BENARKAH KRISTUS BANGKIT?
_oOo_
 
“Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu,
ketika Ia masih di Galilea,” (Lukas 24: 6)
 
Salah seorang theolog Kristen bernama James M. Boice pernah berkomentar bahwa salah satu inti dari kekristenan adalah doktrin kebangkitan. Keberadaan doktrin ini menjadi pilar utama yang membuat doktrin atau ajaran-ajaran Kekristenan lainnya bertahan. Ketika doktrin kebangkitan diruntuhkan, maka dengan sendirinya seluruh ajaran Kristen juga akan runtuh. Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Korintus menegaskan hal ini. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita” (1 Kor. 15:17). Itu sebabnya, sebagai orang Kristen kita percaya bahwa melalui pertolongan Roh Kudus kita dapat mengetahui betapa krusialnya ajaran kebangkitan ini, tidak hanya dimengerti dalam perspektif iman saja, tetapi juga dalam perspektif historis (sejarah).
Doktrin kebangkitan (Kristus) merupakan salah satu keunikan iman Kristen dibandingkan dengan ajaran-ajaran agama lain. Sejarah mencatat doktrin ini tidak pernah terlepas dari tantangan (chellenge) dari sejumlah pihak yang mencoba meragukan kebenaran dari doktrin ini. Tantangan itu terutama muncul dari kalangan skeptis. Para skeptis adalah mereka yang menganut pandangan bahwa segala sesuatunya harus diragukan. Dalam hal ini mereka meragukan dan keberatan dengan klaim kekristenan bahwa Kristus benar-benar bangkit.
Berikut ini merupakan beberapa argumen keberatan atas klaim historis dari kebangkitan Kristus, antara lain:
 
  1. Mahkamah Agama (Mat 28:13-14, Yoh 20:6-7): Mayat Yesus dicuri.
     
    Mahkamah Agama beranggotakan para Imam Besar yang terdiri dari 24 orang Imam kepala, 24 orang tua-tua (wakil dari kaum awam), dan 22 orang ahli Taurat. Menariknya, keberatan pertama justru datang dari kalangan agamawan, bukan dari kalangan lain seperti kaum Atheis. Mereka yang lebih mengerti perintah Tuhan begitu mendengar berita Yesus bangkit bukannya menyelidiki dan meneliti firman Tuhan dengan baik lalu memberitakannya, namun mereka malah menyuap para serdadu untuk sebuah berita dusta dengan mengatakan bahwa mayat Yesus telah dicuri. Benarkah demikian? Ini tidak masuk akal, mengapa? Karena kubur Yesus ditutup dengan sebuah batu besar, dimaterai, serta dijaga ketat oleh serdadu Romawi (Mat. 27:62-66). Di zaman itu penjaga yang lalai menjalankan tugasnya nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Lalu, jika para murid berbohong di mana mereka mencuri dan menyimpan mayat Yesus lalu memberitakan tentang kebangkitan, mungkinkah itu yang akan mereka lakukan dengan nyawa mereka menjadi taruhannya demi sebuah berita dusta itu? Oleh karenanya, adalah suatu fakta bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian dan para murid pun memberitakan fakta tersebut hingga mereka harus rela mati sebagai martir demi kebenaran itu.
     
  2. Para pemikir Yunani (Kis 17:32): Kebangkitan tidak sesuai dengan logika.
     
    Ketika memberitakan Injil di kota Athena, Rasul Paulus harus berhadapan dengan para pemikir Yunani yang berpandangan bahwa kebangkitan adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Selain itu bagi mereka, kematian adalah terpisahnya jiwa dari tubuh dan ini berarti sebuah kebahagiaan ketika seseorang sudah dibebaskan dari cengkeraman tubuh yang jahat. Hal inilah yang membuat mereka tidak percaya waktu Rasul Paulus memberitakan Injil dengan berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal [kebangkitan] itu. (Kis 17:32). Masalah utama dari pemikir Yunani adalah kepercayaan mereka bahwa dewa/ilah tidak berpribadi dan tidak berkuasa apapun sehingga mereka tidak percaya orang mati bisa dibangkitkan.
     
  3. Para pelayat (Mat. 27:57-61, Luk. 23:50-55): Salah mengunjungi kubur Yesus.
     
    Fakta sejarah mengatakan bahwa Yusuf Arimatea memiliki kubur tempat di mana Yesus dikuburkan. Di dalam kubur tersebut belum pernah seorangpun mayat yang pernah dibaringkan di sana. Tentu saja Yusuf Arimatea mengetahui di mana kubur Yesus dan akan segera mengoreksi kalau para pelayat menyatakan kubur kosong padahal mereka mengunjungi kubur yang salah. Lagipula Alkitab tidak pernah mencatat adanya pengoreksian tersebut. Artinya para pelayat telah mengunjungi kubur Yesus yang benar. Fakta berikutnya para pelayat melihat sendiri di mana Yesus dikuburkan seperti yang dicatat di Mrk. 15:47, Mat. 27:61, Luk. 23:55 sehingga mereka dapat dipastikan tahu di mana Yesus dikuburkan.
     
  4. Orang Modern: Kebangkitan itu adalah halusinasi.
     
    Adanya fakta bahwa paska Yesus bangkit Ia menampakkan diri. Dalam Kitab Yohanes, Matius, dan Lukas tercatat 12 kali penampakan kebangkitan Yesus dengan pola yang berbeda. Selanjutnya para Murid terkejut akan kebangkitan Yesus karena mereka tidak berharap Yesus akan bangkit. Kemudian fakta selanjutnya adalah 500 orang yang menjadi saksi kebangkitan (1 Kor. 15:6). Adalah sesuatu yang mustahil jika kelima ratus orang itu berhalusinasi secara serempak, apalagi jika halusinasi itu terjadi berkepanjangan (hingga 40 hari).
     
  5. Orang Modern: Bukan bangkit tapi hanya sadar dari pingsan.
     
    Faktanya Yesus mengalami luka-luka berat karena siksa cambuk, penyaliban, dan penusukan tombak. Yohanes 19:34 mencatat prajurit menikam lambung Yesus dengan tombak. Prajurit Romawi yang sudah terbiasa menyalibkan orang tentu mengetahui kapan orang disalibkan itu telah mati atau belum.
     
  6. Orang Modern: Orang lain yang disalibkan bukan Yesus.
     
    Pandangan ini tidak masuk akal sebab orang-orang yang membenci Yesus tidak mungkin keliru dengan menyalibkan orang lain. Mereka pasti mengenal wajah musuhnya [Yesus]. Para Murid juga pasti tahu bahwa Yesus lah yang mati disalib. Oleh karenanya setelah kematian-Nya itu mereka menjadi takut. Demikian juga kubur kosong sekali lagi itu menjadi bukti Yesus bangkit.
     
  7. Saksi Yehovah: Yesus hanya bangkit secara rohani bukan secara jasmani.
     
    Kematian Yesus adalah fakta sejarah. Kubur kosong adalah fakta bahwa Yesus bangkit secara jasmani. Apalagi Alkitab juga mencatat Yesus bisa makan dan bertemu setelah peristiwa kebangkitan itu (Luk. 24:38-43, Mat. 28:9, Yoh. 20:27).
 
Kematian dan Kebangkitan Yesus memberi dampak kepada Para Murid.
 
Para Murid pergi mengabarkan Injil. Petrus yang dulu pengecut menjadi pengkhotbah yang berkuasa (Kis. 2:14-40). Paulus mengabarkan Injil walau harus mengalami penderitaan dan penganiyaan (1 Kor. 15:30-32, 2 Kor. 11:24-25). Stefanus dan Yakobus para martir rela mati demi Injil (Kis. 7:60; 12:2). Demikian pula para murid lainnya yang rela mati untuk memberitakan Injil. Fakta-fakta ini sudah cukup membuktikan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus memberi dampak kepada para pengikut-Nya di sepanjang sejarah.
Pekerjaan para murid diteruskan sepanjang sejarah oleh para pengikut Yesus. Para misionaris di sepanjang sejarah gereja terus memberitakan Injil bahkan ke tempat-tempat yang mereka tidak kenal dan sangat berbahaya. Demikian juga misi itu sampai kepada kita, orang Kristen, di zaman sekarang ini. Sudah seharusnya kita boleh meneruskan pekerjaan Tuhan dengan memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus, berita kemenangan atas kuasa dosa itu yang mana melaluinya kita boleh menerima anugerah keselamatan.
 
Selamat Paskah 2015, Tuhan memberkati.
[ Ranto M. Siburian ]