KEKRISTENAN dan INKARNASI
_oOo_
 
 
Filipi 2:6-8
(6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
 
 
Mari kita lihat apa yang dikatakan seorang Profesor Studi Perjanjlan Baru, Richard R. Melick Jr, mengenai ayat-ayat ini. Pada bagian ini Rasul Paulus ingin menunjukkan dua hal, yaitu apa yang menjadi sikap Yesus (ayat 6) dan apa yang diperbuat Yesus (ayat 7-8) seturut dengan sikap-Nya tersebut.
 
Pasal 2:6
 
Ayat 6 dikatakan Melick, sebagai suatu “keberadaan pada mulanya” (exist originally) di mana Yesus disebutkan dalam dua hal, yaitu “dalam rupa Allah” dan “kesetaraan dengan Allah”. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri sehingga sedemikian kontrasnya maka kita akan mengerti bagian berikutnya dengan sikap Yesus, yaitu “milik yang harus dipertahankan”. Ada pengertian kata “dipertahankan” itu juga berarti “mengambil/ merampok”. Jika Adam di dalam statusnya sebagai manusia ingin mengambil apa yang bukan menjadi haknya, yaitu menjadi seperti Allah, tidak demikian dengan Yesus. Dia tidak akan melakukan apa yang Adam perbuat, meski sebenarnya tidak ada yang perlu Dia ambil atau pertahankan karena keberadaan itu memang adalah milik-Nya. Memang benar Yesus dalam rupa Allah dan setara dengan Allah, tapi Dia tidak menggunakannya untuk keuntungan-Nya sendiri.
 
Pasal 2:7
 
Setelah kita melihat sikap Yesus di ayat 6, sekarang kita juga akan melihat apa yang diperbuat Yesus di ayat 7 dan 8. Yang ditunjukkan Yesus melalui perbuatanNya adalah kerendah-hatian-Nya. Kita melihat bagaimana sedemikian kontrasnya bagian ini di mana Yesus yang dalam rupa Allah dan setara dengan Allah (ayat 6) menjadi sama dengan manusia dan mengambil rupa seorang hamba (ayat 7). Inilah ekspresi pilihan yang Yesus lakukan, yaitu Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri. Jadi arti “mengosongkan diri-Nya sendiri” adalah Tuhan menjadi manusia. Tuhan menjadi hamba. Dan ketaatan membawa-Nya kepada kematian.
 
Menjadi sama dengan manusia menekankan kemanusiaan Yesus. Ayat 6 dan 7 ini menegaskan bahwa: Pertama, pada mulanya Yesus adalah Allah. Kedua, menegaskan bahwa Yesus menjadi manusia. Dampak dari kedua ayat ini, seperti yang juga Rasul Paulus ingatkan adalah teks ini memuji sikap dan tindakan Yesus dan sekaligus mengajak gereja untuk menghargai dan meneladani hal ini.
 
Pasal 2:8
 
Frase “dalam keadaan sebagai manusia” sekali lagi menekankan akan kemanusiaan Yesus dan kerendah-hatian-Nya. Frase ini menunjukkan - Pertama, Yesus memilih merendahkan hati-Nya. Kedua, Yesus memilih untuk taat sampal mati. Sebagal hamba, Yesus memilih untuk taat walau pilihan itu berakibat pada kehilangan nyawa-Nya. Dia taat sampai mati, dan bahkan mati di kayu salib. Kayu salib bagi jemaat Filipi memiliki dampak yang sangat besar. Tidak ada warga negara Romawi yang boleh dihukum mati dengan disalib. Bagi orang Yahudi, kayu salib adalah tanda dari orang yang dihukum mati itu adalah orang yang dikutuk. Sekali lagi ayat 8 ini menunjukkan bagaimana kerendah-hatian dari Tuhan kita Yesus Krlstus.
 
Di sepanjang sejarah, pertanyaan mengenai keilahian dan kemanusiaan Yesus selalu menjadi titik serangan terhadap kekristenan. James Montgomery Boice melukiskan dengan kalimat demikian, “Tidak ada apapun yang mungkin lebih manusiawi dari pada kematian Yesus di atas kayu salib. Tidak ada apapun yang mungkin lebih ilahi dari pada kebangkitan Yesus dan kematian pada pagi Paskah pertama itu”. Yesus melalui inkarnasi mengalami apa yang terjadi pada manusia: penderitaan, ujian, pencobaan, kehilangan,dukacita, sukacita.
 
Kita melihat momen Natal sekarang ini dimaknai sebagai season of giving di mana kita saling memberi dalam kasih. Namun ketika kita membaca dan merenungkan bagian ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan menemukan betapa dalamnya reduksi konsep dan arti Natal sesungguhnya. Natal seharusnya dimaknai sebagai sebuah momen inkamasi terjadi dalam sejarah. Yesus yang adalah Tuhan itu dengan rela telah merendahkan diri-Nya untuk menjadi sama seperti manusia. Yang tidak terbatas itu sekarang menjadi terbatas. Natal sekaligus menjadi momen masih adanya pengharapan manusia, Allah sekarang berada di tengah-tengah manusia.
 
Orang sekarang memaknai Natal sebatas sebuah musim sementara - musim bagi-bagi hadiah, musim belanja dengan discount besar-besaran, dan lain-lain, namun inkarnasi Yesus adalah untuk kekekalan bukan musiman. Semangat memberi di dalam versi Natal dunia didasarkan hanya kepada motivasi manusia itu sendiri yang berdosa. Akan tetapi inkarnasi didasarkan kepada kasih Allah yang begitu sempurna, di mana melalui inkarnasi Yesus meninggalkan takhta-Nya yang mulia, mengambil rupa manusia, dibatasi, disiksa, menderita, dan pada akhirnya mati disalibkan yang semuanya itu dilakukan untuk manusia.
 
Selamat Natal 2016, dan Selamat Tahun Baru 2017, Tuhan memberkati.
[ Ranto M. Siburian ]