KELAHIRAN KRISTUS MENGEMBALIKAN
SEGALA SESUATU PADA TEMPATNYA
_oOo_
 
Filsafat modern dan kritik eksistensialisme terhadapnya
 
Filsafat modern mengklaim adanya hukum universal di mana segala sesuatu pada akhirnya dapat diletakkan dalam suatu sistem. Sistem yang universal selalu mengatur dan mengarahkan perjalanan manusia dalam suatu “cerita besar” (metanarrative). Namun kenyataannya sistem yang universal tersebut menimbulkan berbagai kisah tragis dalam perjalanan manusia; misalnya: dalam perjuangannya untuk bertahan pada akhirnya manusia harus tersingkir dan tersendiri, dan dalam pertarungannya menjadi subyek pada akhirnya manusia terlempar menjadi obyek. Hal itu memunculkan pertanyaan apakah sistem yang universal itu memang absolut adanya. Di sini eksistensialisme tampil menyatakan perlawanannya.
 
Kata “eksistensialisme” berasal dari kata “eksis” yang secara harafiah berarti “berdiri tegak melawan.” Filsuf-filsuf eksistensialisme membukakan bagaimana manusia secara individu seharusnya dapat “berdiri tegak melawan” dunia, masyarakat, struktur, lembaga dan sistem pemikiran yang ada. Eksistensialisme merupakan filsafat subyektif yang dilihat dari sudut pandang individual. Ia menyangkut “saya” dan “'bagaimana seharusnya saya hidup.” Filsuf eksistensialisme percaya bahwa tidak ada hukum yang sifatnya universal dan oleh karena itu perjuangan manusia mengikuti hukum dan aturan yang bersifat universal hanya akan menambah kisah tragis di dalam dunia ini; dengan demikian menurut mereka panggilan manusia sebagai individu adalah menemukan “apa yang seharusnya ia kerjakan” dan “akan menjadi apa ia nanti”.
 
Kritik eksistensial Soren Abby Kierkegaard (1813-1855)
terhadap filsafat modern
 
Soren Abby Kierkegaard, seorang filsuf eksistensial Denmark, mengatakan bahwa untuk mengetahui “apa yang seharusnya ia kerjakan” dan “akan menjadi apa ia nanti” setiap orang harus menemukan panggilan imannya dalam hidup ini, yaitu panggilan Allah. Dan oleh karena itu hukum moral yang universal harus disisihkan. Kebenaran dipandang sebagai hal yang bersifat subyektif dan iman pribadi dipandang berperanan penting dalam mencerahkan jalan hidup seseorang. Itu sebab Kierkegaard membagi eksistensi manusia dalam tiga tingkat:
 
  1. Tahap estetik: suatu cara hidup “langsung” (direct).
    Ini merupakan cara hidup dengan menempatkan diri sebagai bagian dari orang banyak atau khalayak.
     
  2. Tahap etik: suatu tindakan memisahkan diri (isolation) dari khalayak.
    Hal ini merupakan kritik terhadap Hegel yang meyakini bahwa manusia menemukan eksistensi etisnya justru pada saat ia menempatkan diri sebagai bagian dari suatu masyarakat, sistem yang universal atau suatu metanarasi. Pada tingkat ini, menurut Kierkegaard, kita harus mematikan ambisi kita untuk mengejar pencapaian diri (self achievement) atas moralitas universal.
     
  3. Religius: cara hidup tertinggi, melibatkan iman.
    Pada tingkat ini kita harus mati terhadap kehidupan religius yang struktural, siap ditolak oleh orang banyak (khalayak), tersembunyi dan mengalami ketersendirian (singularity), tetapi terus bersuara melawan arus. Oleh karena itu Kierkegaard mengingatkan agar kita hidup seperti Yohanes Pembaptis yang memang hidup dengan cara demikian.
 
Mengenai Jacques Derrida
 
Di kemudian hari pemikiran Kierkegaard memberi pengaruh pada filsuf-filsuf lainnya, di mana Jacques Derrida adalah salah satunya. Karena itu ada baiknya di sini kita melihat sedikit latar belakang Jacques Derrida. Derrida lahir pada tahun 1930. Pada masa mudanya ia pernah menjadi anggota Partai Komunis Prancis. Tahun 1962 ia menerbitkan terjemahan karangan Edmund Husserl yang berjudul Asal Usul Ilmu Ukur. Sepanjang tahun 1967 hingga 1990 ia menulis berbagai buku filsafat. Ia pernah belajar dan akhirnya mengajar di Ecole Normale Superieure sebagai dosen tetap filsafat. Untuk beberapa waktu lamanya ia pernah mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Yale, Amerika Serikat. Seperti halnya Martin Heidegger dan Emmanuel Levinas, Derrida membicarakan, mempertanyakan dan mengkritik tradisi filsafat barat. Derrida sendiri dengan terus terang mengakui betapa ia berhutang budi pada Martin Heidegger. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang ia upayakan itu adalah tidak mungkin tanpa lingkup keterbukaan yang terlebih dahulu telah Heidegger bukakan. Sekalipun demikian kritik terhadap filsafat barat yang ia kembangkan tetap memperhatikan kelemahan pemikiran Heidegger yang sebelumnya juga telah mendapat kritik serius Levinas.
 
K. Bertens mengatakan bahwa apabila kita memandang karya-karya Derrida sepintas lalu maka kita dapat menyimpulkan bahwa hampir seluruh tulisan-tulisannya merupakan komentar atas tulisan dari penulis buku filsafat lainnya seperti para filsuf, ilmuwan dan sastrawan (misalnya: Sigmund Freud dan Ferdinand de Saussure). Menurut Bertens, Derrida menyampaikan komentar-komentarnya dengan tulisan dalam bentuk khusus, sebab dengan cara itulah pemikirannya sendiri telah berkembang selangkah demi selangkah. Ia tidak menafsirkan karya-karya penulis lainnya dengan cara yang begitu saja. Ia mengomentari teks-teks karya penulis lainnya itu dengan cara menyajikan suatu teks baru. Ia menyusun teksnya sendiri dengan “membongkar” teks-teks lain dan dengan demikian ia menyampaikan teks-teks itu dengan cara mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan teks-teks itu sendiri. Derrida menyebut hal itu sebagai suatu “dekonstruksi” (deconstruction), suatu strategi “pembongkaran” teks.
 
Pengaruh Kierkegaard kepada Derrida
 
Salah satu karya Kierkegaard yang telah memberi pengaruh kepada perkembangan pemikiran Derrida sebagal filsuf dekonstruksi adalah bukunya Fear and Trembling (1843). Menurut Kierkegaard manusia hidup menghadapi dua realita, yaitu “sementara” (temporal) dan “kekal” (eternal). Sebagai makhluk yang berhadapan dengan realita “sementara,” yaitu “segala obyek di dunia ini,” manusia harus menggunakan rasionya. Akan tetapi sebagai makhluk yang berhadapan dengan realita “kekal,” yaitu Allah, manusia harus mempercayai sesuatu yang secara obyektif tidak pasti yaitu dengan tindakan “loncatan iman” (leap of faith). Kierkegaard menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “loncatan” (leap) adalah suatu tindakan memisahkan diri (isolation) dari etika universal dan khalayak atau “orang banyak”; suatu ketersendirian (singularity) yang kita tempuh secara individu dengan penuh iman; sesuatu yang tidak dapat dideskripsikan tetapi harus diputuskan dengan mengambil risiko. Hidup Kierkegaard sendiri adalah demikian adanya.
 
Dalam Fear and Trembling, Kierkegaard membukakan, sebagaimana tertulis dalam kitab Kejadian pasal 22, bahwa tindakan Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban, dihasilkan oleh suatu “loncatan iman” (leap of faith), suatu tindakan iman yang dilakukan dengan menempatkan diri terisolasi atau terputus dari etika orang banyak. Dalam tindakan itu Abraham tidak bertanya kepada orang banyak. Itu sebab, untuk keputusan yang sangat kritikal itu, Abraham tidak meminta persetujuan seorangpun, termasuk Sara, istrinya. Bagi Derrida hal yang menarik dari Fear and Trembling adalah bahwa tindakan Abraham mempersembahkan Ishak oleh Kierkegaard digambarkan bagaikan suatu “ilmu ekonomi gila” (mad economics), yaitu suatu tindakan yang tidak didasarkan atas ekonomi resiprokal “terima dan beri” (take and give) sebagaimana berlaku dalam etika universal. John D. Caputo seorang penafsir penting pemikiran Derrida dalam esainya Instants, Secrets, and Singularities: Dealing Death in Kierkegaard and Derrida mengatakan bagaimana dengan kisah Abraham ini Derrida mengkritik etika modern secara dekonstruktif.
 
 
... undecidability does not mean aesthetic indecision but supplies instead the condition of possibility of deciding, i.e., of taking a risk. / ... kemustahilan sesuatu untuk diputuskan bukanlah suatu keadaan estetis tanpa keputusan, melainkan justru merupakan suatu kondisi di mana keputusan menjadi mungkin untuk diambil, yaitu dengan mengambil suatu resiko. (John D. Caputo, “Instants, Secrets, and Singularities: Dealing Death in Kierkegaard and Derrida.” – Martin J. Matuštik; Merold Westphal (eds). “Kierkegaard in Post/Modernity.” Indiana University Press, 1995, p. 216)
 
 
Maksudnya, perintah Tuhan kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak, anak kandung yang sedemikian lama dinantinya itu, telah membawa Abraham pada suatu pilihan yang sulit bahkan mustahil untuk diputuskan (undecidable). Apabila pada akhirnya Abraham memutuskan untuk menghadapi situasi itu dengan mengambil keputusan untuk mempersembahkan Ishak sebagal korban sembelihan, sesungguhnya hal itu merupakan suatu tindakan pengambilan resiko saja. Menguatkan eksposisinya terhadap “pembacaan” Derrida atas peristiwa penting itu kemudian Caputo juga menggunakan pembacaan Derrida terhadap “takut dan gentar” sebagaimana dimaksud Paulus dalam Filipi 2:13 berikut ini:
 
 
... Paul may be understood to say that we can do nothing without God’s help .... this is Derrida’s reading – Paul means that God does not have to give reasons (rationem reddere), God can give or take away salvation without giving an explanation. We are in the hands of God and we do not know what God wants, what is God’s pleasure, which is a secret shrouded in silence. We do not see (voir) or know (savoir) what God wants, otherwise God would not be God, i.e., Wholly Other. /... dapat dipahami bahwa setidaknya Paulus bermaksud untuk mengatakan bahwa tidak satu hal pun dapat kita lakukan tanpa pertolongan Allah. ... inilah pembacaan Derrida – Paulus memaksudkan bahwa Allah tidak harus memberi alasan, Allah dapat memberi atau mengambil keselamatan tanpa memberitahukan alasannya. Kita ada di tangan Allah dan kita tidak tahu apa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah senangi, karena itu merupakan rahasia yang tersembunyi di dalam kesunyian. Kita tidak melihat atau mengetahui apa yang Allah kehendaki karena bila tidak demikian maka Allah bukan Allah Ia adalah sesuatu yang sama sekali lain dan apa yang mungkin kita pikirkan. (John D. Caputo, “Instants, Secrets, and Singularities: Dealing Death in Kierkegaard and Derrida.” Martin J. Matuštik; Merold Westphal (eds). “Kierkegaard in Post/Modernity.” Indiana University Press, 1995, p. 220)
 
 
Jadi sikap hati “takut dan gentar” sebagaimana dimaksud Derrida tersebut terwujud dalam tindakan instan, asimetris dan tidak boleh didasarkan atas suatu resiprositas. Dari “takut dan gentar” seperti itu Derrida kemudian menyusun “pembacaan” mengenai kisah Abraham ini dengan cara demikian:
 
 
When God speaks His word, when God calls, Abraham obeys, me voici, but he cannot understand. He is rendered incommunicado, cut off from the consolation of consensus and community, from the common sense of the sensus communis, stripped down to the madness of solitude, to fear and the trembling before an unutterable secret. / Ketika Allah berkata-kata dan memanggil, Abraham taat, “di sini aku, Tuhan!” katanya, akan tetapi ia tetap tidak mengerti apa maksud Allah dengan panggilannya itu. Abraham tidak terkomunikasi dengan seorang pun, ia “terputus” dari persetujuan orang banyak dan masyarakat, ia terpisah dari akal sehat sebagaimana diyakini orang banyak, terhempas menuju kegilaan yang sunyi, sesuatu yang menakutkan dan menggentarkan di hadapan suatu rahasia yang tak terutarakan. (John D. Caputo, “Instants, Secrets, and Singularities: Dealing Death in Kierkegaard and Derrida.” Martin J. Matuštik; Merold Westphal (eds). “Kierkegaard in Post/Modernity.” Indiana University Press, 1995, p. 220)
 
 
Jadi dalam terminologi Derrida ide “loncatan iman” yang dimaksud Kierkegaard harus dimengerti dalam kerangka keterisolasian dan ketersendirian Abraham dari etika universal. Kerangka inilah yang selanjutnya mempengaruhi pemikiran Derrida dalam melakukan pembacaan dekonstruksi atas realita kehidupan.
 
Sekadar ekskursus, Fear and Trembling terutama dengan idenya tentang “loncatan iman” juga telah memberi pengaruh kepada Karl Barth dalam teologia. Kierkegaard berkata bahwa semua pernyataan teologia bersifat paradoks dan tidak dapat dipadukan. Manusia hanya dapat memegang kedua unsur tersebut dalam keadaan tetap berlawanan dan menerimanya secara paradoks dengan iman, yang didefinisikan sebagai “emosi tertinggi manusia.” Penerimaan paradoks itulah yang disebut dengan “loncatan iman.” Karena Barth seorang teolog, Barth mengembangkan ide Kierkegaard ini lebih kepada untuk menyadarkan kita bahwa selama kita ada di dalam dunia, berteologia berarti menerima kontradiksi “pernyataan” dan “lawan pernyataan” tentang Allah.
 
Dekonstruksi Derrida: suatu strategi “pembongkaran”
 
Dengan strategi pembongkaran tersebut Derrida dalam esainya Plato’s Pharmacy mengusulkan perlunya dilakukan suatu pembacaan secara dekonstruktif (deconstructive reading) atas buku karya Plato, Phaedrus. Dalam esai tersebut Derrida mengomentari kerumitan yang dibahas oleh Plato dengan kata Yunani pharmakon (“obat,” Inggris: drug, remedy) yang muncul berulang kali dalam Phaedrus. Dalam Phaedrus, Derrida mendapati bahwa kata pharmakon (“obat,” Inggris: remedy) ternyata juga digunakan dalam arti “racun” (Inggris: poison) yang juga digunakan sebagai unsur “obat”; bahkan dalam kenyataan racun memang banyak digunakan sebagai obat penawar penyakit. Di sini Derrida mendapati adanya kemenduaan (ambivalence) bahasa. J. Richard Middleton & Brian J. Walsh mengatakan:
 
 
Just as Derrida applies this notion of pharmakon as both remedy and poison well beyond the topic of writing, as in effect a symbol of the ambiguity of all of life, we, for our part, would apply it to metanarratives and local stories, arguing that they are “pharmacological,” both medicine and poison, able to be used for good or ill. / Sebagaimana Derrida meresapkan penggunaan kata 'pharmakon' baik pada obat meupun racun melampaui topik penulisan tersebut, oleh karena kata tersebut melambangkan kemenduaan segala sesuatu dalam kehidupan, maka kita, sesuai porsi kita, dapat pula meresapkannya (maksudnya: ‘pharmakon’) pada berbagai cerita besar atau kisah lokal, dengan argumentasi bahwa keduanya, yaitu obat dan racun, bersifat farmakologis, berguna dalam keadaan sehat maupun tidak. (J. Richard Middleton & Brian J. Walsh, “Truth Is Stranger Than It Used to Be: Biblical Faith in a Postmodern Age,” Illinois: InterVarsity Press, 1995, p. 79).
 
 
Dari situ Derrida membangun pemikiran bahwa hidup manusia dikarakterisasi oleh dua hal. Pertama, yang “utama” (major); misalnya di dalam setiap sistem ekonomi terdapat hal yang sifatnya utama seperti mekanisme keuangan yang sehat. Kedua, yang “suplemen” (supplement); misalnya di dalam suatu sistem ekonomi, selain ada mekanisme keuangan yang sehat, selalu ada juga hal yang sifatnya suplemen seperti mekanisme korupsi. Dari situ Derrida mengembangkan pemikirannya tentang “dekonstruksi” terhadap teks. Dekonstruksi merupakan suatu strategi pembacaan (reading) teks yang terdiri dari dua hal berikut ini:
 
  1. Pembacaan pertama (first reading).
    Dalam first reading hal yang bersifat “utama” menjadi pusat perhatian.
     
  2. Pembacaan kedua (second reading atau deconstructive reading).
    Dalam second reading didapati bahwa hal yang bersifat “suplemen” ternyata lebih dominan dari pada hal yang bersifat utama, bahkan cenderung mengarahkan jalannya “kisah” dari segala sesuatu. Dalam banyak hal segala yang bersifat suplemen memang nyata telah menggerogoti kebudayaan manusia. Misalnya: untuk mendapatkan layanan publik tertentu diperlukan “uang pelicin” di luar tarif resmi, bahkan ironisnya pada negara-negara dengan tingkat korupsi yang tinggi, uang pelicin sebagai suplemen ternyata jauh lebih dominan ketimbang tarif resmi.
 
Hanya dengan menempatkan diri kita terpisah dari konsensus dan nilai-nilai universal maka kita, menurut Derrida, dimungkinkan dapat “membaca” teks secara demikian. Strategi pembongkaran seperti inilah yang diterapkan Derrida dalam mengomentari tulisan pemikir-pemikir lainnya. Sekadar ekskursus, di sini letak perbedaan Jacques Derrida dengan Paul Ricoeur, seorang filsuf Kristen, yang mengkategorikan “mengerti” (understanding) dalam tiga tahap berikut ini:
 
  1. Tahap pre-critical: yaitu mengerti secara pra-kritikal, belum melalui proses verifikasi oleh memori maupun penyelidikan secara eksegesis. Pada tahap ini sangat mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  2. Tahap understanding: yaitu mengerti setelah melakukan pengujian memori (berdasarkan investigasi historis) serta pengujian teks (berdasarkan metode eksegesis). Pada tahap ini juga masih mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  3. Tahap metaphorical: yaitu mengerti setelah melalui proses investigasi historis dan metode eksegesis, dengan penuh imajinasi sehingga dapat mengkomunikasikannya secara metaforis di dalam keberlimpahan makna (surplus of meaning). Pada tahap ini seharusnya sudah tidak terjadi lagi kekeliruan maupun konflik interpretasi. Dengan “mengerti” teks secara demikian maka teks Alkitab yang kita baca akan memberikan suatu pengertian yang berlimpah. Mengerti Alkitab berarti menikmati kelimpahan dari apa yang teks bukakan bagi kita. Dengan demikian kita dapat memahami dan mengomunikasikan secara berlimpah, di dalam kebenaran, apa yang kita amati dan alami di dalam dunia ini.
 
 
... Ricoeur has shown metaphors to be “texts in miniature.” He argues that metaphors create a “surplus of meaning” that cannot simply be reduced to some literal paraphrase. / .... Ricoeur telah membukakan kepada kita metafora sebagai “teks-teks dalam bentuk miniatur.” Ia berpendapat bahwa metafora menciptakan “keberlimpahan makna” yang tidak bisa direduksikan begitu saja menjadi kata-kata yang kita uraikan sendiri secara hurufiah. (Kevin J. Vanhoozer, Is There A Meaning In This Text?: The Bible, The Reader, And The Morality Of Literary Knowledge, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 1998, p. 128)
 
 
Kelahiran Kristus: yang “utama” diletakkan pada tempatnya
 
Kristus lahir tidak di tengah-tengah kehirukpikukan penantian manusia secara universal. Ia lahir di suatu kandang domba yang terpinggirkan, di Betlehem, saat manusia secara universal letih dengan berbagai suplemen yang telah menggerogoti kehidupan ini. Hanya dua orang, yaitu Yusuf dan Maria yang tidak berdaya, pada saat itu menanggung hal yang amat besar itu. Perhatikan syair lagu Natal ini:
 
Silent Night, Holy Night,
All is calm, all is bright,
Round your virgin mother and child,
Holy infant so tender and mild,
Sleep in heavenly peace,
Sleep in heavenly peace.
 
Baik orang-orang Majus dan para gembala tidak mendatangi kandang domba di mana bayi Kristus dibaringkan dengan motivasi yang resiprokal. Tidak ada take and give di situ. Pada saat itulah yang “utama” diletakkan pada tempatnya. Di hadapan anak yang kudus itu orang-orang Majus yang terhormat bersujud. Di hadapan bayi yang baru lahir itu pula para gembala yang rendah bersujud. Segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya masing-masing. Hanya dengan demikianlah ada pengharapan sejati bagi hidup manusia.
 
Penutup
 
Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menguji yang universal itu berdasarkan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sebagai makhluk ciptaan kita tidak sepenuhnya bisa terlepas dari konsesi universal; akan tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh terbelenggu di dalamnya sehingga tidak berdaya sama sekali mengambil keputusan yang didasarkan atas iman kepada Tuhan yang memelihara perjanjlan-Nya itu. Ada kalanya kita perlu berdiri di tengah “keheningan” dan “kesunyian” serta terputus dari khalayak agar kita dapat memberi respon secara singular atas apa yang Tuhan kehendaki bagi kita. Kita bersyukur atas ide Kierkegaard dan apa yang Derrida kembangkan dari padanya sebagai koreksi yang signifikan terhadap etika universal itu; akan tetapi kita tidak dipanggil menjadi Kierkegaardian dan Derridian. Kita dipanggil untuk melakukan “pembacaan” dekonstruktif atas realita hidup ini berdasarkan Alkitab, tidak berdasarkan teks-teks yang ditulis dunia berdosa. Dengan demikianlah kita baru dapat menempatkan hal yang bersifat utama pada tempatnya dengan tidak tergeserkan oleh berbagai suplemennya.
 
Mengembalikan hal yang “utama” pada tempatnya di tengah dunia modern yang demikian kompleks dengan segala “pharmakon”-nya ini bukanlah hal yang mudah. Kita membutuhkan wadah perjuangan di mana di dalamnya kita bersama-sama bisa saling menguatkan, mendoakan dan menghibur. Persekutuan Studi Reformed merupakan wadah perjuangan itu. Mari kita pikirkan dan kerjakan apa yang menjadi bagian kita itu.
 
Selamat Natal 2016 dan Selamat Tahun Baru 2017.
[ Jessy Victor ]