MEMPERKATAKAN PELAYANAN
MELALUI TEKS
_oOo_
 
Pengantar
 
Misi pelayanan kami, Persekutuan Studi Reformed ((PSR), adalah Mission by Word. Misi melalui pemberitaan firman Tuhan. Misi memperkatakan kebenaran Allah, firman Tuhan, dalam kerangka teologi Reformed. Pelayanan misi kami dimulai dari serangkaian seminar yang dikerjakan di luar kota Jakarta bertajuk Calvin for Kupang (CfK) di tahun 2010 dan Calvin for Medan (CfM) di tahun 2012. Dan jika Tuhan berkenan, di tahun 2014 ini kami terus menggumulkan akan pelayanan misi kami berikutnya bertajuk Calvin for Java (CfJ).
 
Di antara misi dua tahunan yang kami kerjakan ini, kami juga mengerjakan pelayanan rutin, seperti kebaktian mingguan, kebaktian Natal, kebaktian Paskah, pelayanan sosial media melalui facebook, website yang saat ini dalam proses penataan ulang, serta pelayanan buletin. Semua pelayanan yang dikerjakan menjadi bagian pelayanan kami di dalam pemberitaan Injil Tuhan, baik itu melalui pelayanan mimbar maupun melalui perkataan-perkataan yang dibakukan di dalam teks-teks tulisan.
 
Namun ironisnya melihat fenomena kekristenan saat ini, banyak gereja ataupun orang-orang Kristen cenderung kurang memberikan atensi serius terhadap perkataan para nabi dan rasul yang dinyatakan di dalam teks-teks Alkitab. Walau kita semua percaya bahwa perkataan para nabi dan rasul di dalam teks Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus yang menuntut pembacanya untuk mendengar sekaligus meresponi dengan benar di hadapan Tuhan Allah. Itu sebabnya, banyak orang Kristen kurang memiliki pergumulan dengan teks itu sendiri di dalam semangat memahami, mengenali, dan melakukan firman Tuhan.
 
Di tengah fenomena itu, kami menyadari bahwa misi pelayanan PSR seharusnya tidak boleh dipisahkan dari teks, karena setiap teks yang kami tuliskan dan khotbahkan adalah kebenaran firman Tuhan. Mengalimatkan pekerjaan Tuhan dalam sebuah teks inilah yang menjadi salah satu kekhasan dari pelayanan kami. Sekalipun kami bukan komunitas persekutuan yang besar, akan tetapi kami terus berdoa persekutuan ini tidak kehilangan isi, energi, dan dampaknya di dalam memberikan kesaksian kepada publik melalui pelayanan teks yang kami kerjakan. Melalui pengantar singkat ini akan membawa kita melihat sampai seberapa jauh pengaruh teks dalam konteks pelayanan kita kepada Tuhan.
 
Teks sebagai tindakan komunikasi
 
Teks merupakan tindakan komunikasi yang kompleks dengan materi (isi proposional), energi (daya, ilokusioner) dan tujuan (dampak perlokusioner).11.
Kevin J. Vanhoozer, “Is There a Meaning in The Text? The Bible, The Reader, and The Morality of Literary Knowledge” (Zondervan, 1998)
Sebuah teks dapat diakses dan menghasilkan dampak bagi pembacanya. Teks-teks itu sendiri memiliki sifat-sifat yang pasti dan penulis sendirilah yang memastikan teks-teks tersebut. Bahkan teks itu tetap sebagaimana adanya tanpa kehadiran penulis sekalipun. Pada satu sisi tentunya penulis tidak hadir dalam teks karena kehadiran penulis bukanlah kategori primer, melainkan kategori sekunder. Implikasi dari tindakan penulisan itu bukan “being there” (hadir sekarang) tetapi “having been there” (pernah hadir).
 
Semua teks, tidak hanya teks-teks Alkitab, sama-sama memberikan “hutang” tertentu, di mana pembaca berhutang kepada penulis. Maka sebuah teks merupakan tindakan komunikasi yang dilakukan melalui tulisan. Materi dan energi komunikasi dituangkan dalam tulisan. Terlebih lagi teks-teks memiliki momentum tertentu, tindakan komunikasi yang dihasilkan oleh penulis terus memiliki kekuatan di mana pun ia ditafsirkan.
 
Kevin Vanhoozer di dalam buku Is There a Meaning in the Text? melihat setidaknya ada empat perspektif di dalam memahami agensi kepenulisan,22.
Ibid
antara lain:
 
  1. Penulis sebagai Agen Historis
    Penulis dikatakan sebagai agen historis. Teks tanpa penulis tidak bisa diperhitungkan sebagai sesuatu yang historis ataupun sebagai tindakan komunikasi. Jorge Garcia dengan tepat mengatakan demikian, “tidak akan ada teks tanpa penulis historis,” karena keberadaan makna sangat tergantung pada apakah seseorang memiliki maksud atau memaksudkan sesuatu. Teks tanpa penulis historis adalah teks tanpa makna. Benar, wajah penulis mungkin tidak bisa kita akses. Membaca buku tidak sama dengan dialog tatap muka. Namun demikian, apa yang kita miliki dari penulis bukanlah wajahnya, melainkan jejaknya dari suatu tindakan.
     
  2. Penulis sebagai Agen Estetika
    Zaman sekarang ini telah diakui secara luas bahwa setiap penulis kitab-kitab Injil adalah seorang agen estetika. Masing masing penulis Injil sudah sedemikian rupa membuat inti-inti teologis tertentu agar mampu memberikan dampak tertentu bagi pembacanya hingga merekapun meresponinya. Masing-masing menggunakan logos (gaya dan struktur lokusioner teks) untuk menciptakan “etos” yang mendasarinya dan untuk mencapai “patos” (dampak perlokusioner pada pembaca).
     
  3. Penulis sebagai Agen Etis
    Mengatribusikan kepenulisan berarti melekatkan tanggung jawab atas apa yang telah dikatakan dan dilakukan. Etika dari penulisan berhubungan dengan bentuk ilokusioner dari wacana seorang penulis kepada aspek “apa” ketimbang aspek “bagaimana” dari tindakan komunikasi.
     
    Penulis memiliki kekuasaan yang luar biasa untuk menggerakkan sistem bahasa, untuk melakukan hal-hal dari jauh, dan untuk masuk ke dalam dunia kehidupan para pembaca yang berjumlah tak terhingga. Semua yang dikatakan penulis adalah penyebab-penyebab historis dari wacana.
     
  4. Penulis sebagai Agen Religius
    Melalui ucapan dan tindakan, kita tidak hanya melakukan sesuatu, tetapi menjadi sesuatu. Sesuatu yang dikomunikasikan, sesuatu yang dilakukan, dan sesuatu tentang diri kita dengan cara di mana perbuatan-perbuatan kita (tindakan-tindakan kita secara umum) berhubungan dengan wacana kita (tindakan komunikasi kita).
     
    Keseluruhan ucapan dan tindakan kita pada dasarnya akan membentuk dan membukakan siapa diri kita sebenarnya. Perkataan kita mengikat kita dengan dunia, mengikat kita dengan orang lain, mengikat kita dengan diri kita sendiri, dan pada akhirnya mengikat kita dengan Allah. Ucapan yang setia artinya perkataan yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang penulis sebagai agen religius tidak bisa dilepaskan dari apa yang diucapkannya, apa yang diperbuatnya, dan apa yang kerjakannya.
     
    Setiap teks kalimat yang diucapkan seseorang dengan penuh kesetiaan akan menghasilkan kesaksian yang benar, dan itu akan bertahan selamanya. Oleh karenanya, seseorang tidak perlu mengerti metafisika kehadiran untuk mempercayai penulis. Kita hanya perlu menganggapnya sebagai kebenaran bahwa teks adalah hasil dari tindakan komunikasi yang terjadi sebelumnya. Sementara itu teori sastra post modernisme secara luar biasa menghasilkan pengaburan terhadap dimensi-dimensi etis dan religius dari agen komunikasi. Membongkar penulis dari teks berarti menghilangkan semua tanggung jawab atas makna.
 
Eksegesis Kitab Yeremia 36
 
Teks yang dihasilkan oleh penulis tidak hanya memiliki makna, estetika, etis dan religius, namun teks itu sendiri bersifat permanen. Apa yang kita kalimatkan menjadi sebuah teks yang permanen. Ia tetap ada selamanya.
 
Selanjutnya pada bagian ini kita akan mengeksegesis Kitab Yeremia pasal 36. Hal pertama yang dicatat dari tindakan penulisan di dalam Alkitab adalah tindakan Allah menulis sepuluh hukum Taurat pada dua loh batu. Tindakan Allah ini diawali oleh sebuah perkataan atau ucapan-Nya yang kemudian diikuti dengan menuliskannya pada dua loh batu sehingga dapat dibaca oleh bangsa Israel. Di samping itu, Allah juga mendeklarasikan perjanjian-Nya dengan mereka. Allah memerintahkan mereka untuk taat melakukan sepuluh perkataan-perkataan Allah yang tertulis pada dua loh batu itu (Ul. 4:13, Ul. 5:22, 9:10, 10:4). Hal kedua adalah apa yang dilakukan oleh bangsa Israel menulis pada pintu rumah mereka. (Ul. 6:6, 9, Ul. 11:18-20). Dan yang ketiga dapat kita temukan di Ulangan 30:10, di mana digambarkan ketaatan untuk dituliskannya hukum-hukum di antara mereka yang kembali dari pembuangan Mesir.
 
Gambaran kitab Ulangan tentang ucapan dan tindakan yang dituliskan dengan kata-kata tentunya diambil dan dikembangkan oleh Yeremia menjadi sebuah teks permanen. Apa yang dikalimatkan atau apa yang ditulis membuat pesan yang diucapkan permanen. Ia tetap ada untuk seterusnya karena tulisan itu sebagai sebuah dokumen/teks-teks akan bertahan lama. “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Ambillah surat-surat ini, baik surat pembelian yang dimeteraikan itu maupun salinan yang terbuka ini, taruhlah semuanya itu dalam bejana tanah, supaya dapat tahan lama.” (Yer. 32:14).
 
Tulisan sebagai sebuah berita permanen sangat penting ketika kebenaran yang diucapkan belum dibuktikan oleh peristiwa. Kitab Yeremia ditulis agar ketika perkataan Allah digenapi, kita akan melihat bahwa apa yang dikatakan itu adalah benar. Dengan dibacakan atau diperkatakannya tulisan permanen itu memungkinkan bagi umat Allah untuk mendengar firman Tuhan, walau tanpa kehadiran nabi yang berbicara dan menyatakannya kepada mereka. Meski demikian, umat Allah tetap mempercayai bahwa firman Tuhan yang sampaikan dalam sebuah teks tulisan itu berasal dari Tuhan Allah. Sebagaimana yang tercatat pada Yeremia pasal 36 ayat 1-5. Catatan tersebut dimulai dengan “kata” (word), yaitu firman Tuhan yang datang kepada Yeremia, di tahun keempat pemerintahan Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda. Yeremia diperintahkan untuk menuliskan semua perkataan yang Tuhan firmankan kepadanya. Dengan perkataan yang tertulis itu memungkinkan bagi bangsa Yehuda untuk membacanya dan mengubah hati mereka dan bertobat dari segala tingkah lakunya yang jahat. Di samping itu, secara tidak langsung perkataan Tuhan yang dituliskan itu sekaligus menjadi proklamasi akan kenabian Yeremia (Ayat 3).
 
Ayat 4 mencatat bahwa segala perkataan Tuhan kepada Yeremia yang Tuhan perintahkan untuk ditulis diserahkan kepada Barukh bin Neria untuk menuliskannya.
 
Sama seperti di ayat sebelumnya yakni Tuhan berbicara kepada Yeremia maka Yeremia akan berbicara kepada bangsa Yehuda melalui mulut orang lain, yakni Barukh ketika kata-kata yang dituliskan itu dibaca. Pertama Yeremia memberitakan kata-kata kepada Barukh, lalu Barukh menulis apa yang dikatakan dari mulut Yeremia. Apa yang datang dari mulut Yeremia adalah kata-kata Allah yang sebelumnya berbicara kepadanya.
 
Di ayat 8, ada sesuatu yang tidak lazim bahwa Barukh tidak seperti Yeremia, diperintahkan untuk memberitakan gulungan firman Tuhan di rumah Tuhan. Apa yang Barukh tulis dan perkatakan kepada bangsa Yehuda memberikan dampak kepada orang yang mendengarkannya. Gemarya mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Barukh dari gulungan kitab itu.
 
Tulisan ini dipahami sebagai sebuah tindakan menangkap kata yang diucapkan, dan memperkatakan tulisan itu adalah tindakan melepaskan kata-kata dari bentuk tertulis untuk didengar sekali lagi. Barukh bukanlah seorang nabi. Apa yang Barukh tulis adalah perkataan Yeremia, tetapi ketika tulisan itu diperkatakan maka itu tiba sebagai firman Allah di telinga pendengar.
 
Dari apa yang Barukh tulis dan perkatakan, teks-teks yang Barukh tulis memberikan dampak kepada pendengarnya, yakni respon mereka terhadap kitab gulungan yang ditulis. Barukh membaca perkataan-perkataan ini di dalam kitab gulungan, akan tetapi Gemarya mendengar perkataan dari teks yang keluar dari kitab gulungan.
 
Respon itu dimulai dari Mikha yang melaporkan kepada para pemuka di rumah Tuhan. Respon dari mereka adalah ketakutan akan apa yang Barukh tuliskan dan katakan. “Bertanyalah mereka kepada Barukh, katanya: Beritahukanlah kepada kami, bagaimana caranya engkau menuliskan segala perkataan ini!” Jawab Barukh kepada mereka: “Segala perkataan ini langsung dari mulut Yeremia kepadaku dan aku menuliskannya dengan tinta dalam kitab.” (Yer. 36:17-18). Tidak demikian dengan Yoyakim raja Yehuda dan para pegawainya, di mana mereka tidak terkejut dan tidak mengoyakkan pakaiannya (Yer. 36:24) melainkan ia membakar kitab gulungan itu.
 
Cerita terakhir dari Yeremia pasal 36 ini ketika Yeremia diperintahkan oleh TUHAN untuk kembali menyalin segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama dan di bakar oleh Yoyakim, raja Yehuda. Perkataan Allah yang ada di dalam salinan kitab gulungan itu mengandung nubuatan akan penghakiman-Nya atas Yoyakim.
 
Teks di dalam pelayanan Yeremia memberikan hubungan yang sangat penting antara penulis, kitab gulungan dan perkataan-perkataan Allah yang dituliskan. Perkataan-perkataan Allah kepada nabi dalam kitab gulungan ada di dalam suatu rangkaian yang tidak bisa diputuskan. Melalui tindakan menulis, perkataan Ilahi mengambil tempat pada sebuah lembaran. Dan dengan cara tertulis hadir di tengah kita, maka perkataan Ilahi dapat dikabarkan lagi dan lagi. Suara yang kita dengar bukanlah suara yang sedang membaca. Ini adalah perkataan nabi yang pertama berkata dan ini adalah suara Allah yang nabi katakan.
 
Ketika Barukh mencatat perkataan Yeremia dan membacakannya di hadapan bangsa Yehuda maka hal itu sama sebagai pernyataan perkataan Allah. “Prophetic proclamation and public reading are equally proclamations of the word of God”.33.
Andrew G. Shead, “A Mouth Full of Fire, The Word of God in the words of Jeremiah” (New Studies In Biblical Theology, IVP, 2012)
Maka dari kitab Yeremia pasal 36 ini kita melihat sedemikian pentingnya teks dalam kitab gulungan di dalam pelayanan Yeremia. Apa yang dilakukan oleh Yeremia maupun Barukh adalah menjaga perkataan-perkataan Allah yang dicatat di dalam gulungan itu sehingga dapat diberitakan lagi.
 
Penutup
 
Teks-teks di dalam tulisan-tulisan merupakan suatu kesaksian (witness) di dalam ketiadaan si penulis atau si pembicara. Melalui teks-teks yang dituangkan ke dalam tulisan dan perkataan Ilahi ditempatkan pada sebuah gulungan atau kertas, dengan pengertian bahwa kehadiran teks-teks yang dituliskan, dibakukan hadir di antara kita dapat kemudian diberitakan lagi ke publik.
 
Pelayanan tanpa teks menjadikan pelayanan itu kehilangan isi, energi atau dampak serta tujuannya. Pelayanan mimbar, pelayanan misi, dan lain-lain tidak dapat dilepaskan dari teks-teks Alkitab. Teks itu sendiri bukan hanya untuk direnungkan saja, melainkan untuk dihidupi. Apa yang teks berikan kepada kita bisa disambut dan ditolak.
 
Oleh karena itu semangat untuk memahami dan membiarkan teks-teks Alkitab berkata-kata kebenaran kepada kita tetap tinggal di dalam kita untuk melayani Tuhan. Kita diundang, dipanggil untuk berdiam dalam dunia teks, untuk tinggal serta dalam firman Tuhan di tengah begitu banyak teks-teks yang tidak bertanggung jawab dan menyesatkan.
 
Sehingga tujuan akhir kita dalam membaca dan mengikuti Alkitab sebagai Kitab Suci seharusnya adalah pengetahuan akan Allah, yang di dalamnya kita juga menemukan pengetahuan diri yang sejati, seperti apa yang dikatakan Calvin: “Tidak ada pengetahuan diri tanpa pengetahuan akan Allah”.
 
[ Mulatua Silalahi ]
 
Notes.
 
1
Kevin J. Vanhoozer, “Is There a Meaning in The Text? The Bible, The Reader, and The Morality of Literary Knowledge” (Zondervan, 1998)
 
2
Ibid
 
3
Andrew G. Shead, “A Mouth Full of Fire, The Word of God in the words of Jeremiah” (New Studies In Biblical Theology, IVP, 2012)