari dunia luar, pendeta Newton menolong dan membimbing William Cowper. Mula-mula mereka bekerja sama dalam pekerjaan-pekerjaan biasa seperti bercocok tanam, memelihara burung, marmot, dan kelinci, dan juga menjalankan sebuah mesin cetak kecil. Dengan persahabatan yang bertumbuh dan kesehatan yang semakin baik, William Cowper lalu bersedia menerima tanggung jawab yang lebih besar. Pendeta Newton menunjuk dia menjadi semacam pendeta pembantu tak resmi.
 
William Cowper senang mengunjungi dan menghibur orang yang sakit dan sedih. Ia menyalurkan bantuan sosial kepada orang miskin. Ia memimpin jam doa di gereja. Atas dorongan pendeta Newton, ia pun mengarang nyanyian pujian. Sejak kecil ia memang telah gemar akan puisi, akan tetapi baru sekarang ini ia mulai memakai talentanya dengan membuat syair rohani dengan menuliskan, salah satunya, syair lagu ini pada sekitar tahun 1771-1772. Pendeta Newton sendiri juga gemar membuat lagu rohani. Ia mengusulkan agar mereka berdua menerbitkan sebuah buku berisikan hasil karya mereka.
 
Selama beberapa tahun, proyek itu berjalan dengan baik. Lalu pada tahun 1773, penyakit jiwa William Cowper kambuh lagi. Baik kawan-kawan serumahnya maupun gembala sidangnya berusaha menolong dia sehingga lambat laun ia pulih kembali, tetapi ia tidak lagi berusaha menciptakan syair lagu pujian. Terpaksa pendeta Newton bekerja sendiri dalam menyempurnakan apa yang masih kurang pada buku mereka. Akhirnya koleksi nyanyian pujian itu diterbitkan pada tahun 1779.
 
Beberapa tahun kemudian William Cowper mulai menggubah lagi, tetapi bukan lagu. Ia menulis banyak syair, termasuk beberapa komposisi yang panjang sekali, hal yang sempat menempatkannya pada baris depan penyair Inggris. Namun penyakit jiwa masih tetap membayangi dia, khususnya menjelang ajalnya. Sahabatnya dan saudaranya meninggal, satu persatu. Pada saat William Cowper sendiri meninggal yaitu tahun 1800, ia kembali merasa diliputi oleh kesepian, dan putus asa.
 
Pembahasan.
 
Sungguh ajaib pekerjaan Tuhan berkarya dalam hidup William Cowper. Di dalam kondisi sakit jiwa Tuhan memakai William Cowper menulis sebuah lagu yang agung, yang dapat membangun orang untuk percaya dan hidup bagi Kristus. Syair lagu ini menggambarkan penggenapan rencana Tuhan dalam rangkaian penebusan umat percaya dan jaminan keselamatan bagi mereka. Darah Kristus yang tercurah, sebagaimana ditulisnya itu telah dinubuatkan dalam kitab Zakharia 13:1, “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” Suatu “sumber” yang dimaksud ini menunjuk pada penyucian dosa yang disebabkan oleh kematian Kristus pada kayu salib. Umat Israel akan disucikan dari dosa dengan cara yang sama dengan semua orang yang percaya kepada Kristus. Bandingkan juga dengan 1 Yohanes 1:7, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa.”

Dalam hal ini terlihatlah adanya benang merah yang diungkapkan dalam Zakharia dan kitab 1 Yohanes ini. Hidup di dalam terang berarti hidup di dalam kebenaran Allah sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya serta berusaha sungguh-sungguh dan terus-menerus, oleh kasih karunia-Nya, untuk mentaati Firman itu dalam segenap perkataan dan tindakan kita.
“Darah Yesus, Anak-Nya, itu menyucikan kita daripada segala dosa” menunjuk pada pekerjaan pengudusan yang berkesinambungan di dalam hidup orang percaya. Pembersihan berkesinambungan inilah hal yang memungkinkan kita memiliki persekutuan intim dengan Allah. Dalam, hal ini, penghapusan dosa manusia oleh darah Kristus menggambarkan adanya jaminan bagi kita sebagai orang berdosa untuk dapat kembali memiliki persekutuan intim dengan Allah, hal yang dahulu sudah rusak tetapi sekarang telah dipulihkan kembali oleh karya penebusan Kristus. Dalam 1 Yohanes 1:9 dikatakan: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Dalam ayat ini, kita harus mengakui dosa kita dan memohon pengampunan dan penyucian dari Allah. Dengan mengakuinya, kita akan mendapatkan dua hal: pertama, pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah; serta kedua, penyucian dari dosa dan pembinasaan kuasa dosa agar kita dapat hidup kudus. Pengakuan dosa kita di hadapan Allah menggambarkan kedewasaan rohani kita yang harus secara terus menerus dimurnikan dan disucikan agar layak mengerjakan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita.
 
Kesimpulan.
 
Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menggenapkan rencana-Nya dan dapat melalui wadah apa saja demi mengingatkan umat-Nya untuk terus mengerjakan pekerjaan yang telah Tuhan persiapkan sebelumnya. Lewat William Cowper, seorang yang mengalami sakit jiwa, kebenaran Firman Tuhan dapat diberitakan. Penebusan Kristus dengan mencurahkan darah-Nya di bukit Golgota merupakan penggenapan rencana Allah yang agung. Umat yang telah Tuhan pilih dari kekekalan pastilah akan merespon dengan mengaku dosa dan dengan demikian beroleh penyucian agar beroleh persekutuan yang intim dengan Allah yang hidup, empunya hidup kita, umat tebusan-Nya.
 
Penutup.
 
Sebagaimana halnya Tuhan telah memakai William Cowper, demikianlah ia dapat memakai kita untuk menjalankan rencana-Nya melalui kehidupan kita dalam segala situasi apakah itu senang, susah, sedih dan ketika banyak pergumulan. Dalam segala keadaan itu pekerjaan Tuhan seharusnya tetap dapat dikerjakan. Sudah selayaknya, kita sebagai umat tebusan-Nya, mau dipakai oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan yang baik, yang sudah Tuhan persiapkan buat kita. Tuhan sudah mencurahkan darah-Nya di kayu salib, sebagai persembahan yang kudus, tak bercacat, agar dapat menyucikan kita dari perbuatan yang sia-sia, sehingga kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Mari, dalam rangkaian memperingati Paskah ini, kita terus mau disucikan dan dipakai oleh Tuhan, dan memberikan diri, menjadi persembahan yang harum di mata Tuhan, yang telah menebus kita. Selama hari masih siang, selama anugerah pelayanan itu masih Tuhan berikan kepada kita, lakukanlah itu, baik atau tidak baik kondisi kita. Lakukanlah itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Biarlah setiap kita meninggikan nama Tuhan dari apa yang kita kerjakan dalam hidup kita karena hidup kita bukan milik kita sendiri, tetapi milik Tuhan, yang sudah menebus kita dari maut yang mengancam akibat dosa. Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang Maha Tinggi. Soli Deo Gloria.
Selamat Paskah 2013.
[ Deby Adelina ]