SIAPAKAH ORANG YANG BERBAHAGIA?
(Refleksi atas Mazmur 1:1-3)
_oOo_
 
1.
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
 
2.
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
 
3.
Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
 
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maka terjadilah permusuhan antara keturunan perempuan dan keturunan ular (Kej. 3:15). Akibatnya terjadi antitesis antara dosa dan anugerah, antara orang benar dan orang berdosa, antara anak-anak Allah dan anak-anak si jahat. Antitesis ini akan berlangsung terus menerus di dalam dunia yang berdosa ini.
Pada bagian ini, Pemazmur memulainya dengan pengajaran tentang apa yang baik dan yang jahat agar kita selalu mengambil jalan yang benar menuju kebahagiaan. Apakah yang menjadi penuntun dan pedoman perjalanan hidup kita selama ini, menuntun hidup kita atau yang menjadi pedoman hidup kita selama ini? Apakah kita akan mengikut “dunia” ini ataukah mengikuti firman Allah? Jawaban atas pilihan ini akan berdampak yang sangat penting dalam menjalani kehidupan kita. Mari kita mengeksposisi ketiga ayat ini.
 
Ayat 1. Pemazmur bertanya siapakah orang yang berbahagia itu? Yaitu orang yang menghindari kejahatan dan meninggalkan sepenuhnya pergaulan dengan orang yang berbuat jahat. Matthew Henry di dalam tafsirannya mengatakan, “Menjauh dari kejahatan merupakan permulaan hikmat”. Ayat 1 menyatakan terdapat tiga kategori orang yang dianggap berbuat jahat, yaitu orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh. Matthew Henry mendefinisikan ketiga ketegori ini sebagai berikut: orang fasik adalah orang yang membuang rasa takut kepada Allah dan mengabaikan kewajiban mereka terhadap Allah. Orang berdosa adalah orang yang dengan sengaja terbuka memberontak melawan Allah dan melayani kepentingan iblis dan dosa. Sedangkan pencemooh adalah orang yang sudah memberontak melawan Allah dan hati mereka sudah menjadi begitu kerasnya sehingga pada akhirnya mereka bukan saja menantang tetapi juga mengolok-olok Allah dan kesucian-Nya. Lalu apakah yang dimaksud dengan meninggalkan pergaulan dengan orang yang berbuat jahat? Pemazmur pada bagian ini menggunakan tiga kata kerja untuk mengungkapkan bagaimana cara menghindarkan diri dari perbuatan yang jahat, yaitu: tidak berjalan, tidak berdiri, dan tidak duduk.
Pertama, tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. Artinya tidak meminta nasihat orang fasik meski mereka adalah orang yang cerdas. Tidak hadir dalam komunitas mereka. Tidak mengatakan apa yang mereka katakan. Tidak menggunakan standar yang mereka gunakan.
Kedua, tidak berdiri di jalan orang berdosa. Artinya tidak mengambil jalan orang berdosa, atau lebih tegas lagi tidak masuk ke jalan itu. Tidak berada di tempat orang berdosa berada. Tidak meniru atau berbuat sama dengan apa yang mereka lakukan.
Ketiga, tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Artinya tidak duduk bersama orang yang rnerasa aman dengan kefasikan mereka. Tidak duduk bersama dengan orang yang terang-terangan mencari cara dan sarana untuk mengutuk, mengolok-olok, dan menghakimi orang benar.
 
Ayat 2. Pemazmur mengingatkan orang berbahagia itu agar tetap melakukan apa yang tercatat di ayat 1. Mereka harus berserah pada tuntunan firman Allah. Di ayat 2 ini Pemazmur menunjukkan dua hal: pertarna, yang berbahagia adalah mereka yang kesukaannya Taurat TUHAN. Meski itu adalah sebuah hukum, orang benar akan tetap menyukainya karena itu adalah hukum yang diwahyukan Allah sendiri. Taurat Tuhan menjadi satu-satunya jalan menuju kebahagiaan dan kebenaran di dalam Allah. Kedua, yang berbahagia adalah mereka yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Orang benar menjaga kesukaannya terhadap Taurat TUHAN dengan cara tetap merenungkan, memikirkan, serta menjadikannya pedoman selama hidupnya. Matthew Henry mengatakan, “Tidak ada waktu yang salah untuk merenungkan firman Tuhan dan tidak ada waktu yang tidak tepat untuk melakukan firman Allah”.
Tentu saja Alkitab begitu menekankan pentingnya mempelajari firman Allah. Rasul Paulus mengatakan di 2 Timotius 3:16-17, bahwa mempelajari firman Allah adalah kunci dalam pelayanan Kristen. Mempelajari firman Allah menjadi penting karena adanya fakta-fakta di dalam sejarah Kekristenan bahwa firman Allah seringkali diselewengkan, disalahgunakan,dan diabaikan, bukan saja oleh orang-orang non kristiani tapi justru oleh orang-orang Kristen sendiri.
Di dalam mempelajari Alkitab kita tidak hanya sekadar menggalinya tetapi dituntut untuk mengaplikasikannya di dalam hidup kita. Kita adalah surat-surat terbuka Allah yang dibaca semua orang. Mempelajari Alkitab tidak hanya bertujuan demi memperoleh pengetahuan semata, namun firman Allah itu seharusnya hidup di dalam kehidupan kita.
 
Ayat 3. Pemazmur menunjukkan apa yang terjadi pada orang yang benar dan berbahagia, yaitu Allah memberinya berkat bahkan mencurahkan segala macam berkat. Kehidupan orang benar yang berbahagia itu seperti pohon yang tumbuh subur dan berbuah. Orang benar mendapat berkat seperti pohon yang dialiri air sehingga selalu ada persediaan kekuatan. Pohon itu dapat berbuah dan daunnya tidak akan layu. Firman Allah yang selalu memerintah di dalam hati orang benar bagaikan daun pohon yang tidak pernah layu. Pemazmur menegaskan kembali bahwa orang benar yang berbahagia dan berjalan di dalam kebenaran Firman Allah selalu berhasil dengan apa yang diperbuatnya di dalam Tuhan.
Selamat Paskah 2016, Tuhan memberkati.
[ Ranto M. Siburian ]