Raja Yang Dinantikan
_oOo_
 
Allah Membangun Kerajaan-Nya
 
Di dalam kitab Kejadian pasal 1, story Alkitab dimulai dengan kisah penciptaan di mana Allah menciptakan dunia ini dengan segala isinya melalui kuasa firman-Nya. Kisah penciptaan (the story of creation) menyatakan Allah, sang Pencipta itu, sedang membangun kerajaan-Nya. Taman Eden merupakan manifestasi dari kerajaan yang Allah dirikan. Di tempat itu Allah menyatakan diri-Nya sebagai raja yang memerintah dan berkuasa penuh atas seluruh ciptaan. Secara khusus Allah membangun relasi dengan manusia yang diciptakan dengan sangat unik, yaitu dicipta menurut gambar dan rupa-Nya. Relasi yang terbangun antara Allah dan manusia jelas bukan relasi yang bersifat setara. Terdapat perbedaan kualitatif yang nyata antara Allah sebagai Pencipta dengan manusia sebagai yang dicipta. Antara Allah yang kekal dengan manusia yang fana. Relasi antara raja yang berkuasa penuh dengan umat yang dikuasai. Dengan demikian, sebagai Raja, Allah berhak memberi perintah kepada manusia (Kej. 1:28). Itulah sebabnya Dia layak menerima segala kemuliaan, hormat, dan kuasa dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
 
Pemberontakan di dalam kerajaan-Nya.
 
Alkitab mencatat bahwa manusia dipanggil untuk “meng-edenkan“ bumi sehingga wilayah kerajaan-Nya semakin meluas. Allah ingin bumi ini penuh dengan gambar Allah (image of God) sebagaimana tercatat dalam Kejadian 1:28: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.“ Richard L Pratt di dalam bukunya, Design for Dignity, menafsirkan perintah ”beranak cucu dan bertambah banyak“ di sini memiliki pengertian pelipatgandaan gambar Allah (multiplying God’s image) hingga memenuhi seluruh bumi.
Namun, kisah Alkitab mencapai titik antiklimaks tatkala kisah itu diinterupsi oleh kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 3). Di tengah panggilan mulia yang Allah suarakan, manusia justru memberontak kepada Allah. Manusia ingin melepaskan diri dari kebergantungannya terhadap Allah. Manusia ingin otonomi, bebas dari Allah. Manusia tidak lagi menjadikan Allah sebagai raja yang memerintah dan berdaulat atas hidup mereka. Manusia ingin menjadi ”raja“ atas dirinya sendiri di dalam ketidaktaatan terhadap kehendak Allah. Konsekuensi dari ketidaktaaan itu, mereka terusir dari Eden (Kej. 3:23). Kisah ini menginsyaratkan telah terputusnya relasi yang indah antara Allah dan manusia.
Kisahnya kembali berlanjut ketika Alkitab mencatat bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa itu berusaha membangun kembali kerajaannya. Di dalam Kejadian 4:17 dikisahkan tentang Kain, anak Adam dan Hawa, mendirikan sebuah kota yang ia beri nama Henokh. Kota yang didirikan ini dimengerti sebagai manifestasi dari kerajaan yang dibangun oleh manusia. Dengan demikian, di sini terbentuk dua kerajaan atau dua kota yang berantitesis, yaitu kerajaan Allah (kingdom of God) yang dibangun oleh Allah dan kerajaan manusia (kingdom of man) yang dibangun oleh manusia; kota Allah (city of God) dan kota manusia (city of man).
Kedua kerajaan ini, kerajaan Allah dan kerajaan manusia, akan terus berantitesis di sepanjang sejarah sebagaimana yang sudah Alkitab nyatakan bahwa akan ada permusuhan antara keturunan perempuan itu dan keturunan ular (Kej. 3:15). Oleh karenanya, di dalam sejarah penebusan yang begitu panjang, umat pilihan Tuhan menantikan kedatangan seorang raja dari keturunan perempuan itu yang kelak akan datang untuk menyatakan kerajaan-Nya serta membawa umat tebusan-Nya kembali kepada-Nya. Raja yang akan datang itu kelak akan menaklukkan dan menghancurkan si ular, nenek moyang kerajaan setan. Itulah janji yang dinantikan umat pilihan Tuhan di sepanjang sejarah.
 
Israel Dipilih Sebagai Jalan Datangnya Kerajaan Allah Ke Dunia.
 
Antisipasi akan datangnya kerajaan Allah dan raja yang kekal ke dalam dunia dimulai dari pemilihan Allah atas suatu garis keturunan. Garis keturunan itu dimulai dari satu pribadi, Abraham, yang dipanggil untuk mewarisi janji Allah. Fokus cerita Alkitab kemudian beralih dari satu pribadi, Abraham, kepada satu keluarga, yaitu keluarga Yakub dengan kedua belas anaknya yang kelak menjadi tunas dari dua belas suku Israel. Allah memakai keluarga ini menjadi agen (channel) atas datangnya berkat yang dijanjikan kepada Abraham.
Bangsa Israel dipanggil menjadi umat perjanjian Allah untuk beribadah dan melayani-Nya sebagai raja yang hadir di tengah-tengah umat-Nya. Kehadiran Allah di tengah umat-Nya menyatakan kehadiran kerajaan-Nya yang termanifestasi dalam bentuk sebuah mezbah di zaman Musa dan kemudian secara progresif menjadi bait suci di masa pemerintahan Salomo. Richard L. Pratt dengan tepat mengatakan bahwa tanah Kanaan, takhta Yerusalem dan bait suci merupakan bayang-bayang (foreshadow) dari suatu dunia baru yang diperkenalkan oleh Kristus. Dunia baru itu kelak akan menuju kepada kota sorgawi (Why. 21:1-4) dan pemerintahan kekal Kristus atas sorga dan bumi baru (Yes. 9:6).
Akan tetapi, Israel di dalam sejarah gagal melihat Allah sebagai raja yang sudah menebus, memimpin, dan berdiam di tengah mereka. Di kitab Hakim-Hakim 21:25 dicatat bagaimana Israel mengalami kekacauan (chaos) oleh karena di zaman itu mereka tidak memiliki seorang raja. Kondisi ini membuat umat Allah melakukan sesuatu yang benar menurut pandangannya sendiri. Tidak ada pemimpin dan hukum yang mengarahkan setiap tindakan mereka. Di tengah kekacauan ini, benarkah mereka membutuhkan raja? Tentu saja mereka memerlukan raja. Tetapi umat Allah tidak sadar bahwa sebenarnya mereka memiliki seorang raja yang melampaui raja-raja yang dimiliki bangsa lain. Mereka memiliki raja, Tuhan Allah sendiri, yang sudah mengikat perjanjian dengan mereka. Pemerintahan Allah secara langsung atas umat-Nya inilah yang sebenarnya membedakan Israel dengan bangsa-bangsa lain.
Keistimewaan sistem teokrasi yang Tuhan Allah berikan kepada bangsa Israel tidak membuat mereka bersyukur. Mereka justru meminta seorang raja manusia, sama seperti bangsa-bangsa lain, yang secara langsung memimpin dan melindungi mereka. Permintaan ini susungguhnya merupakan bentuk dari penolakan mereka atas pemerintahan Allah (1 Sam. 8:7). Bangsa Israel tidak lagi memiliki keinginan untuk hidup lebih taat sebagai umat perjanjian untuk menjadi terang dan membawa berkat bagi bangsa-bangsa lain. Walau demikian, Allah Israel adalah Allah yang setia atas perjanjian-Nya. Kerajaan-Nya akan tetap ditegakkan melalui Israel atas seluruh bumi. Dia menegakkan suatu perjanjian dengan Daud yang diurapinya sebagai raja atas Israel (1 Sam. 16:13). Di dalam perjanjian itu Allah mengikatkan diri-Nya dengan Daud dan keturunannya (2 Sam. 7). Perjanjian itu meneguhkan janji Allah bahwa keluarga dan takhta Daud akan tetap kokoh berdiri untuk selama-lamanya. Kita mengerti bahwa janji itu sedang menunjuk pada kedatangan Raja yang kekal itu, keturunan dari dinasti Daud. O Palmer Robertson pernah mengatakan: ”God’s covenant with David centers on the coming of the kingdom.“ Dan antisipasi dari janji itu sudah diberikan pada waktu setelah Daud merebut Yerusalem dan bertakhta di sana (2 Sam. 5), setelah tabut Allah dipindahkan ke Yerusalem (2 Sam. 6), dan pada waktu Allah memberikan keamanan bagi Daud dari semua musuhnya (2 Sam. 7:1).
Lebih lanjut Robertson berkata: “A situation of rest from oppressing enemies anticipates appropriately the eschatological Kingdom of Peace.“ Seorang theolog Biblika terkemuka, Geerhardus Vos, juga mengatakan: Eschatology now attaches itself to the Kingdom. It was given to David not at the time of his reign or his call, but when Jehovah has given him rest from all his enemies.” Jadi, keamanan (rest) yang diberikan Tuhan atas Daud dari musuh-musuhnya itu merupakan janji Allah yang mengantisipasi datangnya kerajaan Mesianik yang dicirikan dengan damai, bukan perang, sebagaimana yang Vos katakan: “The final kingdom must be characterized by peace not war.” Yesaya mengatakan bahwa damai sejahtera itu tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya (Yes. 9:6). “The builder, the eschatological king must be a man of peace and peace is characteristically Messianic,” lanjut Vos. Dengan demikian ide eskatologi the kingdom of God itu sudah dinyatakan kepada Daud, raja Israel, yang takhta dan kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya (2 Sam. 7:14-16) sebagai manifestasi eskatologis dari kerajaan yang kekal itu. Janji itu mencapai kepenuhannya (fulfillment) di dalam pribadi Yesus Kristus yang berasal dari keturanan Daud, Sang Mesias, Raja kekal yang kerajaan-Nya akan kokoh untuk selama-lamanya (2 Sam. 7:14; Mzm. 2:7).
 
Kelahiran Kristus Sebagai Pemenuhan Janji Allah.
 
Allah telah berjanji kepada Daud bahwa dinasti Daud, kerajaan dan takhtanya akan kokoh dan kekal selamanya (2 Sam. 7:16). Kelahiran Kristus ke dunia mengkonfirmasi janji Allah kepada Daud itu sekaligus menginagurasi kedatangan kerajaan-Nya. Janji kedatangan Mesias itu menyatakan tegaknya kerajaan Allah yang dijalankan dengan keadilan dan kebenaran (Yes. 9:6). Sekali lagi kita melihat janji Allah yang dikatakan kepada Daud (2 Sam. 7:11b-16) telah menemukan penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Sebagaimana Lukas menuliskan: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.“ (Luk. 1:32-33).
Di dalam Kristus sesungguhnya kita telah menemukan Raja kekal yang dinantikan itu. Raja yang besar atas seluruh bumi yang sudah menaklukkan seluruh bangsa-bangsa di atas bumi ini (Mzm. 47). Kristus, Mesias, Raja yang diurapi yang datang dari tunas Isai, telah membangun kerajaan-Nya serta memerintah dan menghakimi dunia ini di dalam keadilan (Yes. 9; 11:1-9, Mikha 4:1-5). Dia dinobatkan sebagai raja di Sion yang sudah menang atas bangsa-bangsa (Mzm. 2). Kini, di dalam hati kita yang sudah bertobat, kerajaan-Nya itu dibangun dan Dia menjadi raja bagi kita. William Hendriksen mengatakan ”It should be unnecessary to state that according to our Lord’s own explanation it is not an earthly or political kingdom that is in view here, but rather the kingdom or rule of grace and truth established in the hearts and lives of all those who have the God of Jacob as their refuge“ (lihat Mzm. 46:7, 11). Semoga Natal ini mengingatkan kita dan yang terpenting membawa kita kepada Kristus, Raja yang sudah datang untuk menebus kita. Kiranya setiap kita dengan rela dan ucapan syukur menjadikan Dia sebagai raja yang memerintah dan memimpin atas hidup kita.

Selamat Natal 2014 dan Selamat Tahun Baru 2015, Tuhan memberkati.
[ Mulatua ]