Simbol-Simbol Kejahatan dan Teks Alkitab
_oOo_
 
Kehancuran modern
dan pemikiran ateistik-eksistensial Jean Paul Sartre (1905-1980)
 
Setelah perang dunia kedua, keyakinan akan kepastian sebagaimana dibangun oleh filsafat modern tampak hancur bersamaan dengan kehancuran sebagian besar Eropa. Di situ filsafat eksistensialisme berusaha membuka suatu jalan baru bagi umat manusia. Sebagaimana kata “eksistensialisme” berasal dari kata “eksis” yang secara harafiah berarti “berdiri tegak melawan,” demikianlah filsuf-filsuf eksistensialisme membukakan bagaimana manusia secara individu seharusnya dapat “berdiri tegak melawan” dunia, masyarakat, struktur, lembaga dan sistem pemikiran yang ada.

Eksistensialisme merupakan filsafat subyektif yang dilihat dari sudut pandang individual. Ia menyangkut “saya” dan “bagaimana seharusnya saya hidup”. Filsuf eksistensialisme percaya bahwa tidak ada hukum yang sifatnya universal dan oleh karena itu hidup manusia melakoni hukum dan aturan yang bersifat universal hanya akan menambah kisah tragis yang terjadi di dalam dunia ini.

Dalam artikel ini kita melihat salah satu pemikiran eksistensial yang pernah ada, yaitu Jean Paul Sartre, seorang filsuf ateistik-eksistensial Prancis, yang mengemukakan pemikirannya mengenai eksistensi manusia. Dalam bukunya Being and Nothingness (1943) ia mengemukakan dua jalan dengan mana manusia menjalani hidupnya:
 
  1. Dengan “kepercayaan buruk” (Prancis: mauvais foi; Inggris: bad faith) atau lebih tepat diartikan sebagai “penipuan diri”. Ini merupakan cara hidup manusia yang tidak otentik. Kepercayaan buruk merupakan “keyakinan akan tidak adanya kebebasan”. Maksudnya: sebagian besar orang mempercayai adanya hukum atau pedoman cara bertingkah laku, yang dibentuk baik oleh Allah serta kodrat manusia, sebagaimana tertulis dan berlaku di dalam masyarakat. Menurut Sartre: Allah tidak ada dan demikian pula kodrat manusia. Oleh karena itu manusia seutuhnya bebas untuk memilih dan menentukan nilai-nilai dan cara hidupnya sendiri. Hidup dengan meyakini adanya takdir, hukum atau pedoman yang diturunkan oleh Allah dan kodrat manusia adalah hidup di dalam “penipuan diri.” Hidup seperti itulah yang ia maksud dengan hidup di dalam “kepercayaan buruk”.
     
  2. Dengan berusaha menuju “keaslian” atau memilih hidup secara otentik. Inilah tujuan hidup manusia sesungguhnya di dalam dunia, menurut Sartre. Jadi, di dalam dunia tanpa Allah ini manusia harus mengambil alih tempat Allah. Sayangnya, oleh karena manusia dibatasi oleh tubuh, kemampuan dan situasinya, maka ia harus mengalami berbagai tragisitas:
  • Berjuang untuk bertahan, tetapi pada akhirnya harus tersingkir.
  • Bertarung sebagai subyek, tetapi pada akhirnya harus terlempar sebagai obyek.
  • Memiliki berbagai keinginan (passion), tetapi semuanya itu tidak ada gunanya dan sia-sia.
Ia menyimpulkan bahwa manusia menghadapi dilema: manusia “sama sekali bebas,” karena Allah tidak ada, atau “sama sekali tidak bebas,” karena semua keinginannya sia-sia. Dengan pemikirannya tersebut maka Sartre tidak membawa manusia kepada pengharapan. K. Bertens di dalam buku Filsafat Barat Kontemporer Prancis mengatakan bahwa dalam tradisi filsafat modern tidak ada filsuf yang pandangannya tentang kebebasan individu manusia sedemikian ekstrim seperti Sartre. Ia membukakan keadaan manusia sedemikian tragis dan pesimisnya.
 
Paul Ricoeur: latar belakang dan terobosan yang ia pikirkan
 
Pemikiran Sartre ditanggapi dan dikritisi, sekalipun tidak secara eksplisit, oleh sesama filsuf Prancis lainnya yang berlatar belakang Protestan bernama Paul Ricoeur. Paul Ricoeur lahir di Valence, Prancis Selatan, pada tahun 1913 dan menjadi yatim piatu dua tahun kemudian. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh dan dianggap sebagai salah seorang intelektual Prostestan yang terkemuka di Prancis. Tahun 1933 ia mendaftarkan diri pada Universitas Sorbonne di Paris. Di Paris ia berkenalan dengan Gabriel Marcel, seorang filsuf fenomenologi, yang di kemudian hari mempengaruhi pemikirannya secara mendalam. Sepanjang tahun 1937 hingga 1939 ia mengikuti wajib militer dan pernah menjadi tahanan perang Jerman sampai dengan tahun 1945. Semasa berada di dalam tahanan perang Jerman itulah ia mempelajari karya Husserl dan Heidegger. Pada tahun 1948 ia menjadi profesor filsafat di Universitas Strasbourg.

Dalam perjalanan karir filsafatnya di kemudian hari ia mempunyai kesempatan untuk membaca karya-karya lengkap salah seorang filsuf besar setiap tahun: dari Plato hingga Aristoteles sampai dengan Kant, Hegel dan Nietzsche dan dengan demikian ia menjadi salah seorang filsuf yang memiliki pengetahuan mendalam dan luas tentang seluruh tradisi filsafat Barat. Dengan cara itu ia tidak pernah membiarkan dirinya terjebak dalam suatu mode filosofis yang sempit, seperti eksistensialisme pada waktu itu. Pada tahun 1950 ia mengajukan tesis yang berjudul Philosophie de la volonte (Filsafat Kehendak) dengan anak judul Le volontaire et l’involontaire (Yang Dikehendaki dan Yang Tidak Dikehendaki). Pada tahun 1956 ia diangkat menjadi profesor filsafat di Universitas Sorbonne. Tahun 1960 ia mempublikasikan jilid kedua dari Philosophie de la volonte dengan anak judul Finitude et culpabilite (Keberhinggaan dan Kebersalahan). Jilid kedua ini terdiri dari dua buku tersendiri yang masing-masing berjudul L’homme faillible (Manusia Yang Dapat Salah) dan La symbolique du mal (Simbol-Simbol tentang Kejahatan). Ia juga menyoroti masalah-masalah politik, kultural, edukasi dan teologia, sehingga pada tahun 1968 ia dianugerahi gelar ”doktor teologi honoris causa” oleh Universitas Katolik Nijmegen, Nederland.

Sementara itu perhatian Ricoeur mulai ditarik ke masalah-masalah yang menyangkut bahasa. Pada tahun 1975 Ricoeur menerbitkan karyanya yang berjudul La metaphore vive (Metafora Hidup), wujud dari perhatiannya kepada bahasa. Ricoeur mengembangkan pemikirannya bahwa masalah-masalah yang menyangkut kejahatan (yang dalam arti luas dapat berarti penderitaan, kematian, bencana, malapetaka dan kekerasan) tidak mungkin didekati dengan suatu pembahasan yang semata-mata didasarkan atas teori, melainkan dengan memperlihatkan bagaimana manusia itu ”mengakui” kejahatan yang dialaminya, oleh karena bahasa yang manusia gunakan untuk mengkomunikasikannya selalu bersifat simbolis.
 
Proposal Ricoeur tentang penghayatan manusia akan kejahatan
dan sumber pengharapan yang ia miliki
 
K. Bertens di dalam buku Filsafat Barat Kontemporer Prancis mengatakan bahwa Paul Ricoeur di dalam La symbolique du mal (Simbol-Simbol tentang Kejahatan) mengidentifikasi tiga simbol utama yang manusia gunakan untuk mengkomunikasikan kejahatan atau kekerasan yang dialaminya:
 
  1. Noda
    Di sini kejahatan dihayati sebagai sesuatu yang berada “pada dirinya” (in itself), sesuatu yang merugikan yang datang dari luar dimana dengan cara yang supra alamiah menimpa serta mencemarkan manusia. Ia merupakan suatu peristiwa obyektif; misalnya orang yang ternoda menjadi najis secara tidak sengaja. Kejahatan yang dialami di sini dipahami sebagai suatu keadaan dimana ia ternoda sehingga secara supra alamiah ia diperhitungkan “telah melanggar suatu orde atau tatanan yang tetap harus dipertahankan” seperti apa adanya dan apabila tatanan tersebut kacau maka harus dipulihkan kembali.
     
  2. Dosa
    Di sini kejahatan dihayati sebagai suatu tindak pemberontakan “di hadapan Tuhan”. Hal ini pertama kali muncul di dalam kesadaran religius orang Israel pada masa nabi-nabi. Di sini perbuatan jahat tidak lagi dihayati semata-mata sebagai pelanggaran atas suatu tatanan yang supra alamiah dan anonim, melainkan suatu ketidaktaatan terhadap Allah yang telah mengadakan suatu Perjanjian dengan bangsa-Nya. Dosa merupakan ketidaksetiaan bangsa Israel terhadap Allah yang setia. Konsekuensi dosa adalah murka Allah.
     
  3. Kebersalahan
    Di sini kejahatan dihayati sebagai suatu kebersalahan pribadi. Cara penghayatan ini berkembang di Israel setelah berakhirnya masa pengasingan (pembuangan) di Babel. Simbol-simbol yang digunakan pada masa itu adalah “beban” dan “kesusahan” yang menekan dan membebani hati nurani. Di sini dosa yang menyangkut seluruh bangsa saya akui dan hayati sebagai “kebersalahan saya secara pribadi”. Kejahatan merupakan suatu perbuatan saya yang bebas; ia bukan suatu kuasa dari luar yang menyergap saya. Saya bersalah karena saya bertanggung jawab. Sebagai manusia saya tidak mungkin menghilangkan rasa bersalah ini dengan memenuhi peraturan-peraturan dan perintah-perintah Tuhan, sebagaimana halnya orang Farisi, karena dengan berusaha mematuhinya maka saya akan bersalah terhadap Tuhan dan diri saya. Pengejaran atas kesempurnaan dengan memenuhi berbagai aturan agama yang saya wujudkan dengan kemampuan diri saya sendiri adalah dosa. Menurut Ricoeur, orang yang berada di dalam keadaan “bersalah” seperti ini selalu terisolasi: ia sendiri adalah hakim dan terdakwa; ia terkurung di dalam dirinya. Situasi ini menempatkan orang yang “bersalah” seperti ini pada suatu jalan buntu. Sebaliknya, Allah bertindak penuh anugerahwi sehingga memberikan kita kesempurnaan. Pada titik ini saya menemukan pembebasan, yaitu dengan dibenarkan oleh Tuhan dengan cara tidak memandang kebersalahan saya.
 
Dengan tiga simbol ini Ricoeur membukakan kepada kita bagaimana manusia menghayati dan membahasakan kejahatan yang ia alami. Dari “noda” menuju “dosa,” lalu dari “dosa” menuju “kebersalahan” terjadi penghayatan yang semakin mendalam. Berdasarkan kerangka pemikiran Ricoeur tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemikiran Sartre tentang keadaan manusia yang terbatasi oleh tubuh, kemampuan dan situasinya sehingga ia harus mengalami berbagai tragisitas di dalam dunia ini, seperti: berjuang untuk bertahan tetapi pada akhirnya harus tersingkir, bertarung sebagai subyek tetapi akhirnya harus terlempar sebagai obyek, memiliki berbagai keinginan (passion) tetapi semuanya itu tidak ada gunanya dan sia-sia, telah menempatkan manusia sedemikian langsung atau tanpa suatu mediasi apapun dengan semua pengalaman hidupnya.

Di satu sisi strukturalisme yang saat itu juga berkembang tidak memberi pengharapan, karena bagi strukturalisme bahasa tidak menunjuk pada suatu dunia “di luar” teks melainkan membentuk suatu dunia tersendiri yang sifatnya ”internal”. Konsekuensinya strukturalisme memandang bahwa teks Alkitab tidak mungkin memberikan pengharapan apapun kepada manusia. Tidak demikian dengan Ricoeur. Ia mengemukakan gagasannya bahwa secara obyektif teks juga berbicara “tentang sesuatu” dan dengan demikian tidak lagi sebagai suatu realitas internal yang tertutup melainkan terbuka kepada suatu dunia, yang berada bukan “di belakang teks” (behind the text), yaitu dunia pengarang (author), melainkan ”di depan teks” (in front of the text), yaitu dunia pembaca (reader). Jadi, bagi Ricoeur, teks selalu menyampaikan sesuatu. Terlebih lagi teks Alkitab, dalam hal ini, pasti memberikan pengharapan bagi manusia. Dengan demikian secara implisit Ricoeur mengeritik pemikiran Sartre dengan menegaskan bahwa seluruh pengalaman hidup manusia selalu dimediasikan oleh bahasa. Untuk dapat memahami dan mendeskripsikan pengalaman-pengalaman di dalam hidupnya manusia selalu membutuhkan kelimpahan yang bersumber dari teks Alkitab.
 
Apa yang Alkitab ajarkan tentang
bagaimana memahami kejahatan dan penderitaan
 
Mari kita melihat pertanyaan murid-murid Tuhan Yesus kepada-Nya mengenai seorang yang buta sejak lahirnya, “… Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Jawaban Tuhan Yesus adalah jawaban yang bukan para murid kehendaki. Perhatikan ayat 3 sampai 5 dan metafora yang Ia gunakan di dalam ayat 4 dan 5 untuk membukakan para murid-Nya bahwa dalam sejarah keselamatan (history of salvation) kita tidak menyangkal bahwa kutuk dosa memang telah mengakibatkan turunnya maut dan penderitaan ke dalam dunia, akan tetapi, kita tidak bisa menilai secara linir bahwa penderitaan manusia secara tertentu selalu terjadi sebagai hukuman Allah akibat tindak dosa tertentu.
 
-
Ayat 3
“... Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Pada masa itu di kalangan para rabi Yahudi telah ratusan tahun lamanya berkembang suatu pandangan bahwa “tiada kematian yang tidak disebabkan dosa, dan tiada penderitaan yang tidak disebabkan pelanggaran”. Mereka bahkan membangun pandangan bahwa seorang anak dapat berbuat dosa sejak berada dalam rahim ibunya. Dengan terminologi Ricoeur dapat dikatakan bahwa para murid menghayati penderitaan orang buta itu sebatas sebagai bentuk hukuman Allah, sesuatu yang diakibatkan oleh tindak “dosa” tertentu. Di sini Tuhan Yesus memutus rantai yang telah ratusan tahun lamanya mereduksi pemikiran orang Yahudi. Ia tidak mengizinkan diri-Nya diperangkap kisah (story) perjalanan panjang bangsa Israel yang berdosa.
 
-
Ayat 4
“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Di sini Tuhan Yesus mengaitkan antara penderitaan manusia berdosa di dalam dunia ini dengan dengan pekerjaan Allah dan diri-Nya yang harus berlangsung di dalam dimensi waktu. Dapat dikatakan di sini, dengan terminologi Ricoeur, Tuhan Yesus membukakan kepada kita agar menghayati persoalan penderitaan manusia dengan penuh “kebersalahan” pribadi yang menuntut kita untuk bertindak secara responsif, sekalipun harus menanggung beban dan kesusahan, di dalam pengharapan dan sukacita sorgawi. Ia juga menyatakan secara metaforis mengenai betapa terbatasnya waktu kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah itu sebagai wujud tanggung jawab kita secara pribadi.
 
-
Ayat 5
“Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Ia menyatakan secara metaforis mengenai betapa kontrasnya pengharapan yang Ia bawa ke dalam dunia dengan kegelapan dunia ini demi mengkomunikasikan kepada mereka bahwa sekalipun di dalam dunia ini ada agama, filsafat dan adat istiadat yang diperkembangkan manusia; kesemuanya itu tetap tidak menyelesaikan persoalan penderitaan manusia. Tanpa Kristus maka si orang buta itu akan tetap hidup sebagai orang buta. Terlebih lagi, dalam situasi dunia yang berdosa ini, tanpa Kristus orang berdosa akan terus hidup di dalam dosa; tiada pengharapan karena orang berdosa tidak mungkin lepas dari keberdosaannya dengan usahanya sendiri. Itu sebab dalam ilklim kapitalistik yang berdosa ini kita sering mendengar orang mengatakan bahwa tanpa kedatangan anak Allah orang kaya akan semakin kaya, orang miskin akan terus miskin; seolah-olah orang miskin tidak mempunyai pengharapan untuk keluar dari kemiskinannya.
 
Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya agar mereka tidak memandang penderitaan, kejahatan dan kesusahan secara tereduksi. Teks-teks Taurat seharusnya membuat mereka mengalami kelimpahan pengertian, bukan sebaliknya mempersempit cara pandang mereka.
 
Memahami kejahatan dan penderitaan berdasarkan ”mengerti” teks Alkitab
 
Untuk menghayati masalah-masalah kejahatan secara mendalam, yang Ricoeur maksud dengan “kebersalahan,” manusia membutuhkan teks religius, yaitu teks Alkitab. Manusia hanya dapat menemukan pengharapan apabila ia menempatkan dirinya di hadapan teks Alkitab, yang berfungsi sebagai suatu sumber pengharapan yang berlimpah. Berada di depan teks Alkitab pun bukannya tanpa persoalan, karena saat menempatkan dirinya di hadapan teks Alkitab, manusia mempunyai sikat yang berbeda-beda. Ricoeur mengkategorikan “mengerti” (understanding) teks dalam tiga tahap berikut ini:
 
  1. Tahap pre-critical: yaitu mengerti teks secara pra-kritikal, belum melalui proses verifikasi oleh memori maupun penyelidikan secara eksegesis. Pada tahap ini sangat mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  2. Tahap understanding: yaitu mengerti teks setelah melakukan pengujian memori (berdasarkan investigasi historis) serta pengujian teks (berdasarkan metode eksegesis). Pada tahap ini juga masih mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  3. Tahap metaphorical: yaitu mengerti teks, setelah melalui proses investigasi historis dan metode eksegesis, dengan penuh imajinasi sehingga dapat mengkomunikasikannya secara metaforis di dalam keberlimpahan makna (surplus of meaning). Pada tahap ini seharusnya sudah tidak terjadi lagi kekeliruan maupun konflik interpretasi. Dengan “mengerti” teks secara demikian maka teks Alkitab yang kita baca akan memberikan suatu pengertian yang berlimpah. Mengerti Alkitab berarti menikmati kelimpahan dari apa yang teks bukakan bagi kita. Dengan demikian kita dapat memahami dan mengomunikasikan secara berlimpah, di dalam kebenaran, apa yang kita amati dan alami di dalam dunia ini, termasuk halnya penderitaan.
 
 
... Ricoeur has shown metaphors to be “texts in miniature.” He argues that metaphors create a “surplus of meaning” that cannot simply be reduced to some literal paraphrase. / ... Ricoeur telah membukakan kepada kita metafora sebagai “teks-teks dalam bentuk miniatur.” Ia berpendapat bahwa metafora menciptakan “keberlimpahan makna” yang tidak bisa direduksikan begitu saja menjadi kata-kata yang kita uraikan sendiri secara hurufiah. (Kevin J. Vanhoozer, Is There A Meaning In This Text?: The Bible, The Reader, And The Morality Of Literary Knowledge, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 1998, p.128)
 
 
Inilah prinsip-prinsip yang Alkitab sesungguhnya maksudkan agar sebagai pembaca kita tidak tereduksi.
 
Kesimpulan dan penutup
 
Sartre telah memberikan pemahaman yang tereduksi tentang penderitaan manusia. Demikian pula strukturalisme telah menjadi ilah yang tidak memberikan pengharapan. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menguji hal itu dengan menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan atas pemahaman yang kreatif dan limpah akan teks Alkitab, sehingga pemahaman kita akan penderitaan itu tidak tereduksi. Ricoeur telah memberikan suatu terobosan bagaimana teks Alkitab itu dapat memberikan kita makna yang berkelimpahan. Dengan demikian, sebagai orang percaya yang menjalani panggilan kita di dalam dunia ini dengan menghidupi kelimpahan teks Alkitab itu, kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Persekutuan Studi Reformed merupakan wadah untuk menghidupi dan mengekspresikan teks itu. Di dalamnya mari kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita.
 
Selamat Paskah 2015, Tuhan memberkati.
[ Jessy Victor ]