MEMAHAMI KEBERADAAN KITA SEBAGAI
“YANG ADA DI DALAM DUNIA”
_oOo_
 
Pengantar: kondisi manusia di dalam dunia dan keprihatinan filsuf eksistensialisme
 
Dalam filsafat modern keberadaan manusia dipahami sebagai bagian dari suatu “cerita besar” (metanarrative) universal tertentu. Namun kenyataannya cerita besar menimbulkan berbagai kisah tragis dalam perjalanan manusia; misalnya: dalam perjuangannya untuk bertahan pada akhirnya manusia harus tersingkir dan tersendiri, dan dalam pertarungannya menjadi subyek pada akhirnya manusia terlempar menjadi obyek. Dengan kata lain filsafat modern dengan ide universalnya telah mengabaikan manusia sebagai sesuatu yang “ada.” Kenyataan itu pada akhirnya mendapatkan perhatian filsuf-filsuf yang memikirkan apa sesungguhnya panggilan hidup manusia sebagai individu yang “ada,” yaitu “apa yang seharusnya ia kerjakan” dan “akan menjadi apa ia nanti.” Oleh karena itu filsuf-filsuf tersebut memikirkan apa arti “ada” sesungguhnya. Menurut mereka, sebagai “ada,” manusia tidak boleh bereksistensi sekadar seperti itu, yaitu menjalani begitu saja metanarasi yang ada. Menurut mereka “ada” harus “eksis” dan dari situlah kata “eksistensialisme” berasal. Kata “eksis” secara harafiah berarti “berdiri tegak melawan.” Filsuf-filsuf eksistensialisme membukakan bagaimana manusia secara individu seharusnya hidup dengan “berdiri tegak melawan” dunia, masyarakat, struktur, lembaga dan metanarasi yang ada. Eksistensialisme merupakan filsafat subyektif yang dilihat dari sudut pandang individual. Ia menyangkut “saya” dan “bagaimana seharusnya saya hidup.” Manusia harus memikirkan dan menggumulkan sungguh-sungguh eksistensi dirinya di dalam dunia ini. Filsuf-filsuf eksistensialisme percaya bahwa tidak ada hukum yang sifatnya universal dan oleh karena itu perjuangan manusia mengikuti hukum dan aturan yang bersifat universal hanya akan menambah berbagai kisah tragis di dalam dunia ini. Sebelum manusia memikirkan “apa yang seharusnya ia kerjakan” dan “akan menjadi apa ia nanti” pertama-tama manusia harus memahami dirinya sebagai yang “ada” (being).
 
Artikel ini mengajak kita untuk memikirkan eksistensi manusia sesungguhnya berdasarkan kritik Martin Heidegger (1889-1976), seorang filsuf Jerman, terhadap apa yang telah diabaikan oleh tradisi filsafat modern yang meninggikan universal. Kita akan melihat bagaimana seharusnya orang Kristen dapat mengambil manfaat dari kritik Martin Heidegger ini untuk menjaga diri agar pada saat mereka menjalankan panggilan mereka di dalam dunia ini kita tidak terpedaya oleh kelicikan dunia yang berdosa.
 
Martin Heidegger (1889-1976 ) dan pemikirannya tentang “faktisitas”
 
Salah satu kritik dan pemikiran penting mengenai bagaimana seharusnya manusia hidup sebagai “ada” diusulkan oleh Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman. Heidegger lahir pada tahun 1889 di Messkirch, Jerman. Ia pernah belajar di bawah bimbingan Edmund Husserl (1859-1938) di Freiburg dan kemudian menjadi asistennya. Pada tahun 1927 Heidegger menerbitkan karya pentingnya Being and Time. Tahun 1933, seiring dengan naiknya Hitler ke panggung kekuasaan Jerman, Heidegger menjadi pendukung dan anggota partai Nazi hingga Mei 1945. Ia mengajar di Freiburg hingga tahun 1944. Tahun 1944 hingga 1951 ia diberhentikan dari mengajar oleh Sekutu. Tahun 1959 ia pensiun dan meninggal pada tahun 1976. Ia dikubur di halaman sebuah gereja yang, ketika ia masih anak-anak, sering ia lalui dalam perjalanannya menuju sekolah. Yang menakjubkan dari hidup Heidegger adalah bahwa hanya sedikit hal yang istimewa padanya: ia hampir tidak pernah melakukan perjalanan dan jarang pergi ke luar negeri. Hidupnya begitu melekat dengan tanah Jerman, hal yang juga berhubungan dengan pemikirannya mengenai keberadaan manusia.
 
Heidegger mengawali pemikirannya mengenai “faktisitas” manusia dengan kritiknya atas paradigma subyek-obyek di dalam filsafat modern yang membagi realita menjadi dua sisi: manusia sebagai “diri” yang memiliki kesadaran (subyek) dan apa yang manusia itu sadari di dalam dunia ini (obyek). Dengan kesadarannya itulah manusia dapat menaklukkan dan memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Namun oleh karena pada saat yang sama sebagai subyek manusia mengamati segala yang “ada” tetapi sebagai obyek manusia juga merupakan “ada” yang diamati oleh subyeknya timbullah kerumitan dalam memikirkan yang “ada” ini. Inilah hal yang telah diabaikan oleh paradigma subyek-obyek dalam filsafat modern. Oleh karena itu manusia memerlukan jalan keluar dan untuk itu, menurut Heidegger, pertama-tama manusia harus memahami faktisitas (facticity) keberadaan dirinya sebagai suatu yang “ada.” Sebelum membahas faktisitas keberadaan manusia dalam pemikiran Heidegger, kita harus memahami dahulu kedalaman istilah “faktisitas” dan “faktisitas keberadaan manusia” sebagaimana ia maksudkan.
 
“Faktisitas” (facticity) merupakan sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar fakta dalam pengertian “faktualitas” (factuality). Faktisitas menyingkapkan fakta mengenai “apa adanya” manusia, sedangkan faktualitas hanya menyingkapkan fakta “bagaimana manusia itu berada” di dalam dunia oleh karena interaksi dan interdepensinya dengan berbagai “ada” yang lain di dalam dunia ini (dalam arti luas: orang lain, hewan, tumbuhan, materi, waktu dan sebagainya). Sedangkan faktualitas merupakan fakta dalam arti “sudah menjadi demikian adanya” atau dapat dikatakan “sudah menjadi berita,” seperti misalnya: “Joshua lahir pada era 2000-an” atau “anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat hanya memikirkan diri mereka sendiri”.
 
“Faktisitas keberadaan manusia” adalah kefaktaan bahwa sebagai suatu yang “ada,” keberadaan manusia di dalam dunia ini sesungguhnya merupakan eksistensi yang terlempar akan tetapi keterlemparannya (thrownness) itu merupakan keadaan yang tidak ia “sadari” (unnoticed) atau “perhatikan” (unattended). Ia menjalani kondisi itu begitu saja sehari-hari tanpa mempertanyakannya; katakan saja hal itu suatu naïve experience. Dalam keterlemparannya “di dalam dunia” ini manusia menjalani hidupnya “di tengah” (in the middle) berjalannya dan berlangsungnya perjalanan hidup manusia. Begitu ia lahir, dunia dan struktur-struktur yang ada langsung mengikatnya tanpa memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan sehingga dengan demikian bagaimana ia berada selalu adalah “bukan dirinya sendiri” (inauthentic self). Jadi dapat kita katakan bahwa eksistensi manusia “di dalam dunia” yang terikat oleh berbagai struktur ini merupakan suatu kondisi yang selalu memperangkap dirinya menjadi “bukan diri sendiri.” Ia tidak mempunyai daya tawar (bargaining power) terhadap kondisi itu. Dengan menyadari faktisitas manusia seperti ini maka Heidegger melaui bukunya Being and Time (1927) mengusulkan agar manusia mengenal terlebih dahulu apa itu “ada” (being).
 
Heidegger: “faktisitas keberadaan manusia”
 
Langkah pertama untuk menjawab apa itu “ada” adalah menyingkapkan keberadaan manusia selaku entitas yang mempertanyakan “ada” itu sendiri – Heidegger menyebut keberadaan manusia (human being) yang mempertanyakan “ada” ini dengan Dasein. Tidak seperti entitas non-manusia lainnya (seperti hewan, tumbuhan dan sebagainya), manusia membangun relasi terhadap “diri” dan dua entitas lainnya yang tidak boleh ia abaikan, yaitu:
 
  1. Entitas yang demikian adanya (objectively present)
    Entitas jenis ini menampilkan diri secara obyektif, misalnya batu. Sebuah batu berada demikian adanya. Dalam terminologi non-Heideggerian sifat entitas seperti ini disebut alamiah (natural).
     
  2. Entitas yang ada demi kita (at hand)
    Entitas jenis ini merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh proses budaya dan menuntut terjadinya saling mempengaruhi (care), misalnya kampak. Kampak dibuat oleh manusia akan tetapi manusia hanya boleh menggunakan kampak itu untuk fungsi-fungsi tertentu seperti misalnya memecahkan batu. Contoh lainnya adalah pintu. Manusia membuat pintu tetapi pada akhirnya pintu itu berbalik mengatur manusia sehingga manusia harus berjalan melewatinya. Dalam terminologi non-Heideggerian sifat entitas seperti ini disebut kultural (cultural).
 
Dengan pemahaman adanya dua jenis entitas di luar manusia seperti ini, Heidegger mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan dosa asali (original sin) epistemologi Barat adalah memperlakukan semua entitas yang ada termasuk manusia semata-mata hanya sebagai entitas yang demikian adanya (objectively present). Epistemologi modern telah mengabaikan eksistensi manusia di dalam dunia ini sebagai eksistensi yang juga berinteraksi dan terinterdependensi dengan berbagai entitas non-manusia lainnya secara care. Jadi, menurut Heidegger, pemahaman mengenai manusia harus mengindahkan manusia sebagai entitas yang sifatnya bukan hanya objectively present tetapi juga at hand.
 
Sebagai entitas yang sifatnya objectively present dan at hand pada faktisitasnya manusia berada sebagai “yang ada di dalam dunia” (Inggris: being-in-the-world; Jerman: In-der-Welt-sein). Untuk memahami faktisitas manusia di dalam dunia ini pertama-tama harus kita pahami bahwa kata “in” (diartikan: “di dalam”) yang Heidegger gunakan dalam terminologi “in-the-world” bukan digunakan dalam arti “water in the glass” yang menunjuk pada lokasi atau tempat, melainkan dalam arti “falling in love” yang menunjuk pada keterbelengguan atau keterjeratan atensi seseorang. Heidegger menjelaskan situasi mendasar manusia yang “in-the-world” ini dengan tiga arah berikut ini:
 
  1. Manusia merupakan entitas yang tidak mungkin lepas dari pada dunia (Being alongside the world)
     
    Manusia dipahami sebagai entitas yang memiliki keterikatan dengan kedua entitas lainnya itu di dalam dunia ini. Misalnya: benda kampak. Sebagai entitas yang objectively present kampak dapat dipegang dan dibawa oleh manusia dengan mudahnya (karena itu adalah handiness-nya sebagai kampak), akan tetapi sebagai entitas yang sifatnya at hand kampak hanya dapat digunakan untuk fungsi tertentu seperti menebang pohon (karena itu adalah serviceableness-nya sebagai kampak). Jadi antara manusia dengan kampak ada hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya (care). Sebagaimana kampak tersebut dan kegunaannya saling mempengaruhi, demikianlah pula manusia dengan dunia ini. Contoh lain yang diberikan adalah seseorang bekerja dan menghasilkan uang. Uang adalah entitas at hand yang dikuasainya, akan tetapi uang berikut segala sesuatu yang bisa dibelinya kemudian berbalik menguasai eksistensi hidupnya seperti rasa takut kehilangan uangnya dan keinginan untuk melipatgandakannya. Jadi di sini kita melihat bahwa interaksi manusia di dalam dunia dengan yang at hand demikian berpengaruh satu sama lain; yang semula manusia kuasai kemudian berbalik menguasainya.
     
  2. Manusia merupakan entitas yang selalu bersama dengan orang lain (Being with others)
     
    Manusia dipahami sebagai entitas yang selalu terbuka bagi orang lain. Ia mempengaruhi orang lain dan dipengaruhi oleh orang lain. Kebersamaannya dengan orang lain selalu turut mengarahkan pertimbangan-pertimbangannya (considerateness) sehingga menuntutnya untuk peduli (concern) dan tenggang rasa (tolerance). Dengan demikian, menurut Heidegger, keberadaan manusia sesungguhnya selalu interdependen dengan keberadaan orang lain dan dengan demikian ia tidak mungkin menjadi seseorang yang “terbebas dari interdependensinya dengan orang lain,” atau dengan kata lain keberadaannya akan selalu “tidak otentik” (inauthentic). Di sini kita melihat bahwa relasi manusia di dalam dunia dengan yang orang lain juga bersifat timbal balik dan saling mempengaruhi; di dalam relasi itu manusia menguasai tetapi juga dikuasai. Manusia bergumul di antara being dan beings.
     
  3. Manusia merupakan entitas yang berjuang untuk menemukan dirinya sendiri (Being one’s self)
     
    Sebagai suatu entitas manusia mempunyai tugas yang harus ia kerjakan, yaitu memilih dan menentukan sesuatunya sendiri. Ia dikatakan “otentik” (=I) apabila ia dapat memilih dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan terdalamnya sendiri, lepas dari pengikatan timbal baliknya dengan “orang banyak” (=they; the crowd). Sebaliknya ia hanya akan menjadi “tidak otentik” (inauthentic) apabila pilihan-pilihannya ditentukan dan diarahkan berdasarkan konsensus “orang banyak”.
 
Solusi Heidegger atas “faktisitas keberadaan manusia”: attunement
 
Dengan apa yang Heidegger singkapkan mengenai situasi-situasi mendasar manusia di dalam dunia ini pada akhirnya kita melihat bahwa sesungguhnya manusia berada di dalam berbagai ketegangan dan konflik. Untuk keluar dari berbagai ketegangan dan konflik dengan situasinya itu Heidegger mengusulkan jalan keluar, yaitu manusia harus memahami (understanding) dunia di sekitarnya ini dengan dicerahkan atau disadarkan terlebih dahulu oleh sesuatu yang ia sebut dengan attunement. Attunement berperanan sebagai fungsi “wahyu” (revelatory function) yang memberikan manusia suatu kepekaan sehingga manusia “tersadarkan” (aware, tuned), dalam bahasa pergaulan Indonesia dapat disebut “ngeh,” akan keadaan sekitarnya sebelum pada akhirnya ia memberikan respon untuk bertindak.
 
Sayang, being with tidak lulus pengujian holocaust
 
Seiring dengan berjalannya waktu pemikiran “faktisitas” Heidegger yang merupakan kritik atas filsafat modern tersebut menghadapi pengujian. Nazi Jerman melakukan pembantaian sistematis jutaaan orang Yahudi di Eropa. Heidegger terdiam sehingga oleh sejumlah filsuf dengan latar belakang Yahudi mempertanyakan pemikirannya mengenai being with di sini. Salah satu pertanyaan dan pengujian yang signifikan atas pemikiran Heidegger tersebut datang dari Emannuel Levinas. Sebagai seorang yang mengkritisi filsafat modern Levinas juga mengakui bahwa kritik Heidegger terhadap kerangka subyek-obyek, terutama dengan “being with”-nya merupakan sesuatu yang inspiratif. Akan tetapi keterdiaman Heidegger pada holocaust memunculkan pertanyaan mengenai siapa sesungguhnya “sesama” Heidegger dalam apa yang ia maksud dengan “being with.” Dukungan Heidegger terhadap Nazi oleh Levinas diklaim sebagai suatu kelemahan mendasar (flaw) yang secara inheren telah tertanam di dalam pemikirannya itu. Sebagai seorang filsuf-akademisi Heidegger sering berpakaian seperti halnya petani Jerman. Levinas akhirnya mendapati bahwa being with yang Heidegger maksudkan ternyata adalah being with sesama petani Jerman. Heidegger didapati sebagai seseorang yang keberadaannya hanya in the middle saja. Attunement yang Heidegger bangun sebagai jalan keluar bagi manusia, yang faktisitasnya di dalam dunia (in the world) ini telah sedemikian terinterdependensi, ternyata juga berputar-putar “di dalam dunia.” Saat Hitler berkuasa seluruh pidato dan orasi patriotik Nazi-nya disiarkan ke seluruh Jerman melalui radio. Bahkan pada setiap tempat layanan umum dipasang alat pengeras suara agar siaran radio yang berlangsung tersebut dapat terdengar jelas oleh semua orang yang berada di situ. Apabila stasiun-stasiun radio Jerman menyiarkan pidato Hitler pada saat mereka sedang beraktifitas maka secara instan mereka akan menghentikan aktifitas mereka sementara waktu untuk mendengar dalam sikap hormat tangan kepada Fuhrer mereka. Jadi attunement yang Heidegger bangun memang diinspirasi oleh tuning gelombang radio, suatu fungsi wahyu bagi rakyat Jerman. Nyata di sini bahwa “keterbukaan” (openness) manusia pada dunia yang “di dalam”-nya ia berada, sebagaimana Heidegger maksudkan, ternyata bersirkular di dalam diri.
 
Kebuntuan attunement dan apa yang Alkitab ajarkan
 
Heidegger telah membukakan hal penting dalam memahami bagaimana sesungguhnya manusia ada di dalam dunia, akan tetapi disayangkan, pemikirannya mengandung disintegritas sehingga solusi attunement yang ia berikan gagal berhadapan dengan holocaust. Kita memerlukan attunement tetapi harus didasarkan pada kebenaran Alkitab. Setelah Adam jatuh ke dalam dosa kesadaran Adam berada “di dalam dunia” (in the world) lebih besar dari kesadarannya berada “di hadapan Allah” (before the presence of God). Tuhan Yesus mengajarkan satu hal penting kepada kita, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Matius 8:22). Tuhan Yesus menyadari benar keterbatasan waktu-Nya melayani di dalam dunia. Oleh karena itu tuntutan atensi dan komitmen penuh merupakan hal penting dalam mengikut Dia. Saat salah seorang murid-Nya meminta izin untuk menguburkan ayahnya, suatu tugas penting seorang anak dalam tradisi Yahudi yang diturunkan dari perintah Tuhan ke-lima (Keluaran 20:12), dengan kalimat tersebut Tuhan Yesus mengajar agar orang itu menyadari panggilannya secara sungguh-sungguh di hadapan Allah, bukan sekadar menyerahkan diri pada etika orang banyak. Jadi Tuhan Yesus sama sekali tidak bermaksud melarang orang itu menguburkan ayahnya yang telah mati. Pekerjaan orang yang mati “secara rohani” untuk menguburkan orang yang mati “secara fisik,” memang merupakan suatu keadaan yang tidak bisa ditawar lagi setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Akan tetapi kesadaran kita berada “di hadapan Allah” harus lebih besar dari pada kesadaran bahwa kita berada “di dalam dunia.” Di situlah kita akan melihat panggilan Tuhan yang unik, apabila kita tidak menyebutnya authentic, atas diri kita masing-masing. Firman Tuhanlah yang seharusnya mencerahkan kita, apabila kita tidak menyebutnya attunement, sehingga olehnya kita “sadar” akan situasi dunia di sekitar kita.
 
Penutup
 
Persekutuan Studi Reformed merupakan wadah kecil di mana di dalamnya sejumlah orang menyadari bahwa keberadaan mereka di dalam metanarasi modern ini merupakan keberadaan yang ada “di hadapan Allah.” Setiap orang mengerjakan bagiannya masing-masing. Dengan keterbatasannya di dalam wadah ini setiap orang bersama-sama menjawab tantangan yang diusulkan oleh pemikir-pemikir penting itu dengan tetap setia berdiri di atas Firman-Nya. Ia tidak akan pernah berhenti untuk bekerja. Oleh karena itu mari kita pikirkan dan kerjakan apa yang menjadi bagian kita itu.
 
 
Dalam rangka mengenang almarhum Aldrin Gibion Panjaitan, suami tercinta dari adik penulis, seseorang yang memikirkan apa maksud keberadaan dirinya di dalam dunia ciptaan Tuhan ini, yang pada tanggal 16 Januari 2014 lalu telah pergi menjumpai Kristus di Sorga. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi!
 
 
[ Jessy V Hutagalung ]