PERINTAH TERAKHIR YESUS KRISTUS
(Matius 28:16-20)
_oOo_
 
 
Pemberitaan tentang Yesus yang akan menampakkan diri-Nya di Galilea telah dinyatakan sebelumnya saat terjadi percakapan antara Yesus dengan para murid ketika berjalan menuju ke Bukit Zaitun. Satu peringatan yang Yesus sampaikan kepada para murid adalah supaya mereka tetap berjaga-jaga dalam segala hal. Yesus mengungkapkan bahwa iman para murid akan tergoncang tatkala pencobaan datang kepada mereka. Contohnya Petrus. Walau Petrus dengan yakinnya berkata bahwa imannya tak akan terguncang, namun Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yesus mengingatkan Petrus pada malam sebelum Ia ditangkap, bahwa sebelum ayam berkokok pada pagi hari, Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali. Meski Yesus sebenarnya tahu bahwa Petrus akan menyangkal dan murid yang lain akan meninggalkan-Nya, namun sekali-kali Dia tidak meninggalkan mereka. Yesus justru berkata bahwa sesudah Dia bangkit, Dia akan mendahului mereka ke Galilea.
 
Berangkatnya para murid ke Galilea untuk bertemu dengan Yesus memiliki makna yang esensial. Mengapa harus di Galilea? Bukankah mereka sering bertemu di Yerusalem? Ada dua poin penting yang dapat kita pelajari dari hal ini:
 
  1. Ketaatan. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa para murid sebenarnya tidak harus bertemu Yesus di Galilea, namun karena ini adalah perintah Yesus, maka mereka taat menjalankannya.
     
  2. Persekutuan. Galilea merupakan tempat di mana banyak para murid bertempat tinggal. Selain itu ini juga tempat bagi mereka berkumpul tanpa ada gangguan dari penguasa. Para murid memang sering bertemu secara pribadi dengan Yesus, namun di sini Dia mau para murid juga memiliki persekutuan dengan umat percaya lainnya, di mana di dalamnya ada ikatan saling menguatkan di dalam iman.
 
Ketika Yesus menampakkan diri-Nya di Galilea dan menampakkan diri di depan lebih dari lima ratus saudara (I Kor. 15:6), ada dari antara mereka yang percaya dan ada yang masih merasa ragu. Keraguan ini mungkin sesuatu yang wajar sebab mereka melihat Yesus hanya dari kejauhan. Seiring dengan Yesus yang mulai datang mendekat, keraguan itu sirna. Meski demikian, mereka yang langsung percaya dan mereka yang awalnya meragukan sama-sama menyembah Yesus oleh karena kemuliaan Allah nampak di dalam Dia. Yesus menghampiri mereka dank kesebelas murid-Nya. Dia tidak menolak mereka yang awalnya ragu akan Dia. Yesus tidak menjauh dan menolak mereka. Ia justru meneguhkan dan memberi keyakinan kepada mereka akan realita kebangkitan-Nya. Keyakinan ini cukup membuat keraguan mereka sirna, karena mereka kini menjadi percaya.
 
Yesus Kristus tidak datang layaknya seorang hakim yang siap dengan penghukumannya kepada mereka yang menolak dan meragukan-Nya. Namun Ia datang sebagai seorang teman sehingga kita dapat mengerti apa yang Ia amanatkan kepada kita, orang percaya. Kristus menyerahkan hak dan kuasa kepada para rasul untuk menjalankan amanat agung yang diperintahkan-Nya. Yesus mengutus mereka sebagai duta-duta Allah untuk pergi hingga ke ujung dunia demi memberitakan kerajaan-Nya. Tidak hanya mengutus rasul, Ia juga mengutus kita untuk menjalankan amanat itu. Siapa mereka dan siapa kita hingga layak menerima kuasa untuk berbagian menjalankan amanat agung-Nya? Yesus Kristus telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, kini Ia memberikan kuasa itu kepada rasul-rasul-Nya dan sekarang kepada kita untuk menjalakan amanat agung Bapa di Sorga. Kuasa yang dimiliki oleh Yesus Kristus adalah kuasa yang “diberikan” kepada-Nya, bukan sesuatu yang dirampas dari seseorang. Hal ini penting sekali untuk kita mengerti, sehingga kita bisa menghargai pengorbanan Yesus kepada rasul-rasul-Nya dan kepada kita yang dengan rela memberikan kuasa-Nya untuk kita menjalankan amanat agung-Nya.
 
Yesus Kristus diberi kuasa oleh Sang sumber segala kuasa (Mzm. 2:6) dan diberikan takhta Daud (Luk. 1:32). Sebagai Allah yang setara dengan Allah Bapa, segala kuasa itu adalah milik-Nya. Namun Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi pengantara yang diberikan kuasa oleh Allah Bapa sebagai upah karena telah menuntaskan pekerjaan yang ditugaskan oleh Allah Bapa. Kuasa yang menghidupkan adalah kuasa untuk memberikan kuasa atas segala yang hidup. Dengan demikian Yesus Kristus dapat memberikan hidup yang kekal kepada semua orang yang telah diberikan Allah Bapa kepada-Nya (Yoh. 17:2). Yesus Kristus telah mengerjakan karya keselamatan bagi kita orang yang berdosa karena Dia sudah terlebih dahulu menuntaskan pekerjaan yang diamanatkan oleh Allah Bapa. Yesus Kristus telah membayar lunas semua hutang dosa kita dengan ketaatan penuh kepada Allah Bapa bahkan taat sampai mati di kayu salib sehingga seluruh kuasa menjadi milikNya selamanya.
 
Kuasa yang dimiliki Yesus Kristus adalah kuasa di bumi dan di sorga. Yesus Kristus adalah satu-satunya penguasa dunia dan Dia adalah Tuhan dari semua orang. Dia memiliki kuasa untuk memerintah malaikat-malaikat dan mereka semua adalah hamba-hambaNya (Ef. 1:20-21). Dia adalah pengantara doa-doa kita kepada Allah Bapa. Semua diterima setelah Dia dengan tuntas menyelesaikan tugas penebusan-Nya. Dia rela menjadi korban penebusan yang menyenangkan hati Allah Bapa. Dia adalah penguasa dan pemerintah tertinggi atas segala perkara dan atas semua orang. Semua jiwa adalah milik-Nya. Setiap orang akan menyembah dan mengaku Dia adalah Tuhan. Semua dikatakan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya supaya mereka mengerti bahwa kuasa yang sekarang diberikan kepada rasul-rasul-Nya adalah kuasa yang luar biasa sehingga mereka tidak perlu malu karena Kristus yang telah disalibkan adalah Kristus yang juga telah bangkit mengalahkan kuasa maut dan di permuliakan oleh Allah.
 
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Kata “pergilah” adalah suatu perintah yang di dalamnya terkandung penguatan dan peneguhan karena kuasa itu telah diberikan oleh Yesus kepada rasul-rasul-Nya. Mengapa Yesus memerintahkan kepada rasul-rasul-Nya untuk pergi? Karena memang selama ini mereka merasa lebih nyaman melayani bangsa-bangsa dari segala penjuru yang datang kepada mereka untuk mendengarkan berita baik, serta mereka bersama-sama dengan Yesus. Hal ini yang tidak diinginkan oleh Yesus. Mereka harus pergi ke seluruh penjuru dunia. Ketika mereka hanya berharap orang-orang untuk datang saja, itu tidak akan menjangkau seluruh dunia karena tidak semua orang akan tahu. Ada tertulis dalam Surat Roma bahwa iman timbul melalui pendengaran. Bagaimana mereka bisa mendengar? Karena ada yang memberitakan. Bagaimana dapat memberitakan? Karena ada yang diutus untuk pergi. Apakah amanat ini hanya di berikan kepada murid-murid-Nya? Tentu tidak! Amanat ini juga diberikan kepada penerus mereka yakni para pelayan Injil Tuhan yang wajib memberitakan Injil Tuhan dari masa ke masa dan di seluruh pelosok dunia (Ef. 4:11). Akan tetapi maksud Yesus tentang pergi memberitakan Injil di sini adalah :
 
  1. Kovenan (Perjanjian awal) bahwa kabar baik hanya diperuntukkan orang-orang Yahudi dipatahkan. Karena pada zaman itu para rasul dilarang pergi kepada orang non Yahudi, sekarang mereka harus pergi ke seluruh bangsa.
     
  2. Kabar baik tentang keselamatan ditawarkan kepada semua orang tanpa memandang apakah ia Yahudi atau non Yahudi, kecuali mereka yang menolak Injil karena kekerasan dan kedegilan hati mereka sendiri. Keselamatan bukan milik orang yang secara keturunan darah Yahudi tetapi kepada semua orang yang menerima Kristus.
 
Perintah Yesus yang penting adalah menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya. Yang menjadi fokus utama dalam perintah menjadikan bangsa sebagai murid Kristus adalah pemberitaan Injil itu. Injil menceritakan tentang Kristus dan keselamatan melalui-Nya. Kita menyaksikan begitu banyak orang mengaku sudah memberitakan Injil, namun yang diberitakan bukan Kristus melainkan hal-hal yang bersifat fenomenal seperti kesembuhan Ilahi, kekayaan, kesehatan, dan kesejahteraan dengan cara mencomot ayat-ayat dengan sembarangan. Yesus Kristus tidak lagi menjadi pusat pemberitaan. Walau mujizat-mujizat tetap terjadi di masa pelayanan murid-murid-Nya, tetapi itu bukan inti dari pemberitaan Injil mereka. Pemberitaan mengenai manusia berdosa serta konsekuensi dosa bukanlah hal yang menarik untuk dipelajari dan dimengerti. Untuk itu, kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang dipercayakan untuk meneruskan pemberitaan Injil hendaknya belajar firman Tuhan dengan baik sehingga berita yang disampaikan adalah Injil yang sejati. Melalui berita itu, mereka yang mendengarkannya boleh menerima Kristus di dalam hidup mereka dan diselamatkan. Semua ini harus dikerjakan secara serius dan gentar di hadapan Tuhan. Amanat agung yang Tuhan berikan kepada rasul-rasul-Nya dan juga kepada kita harus untuk mengajak mereka dengan sukarela untuk di baptiskan karena seperti perintah Kristus sendiri (Yesaya 44:3, Yehezkiel 36: 25).
 
Baptisan itu dilakukan dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus itu berarti bahwa rasul-rasulNya membaptis oleh karena kuasa Sorga bukan kuasa manusia, sebab pelayanNya bertindak dengan kuasa yang berasal dari tiga Pribadi ke Allahan yang berperan serta dalam penciptaan dan penebusan orang percaya. Menyerukan nama Bapak, Putra dan Roh Kudus melalui doa dan melalui air baptisan.
 
Dengan memberikan diri dibaptis berarti :
 
  1. Kita mengakui kepercayaan kita bahwa Allah itu ada dan satu di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
     
  2. Kita mengakui dan percaya akan perjanjian dengan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kita menyatakan percaya dan menyerah dirikan menjadi milik Allah dan sebagai umat perjanjian di mana kita taat dan setia kepada Allah, mengakui Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja kita serta meyerahkan dirikan dalam tuntunannya untuk hidup setia dengan bimbingan, pengudusan hari demi hari dan juga menghibur kita di dalam dunia berdosa ini.
 
Penyertaan Allah kepada kita orang percaya dan pelayan-pelayanNya sampai pada akhir zaman. Tuhan menjagai kita siang malam tak putus-putusnya di dalam Dia. Tuhan menjagai kita untuk terus hidup di dalam Firman Tuhan, hidup di dalam ketaatan kepada Nya dalam melaksanakan amanat agungNya. Kesetiaan kita sesungguhnya tergantung bagaimana kesetiaan Tuhan menjaga dan memelihara semua. Puji Tuhan untuk pekerjaan Tuhan yang telah menebus kita dan memberikan keselamatan kepada kita. Dia bukan saja mengerjakan penebusan tetapi Dia juga memelihara sampai kesudahannya.
 
[ Eva Paula Marpaung ]