Permulaan Menuju Mujizat Natal
_oOo_
 
Kehadiran bayi Yesus, sang Mesias, di dalam dunia merupakan kegenapan atas janji Allah. Kelahiran-Nya dalam peristiwa Natal yang tiap tahun kita peringati dan rayakan sesungguhnya merupakan tanda mujizat terbesar yang pernah Allah nyatakan dalam dunia ini. Inilah mujizat Natal yang sesungguhnya.
Kisah Natal ditandai oleh kelahiran seorang bayi mungil yang diberi nama Yesus di kota kecil bernama Nazaret. Tentang kota kecil ini, Nathaniel pernah bertanya kepada generasi Yahudi zaman itu ketika ia bertanya kepada Filipus: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46). Dari pertanyaan ini terungkap fakta bahwa menurut kesadaran orang Yahudi di zaman itu, Nazaret dianggap bukan kota yang pantas bagi datangnya satu berita yang menggembirakan apalagi dinanti-nantikan oleh orang banyak. Stigma yang dikenakan kepada Nazaret adalah kota kecil terbelakang yang dihuni oleh mereka yang berperilaku seperti orang tak beriman. Tidak hanya Nazaret, keseluruhan provinsi Galilea yang menaungi kota Nazaret pun mendapat stigma yang sama. Meski demikian, stigma itu justru telah menjadi dasar permulaan menuju mujizat Natal, bahwa perwujudan rencana Allah itu tidak akan pernah bisa terhalang oleh reputasi buruk yang melekat pada kota Nazaret dan kota-kota lain di daerah Galilea.

Pada saat Allah aktif bergerak mencari-cari di dalam dunia demi menemukan seorang gadis muda yang tepat untuk membawa Putra-Nya ke dalam dunia, Allah bersedia pergi ke tempat yang dianggap mustahil untuk gadis muda yang memiliki iman. Ternyata di tempat itulah, kota Nazaret, Tuhan memilih seorang gadis muda bernama Maria untuk menanggung beban membawa Anak Allah ke dalam dunia. Dari cerita ini, apakah anda pernah berpikir dan bertanya kenapa justru Maria lah yang menjadi pilihan Allah yang paling tepat? Bukankah menurut pemikiran common sense yang diterima umum, misal kita memiliki sebuah mega proyek yang harus dikerjakan tentu akan sulit bagi kita memercayai seseorang yang berasal dari suatu daerah yang memiliki stigma buruk di mata publik untuk kemudian menjadikannya sebagai “orang kunci” bagi keberhasilan mega proyek kita. Namun kisah Alkitab ini mampu menerobos pemikiran umum tersebut. Maria, seorang gadis muda yang berasal dari kota dengan stigma buruk di mata publik, seseorang yang dilabeli orang tidak beriman dan pendosa, justru dipilih Allah untuk menjadi “orang kunci” dalam sukses tidaknya “mega proyek Allah.”

Kisah kelahiran Yesus dimulai dengan perkataan Malaikat Tuhan yang memberitahukan kepada Maria, seorang perawan muda, bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian dinamai Yesus. Dia disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Kelahiran Anak Allah itu tanpa intervensi benih laki-laki karena saat itu Maria belum menikah dan karena Ia dikandung oleh Roh Kudus. Setelah mendengar perkataan Malaikat itu, apa yang menjadi respon Maria? Maria bertanya kepada Malaikat: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Luk. 1:34). Sebuah respon yang manusiawi, ingin menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh manusia biasa sama seperti kita, dan dia adalah sosok yang sungguh-sungguh terlibat dalam logika sosial tentang kehamilan yang diterima umum.
Dari sini kita melihat ada dua pemikiran paradoks antara pandangan masyarakat umum dengan pandangan Allah. Di satu sisi menurut pandangan umum khususnya dari para pemuka agama saat itu, Maria bukanlah sosok wanita muda yang pantas dan tepat untuk membawa Anak Allah ke dalam dunia. Tetapi di sisi lain, menurut pandangan Allah, Maria justru menjadi pilihan yang tepat. Inilah yang kita sebut menjadi permulaan menuju mujizat Natal.

Banyak dari orang kristen, tak terkecuali para pendeta atau penginjil, di dalam kesadaran mereka memahami mujizat Natal, mereka seakan lupa berpijak pada sesuatu yang paradoks itu. Ini berarti bahwa secara kualitatif kesadaran mereka terlalu miskin untuk memaknai ucapan Malaikat Tuhan yang berkata: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37).
Mujizat Natal dengan terselenggaranya keajaiban itu, di satu sisi bertumpu pada karya Roh Kudus yang bekerja dalam proses kehamilan Maria tanpa kehilangan keperawanannya. Namun di sisi lain, Allah juga “bertumpu” pada tanggung jawab Maria untuk sekuat tenaga menjaga kehamilannya. Wow! betapa beraninya Allah “bertumpu” pada tanggung jawab Maria, seorang gadis muda yang hidup di lingkungan kota Nazaret yang dianggap kurang beriman itu. Tetapi hati-hati, jangan salah mengerti dengan pernyataan ini. Kalimat “Allah bertumpu pada tanggung jawab Maria” bukan berarti sukses atau tidaknya rencana Allah sangat tergantung pada apakah Maria melakukan tanggung jawab dengan baik. Dengan kata lain, jika Maria gagal menjaga kehamilannya maka rencana Allah juga ikut gagal. Penafsiran ini seolah-olah membuat Allah menjadi pribadi yang dependent terhadap manusia. Tentu bukan demikian maksud dari pernyataan itu. Yang dimaksud adalah walaupun di dalam providensia dan kedaulatan-Nya Allah pasti sanggup menjaga bayi Yesus di dalam rahim Maria, namun di sisi lain Allah juga menuntut tanggung jawab yang besar kepada Maria untuk sekuat tenaga menjaganya. Di sini kita mengerti prinsip yang Alkitab ajarkan bahwa kedaulatan Allah tidak pernah berkontradiksi dengan tanggung jawab manusia. Kedua fakta itu bersifat paradoks. Bahwa setiap berkat besar yang Allah karuniakan kepada kita tidak pernah lepas dari tanggung jawab kita untuk meresponinya dengan benar. Nah, ketika kita sampai pada masalah tanggung jawab Maria ini, maka tak pelak lagi kesadaran kita harus pula menelusuri paradoks itu.

Tahukah anda, tentang terwujudnya maksud Allah di dalam hidup anda, Allah juga “bertumpu” pada tanggung jawab anda? Di sinilah anda sesungguhnya memiliki ruang untuk berbagian menjadi rekan sekerja Allah di dalam setiap rencana-Nya. Tentang hasrat Allah terhadap tanggung jawab Maria, Allah telah “bertumpu” pada kemampuan Maria untuk tetap teguh menghadapi penghinaan orang banyak menyangkut kehamilannya di luar nikah. Sungguh, ini bukanlah suatu tanggung jawab yang ringan untuk terselenggaranya maksud Allah di dalam hidup seorang wanita muda. Tetapi atas pertolongan Allah, Maria dengan setia menanggung beban tanggung jawab itu. Sungguh, Maria mampu menunjukkan bahwa ia memang pilihan Allah yang paling tepat.
Belajar dari pergumulan Maria ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah kita senantiasa siap sedia “bekerja sama” dengan Allah untuk terwujudnya maksud-maksud Allah di dalam hidup kita?” “Seberapa besar kemampuan kita untuk memikul tanggung jawab yang Allah berikan guna terselenggaranya maksud-maksud Allah di dalam hidup kita?
 
Selamat Natal 2014 dan Selamat Tahun Baru 2015. Tuhan Memberkati.
[ Gogona Gultom ]