KRISTUS DATANG UNTUK MELAYANI, BUKAN DILAYANI
_oOo_
 
 
Matius 20:28
“sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”
 
 
 
Markus 10:45
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”
 
 
Pada waktu membaca kalimat Yesus di atas, seharusnya kita menyadari bahwa sesungguhnya seluruhnya sudah Yesus berikan dan kerjakan di dalam pelayanan-Nya di dunia ini bagi kita, umat tebusan-Nya. Tidak ada lagi suatu hal yang lebih dari itu, tidak ada lagi yang lebih tinggi dari itu, dan tidak ada teladan yang lebih agung dibanding dengan apa yang sudah Yesus tunjukkan. Mengutip istilah R. Alan Cole: ”how much more type”, maksudnya berapa banyak lagi yang belum Yesus berikan? Kita bisa jawab, semuanya sudah diberikan, bahkan nyawa-Nya sendiri pun sudah diberikan.
 
Theolog bernama R.T. France pernah berkata, “…… in the attitude of service (putting others first) which inspired his unique self-sacrifice. The form of our service will be different from His, but its motivation must be the same, not to be served but to serve.” Maksudnya, motivasi kita dalam melayani harusnya sama dengan teladan yang telah Yesus berikan. Bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
 
Dari uraian singkat di atas, setidaknya ada 2 (dua) poin yang perlu kita renungkan mengenai bentuk keteladanan yang sudah Yesus perlihatkan di dalam masa pelayanan-Nya di dunia ini. Kedua poin perenungan itu diringkas dari kutipan perkataan seorang theolog Kristen bernama Matthew Henry.
 
  1. Belum pernah kita melihat teladan mengenai kerendahan hati seperti yang tampak dalam kehidupan Yesus.
     
    Dia datang bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Inilah yang dikerjakan oleh Yesus ketika datang ke dunia. Oleh karena Dia adalah Anak Allah, orang akan berpikir sudah selayaknya kedatangan-Nya disambut dan dilayani dengan kemegahan. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya. Kelahiran-Nya sama sekali jauh dari kata kemegahan. Dia lahir di sebuah kandang domba yang hina dengan terbungkus kain lampin. Dan semakin ironis tatkala para pemimpin agama dan pemimpin politik tidak menyambut kedatangan Anak Allah itu. Justru para gembala dan tiga orang majuslah yang datang menyambutnya.
     
    Alkitab memberitahukan kita bagaimana seluruh kehidupan Yesus di dunia ini didedikasikan untuk bekerja dan melayani. Dia berkhotbah, mengajar, melakukan banyak mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit dan bahkan yang lebih besar dari itu, Ia membangkitkan orang mati. Ia melayani di tengah-tengah orang berdosa. Waktu disalibkan, di dalam penderitaan dan kesakitan luar biasa, Ia masih sempat melayani seorang penjahat yang disalibkan di sebelah kanan-Nya yang mau bertobat. Dari sini kita melihat bagaimana totalitas kehidupan yang Yesus tunjukkan dipenuhi oleh pelayanan. Dan di dalam pelayanan-Nya itu, Ia sedang menjalankan perintah Bapa di surga untuk menggenapi rencana-Nya di dunia ini.
     
    Yesus datang tidak untuk dilayani, tentu ini sudah sesuatu yang luar biasa. Tetapi apa yang Ia lakukan jauh lebih besar dari itu. Teladan yang Yesus tunjukkan ini merombak dengan sempurna apa yang menjadi standar dunia tentang konsep kepemimpinan dan kekuasaan. Bahwa seeorang pemimpin atau orang yang berkuasa sudah selayaknya dilayani dan berhak memerintah sesuai dengan keinginannya. Tetapi yang Yesus tunjukkan justru kebalikannya. Dia yang adalah Anak Allah datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani. Ia datang dengan satu tujuan ultimat, yaitu menjalankan dan menggenapi rencana Allah Bapa di surga.
     
  2. Belum pernah ada teladan tentang perbuatan baik yang dilakukan bagi orang lain seperti yang tampak melalui Kematian Yesus.
     
    Yesus telah melakukan perbuatan baik dan teragung yang pernah ada. Kedua ayat di atas sama-sama menggunakan kata “datang”. Kata ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Ia melakukan tindakan aktif, menunjukkan keberadaan-Nya sebelumnya, dan sekaligus menunjukkan kekekalan dan keilahian-Nya. Bisa dibayangkan, bagaimana Ia aktif datang melayani di dunia, melakukan banyak perbuatan baik di tengah kumpulan orang berdosa. Bahkan di dalam puncak pelayanan-Nya, Ia serahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
     
    Berbicara mengenai konsep tebusan secara umum, tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan berapa harga yang harus dibayar untuk membebaskan tawanan? Dalam konteks rencana keselamatan Allah, siapa tawanan yang harus dibebaskan itu? Kita, umat-Nya, manusia berdosa. Berapa harga yang harus dibayar sebagai tebusannya? Seharga nyawa Tuhan Yesus. Kepada siapa tebusan itu dibayarkan? Kepada Bapa di Surga.
 
Di kedua ayat di atas, ada juga kata “bagi banyak orang”. Terkait penafsiran mengenai kata ini, John Calvin, seorang tokoh theologi Reformed, menafsirkannya bukan dalam pengertian “fixed number but for a large number” / bukan suatu jumlah yang tetap, tetapi suatu jumlah yang besar atau banyak. Penafsiran ini memperjelas pemahaman kita bahwa tebusan yang dikerjakan oleh Yesus melalui kematian-Nya tidak ditujukan bagi semua orang secara universal, melainkan terbatas hanya bagi umat pilihan-Nya. Artinya, Yesus mati untuk menebus banyak orang, bukan semua orang. Pemahaman ini menjadi salah satu keunikan inti pengajaran theologi Reformed.
 
Untuk mengakhiri tulisan ini, komentar William Barclay ternyata sangat cocok untuk menyimpulkan kedua ayat tersebut di atas. Ia berkata, “Ada kebenaran yang besar, tanpa Yesus Kristus, melalui kehidupan pelayanan-Nya dan melalui kematian-Nya oleh karena kasih-Nya, kita tidak akan pernah bisa menemukan jalan untuk kembali kepada Allah. Yesus memberikan segala sesuatu untuk membawa manusia kembali kepada Allah.”
Selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016. Tuhan memberkati.
[ Ranto Manoto ]