Gembala Yang Baik
 
( Yohanes 10:11-18 )
_oOo_
 
Setiap kita pasti pernah mengalami krisis di dalam hidup ini. Terkadang krisis yang dihadapi jauh lebih berat ketimbang kemampuan kita untuk mengatasinya. Acap kali kita mendengar dan menyaksikan orang-orang yang tak sanggup menghadapi krisis dan masalah di dalam hidupnya mengalami masalah kejiwaan atau bahkan memutuskan menjadi orang jahat. Tak jarang pula sebagian dari mereka justru mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Di tengah krisis berat ini sering kita bertanya dalam hati, ”Tuhan, apa salahku hingga Kau berikan kesulitan yang begitu besar ini terjadi dalam hidupku?”
”Yesus adalah gembala yang baik,” demikian kata Alkitab. Kalimat ini tentu tidak asing lagi di telinga kita, orang Kristen. Bukankah kalimat ini sering dijadikan kata-kata mutiara yang tertulis indah pada lukisan-lukisan Kristen? Meski kita sering mengatakannya, namun apakah kita sungguh-sungguh mengerti dan mengalami makna terdalam di balik kalimat itu?

Kalimat ”Akulah gembala yang baik” merupakan pernyataan keempat dari tujuh pernyataan Tuhan Yesus mengenai identitas siapa diri-Nya ketika Dia mengatakan, “Akulah …” . Ini merupakan salah satu satu keunikan dari Injil Yohanes dibanding ketiga Injil lainnya. Ketujuh pernyataan itu, yakni: ”Akulah roti hidup (Yoh. 6:35); Akulah terang dunia (Yoh. 8:12); Akulah pintu (Yoh. 10:7); Akulah gembala yang baik (Yoh. 10:11); Akulah kebangkitan dan hidup (Yoh. 11:25); Akulah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6); Akulah pokok anggur yang benar (Yoh. 15:1). Dengan pernyataan ini Yesus ingin menyatakan secara kiasan akan peranan-Nya dalam penebusan umat manusia.
Injil Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes di kota Efesus. Injil ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang percaya dengan maksud agar mereka tetap setia dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, Anak Allah, di tengah ancaman munculnya ajaran palsu, terutama ajaran Gnostiksisme. Ajaran atau aliran agama ini mengajarkan bahwa gnosis (pengetahuan) merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Untuk memahami ke”tuhan”an, kaum gnostik mempelajarinya sendiri tanpa bantuan atau perantara rabbi, pendeta, uskup, imam, atau pemimpin agama yang lain.
Salah satu inti dari Injil Yohanes selain menyatakan dengan lebih sempurna rahasia tentang pribadi Yesus, Injil ini secara spesifik juga menjelaskan hubungan Bapa dan Anak (Yesus Kristus) serta hubungan Anak dan umat-Nya. Alkitab menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan secara unik. Manusia digambarkan sebagai domba dan Tuhan sebagai sang Gembala. Dalam kitab Mazmur misalnya, penggambaran ini begitu indah. ”Kami ini umat-Mu dan kawanan domba gembalaan-Mu (Mzm. 79:13); “Ketahuilah Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (Mzm. 100:3); “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1).

Sebelum menjelaskan diri-Nya sebagai gembala yang baik, penggambaran diri Yesus dimulai dengan perkataan ”Akulah pintu” (ayat 9). Dalam kiasan ini, domba aman jika mereka masuk melalui pintu yang ada, dan domba kenyang jika mereka keluar melalui pintu yang ada, karena di situ ada padang rumput. Kiasan ini merujuk pada kehidupan kekal dan kelimpahan hidup yang ada di dalam Yesus Kristus. Hal ini kemudian dinyatakan di ayat berikutnya. Di ayat 10, Yesus mengatakan bahwa Ia datang supaya mereka mempunyai hidup. Yesus Kristus adalah Juru Selamat dunia. Dia menyediakan keselamatan kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Domba dianggap sebagai hewan penurut, sehingga mudah hilang atau sesat. Domba juga mempunyai ciri-ciri lain, di antaranya lemah, bodoh, dan agak keras kepala. Domba juga terlihat tidak dapat membela dirinya sendiri. Maka, tepatlah penggambaran ini ditujukan kepada manusia. Mengapa manusia digambarkan sebagai domba? Sepintas kita akan berpikir bahwa tampaknya gambaran mengenai domba yang bodoh itu tidak sesuai untuk menggambarkan manusia. Bukankah manusia makhluk yang paling cerdas? Bukankah dengan kecerdasannya manusia pernah berhasil mendaratkan dirinya di bulan dan berhasil mencapai berbagai kemajuan dalam bidang sains, teknologi, dan ilmu pengetahuan? Kita harus mengerti ketika Alkitab menggambarkan manusia sebagai domba, pasti ada kebenaran penting yang ingin diungkapkan, yaitu realita keberadaan manusia yang lemah, bodoh, tidak berdaya terhadap keadaannya dan seringkali tidak mampu mengontrol dirinya sendiri.

Manusia adalah makhluk yang mudah terjerumus dalam penipuan diri dan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Ketika kita diberi kesempatan lebih menonjol dari orang lain, kita cenderung menjadi orang yang sombong dan merasa lebih pintar dari orang lain. Kita tidak sadar mungkin orang lain yang justru lebih hebat dari kita. Dalam hal kerohanian, secara fenomena kerohanian kita mungkin bertumbuh dengan baik, namun seringkali kita terjebak ke dalam kesombongan rohani. Sebenarnya inilah sifat kita sebagai manusia yang rentan sekali tersesat dan berperilaku tidak benar di hadapan Allah. Oleh karenanya, tepat sekali Alkitab menggambarkan kita seperti domba yang bodoh, lemah, dan mudah tersesat, sehingga kita memerlukan seorang gembala yang baik untuk menuntun kita.
Sekarang, bagaimana Alkitab menggambarkan seorang gembala? Di dalam Perjanjian Lama, gambaran gembala sering ditujukan kepada para pemimpin yang ditetapkan Allah untuk menuntun umat-Nya. Misalnya raja, imam, nabi, para tua-tua masyarakat, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Di dalam Kitab Yehezkiel, Alkitab dengan jujur berbicara tentang gembala yang jahat, gembala yang tidak memperhatikan domba-dombanya, gembala yang tidak menjaga dan menuntun domba-dombanya, tetapi malah memanfaatkan dan membiarkan domba-dombanya tersesat (Yeh. 34:1-6). Itu sebabnya, Tuhan sangat marah kepada gembala-gembala yang jahat itu. Meski demikian, di dalam kitab Yehezkiel juga dinubuatkan tentang bagaimana Tuhan akan memberikan gembala lain yang lebih baik, yaitu Dirinya sendiri. Dia akan menjadi gembala yang baik bagi domba-dombanya, yaitu umat-Nya (Yeh. 34:11-16).

Yesus berkata, ”Akulah gembala yang baik” (I am the good shepherds). Jauh sebelum perkataan Tuhan Yesus ini dikeluarkan, kata “I am (Akulah)” memiliki latar belakang Keluaran 3:14, di mana Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai “Aku adalah Aku (YHWH). Ayat ini juga merujuk kepada kitab Wahyu 1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega”. Jadi, di dalam penegasan kalimat “Akulah gembala yang baik,” Yesus sedang menyatakan diri-Nya sebagai pribadi Allah. Dia adalah gembala yang dijanjikan itu (Yeh. 34:15-16). Pada masa di mana umat Allah hidup dalam kekacauan dan tanpa pengharapan, Yesus datang sebagai gembala yang baik. Dia mengkontraskan diri-Nya dengan gembala-gembala palsu yang mengendalikan agama Yahudi pada masa itu. Yesus menyebut gembala-gembala palsu itu dengan sebutan pencuri dan perampok (Yoh. 10:1, 8, 10) serta orang upahan (Yoh. 10:12-13). Keduanya memiliki ciri yang sama, yaitu hanya memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan kesejahteraan domba-dombanya. Ketika kesulitan datang, mereka lari mencari selamat diri sendiri, karena orientasi mereka memang hanya keuntungan diri semata. Tetapi apa yang Yesus lakukan jauh berbeda. Dia rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Oleh karena itu kita sebagai domba yang memiliki gembala yang agung itu dituntut untuk hidup taat dan senantiasa menyerahkan seluruh hidup kita untuk dituntun oleh gembala kita yang agung itu.

Berikut ini setidaknya ada empat pelayanan khusus yang Tuhan Yesus lakukan sebagai gembala yang baik:
Pertama, Dia memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh. 10:11-13). Di bawah peraturan yang lama, domba-domba mati bagi gembala. Tetapi sekarang, gembala yang baik itu memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Lima kali di dalam perikop ini Yesus dengan jelas menegaskan kematian-Nya sebagai korban (ayat 11, 15, 17-18). Dia tidak mati sebagai seorang martir yang dibunuh oleh manusia, tetapi Dia mati sebagai pengganti yang dengan rela memberikan nyawa-Nya bagi kita. Fakta bahwa Yesus mengatakan Dia mati bagi domba-domba-Nya merupakan pengajaran tentang salib. Kematian-Nya hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Kedua, Dia juga mengenal domba-domba-Nya (Yoh. 10:14-15). Dalam Injil Yohanes, arti kata “mengenal” lebih dari sekadar mengerti atau mengetahui. Kata ini mengungkapkan suatu hubungan yang erat antara Allah dan umat-Nya. Gembala yang baik akan mengenal kelemahan-kelemahan tertentu dari domba-domba-Nya. Yesus mengenal sifat kedua belas murid-Nya. Dia mengenal Petrus, seorang yang cepat meledak-ledak dan sering bertindak tanpa pikir panjang. Dia mengenal Thomas, seorang yang sering bimbang dan ragu-ragu. Dia mengenal Andreas, seorang peramah dan selalu membawa orang lain kepada Yesus. Dia juga mengenal Yudas Iskariot, seorang yang suka memanfaatkan orang lain untuk memperoleh uang mereka dan yang pada akhirnya menjual Yesus. Yesus mengenal setiap mereka dan Dia mengetahui bagaimana menghadapi mereka. Gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya pun mengenal Dia. Dia mengasihi milik-Nya yang ditunjukkan dengan cara memperhatikan mereka. Yesus mengenal kita jauh sebelum kita mengenal Dia. Dia mengenal kita jauh lebih dalam ketimbang kita mengenal Dia. Mengenal domba-domba-Nya, ada pengenalan timbal balik antara Kristus dan gereja-Nya. Hal ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, yang penuh cinta kasih.
Ketiga, gembala yang baik membawa domba-domba lain ke dalam kawanan domba-Nya (Yoh. 10:16). Gambaran “satu kandang” berarti “satu kawanan”. Hanya ada satu kawanan, yaitu umat Allah milik gembala yang baik. Allah memiliki umat-Nya di seluruh dunia. Ia akan memanggil mereka dan mengumpulkan mereka. Yesus tidak membeda-bedakan orang untuk diselamatkan. Yesus mati untuk dunia yang terhilang dan keinginan-Nya supaya umat-Nya menjangkau dunia yang terhilang dengan pemberitaan Injil tentang hidup kekal yang hanya ada di dalam Yesus.
Keempat, gembala yang baik menerima hidup-Nya kembali (Yoh. 10:17-18). Kematian yang dilakukan-Nya dengan penuh kerelaan diikuti dengan kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan. Yesus memiliki kuasa untuk membangkitkan diri-Nya dari antara orang mati karena Dia adalah Allah.

Setelah kita melihat empat pelayanan agung yang Yesus lakukan sebagai gembala yang baik, maka berikut ini adalah tiga panggilan kita sebagai orang percaya:
Pertama, membiarkan Tuhan mengendalikan hidup kita. Ketika kita percaya Yesus adalah gembala yang baik dan berkuasa atas kita, maka kita dipanggil untuk memberikan tempat pada gembala itu untuk mengendalikan hidup kita. Seringkali dalam perjalanan hidup ini, keinginan daging begitu menguasai kita. Seringkali juga kita merasa tidak membutuhkan Tuhan. Kita lebih mengandalkan kekuatan, kecakapan, kepandaian, dan harta benda kita. Kita lupa akan keterbatasan kita sebagai manusia biasa. “Hidup kita bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan lalu kemudian lenyap (Yak 4:14), demikian perkataan rasul Yakobus. Dalam Mazmur 127:2 dikatakan: “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah – sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Ayat ini mau mengatakan, “Orang percaya tidurlah ketika malam! karena Tuhan yang akan meneruskan pekerjaan-Nya”. Sesungguhnya itulah panggilan kita. Membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita. Gembala yang Baik membawa domba, mencari padang rumput, jauh dari rumah dan ia menjaganya dengan setia, dengan tongkat dan gadanya. Demikianlah Tuhan selalu menjaga kita, mata-Nya tidak pernah tertidur. Seperti ayah dan ibu yang selalu menjaga anak ketika demam tinggi, matanya selalu mengawasi, berjaga-jaga; kuatir karena demam yang tinggi akan mengancam nyawa si anak. Tuhan adalah gembala yang baik, Dia menjaga kita, menuntun kita, mengasihi jiwa kita. Ketika kita menghidupi suatu keyakinan bahwa segala sesuatu ada di dalam kedaulatan Allah dan Dia telah menetapkan segala sesuatunya bahkan dosa sekalipun di dalam penetapan-Nya, maka kebenaran ini seharusnya membuat kita semakin bergantung kepada Tuhan. Mari kita berikan diri kita untuk dikendalikan oleh-Nya dan membiarkan Dia bekerja di dalam hidup kita.
Kedua, menjadi true sacrifice (korban yang hidup). Rela berkorban untuk orang lain sebagai bukti kita mengasihi Tuhan. Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai persembahan yang agung. Ia rela berkorban demi umat-Nya sebagai bukti kasih-Nya. Teladan inilah yang menjadi panggilan kita. Rela berkorban demi visi kerajaan Allah, rela berkorban demi menggenapkan rencana Tuhan, rela berkorban demi kemuliaan nama Tuhan. Sebagai contoh, ketika seorang ayah harus bersabar dalam mendidik anak-anaknya, ketika seorang istri harus rela melayani suaminya dalam kesetiaan dan kelembutan hatinya, ketika seorang suami mengasihi istri dan keluarganya dengan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan. Walaupun ada pengorbanan, namun inilah true sacrifice yang berkenan kepada Allah. Hal ini jauh berbeda dengan spirit dunia ini dengan filsafat untung rugi nya.
Ketiga, mengasihi Tuhan dan sesama. Kristus mau mengasihi kita, orang yang tidak layak untuk dikasihi. Dia mengasihi kepada siapa Dia mau mengasihi. Berbeda dengan spirit dunia. Manusia akan mengasihi sesamanya selama hal itu dapat memberikan keuntungan bagi dirinya. Suatu sikap yang mementingkan diri sendiri. Kasih dunia adalah kasih karena …; kasih dunia adalah kasih supaya…; kasih dunia adalah kasih kepada objek yang pantas; kasih dunia adalah kasih yang dipengaruhi oleh filsafat untung rugi; kasih dunia adalah kasih yang memberi dengan motivasi ada umpan balik bagi dirinya. Berbeda dengan Tuhan kita. Dia mengasihi kita bukan karena kita menarik. Tuhan Yesus mengasihi kita supaya Dia bisa membuat kita menjadi orang yang penuh cinta kasih. Itulah yang menjadi alasan untuk selalu kita ingat. Mengapa kita mau mengasihi sesama kita manusia? Karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita. Siapa kita sehingga mendapat tempat yang begitu spesial dalam hati Tuhan? Orang yang tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, hidupnya akan terus ada dalam ucapan syukur kepada Tuhan. Hal ini akan merubah cara pandang, sikap hidup, sikap hati, dan seluruh aspek dalam hidupnya untuk sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

Mari kita belajar dari teladan Tuhan Yesus. Melalui kasih Kristus yang rela berkorban untuk manusia berdosa, biarlah kita sadar siapa kita dihadapan Tuhan. Manusia akan mengenal kasih yang sejati hanya melalui kasih Kristus yang dinyatakan-Nya di atas kayu salib. Mari kita menyaksikan kasih Kristus melalui hidup kita. Kasih duniawi diubah menjadi kasih Allah di dalam dan melalui hidup kita. Bagaimana kita mengasihi Tuhan dan sesama kita? Tuhan sudah memberikan kita istri, suami, anak, saudara, keluarga. Sayangilah mereka. Nyatakanlah kasih Tuhan melalui hidupmu untuk mereka. Tuhan memberikan kita orang-orang dekat untuk kita kasihi. Begitu juga dengan gereja. Kristus mengasihi gereja sebagai tubuh-Nya, maka gereja harus saling mengasihi. Kasih diantara jemaat Tuhan akan mengkonfirmasikan kehadiran Tuhan dalam gereja itu. Kiranya teladan Kristus, sang gembala yang baik, akan membawa hidup kita semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita. Hidup manusia adalah hidup yang terus belajar. Mari kita terus belajar untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, mari kita terus belajar untuk menjadi true sacrifice demi menggenapkan rencana Tuhan dalam hidup kita. Mari kita terus belajar untuk semakin mengasihi Tuhan dan sesama. Kiranya Tuhan memberkati kita.
 
Soli Deo Gloria. Selamat Natal 2014 dan Selamat Tahun Baru 2015.
[ Megawana ]