KEHIDUPAN BARU DI DALAM KRISTUS
(Bagian Pertama - Eksposisi Yohanes 3:1-5)
_oOo_
 
Pengantar
 
Tulisan ini adalah renungan eksposisional dari cerita perjumpaan seorang pemimpi agama Yahudi bernama Nikodemus dengan Tuhan Yesus yang tercatat di Yohanes 3:1-21. Topik utama pembicaraan dalam cerita ini berkaitan dengan keharusan seseorang untuk dilahirkan kembali untuk mendapatkan kehidupan baru dan kehidupan kekal di dalam Kristus. Dikarenakan pembahasan ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang, oleh karenanya pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hingga ayat kelima.
 
Eksposisi Yohanes 3:1-5
 
 
Yohanes 3:1-2
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya”.
 
 
Cerita ini dimulai dengan seorang pemimpin agama Yahudi bernama Nikodemus yang pergi menemui Tuhan Yesus di malam hari. Nikodemus kemungkinan besar adalah salah satu anggota Sanhederin, yaitu Majelis Permusyawaratan Agama. Dikatakan bahwa Nikodemus menemui Tuhan Yesus di malam hari. Tentu akan timbul pertanyaan, mengapa Nikodemus harus menemuinya di malam hari? Apakah ia malu dilihat orang ketika mengunjungi Yesus? Kemungkinan seperti itu, karena ia adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang cukup terpandang. Ia tidak mau pertemuannya dengan Yesus diketahui publik. Pernyataan Nikodemus yang menyebut Yesus sebagai guru yang diutus Allah menggambarkan Nikodemus belum melihat Yesus sebagai Juruslamat karena ia belum mengalami kelahiran kembali. Inilah yang kemudian menjadi topik utama dari percakapan Nikodemus dengan Yesus selanjutnya.
 
 
Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah”.
 
 
Dalam ayat 3 ini, Tuhan Yesus langsung menegaskan bahwa kehidupan yang kekal kita sangat tergantung apakah status kita sudah dilahirkan kembali. Tuhan Yesus berkata: “…sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” Jadi, kelahiran baru bukan bersifat opsional atau tambahan dalam kehidupan Kristen, ia adalah suatu keharusan untuk kita diselamatkan, melihat ke dalam kerajaan Allah. John Piper, salah seorang theolog Injili yang terkenal, di dalam bukunya “Finally Alive” berkata: “Kelahiran baru bukanlah ibarat kosmetik yang digunakan oleh seorang perias mayat untuk membuat mayat terlihat seperti hidup. Kelahiran baru merupakan sebuah kreasi kehidupan spiritual, bukan sebuah imitasi kehidupan”.
 
Kata “melihat” dalam bahasa Yunani adalah “eidon” artinya mengenal atau mengetahui. Arthur W Pink di dalam tafsirannya untuk Injil Yohanes, Exposition of The Gospel of John, menafsirkan “kerajaan Allah” dalam Injil Yohanes pasal 3 mengacu pada perkara-perkara Allah, yaitu hal-hal rohani yang dirindukan dan dinikmati oleh orang-orang yang telah dilahirbarukan di dunia ini (lihat 1 Korintus 2:10, 14). Oleh karenanya, perkataan Tuhan Yesus di sini dapat dikatakan demikian, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak akan dapat mengenal atau mengetahui perkara-perkara yang dari Allah.
 
 
Yohanes 3:4
Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
 
 
Pertanyaan Nikodemus kepada Yesus ini menjadi bukti nyata bagaimana ketika ia belum dilahirkan kembali, ia tidak akan dapat mengetahui perkara-perkara rohani dari Allah. Mengenai hal ini, Paulus pernah menuliskan dalam 1 Korintus 2:14 : “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Nikodemus sama sekali tidak mengerti perkara-perkara Allah meski hal itu diungkapkan dengan cara sederhana. Meskipun ia merupakan pemimpin agama Yahudi, namun ia buta melihat hal-hal yang berasal dari Allah. Ironis bukan?
 
 
Yohanes 3:5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah”.
 
 
Tuhan Yesus melanjutkan dengan menegaskan bahwa seseorang harus dilahirkan dari air dan Roh untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sini timbul pertanyaan, apa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan istilah “dari air dan Roh” itu? Banyak orang Kristen berpandangan bahwa istilah ini merujuk pada baptisan air sebagai sarana bagi Allah Roh Kudus mempersatukan kita dengan Kristus. Dengan kata lain, pandangan ini melihat baptisan sebagai sarana (means) seseorang dilahirkan kembali. John Piper tidak meyakini kebenaran dari pandangan ini. Piper berpandangan istilah “dilahirkan dari air dan Roh” tidak sedang merujuk pada baptisan Kristen, dengan alasan sebagai berikut:
 
Pertama, jika istilah “air” di sini benar-benar merujuk pada baptisan Kristen yang sangat esensial bagi proses kelahiran baru, namun kita melihat terkesan agak janggal tatkala rasul Yohanes tidak mengekspos lebih jauh istilah ini di ayat-ayat selanjutnya ketika ia berbicara tentang hidup yang kekal khususnya di ayat 15,16, dan 18.
 
Kedua, jika istilah ini dikaitkan dengan ayat ke-8 di mana dikatakan bahwa proses regenerasi bisa dianalogikan seperti angin yang bertiup kemana ia mau, memang kita bisa mendengar bunyinya, tetapi kita tidak tahu dari mana ia datang dan kemana ia pergi. Ini menunjukkan bahwa proses regenerasi (kelahiran baru) merupakan suatu peristiwa misterius yang dikerjakan Allah secara bebas, dan kita tidak tahu kapan dan bagaimana itu terjadi, namun kita dapat merasakan efeknya. Proses regenerasi berlangsung tanpa ada aturan atau mekanisme tertentu itu bisa terjadi. Itu sebabnya, agak janggal jika kita mengaitkan kelahiran baru dengan baptisan yang kita ketahui dilakukan melalui sebuah proses tangan manusia yang memercikan air kepada seseorang yang akan dibaptis.
 
Ketiga, apabila diasumsikan bahwa dilahirkan dari “air dan Roh” merujuk pada baptisan Kristen, mengapa di ayat 10 Tuhan Yesus harus berkata kepada Nikodemus yang adalah seorang Farisi tulen dengan perkataan, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” Tentu terasa janggal jika Nikodemus yang sangat fasih dengan ke-Farisian-nya sampai tidak mengerti hal itu.
 
Arthur W Pink juga berpandangan sama dengan Piper. Pink tidak setuju jika istilah ini merujuk pada baptisan Kristen dan mengaitkannya dengan keselamatan. Di dalam tafsirannya untuk Injil Yohanes, Exposition of The Gospel of John, Pink menyatakan pembatisan tidak merupakan faktor yang perlu untuk keselamatan. Itu tidak dituntut oleh Tuhan Yesus sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh orang berdosa sebelum selamat. Argumentasi Pink sebagai berikut:
 
Pertama, jika pembaptisan diperlukan untuk menyelamatkan seseorang, maka tiada seorang pun yang akan diselamatkan sebelum kedatangan Yohanes Pembaptis. Jika kita menelusuri Perjanjian Lama dari awal hingga akhir, sebutan baptisan tidak pernah muncul.
 
Kedua, jika pembaptisan diperlukan untuk seseorang diselamatkan, maka setiap orang percaya yang mati sebelum mereka dibaptis akan kehilangan keselamatannya untuk selama-lamanya. Bagaimana dengan nasib penjahat yang bertobat yang disalibkan di samping Tuhan Yesus? Apakah pintu surga sudah tertutup untuknya? Dia tidak pernah menerima baptisan, namun Tuhan Yesus berkata bahwa ia akan bersama-sama dengan Dia di Firdaus.
 
Ketiga, jika pembaptisan diperlukan untuk keselamatan, hal ini berkontradiksi dengan ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa keselamatan semata-mata hanya oleh karena kasih karunia Allah, bukan karena melakukan perbuatan baik.
 
Kalau begitu, jika istilah “dilahirkan dari air” bukan merujuk kepada baptisan, lalu apa yang dimaksud dengan istilah ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat backdrop istilah ini dari Perjanjian Lama. Yehezkiel 36:25-28 : “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu. Aku akan mentahirkan kamu. Aku akan kuberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam batinmu dan aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan kuberikan hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah-mu.” Di sini kita melihat seseorang yang mengalami kelahiran baru berkaitan dengan pentahiran dari yang lama dan kelahiran yang baru. Selain itu di dalam Yohanes 7:37-38 dikatakan: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barang siapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Perkataan “air” di sini merupakan sebuah lambing atau simbol. Apa maksudnya: firman Allah. Firman itulah yang digunakan Allah untuk melahirbarukan seseorang. Mazmur 119:50 dikatakan: “…karena firman-Mulah yang menghidupkan aku.” 1 Petrus 1:23 dikatakan: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Jadi, apakah yang dimaksud “dilahirkan dari air”? Dibersihkan dan disucikan oleh firman Allah. Dengan demikian yang dimaksud “dilahirkan dari air dan Roh” berarti Roh Kudus yang melahir barukan, dan firman Allah adalah “benih” yang dipakai oleh Allah.
 
Kesimpulan
 
Dari pembahasan di atas, ada beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan, sebagai berikut:
 
  1. Kelahiran kembali atau kelahiran baru merupakan suatu keharusan bagi seseorang untuk memiliki kehidupan baru di dalam Kristus dan memperoleh kehidupan kekal kelak di dalam kerajaan-Nya.
     
  2. Kelahiran kembali semata-mata pekerjaan Allah di dalam diri orang berdosa di mana Roh Kudus bekerja di dalam diri seseorang melalui firman Allah yang diberitakan.
     
  3. Seseorang yang sudah mengalami kelahiran kembali bukan dibuktikan oleh sekadar pengetahuan kognitif atau perilaku relijius semata, tetapi dari buah pertobatan yang dihasilkan. Ada kehidupan lama yang ditanggalkan dan kehidupan baru yang dimunculkan.
 
[ Nikson Sinaga ]