Anugerah Keselamatan Bagi Umat Pilihan Allah
_oOo_
 
Kita sebagai orang Kristen seringkali mendengar banyak pertanyaan yang dapat menimbulkan keraguan atau bahkan perdebatan terutama seputar masalah keselamatan dan hidup kekal. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul antara lain: Apakah keselamatan yang kita terima bisa hilang? Bagaimana keselamatan itu bisa diperoleh?
Adakah kerja sama antara manusia dengan Allah dalam keselamatan manusia? Apakah Allah menyelamatkan manusia karena Allah tahu bahwa pada akhirnya manusia akan taat kepada-Nya dan diselamatkan? Ataukah keselamatan seluruhnya ada di tangan Allah? Apakah Allah berkuasa penuh seturut kedaulatan dan kehendak-Nya?
Bagaimana dengan Adam dan Hawa jatuh dalam dosa? Jika pada mulanya Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk menggenapi rencana-Nya, mengapa Allah membiarkan Adam dan Hawa jatuh dalam dosa? Mengapa ada yang dipilih dan ada yang tidak dipilih? Adilkah Allah?
 
 
KEJADIAN 1:26-27
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
 
 
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang unik, berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia dapat melakukan banyak hal yang makhluk lain tak bisa lakukan. Manusia bisa tertawa, berbicara, berpikir logis. Manusia juga bersejarah dan berkebudayaan.
Alkitab mencatat, bahwa manusia diciptakan Allah pada hari terakhir. Artinya, Allah menginginkan manusia menjadi mahkota ciptaan yang memiliki kehormatan tertinggi melebihi ciptaan lain. Maksudnya, manusia diberikan hak istimewa untuk menikmati segala sesuatu yang sebelumnya diciptakan, seperti tumbuhan, hewan, matahari, bintang, dan lain sebagainya.
 
Selain itu Alkitab juga mencatat bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, di samping diberikan keunikan tertentu sebagai mahkota ciptaan, hidup manusia hanya bersumber dari Allah, sang sumber kehidupan, sehingga tujuan manusia hidup adalah untuk Allah sendiri. Allah yang adalah sumber dari segala sumber kehidupan seharusnya menjadi teladan manusia.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Manusia yang dicipta tidak hidup bersandar kepada sumber dari segala sumber hidup. Tujuan hidup manusia untuk bertumbuh semakin serupa dengan Allah telah digeser sedemikian rupa menjadi hidup yang bersandar pada diri. Puncaknya, manusia justru menginginkan dirinya sendiri menjadi “tuhan” atas seluruh kehidupannya.
 
 
KEJADIAN 2:16-17
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah engkau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, partilah engkau mati.”
 
 
Kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa berdampak pada rusaknya seluruh tatanan kehidupan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Manusia pertama, Adam dan Hawa, sebelum memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu, mereka mengira detik saat memakannya, mereka akan menjadi seperti Allah, mampu mengetahui apa yang baik dan yang jahat. Namun dugaan itu salah. Tindakan yang mereka lakukan sesungguhnya adalah tindakan yang mengacaukan pengertian di balik perkataan “mengetahui apa yang baik dan yang jahat.” Pengertian itu ditafsirkan bukan seturut dengan standar Allah yang sempurna, melainkan dengan standar mereka sendiri yang terbatas.
Itu sebabnya, sejak jatuh ke dalam dosa, manusia berusaha dengan pengertian dan kekuatannya sendiri datang kepada Allah. Mereka menciptakan jalan sendiri, yaitu melalui agama. Inti dari agama adalah usaha manusia dengan kekuatannya sendiri mencari Allah.
Namun pertanyaannya, Apakah agama mampu menyelesaikan masalah dosa manusia? Jika mampu, agama yang mana? Semua agama akan mengklaim ajarannya adalah yang paling benar. Oleh karena semua mengklaim yang paling benar, akibatnya kebenaran dianggap tidak ada yang bersifat mutlak dan absolut. Kebenaran diturunkan derajatnya menjadi kebenaran yang bersifat relatif. Artinya, segala sesuatu dianggap sebuah kebenaran tergantung tiap-tiap individu menilainya. Seseorang tidak berhak mengklaim penilaiannya sebagai sebuah kebenaran. Kita dengan tegas menolak kebenaran relatif. Kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang mutlak karena ia berasal dari sumber dari segala sumber kebenaran, yakni Allah sendiri. Oleh karenanya, manusia harus kembali pada kebenaran yang sejati.
 
Kita mungkin bertanya, mengapa Allah yang sudah menciptakan seluruh isi bumi ini dengan baik, tetapi seolah-olah dibiarkan rusak oleh karena manusia jatuh dalam dosa? Mengapa Allah tak membuat manusia selalu menaati perintah-Nya sehingga ia tidak jatuh?
Penjelasannya sebagai berikut: Sebagai satu-satunya makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia tidak dicipta untuk menjadi seperti robot. Allah mengaruniakan kepada manusia kehendak bebas. Di dalam bukunya yang berjudul, Election and Free Will, Robert A. Peterson berpendapat bahwa ketika manusia diciptakan, ia diberikan dua kebebasan, yakni: kebebasan yang sejati dan kebebasan untuk memilih.
Kebebasan untuk memilih adalah kemampuan manusia untuk melakukan apa ia inginkan serta membuat pilihan berdasarkan apa yang ia kehendaki. Namun, kebebasan sejati tidak dimiliki oleh manusia pertama, Adam dan Hawa, karena mereka lebih percaya kepada tipuan iblis, ingin menjadi seperti Allah. Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang oleh Allah. Akibatnya, relasi yang indah antara manusia dengan Allah dan dengan manusia lainnya menjadi rusak. Meski manusia masih diberikan kemampuan untuk memilih, akibat dosa ia hanya bisa memilih yang jahat dan cemar.
Manusia pertama yang adalah wakil (representative) dari seluruh umat manusia telah jatuh ke dalam dosa, sehingga semua keturunannya, termasuk kita, ikut terkontaminasi oleh dosa.
 
Sebenarnya Adam bukan terjatuh, melainkan ia melompat sendiri ke dalam lubang dosa. Awalnya Allah sudah memperingatkannya, tetapi Adam tidak taat. Adam lebih memilih melanggar perintah Allah.
Sama halnya dengan kita. Kita tidak pernah mempunyai keinginan mencari Allah. Dalam realita keberdosaan kita, kita merasa bebas dengan kecenderungan hidup terus menerus dalam dosa tanpa memiliki keinginan untuk keluar dari lubang dosa.
 
 
ROMA 3:11
Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
 
 
Orang berdosa tidak memiliki keinginan atau bahkan kemampuan untuk mengerti dan mencari Allah. Yang ada dalam diri manusia adalah terus melakukan dosa. Manusia melawan Allah dan manusia ingin menjadi seperti Allah. Dosa bukan saja menyentuh aspek permukaan saja, tetapi seluruh aspek hidup kita. Walaupun manusia masih tetap dapat berbuat baik, tetapi kebaikan yang dilakukannya itu bukan kebaikan sejati menurut standar Allah.
Tidak ada kebaikan sejati yang dapat dihasilkan oleh manusia berdosa. Manusia berdosa telah mati di dalam dosa dan dimurkai oleh Allah. Ketaatannya bukan kepada Allah, tetapi kepada penguasa kerajaan angkasa (Efesus 2:2).
 
Sekarang kita mengerti, tidak ada kebaikan sedikitpun yang dimiliki manusia untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman dosa. Keselamatan manusia ada di dalam kedaulatan Allah. Allah telah menentukan dari semula dan memutuskan untuk mengintervensi kehidupan sejumlah orang tertentu dan membawa mereka kepada iman keselamatan. Tetapi Allah juga memilih untuk tidak berbuat hal yang sama kepada sejumlah orang lainnya.
Pemilihan Allah tidak berdasar pada pengetahuan Allah akan keputusan apa yang akan manusia ambil pada akhirnya, tetapi berdasar pada kedaulatan-Nya yang mutlak. Allah memilih sebagian orang pilihan-Nya untuk memperoleh keselamatan, dan sebagian orang non-pilihan-Nya untuk dimurkai. Dan bahkan Allah sudah memilih orang pilihan-Nya itu sebelum mereka dilahirkan.
 
Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita yakin akan keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita? Ataukah kita lebih memilih untuk hidup di dalam dosa yang mendatangkan murka dari Allah? Berikut ini beberapa ciri dari orang yang sudah diselamatkan:
 
  1. Menghasilkan kerendahan hati yang tulus. Apabila kita yakin sepenuhnya akan keselamatan kita, tidak hanya diperkataan mulut saja, kita harus melihat diri apakah kita benar-benar menyadari status kita sebagai orang berdosa dan tanpa anugerah Allah kita tidak mungkin diselamatkan? Ketika kita menyadarinya, maka tidak ada kesombongan diri kita. Kalau Tuhan memberikan anugerah untuk mendapat pengajaran yang baik, janganlah kita menjadi sombong dan menganggap mereka yang baru mengenal Tuhan rohaninya lebih rendah dari kita. Sikap seperti itu sama sekali tidak benar dan tidak menunjukkan seseorang yang telah mengalami anugerah keselamatan.
     
  2. Memimpin pada ketekunan dalam kesucian. Keselamatan di dalam Tuhan membawa seseorang memiliki tekad untuk hidup dalam ketekunan dan kesucian sebagaimana yang Tuhan kehendaki.
     
  3. Mengevaluasi kehidupan dengan jujur. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mau menerima evaluasi kehidupan dengan hati yang tulus. Memang ini sesuatu yang tidak mudah, apalagi jika kita adalah orang terpandang di gereja yang sering berkhotbah kepada orang lain. Tetapi apakah benar kita sudah menjalani seluruh hidup kita dengan benar dan berkenan kepada Tuhan? Untuk terus bertumbuh di dalam Tuhan, kita perlu terus melakukan evaluasi kehidupan kita dengan jujur.
     
  4. Semakin rindu memiliki persekutuan yang intim dengan Allah. Seorang yang sudah lahir baru dan menerima keselamatan tidak semata-mata ditentukan dengan seberapa aktif ia mengikuti kegiatan-kegiatan rohani di gereja. Walapun ini mungkin saja bisa jadi buah dari orang yang sudah diselamatkan, tetapi lebih dari itu Tuhan inginkan suatu persekutuan yang intim dengan Dia. Sebagaimana dikisahkan dalam tokoh Maria dan Martha di Alkitab, Tuhan menegur Martha yang begitu disibukkan dengan urusan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan-Nya. Tuhan Yesus lebih senang dengan yang dilakukan Maria yang duduk diam di bawah kaki Tuhan sambil mendengarkan Firman yang disampaikan. Tuhan ingin, kita lebih mengutamakan Dia dari segala-galanya.
 
Kita bersyukur kepada Tuhan kalau kita adalah orang yang sudah di selamatkan. Kita tidak perlu merasa ragu dengan keselamatan yang kita peroleh itu bisa hilang, karena Allah sendirilah yang menganugerahkannya.
Allah sudah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Allah sendiri yang akan terus memimpin hidup kita meskipun kita masih hidup di dalam dunia dan kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, akan tetapi kita tidak akan terpuruk. Ketika kita jatuh, Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit dan tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Ketekunan kita dalam hidup ini semata-mata karena Tuhan sendiri yang telah bertekun dalam hidup kita.
Selamat Paskah 2013.
[ Eva Paula ]