KASIH PASKAH
_oOo_
 
Setiap orang Kristen mungkin mengetahui bahwa Natal sebagai sebuah “perayaan” merupakan bentuk dari tradisi gereja barat (gereja Roma). Ya, perayaan Natal memang semata-mata “tradisi.” Artinya, tradisi ini tidak menjadi bagian dari “jalan keselamatan” yang dirancangkan Allah. Tetapi, hari Paskah adalah perayaan keagamaan yang menjadi bagian penting dari “jalan keselamatan” yang dirancangkan Allah. Itulah sebabnya, memperingati peristiwa Paskah adalah wajib bagi setiap orang percaya.
 
Bagi kita, orang Kristen, hari Paskah merupakan hari di mana sekali lagi kita boleh berbagian di dalam sakramen perjamuan Kudus, yaitu sebuah sakramen yang dilakukan bertujuan untuk mengingat kembali pengorbanan Yesus Kristus yang dengan rela telah menyerahkan tubuh-Nya dipecahkan dan darah-Nya dicurahkan demi menebus dosa-dosa kita, umat-Nya. Walau secara historis peristiwa Paskah dimulai dari tanah Mesir, namun guna memahami nilai-nilai rohani yang terkandung di dalamnya kita harus menelusurinya kembali kepada suatu peristiwa yang terjadi di gunung Moria. Sebuah peristiwa dramatis tentang kisah Abraham yang diperintahkan Tuhan untuk mengorbankan anak tunggalnya, Ishak. Namun di akhir kisah itu, Tuhan berkehendak lain. Ia menyediakan seekor domba jantan sebagai ganti nyawa Ishak. (Kej. 22:13). Oleh karena kasih Tuhanlah nyawa Ishak ditebus dengan seekor domba jantan yang disediakan oleh Tuhan sendiri.
Dari peristiwa di gunung Moria itu setidaknya terkandung dua pesan penting yang dapat kita petik, terutama tentang kasih. Yang pertama, perihal kasih Tuhan atas nyawa Ishak. Tuhan tidak jadi mengambil nyawa Ishak, tapi Ia menyediakan seekor domba jantan sebagai korban pengganti/tebusan. Yang kedua, perihal kasih yang ditunjukkan oleh Abraham dan Ishak sendiri melalui ketaatan penuh mereka terhadap perintah Allah. Ketaatan yang membuat mereka rela menyangkal diri serta rela memberikan hati dan pikiran mereka hanya terfokus pada kehendak Tuhan.
Kita melihat bahwa sesungguhnya perjalanan perayaan Paskah dari tahun ke tahun yang dimulai dari tanah Mesir menuju ke Golgota merupakan cermin pergerakan kasih Tuhan yang mengampuni dosa. Kasih Allah itu menuntut respon kasih manusia kepada-Nya, dan itu seharusnya nyata dalam tindakan ketaatan dengan penyangkalan diri kita. Inilah kasih Paskah, yaitu kasih Tuhan yang mengampuni disambut oleh kasih kita kepada-Nya di dalam ketaatan yang berpadu dengan penyangkalan diri.
 
Kisah Paskah
 
Peristiwa bani Israel keluar dari perbudakan Mesir terjadi di sekitar tahun 1445 SM. Peristiwa inilah yang melatarbelakangi kisah Paskah. Namun, kisah Paskah ini bukan hanya perihal sejarah sebuah bangsa, tapi yang lebih utama adalah perihal anak domba jantan tanpa cacat yang dikorbankan sebagai korban pengganti kematian yang seharusnya menimpa manusia.
 
Setelah menjadi budak selama lebih dari 400 tahun, Tuhan berketetapan membebaskan umat-Nya itu dari perbudakan di Mesir. Maka, Tuhan memanggil Musa, menugaskannya memimpin bangsa itu keluar dari Tanah Mesir. Musa menuruti kehendak Tuhan, lalu ia menghadap Firaun dan menyerukan: “Biarkanlah umat-Ku pergi.” Dan sebagai bukti dari kesungguhan Tuhan, maka Musa dengan kuasa-Nya mendatangkan tulah-tulah atas Mesir. Ketika terjadi beberapa tulah itu Firaun bersedia melepaskan umat Israel. Namun setelah pengaruh tulah itu hilang, ia mengurungkan niatnya dan menarik keputusan itu.
Tibalah saatnya tulah ke-10, tulah yang mengharuskan orang Mesir membiarkan bani Israel pergi. Tuhan mengutus malaikat kematian menjelajahi seluruh tanah Mesir untuk membunuh semua anak sulung dari anak manusia sampai anak binatang. Karena bani Israel juga menetap di sana, tentu merekapun tidak akan luput dari kematian. Namun, bagaimanakah mereka bisa luput dari malaikat maut itu? Maka melalui Musa Tuhan memberi perintah kepada umat-Nya dan berjanji akan melindungi setiap keluarga Israel dan anak sulung mereka dengan syarat mereka harus mengambil seekor anak domba jantan berumur satu tahun dan tak bercacat untuk dibunuh di waktu senja pada tanggal 14 bulan Abib. (Ul. 16:1). Lalu sebagian dari darah anak domba jantan yang tersembelih itu harus dipercikkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka. Ketika malaikat maut sampai di rumah-rumah itu dan melihat percikkan darah itu, Ia akan melewatinya. Demikianlah darah anak domba jantan tanpa cacat yang tersembelih itu merupakan sarana penebusan, sehingga semua anak sulung orang Israel terluput dari kematian. Tuhan menghendaki tanda darah itu bukan karena Ia tak dapat membedakan orang Israel dari orang Mesir, tapi karena Ia ingin mengajar umat-Nya tentang inti ketaatan dan penebusan dengan darah anak domba. Penebusan dengan darah anak domba jantan ini telah mempersiapkan jalan bagi Anak Domba Allah, Yesus Kristus, yang sekian abad kemudian datang ke dunia, mati demi menghapus dosa dunia.
 
Perjalanan Perayaan Paskah
 
Jadi, sekali lagi di dalam peristiwa Paskah di negeri Mesir itu Tuhan meminta bani Israel membubuhkan darah anak domba jantan tanpa cela pada kedua tiang pintu dan ambang pintu rumah mereka. (Kel. 12:7). Hal ini dilakukan agar anak sulung bani Israel dilewatkan (pass over). Inilah arti Paskah itu sendiri. Sejak saat itu, bani Israel terbebas dari perbudakan dan keluar dari tanah Mesir. Paskah bagi bani Israel merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dari semua hari raya mereka, karena peristiwa ini mengingatkan mereka akan penebusan yang Tuhan kerjakan bagi mereka.
 
Pada mulanya semasa bani Israel masih berada di tanah Mesir, menjelang peristiwa penebusan itu, mereka melakukan perjamuan Paskah di dalam rumah mereka, Mereka makan roti tak beragi. Ini menjadi perayaan Paskah yang mereka lakukan untuk pertama kali. Roti tak beragi melambangkan penderitaan karena perbudakan. Perayaan Paskah kedua diadakan di padang gurun Sinai, satu bulan setelah keluar dari Mesir. (Bil. 9:1-14). Di sinilah, Tuhan sendiri menetapkan agar peristiwa Paskah dirayakan setiap tahun. Maka, jadilah upacara Paskah sebagai ketetapan untuk menyatakan kepercayaan kepada YHWH.
Setelah 40 tahun melintasi gurun Sinai sampailah mereka di dataran Yerikho, yakni di saat mereka mulai memasuki Kanaan. Di sini mereka melakukan upacara paskah pertama setelah Tuhan memberlakukan sunat atas mereka dan menetapkan bahwa Tuhan telah membebaskan mereka dari “cela Mesir,” (Yos. 5:9-12). Ungkapan “cela Mesir” menunjuk kepada celaan atau hinaan yang mendera mereka akibat perbudakan di Mesir. Bibir bangsa-bangsa saat itu sudah terbiasa atau bahkan fasih mencela mereka sebagai budak. Perihal “cela Mesir” di ayat itu bermakna terbebasnya mereka dari celaan/hinaan yang selama ini mereka terima akibat mereka diperbudak di negeri Mesir.
Hal menarik untuk dilihat adalah cara Tuhan untuk menghapus atau menyingkirkan celaan dari bibir bangsa-bangsa lain terhadap bani Israel, yaitu dengan mempertontonkan kuasa-Nya membelah sungai Yordan (Yos. 4:24). Peristiwa ini membuat bangsa-bangsa merasa kecil hati terhadap bani Israel, (Yos. 5:1). Kini mereka memandang hormat bani Israel. Lalu, di dataran Yerikho ini kita harus melihat kepada perintah sunat (Yos. 5:2-3) yang dikatakan Tuhan sebelum Ia menetapkan peringatan akan peristiwa Paskah. Bagi orang Kristen, sunat adalah pembaptisan. Jadi, dari sini kita dapat memahami bahwa berkat-barkat Paskah hanya tersedia bagi mereka yang sudah dibaptis. Kemudian, tatkala bani Israel sudah terpecah menjadi Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda, maka Raja Hizkia dari Yehuda memaklumatkan tempat tetap bagi perayaan Paskah, yakni Bait Suci di Yerusalem. Tuhan memandang hal ini baik, namun pemerintah Israel memandangnya sebagai trik politik yang dilakukan pemerintah Yehuda. Maka dari saat itulah dimulai upacara Paskah di Bait Suci Yerusalem yang ditandai dengan darah hewan korban sembelihan sebagai korban penghapusan dosa. Dan setiap keluarga membawa hewan korban sembelihan masing-masing untuk dipersembahkan.
Pada tahun 70M, kepala pasukan Romawi, Titus, yang adalah putra kaisar Romawi, Kaisar Vespasian, menghancurkan Bait Suci Yerusalem. Oleh karenanya orang-orang Yahudi kembali merayakan Paskah di rumah masing-masing sebagai upacara keluarga. Umat Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus telah menggenapi korban Paskah, sebagaimana gelar yang ditujukan kepada-Nya, yaitu Anak Domba Allah. Maka, dari sini, umat Kristen memperingati korban Paskah itu dengan melakukan Perjamuan Kudus sebagaimana yang ditetapkan oleh Yesus sendiri. (Lk. 22:15-20).
 
Orang Kristen Harus merayakan Paskah?
 
Saat itu, di Yerusalem, sebelum Yesus disalib, Yesus Kristus dan rasul-rasul-Nya merayakan Paskah. (Mat. 26:17-20). Anda mungkin berargumen, bahwa Yesus dan para rasul merayakan Paskah karena mereka orang Yahudi. Lalu, apa arti Paskah bagi orang Kristen? Makna merayakan Paskah memang tak benar-benar dipahami oleh orang-orang Kristen mula-mula, setelah tidak ada lagi rasul-rasul. Makna yang sangat penting ini selama ratusan tahun hanya sebagai isu utama yang diperdebatkan para pemimpin gereja. Padahal, Paskah adalah perihal yang sangat penting dan yang seharusnya dirayakan setiap orang Kristen guna merayakan peristiwa pengampunan dosa-dosa kita melalui karya pengorbanan Anak Domba Allah.
 
Ketidakpahaman itu semakin tampak jelas dalam perdebatan yang sangat sengit pada tahun 325 di Konsili Nicea soal keharusan orang Kristen merayakan Paskah. Konsili ini diselenggarakan oleh Kaisar Kristen Romawi, Konstantin. Keharusan merayakan Paskah bagi orang Kristen menjadi topik perdebatan yang sengit antara bapa-bapa Gereja Timur dan Gereja Barat. Ada kesan, bapa-bapa Gereja Barat menyepelekan kasih Paskah. Anggapan menyepelekan ini oleh Gereja Barat terjadi karena mereka belum memahami benar-benar peristiwa Paskah sebagai wujud Perjanjian Baru. Atau, oleh karena pemahaman mereka yang hanya terpusat pada peristiwa Paskah sebagai wujud Perjanjian Lama yang terjadi di Mesir. Padahal, Tubuh Yesus yang sementara berada di atas kayu salib adalah peristiwa Paskah yang sesungguhnya. Peristiwa Paskah yang terjadi di Mesir (Kel. 12:7) merupakan bayang-bayang (foreshadow) dari peristiwa Paskah yang terjadi di bukit Golgota. Itu sebabnya setiap orang Kristen sudah seharusnya merayakan Paskah sebab peristiwa Paskah di Golgota inilah perjanjian sesungguhnya antara Tuhan dan umat-Nya lewat percaya kepada Yesus. Yang di Mesir itu hanya “bayang-bayang” saja...!
 
Ketika anda melihat kepada peristiwa bukit Golgota, yaitu melihat kepada Anak Domba Allah yang rela mati dalam ketaatan kepada Bapa-Nya, dan darah-Nya menjadi tanda penebusan bagi dosa-dosa kita, pikirkanlah tentang Kasih Paskah...! Ketika telah dekat waktunya untuk merayakan Paskah, seharusnya kesadaran kita mencetuskan pikiran bahwa kasih Tuhan yang mengampuni dosa senantiasa bergerak “mencari-cari” kasih kita kepada-Nya berupa ketaatan yang menyangkal diri.
Selamat Paskah 2015, Tuhan memberkati.
[ Gogona ]