KARYA KESELAMATAN KRISTUS
_oOo_
 
“Bagaimana Kita dapat Berbagian Dalam Karya Penebusan Kristus?”
(Pertanyaan 29 Katekismus Singkat Westminster)
 
Pendahuluan
 
Satu-satunya Penebus bagi umat pilihan Allah adalah Tuhan Yesus Kristus, karena Ia telah menggenapi penebusan kita dalam karya keselamatan-Nya sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Kita bisa dapat berbagian dalam karya penebusan Kristus melalui pemateraian efektif oleh Roh Kudus. Melalui Roh Kuduslah kita dilahir-barukan. Tulisan ini akan membahas bagaimana Roh Kudus berkarya dalam kehidupan umat tebusan Allah.
 
Kristus Sebagai Nabi
 
Istilah “Nabi” pertama kali dipakai untuk Abraham dalam Kejadian 20:7, “Jadi sekarang, kembalikanlah istri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau”.
 
Namun sejak dari awal sejarah, orang-orang tertentu berfungsi sebagai juru bicara bagi kebenaran Allah, seperti Henokh (Kej. 5:18). Dalam Ulangan 18:15-20, Allah berjanji bahwa Musa akan dilanjutkan oleh sejumlah nabi sampai akhirnya akan bangkit seorang nabi utama yang ucapan-Nya akan menjadi otoritas tertinggi. Nabi tersebut adalah Kristus, dan tidak ada lagi nabi yang bangkit sejak Kristus, dan sejak Alkitab disempurnakan.
 
Kristus sebagai Imam
 
Jabatan nabi Tuhan Yesus tidak dapat dipisahkan dari jabatannya sebagai imam di Perjanjian Lama. Disebutkan bahwa ada imam-imam dan imam-imam besar yang melayani tata kebaktian di dalam Bait Allah. Dalam kitab-kitab pertama di Alkitab ada diuraikan dengan panjang lebar tentang tugas dan kewajiban imam-imam di zaman Perjanjian Lama. Mereka bertugas mempersembahkan korban bangsa Israel, mengucapkan berkat bagi bangsanya atas nama Allah, mendoakan bangsanya, dan mempersembahkan segala keperluan bangsa Israel tersendiri kepada Allah. Istilah “Imam” pertama kali disebutkan dalam hubungannya dengan tokoh Melkisedek yang misterius (Kej. 14:18) dan nubuat dalam Mazmur 110:4, “Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal. Engkau adaah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek”.
 
Demikianlah Yesus adalah Imam sejati yang mengorbankan diri-Nya sendiri ganti kita, umat yang berdosa. Sebagai Imam, Yesus bukan mempersembahkan darah korban lain, melainkan darah-Nya sendiri untuk selama-lamanya. Ini berarti Kristus memiliki kedudukan sebagai Imam yang kekal dan tidak berubah.
 
Kristus sebagai Raja
 
Pada zaman Hakim-Hakim, di mana zaman tersebut penuh dengan keluhan (Hak. 8:22, 23), di mana bangsa Israel meminta seorang raja kepada Samuel. Dengan memintanya secara mendesak, maka bangsa Israel menolak kehendak Allah sebagai raja. Bangsa Israel ingin menyaingi bangsa-bangsa lainnya yang memiliki raja. Bangsa Israel menghendaki seorang raja yang sederajat dengan raja-raja lainnya. Lalu Tuhan memberikan seorang raja bernama Saul sesuai dengan apa yang dikehendaki mereka. Walau sejak permulaan sejarah, tugas khusus memerintah dalam ketaatan kepada kehendak Allah harus dilakukan dalam penundukan di bawah wahyu ilahi, seperti Adam diberi mandat untuk memerintah (Kej. 1:26). Abraham adalah raja dalam pengertian dia dianggap setara dengan raja-raja lainnya (Kej. 14:1-2, 13, 17-24). Selanjutnya, Allah menjanjikan garis keturunan Daud yang akan menjadi raja yang akan memerintah untuk selama-lamanya (2 Sam. 7:12-16). Jabatan ini memerlukan pengurapan, sehingga muncul kata “Mesias” yang berarti “yang diurapi” (the anointed one).
 
Dalam ketiga jabatan ini, Kristus memenuhi semua kewajiban yang ditentukan oleh Allah. Kristus menjadi Kepala dan Juruselamat gereja-Nya. Dengan demikian, semuanya ini menjelaskan bahwa Bapa telah memberikan segalanya ke tangan Yesus Kristus, Sang Allah-manusia, dan tidak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Dia (Fil. 2:6-11).
 
Kristus memeteraikan karya penebusan-Nya melalui Roh Kudus. Ini bukan berarti Roh Kudus sekadar suatu kuasa atau kekuatan. Roh Kudus adalah satu pribadi Allah, setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Allah Bapa telah memberikan Anak-Nya sebagai korban tebusan bagi umat pilihan-Nya. Kristus sebagai Allah Anak telah melaksanakan penebusan melalui karya kayu salib. Roh Kudus memeteraikan penebusan tersebut di dalam perjalanan hidup umat pilihannya. Langkah-langkah penebusan menurut iman Reformed:
 
  1. Dipanggil secara efektif
     
    1. Panggilan. Injil diberitakan kepada manusia berdosa tanpa kecuali, dan keselamatan ditawarkan kepada setiap manusia dengan cuma-cuma.
       
    2. Kelahiran baru. Terjadi apabila Roh Kudus menciptakan suatu natur baru di dalam diri manusia berdosa, maka ia dapat mendengar Injil dan diselamatkan.
     
  2. Diubahkan.
    Berpalingnya manusia berdosa kepada Kristus, ada 2 unsur:
     
    1. Pertobatan. Seluruh keberadaan manusia yang berpaling dari dosa.
    2. Iman. Seluruh keberadaan manusia yang berpaling kepada Yesus Kristus.
     
  3. Dibenarkan
    Ketika manusia berdosa beriman di dalam Kristus, ia sekali dan selamanya, diterima sebagai kebenaran.
     
  4. Diperanakkan
    Ketika manusia berdosa beriman di dalam Kristus dan mengalami pembenaran, ia akan sekaligus menjadi anggota keluaga Allah.
     
  5. Dikuduskan
    Sejak saat kelahiran baru hingga kematian, Roh Kudus memampukan orang beriman untuk berperang melawan dosa untuk mencapai kekudusan.
     
  6. Dipermuliakan
    Pada hari terakhir, saat di mana Kristus datang kembali, orang beriman akan disempurnakan secara jasmani dan rohani.
 
Dari langkah-langkah di atas, jelas terlihat bahwa manusia berdosa bergantung penuh kepada Allah dalam keselamatan. Dan dalam rencana penebusan, di mana peran Roh Kuduslah yang menjadi pemeterai untuk kita sebagai orang yang berdosa menjadi orang tebusan-Nya, sebagaimana yang Rasul Paulus katakana dalam Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
 
Pandangan-Pandangan yang menentang hal ini:
 
  1. Arminianisme
    Pandangan ini berasal dari seseorang bernama James Arminius, yang meninggal pada tahun 1609. Ia mengajarkan bahwa keselamatan manusia berdosa bergantung sebagian pada Allah dan sebagian pada manusia itu sendiri. Menurutnya, Allah menyelamatkan, tetapi keputusan keselamatan tersebut tetap bergantung dari manusia yang menerima keselamatan itu. Pandangan ini sama artinya dengan Arminianisme tidak mengenali karya Roh Kudus.
     
  2. Modernisme
    Keselamatan tetap dari Tuhan, tetapi proses kelahiran baru akan dimulai bila manusia itu sendiri yang hendak memulainya, seperti membalikkan tangan, untuk hidup lebih baik. Namun sesungguhnya, dalam hal ini tidak ada tempat bagi pekerjaan Roh Kudus sebagai sumber sejati bagi kemampuan manusia.
 
Kesimpulan
 
Manusia tidak berbagian dalam karya keselamatan karena manusia sudah berdosa karena pelanggaran dan dosa-dosanya. Roh Kuduslah yang bekerja membuka pintu hati dan melahirbarukan seseorang melalui firman Tuhan yang didengarnya. Setelah seseorang dilahir-barukan, Roh Kudus menuntun mereka untuk membenci dosa dan menginginkan Kristus. Mulai saat itu, hidupnya kini bergantung pada Yesus dan berjuang untuk hidup dengan-Nya dan bagi-Nya. Dan pada akhirnya, di hari terakhir nanti, ia akan dibangkitkan dari kematian dan dijadikan serupa dengan Kristus baik tubuh maupun jiwanya. Itulah sebabnya kita tidak perlu menggantungkan keselamatannya pada diri sendiri.
 
Penutup
 
Roh Kudus berperan aktif dalam pertobatan dan kelahiran baru seseorang, sehingga ia kembali hidup bagi Kristus. Melalui peringatan Paskah ini kita diajak untuk terus membenci dosa dan hidup bagi Kristus yang sudah menyelamatkan kita. Dan biarlah setiap kita mau terus menjadi saksi bagi Kristus untuk memuliakan Dia. Soli De Gloria.
 
[ Deby A. Hutagalung ]