Doa Natal Keluarga
_oOo_
 
Perayaan Keluarga.
 
Suasana Natal yang berulang setiap tahun yang biasanya mulai terasa sejak awal Desember tentu memunculkan semangat tersendiri bagi setiap keluarga Kristen. Semangat di dalam keceriaan dan kedamaian yang melahirkan harapan rohani bahwa di tahun-tahun berikutnya penyertaan Tuhan semakin lebih nyata di dalam perjalanan sebuah keluarga Kristen. Bagaimanapun juga, di berbagai macam perayaan Natal di seluruh dunia, topik “keluarga” selalu saja menjadi sorotan, oleh karena bayi Yesus hadir di dunia melalui sebuah keluarga dan bahkan Ia juga menjadi bagian dari keluarga. Oleh karenanya Natal secara tidak langsung sebenarnya menjadi perayaan keluarga yang sudah menjadi tradisi turun temurun bagi segenap keluarga Kristen di seluruh dunia.
 
Perhatikanlah jika Natal tiba, entah kenapa timbul keinginan dalam hati setiap orang Kristen untuk berkumpul bersama dengan keluarga besarnya di hari bahagia itu. Biasanya malam setelah selesai pulang ibadah malam Natal di gereja, keluarga Kristen segera bersiap-siap berkumpul menikmati masakan Natal. Tak ketinggalan disuguhkan juga bermacam-macam jenis kue natal dan minuman yang menggugah selera. Walau semua disajikan dengan begitu sederhana, namun kebiasaan ini memberi makna besar bagi seluruh anggota keluarga. Karena di momen itulah mereka boleh memiliki kesempatan menikmati kebersamaan sebagai sebuah keluarga di tengah suasana Natal.
 
Memang, merayakan Natal sebagai perayaan keluarga menjadi momen khusus untuk berkumpul bersama keluarga dari segala usia. Momen itu tentu dipenuhi suasana sukacita dan kegembiraan, menciptakan kenangan terindah bersama keluarga, dan menciptakan perasaan saling memiliki satu sama lain sebagai sebuah keluarga. Setiap anggota keluarga dengan caranya sendiri saling membangun ikatan satu sama lain, seperti saling berbagi makanan, berbagi kisah dan cerita, anak-anak mendapat bingkisan kado natal dengan segala pernak pernik sinterklas yang ada, dan sebagainya. Oleh karenanya, hari natal akan selalu menjadi hari anak-anak.
 
Akar kata “Natal” bersumber dari bahasa Latin, yang artinya: “lahir.” Maka, Natal merupakan suatu momen kemeriahan besar bagi orang Kristen, saat di mana mereka merayakan kelahiran Yesus Kristus. Natal dapat disebut juga “pesta kelahiran”. Harus diakui, oleh karena gereja tidak mengetahui kapan tepatnya tanggal dan hari kelahiran bayi Yesus, menyebabkan mereka mengambil satu hari saat orang Romawi merayakan kelahiran dewa matahari yang jatuh tepat pada tanggal 25 Desember. Maka di tanggal itulah ditetapkan sebagai hari Natal di seluruh dunia. Hari di mana orang Kristen merayakan kedatangan Yesus Kristus sebagai Terang Dunia dan Matahari keselamatan dunia.
 
Makna Natal adalah kelahiran Yesus Kristus secara sederhana di sebuah kandang hewan, tempat para gembala memelihara domba-dombanya. Namun, walau dilahirkan dalam keadaan yang sangat sederhana, kelahiran bayi Yesus ke dalam dunia sesungguhnya adalah perwujudan cinta kasih Allah kepada manusia. Kelahiran bayi Yesus terhitung sebagai mujizat terbesar dari Allah. Kisah Natal dalam Injil adalah kisah yang berisi orang-orang yang rela menjalani panggilan Allah meski sulit dan berbahaya. Natal diperankan oleh orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku seperti perkataan-Mu itu” (Luk. 1:38). Tidak banyak wanita yang mau menempuh bahaya sebagaimana yang dilakukan Maria. Dan tidak banyak laki-laki yang bertanggung jawab seperti Yusuf. Maria, Yusuf, dan bayi Yesus adalah gambaran keluarga Kristen di mana cinta kasih dan penyerahan diri seutuhnya kepada kehendak Allah Bapa menjadi hasrat dan warna dari hidup keseharian mereka.
 
Natal adalah panggilan Tuhan bagi setiap kita untuk mulai terlibat dalam rencana-Nya. Seringkali rencana-Nya itu terlihat berbahaya dan tidak menguntungkan bagi kita, tetapi sebagai orang Kristen yang taat, kita percaya bahwa Allah akan memudahkan segalanya. Rencana-Nya bagi kita adalah menjadikan kita sang pembawa damai, dimulai dari ruang lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga kita. Selanjutnya, damai itu akan terus menyebar dan meluas ke lingkungan sekitar, komunitas, tempat kerja, hingga ke seluruh masyarakat kita. Tuhan Yesus pernah berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh. 14:27).
 
Apakah Anda Melakukan “Doa Natal Keluarga”?
 
“Doa Natal keluarga” tentulah dipimpin oleh kepala rumah tangga. Ini merupakan hak istimewa (privilege) bagi pemimpin keluarga untuk memimpin keluarganya memasuki prosesi doa. Tentu hak istimewa ini tidak hanya berlaku di saat Natal saja, tetapi juga berlaku di ibadah-ibadah keluarga di sepanjang tahun. Prinsip dasar dari doa Natal keluarga adalah ungkapan kepercayaan keluarga kepada Allah bahwa Dialah satu-satunya Tuhan yang senantiasa memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan keluarga sepanjang tahun. Dan Dia juga yang memperhatikan dan memberi kelegaan atas segala kekhawatiran yang terjadi di dalam perjalanan hidup keluarga.
 
Semua keluarga Kristen tentu sangat memperhatikan nasihat Yohanes ini: “Jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yoh. 5:15). Keluarga Kristen tentu akan mengatur doa Natal dengan pokok doa berupa pujian (berterima kasih kepada Allah atas segala yang telah disediakan sepanjang tahun), pertobatan (ungkapan keinginan untuk berbalik dari dosa yang masih dilakukan oleh anggota keluarga), meminta (mengungkapkan kepada Tuhan perihal apa saja yang diharapkan agar Dia melakukannya bagi setiap anggota keluarga di sepanjang tahun ke depan), berserah (menaruh percaya kepada otoritas Allah – bahwa semua “hanya jadi” oleh kehendak Allah).
 
Tuhan tidak hanya ingin mendengar hal-hal besar, tetapi jujurlah juga kepada-Nya untuk hal-hal kecil, karena Ia tahu dan peduli tentang sekecil apapun kebutuhan setiap anggota keluarga kita. Sebuah keluarga Kristen seharusnya berdoa kepada Allah dengan perasaan mengasihi Dia. Perasaan itu harus menyatu dan memengaruhi isi doa yang dipanjatkan. Isi doa sebaiknya tidak hanya terpusat pada peristiwa kelahiran bayi Yesus saja, tetapi kita bisa juga mendoakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia saat ini yang banyak menimbulkan kekhawatiran. Bagaimanapun juga, kehadiran bayi Yesus di antara Yusuf sebagai ayah dan Maria sebagai ibu, sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya sebuah keluarga di mata Tuhan. Keluarga Kristen harus bertumbuh secara rohani di hadapan Allah. Oleh sebab itu, Natal seharusnya menjadi waktu yang tepat bagi semua keluarga Kristen untuk menjalankan perihal “keharusan” terhadap Tuhan. Natal juga seharusnya mengingatkan kita tentang kesatuan semua orang Kristen sebagai satu keluarga, yaitu sebagai anak-anak Allah.
 
Selamat Natal 2015 & Selamat Tahun Baru 2016.
[ Gogona Gultom ]