Atensi
_oOo_
 
”Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?
Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
(Matius 2:2)
 
Pendahuluan.
 
Tampilnya kapitalisme, sebagai sistem ekonomi yang paling efisien, dan demokrasi, sebagai sistem pemerintahan masyarakat manusia (human society) yang mengakomodasi kebebasan individu, sebagai pemenang dalam abad ke-20 oleh Alexander Kojeve, seorang filsuf-penafsir terbesar filsafat Hegel abad itu, dipahami sebagai isyarat bahwa pada paruh abad tersebut apa yang Hegel maksudkan dengan sejarah sudah berakhir adalah benar. Itu sebab ia menyatakan bahwa filsuf macam dirinya tidak lagi mempunyai pekerjaan yang berguna dan oleh karena itu ia kemudian menggeser studi filsafatnya hanya ke setiap akhir minggu dan menerjunkan diri menjadi birokrat penuh waktu pada suatu komisi di dalam Masyarakat Ekonomi Eropa hingga ia wafat pada tahun 1968.
Bagi Francis Fukuyama, mundurnya Kojeve dari dunia filsafat bagaikan suatu isyarat untuk menuliskan tesisnya mengenai “akhir dari sejarah”. Oleh kapitalisme dan demokrasi, masyarakat manusia menemukan dambaannya (longing) yang terdalam, yaitu materi dan pengakuan individu. Hal itu berarti evolusi ideologi telah mencapai titik akhirnya dan dengan demikian manusia telah tiba pada akhir sejarah. Tidak ada lagi yang baru dalam sejarah. Dengan dipenuhinya dambaan manusia akan barang, oleh kapitalisme, dan dambaan manusia akan pengakuan harkat diri, oleh demokrasi, maka ”akhir dari sejarah” berarti perjalanan manusia paling baik hanya on the way saja. Pada titik ini tidak ada lagi yang manusia dambakan pada masa yang akan datang.
Tulisan ini mengajak kita untuk memikirkan bagaimana seharusnya kita sebagai orang Kristen menghidupi, meminjam istilah Francis Fukuyama, masa ”akhir dari sejarah” ini dengan penuh atensi terhadap apa yang sedang berlangsung di dalam dunia ini menurut apa yang Alkitab peringatkan berdasarkan berita seputar peristiwa kelahiran Kristus.
 
Israel menantikan Mesias?
 
Matius mencatat bahwa peristiwa kelahiran Kristus membongkar kelalaian Israel. Pertanyaan orang-orang Majus dari Timur saat mereka tiba di Yerusalem, kota Daud: ” ... Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat. 2:2), merupakan sesuatu yang sesungguhnya telah mempermalukan mereka. Mereka didapati dalam keadaan tanpa atensi. Perhatikan respon yang muncul: ”Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem” (Mat. 2:3). Hal apakah yang sesungguhnya sangat memalukan di sini? Keterkejutan Herodeskah atau keterkejutan ”seluruh Yerusalem,” yang didapati terkejut bersama-sama dengan Herodes itu? Mari kita perhatikan.
 
Keterkejutan Herodes dan ”seluruh Yerusalem”.
 
Herodes yang dimaksud dalam Matius pasal 2 ini adalah Herodes Agung, raja Yudea yang memerintah dari tahun 37 SM hingga 4 M. Ia bukan orang Yahudi. Ia adalah orang Edom yang diangkat oleh Senat Roma pada tahun 40 SM untuk mengendalikan pemerintahan atas orang Yahudi di Palestina sebelum tiga tahun kemudian diangkat menjadi raja, sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya ia adalah raja boneka. Sebagai orang yang kuasanya diberi oleh kerajaan Roma, tidak heran apabila baginya hanya Kaisar Agustuslah raja dan hadirnya seorang raja lain di Yudea selain dirinya dipandang sebagai suatu ancaman. Sebagai penguasa kafir yang merasa terancam, keterkejutannya pada saat orang Majus dari Timur menanyakan di mana raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu berada merupakan suatu hal yang wajar.
Teks Alkitab terjemahan LAI untuk Matius 2:3 mengindikasikan adanya penekanan yang berbeda apabila teks tersebut dibandingkan dengan terjemahan bebas dari teks Alkitab NIV yang menuliskan: ”When King Herod heard this he was disturbed, and all Jerusalem with him.” Maksudnya Alkitab versi NIV membukakan tidak sekadar bahwa ”yang terkejut oleh adanya pertanyaan orang Majus itu adalah Herodes dan seluruh Yerusalem” melainkan bahwa ”pada saat Herodes terkejut oleh pertanyaan orang Majus, Yerusalem tidak punya pilihan selain harus menempatkan diri mereka pada pihak Herodes”. Perhatikan apa yang dikatakan oleh NIV Bible Commentary mengenai hal ini:
 
 
... because they well knew that any question like the Magi’s would result in more cruelty from the ailing Herod, whose paranoia had already led him to murder his favorite wife and two sons. / ... sebab mereka (orang Yahudi, terutama pemimpin masyarakat) mengetahui benar bahwa hal yang ditanyakan orang-orang Majus itu bisa saja mengakibatkan terjadinya lebih banyak tindak bengis Herodes yang kejam itu, yang rasa takutnya pernah membuatnya membunuh istri dan dua anak kesayangannya. (Kenneth L. Barker & John R. Kohlenberger III, NIV Bible Commentary: An Abridgment of the Expositor’s Bible Commentary – Volume 2: New Testament, Zondervan Publishing House, Grand Rapids, Michigan, 1994, p. 12)
 
 
Israel didapati tidak berdaya di dalam besarnya kuasa kerajaan Roma di dunia. Itulah hal yang Alkitab bukakan kepada kita.
 
Being with yang terbentuk di antara orang Israel dan orang kafir:
suatu pengujian kekerasan violence.
 
Ada baiknya apabila kita memikirkan apa yang dikatakan oleh filsuf Jerman Martin Heidegger mengenai eksistensi manusia di dalam dunia yang selalu bersama dengan orang lain (being with others). Menurut Heidegger, manusia dipahami sebagai entitas yang selalu terbuka bagi orang lain. Ia mempengaruhi orang lain dan dipengaruhi oleh orang lain. Kebersamaannya dengan orang lain selalu turut mengarahkan pertimbangan-pertimbangannya (considerateness) sehingga menuntutnya untuk peduli (concern) dan tenggang rasa (tolerance). Dengan demikian, menurut Heidegger, keberadaan manusia sesungguhnya selalu interdependen dengan keberadaan orang lain dan oleh karena itu ia tidak mungkin menjadi seseorang yang ”terbebas dari interdependensinya dengan orang lain,” atau dengan kata lain keberadaannya di dalam dunia ini akan selalu ”tidak otentik” (inauthentic). Oleh karena itu, perjuangannya untuk menemukan dirinya sendiri (being one’s self) yang lepas dari pengikatan timbal baliknya dengan ”orang banyak” (=they; the crowd), seakan-akan mustahil, apabila ia tidak mengalami suatu attunement yang membuatnya beratensi atas apa yang sedang berlangsung di sekitarnya. Sebagai filsuf eksistensialis, Heidegger tidak berbicara tentang keberdosaan manusia, akan tetapi mau tidak mau pemikirannya ini telah membukakan kita bagaimana manusia yang selalu interdependen dengan orang lain ini berada di dalam dunia.
Being with-nya Heidegger tidak berhenti di sini. Waktu Nazi berkuasa dan melakukan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di Eropa Heidegger terdiam. Sejumlah filsuf Yahudi mengeritik Being with-nya di kemudian hari. Being with yang ia bangun ternyata tidak sanggup berbenturan dengan kekerasan (violence). Menyedihkan, karena ternyata being with yang dimaksudkannya adalah being with sesama bangsa Jerman dan dengan demikian tidak lulus pengujian violence.
Hal yang sama terjadi di sini. Israel di dalam keadaannya yang berdosa itu hidup di dalam being with dengan orang berdosa lainnya. Ketakutan mereka terhadap Herodes mengubur atensi mereka. Kaisar Agustus dan kebesaran Roma seakan-akan telah menjadi realita tertinggi dan akhir dari perjalanan mereka, sehingga olehnya mereka tidak menantikan sesuatu yang baru lagi. Mereka tidak peka atas keadaan yang berlangsung di sekitar mereka. Bukankah seharusnya mereka mendengar dan merenungkan pertanyaan orang-orang Majus itu dengan lebih teliti? Bukankah seharusnya mereka bersukacita atas berita besar itu? Justru orang-orang Majus yang berasal dari tanah Persia itulah yang dengan penuh atensi meneliti dan mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu.
 
Hidup kita pada masa ”akhir dari sejarah” ini.
 
Sekarang, bagaimana dengan kita? Kita hidup di era dimana kapitalisme dan demokrasi telah menyediakan segala suatu yang masyarakat manusia butuhkan. Mekanisme keuangan, teknologi informasi dan telekomunikasi, kebutuhan pengakuan harkat diri serta kebutuhan kebebasan dalam menyatakan pendapat seakan-akan dapat dikategorikan dalam keduanya: kapitalisme dan demokrasi. Infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi yang kekuatannya ”7x24 high-availability” telah siap memberi dukungan pada gerak hidup masyarakat manusia pada masa ”akhir dari sejarah” ini. Dengan kesemuanya itu masih adakah lagi hal yang masyarakat manusia dambakan pada masa yang akan datang?
Dalam era yang sedemikian ini masih relevankah kita berbicara tentang ketaatan, pelayanan, dan mempersembahkan diri kepada Tuhan? Mempersembahkan uang dan waktu saja telah merupakan hal yang sedemikian berat, bukan? Belum lagi dengan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Bukankah memenangkan kompetisi demi akumulasi kemakmuran, atau setidaknya, dapat bertahan hidup saja seakan-akan telah merupakan hal yang sudah sangat baik? Kita tidak mempunyai daya tawar (bargaining power) terhadap realita kehidupan masyarakat manusia dan mau tidak mau kita harus menjalaninya begitu saja.
 
Firman Tuhan sebagai attunement kita.
 
Alkitab memperingatkan agar kita ”merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mazmur 1:2) dan dengan demikian kita ”tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,” ”tidak berdiri di jalan orang berdosa” dan ”tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mazmur 1:1). Firman Tuhan merupakan attunement kita untuk beratensi atas apa yang sedang berlangsung di dalam dunia. Sebagaimana demikian besar kuasa kerajaan Roma pada saat berita kelahiran Kristus turun, sedemikian besar pula kuasa kerajaan kapitalisme dan kebebasan manusia berdampak pada hidup kita pada masa ini. Atensi kepada pekerjaan Tuhan selalu memberikan kita kesempatan untuk ”mempunyai pilihan” dan dengan demikian memiliki daya tawar terhadap realita kehidupan. Firman Tuhan memberi kita jalan keluar agar hidup kita tidak habis hanya untuk menjalani hidup ini apa adanya dalam situasi dunia yang seperti ini. Seajaib bagaimana orang-orang Persia beratensi pada kehadiran bintang Timur itu, seajaib itu pulalah Tuhan tetap memimpin kita ”menghidupi,” sekali lagi meminjam istilah Fukuyama, masa pada ”akhir dari sejarah” ini.
 
Penutup.
 
Sebagai intelektual Kristen yang hidup di dalam kompleksitas Indonesia, kita tidak mungkin dapat bertahan sendiri. Kita memerlukan wadah yang di dalamnya kita dapat saling berbagi suka dan duka, menegur, menguatkan dan mendoakan agar dapat menghidupi panggilan Tuhan kepada kita dan bukan sekadar menjalani saja hidup ini apa adanya. Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satu wadah untuk itu. Mari bersama-sama melayani Tuhan dan berbagian mengerjakan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Selamat Natal 2014 dan Selamat Tahu baru 2015, Tuhan memberkati.
[ Jessy Victor ]