Menggunakan Metafora
Dalam Mengkomunikasikan Kebenaran
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya, disadari atau tidak disadari, telah mereduksikan hidup kita sedemikian rupa ke dalam aspek-aspek tertentu saja. Bahkan, sebagai orang Kristen, kita sekalipun tidak terbebas dari berbagai pengreduksian itu. Padahal sebagai orang Kristen kita memiliki Alkitab, firman Allah yang dikomunikasikan melalui media teks, sebagai pegangan hidup kita yang daripadanya mengalir kebenaran dengan berlimpah. Sungguh ironis memang. Hal itu terjadi karena kita tidak memahami apa yang Tuhan nyatakan kepada kita melalui firman-Nya itu dengan benar, kreatif dan berkelimpahan. Itu sebabnya seorang filsuf Kristen bernama Paul Ricoeur memberikan kita suatu terobosan mengenai bagaimana kita dapat memahami teks Alkitab itu dengan benar, bahkan lebih daripada itu adalah pada akhimya kita dapat mengkomunikasikannya dangan kreatif dan berkelimpahan kepada sekeliling kita.
 
Mengerti teks Alkitab & menemukan kelimpahannya
 
Menurut Paul Ricoeur manusia hanya dapat menemukan pengharapan apabila ia menempatkan dirinya di hadapan (in front of) teks Alkitab, yang berfungsi sebagai suatu sumber pengharapan yang berlimpah. Berada di depan teks Alkitab pun bukannya tanpa persoalan, karena saat menempatkan dirinya di hadapan teks Alkitab, manusia mempunyai sikap hati yang berbeda-beda. Oleh karena itu Ricoeur mengkategorikan “mengerti” (understanding) teks dalam tiga tahap berikut Ini:
 
  1. Tahap pre-critical: yaitu mengerti teks secara pra-kritikal, belum melalui proses verifikasi oleh memori maupun penyelidikan secara eksegesis. Pada tahap ini sangat mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  2. Tahap understanding: yaitu mengerti teks setelah melakukan pengujian memori (berdasarkan investigasi historis) serta pengujian teks (berdasarkan metode eksegesis). Pada tahap ini juga masih mungkin terjadi kekeliruan interpretasi.
     
  3. Tahap metaphorical: yaitu mengerti teks, setelah melalui proses investigasi historis dan metode eksegesis, dengan penuh imajinasi sehingga dapat mengkomunikasikannya secara metaforis di dalam keberlimpahan makna (surplus of meaning). Pada tahap ini seharusnya sudah tidak terjadi lagi kekeliruan maupun konflik interpretasi. Dengan “mengerti” teks secara demikian maka teks Alkitab yang kita baca akan memberikan suatu pengertian yang berlimpah. Mengerti Alkitab berarti menikmati kelimpahan dari apa yang teks bukakan bagi kita. Dengan demikian kita dapat memahami dan mengomunikasikan secara berlimpah, di dalam kebenaran, apa yang kita amati dan alami di dalam dunia ini.
 
 
... Ricoeur has shown metaphors to be “text in miniature,” He argues that metaphors create a “surplus of meaning” that cannot simply be reduced to some literal paraphrase. / ... Ricoeur telah membukakan kepada kita metafora sebagai “teks-teks dalam bentuk miniatur.” Ia berpendapat bahwa metafora menciptakan “keberlimpahan makna” yang tidak bisa direduksikan begitu saja menjadi kata-kata yang kita uraikan sendiri secara hurufiah. (Kevin J. Vanhoozer, Is There A Meaning In This Text?: The Bible, The Reader, And The Morality Of Literary Knowledge, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 1998, p. 128)
 
 
Narasi Alkitab mengenai penggunaan imajinasi dan metafora dalam mengkomunikasikan kebenaran
 
Untuk melihat bagaimana imajinasi dan metafora dapat digunakan untuk menyatakan kebenaran mari kita melihat narasi Perjanjian Lama mengenai bagaimana Husai menggagalkan nasihat Ahitofel demi menyelamatkan Daud sebagaimana dicatat dalam II Samuel pasal 17.
 
1.
Latar belakang
 
Daud bertakhta empat puluh tahun lamanya: tujuh setengah tahun di Hebron dan tiga puluh tiga tahun di Yerusalem (I Taw. 3:4). Dari tujuh setengah tahun pemerintahannya di Hebron ia mendapatkan enam orang anak dari enam perempuan (I Taw. 3:1-3):
 
  • Dari Ahinoam, ia mendapat Amnon.
  • Dari Abigail, ia mendapat Daniel.
  • Dari Maakha, ia mendapat Absalom.
  • Dari Hagit, ia mendapat Adonia.
  • Dari Habital, ia mendapat Sefaca.
  • Dan Egla, ia mendapat Yitream.
Seiring berjalannya waktu, suatu waktu Amnon jatuh cinta kepada Tamar, adik Absalom, dan akhirnya memperkosanya (II Sam. 13: 14). Daud marah akan hal itu (II Sam. 13:21). Absalom kemudian membenci Amnon (II Sam. 13:22).
 
Dua tahun lamanya Absalom memendam rasa dendam terhadap Amnon, hingga suatu waktu, di dalam acara pengguntingan bulu domba yang diselenggarakannya, ia mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya (II Sam. 13:32-33). Sejak saat itu Absalom melarikan diri selama tiga tahun lamanya (II Sam. 13:37-38). Setelah pelarian Absalom, suatu waktu Daud akhirnya berkenan menerima kembali Absalom (II Sam. 14:23-24), tetapi dua tahun lamanya Absalom diam di Yerusalem tanpa bertemu sama sekali dengan Daud (II Sam. 14:22).
 
Setelah akhirnya Daud bersedia untuk bertemu dengan Absalom (II Sam. 14:33) empat tahun lamanya Absalom mencuri hati orang Israel dengan mengadili perkara-perkara mereka (II Sam 15:7). Hal itu dilakukannya untuk mempersiapkan suatu kudeta atas Daud (II Sam. 15:10-11).
 
Hasilnya, Daud melarikan diri dari Yerusalem (II Sam. 15:14) dan kini Absalom merebut dan menduduki takhtanya sebagal raja Israel (II Sam. 16:8).
 
2.
Nasihat Ahitofel dan Husai kepada Absalom
 
Setelah Absalom merebut dan menduduki takhta Daud, ia memanggil kedua mantan penasihat Daud, yaitu Ahitofel dan Husai, untuk meminta nasihat mereka mengenai bagaimana menghadapi Daud. Maka datanglah secara tersendiri Ahitofel dan Husai menyampaikan nasihat mereka kepada Absalom. Nasihat Ahltofel sebagaimana dicatat dalam kitab II Sam. 17:1-4 dan nasihat Husai dalam kitab II Sam. 17:7-13.
 
Nasihat Ahitofel kepada Absalom
 
Dari II Sam. 17:1-4 kita melihat bahwa Ahitofel menyampaikan nasihatnva kepada Absalom itu dengan bahasa yang sangat strategis. Perhatikan:
 
  1. Ia meminta izin Absalom untuk membawa dua belas ribu orang pasukan untuk mengejar Daud pada malam itu juga (ayat 1).
     
  2. Dengan demikian, ia akan menyergap Daud serta pasukannya yang sedang lesu dan lemah semangatnya; Ahitofel akan mengejutkannya, seluruh rakyat yang sedang bersama dengannya akan melarikan diri sehingga ia akan dapat menewaskan Daud seorang diri (ayat 2).
     
  3. Setelah itu Ahitofel akan membawa pulang seluruh rakyat yang tadinya bersama Daud (ayat 3).
     
 
Analisa Husai atas kelemahan-kelemahan nasihat Ahitofel kepada Absalom
 
Setelah mendengar dari Absalom mengenal apa yang dinasihatkan Ahitofel, maka nyatalah bagi Husai bahwa Daud berada di dalam bahaya besar. Ia harus menyelamatkan Daud. Oleh karena itu pertama-tama ia menyatakan kepada Absalom bahwa “nasihat yang diberikan Ahitofel kali ini tidak baik.” (II Sam. 17:7). Untuk menggagalkan nasihat Ahitofel dan memenangkan nasihatnya Husai harus terlebih dahulu mengajak Absalom menganalisa nasihat Ahitofel itu dan membukakan kelemahan-kelemahannya dengan bahasa yang sangat imajinatif.
 
Perhatikan:
 
  1. Kepada Absalom Husai menggambarkan Daud dan orang-orang yang bersama dengannya sebagai pahlawan yang sedang sakit hati dan dengan demikian pada saat itu mereka bagaikan “beruang yang kehilangan anak di padang” (ayat 8). Penggambaran Husai tentang Daud sebagai pahlawan dan beruang ini mengingatkan Absalom akan siapa dan bagaimana ayahnya itu, hal yang memancing dirinya untuk bertemu dengan Daud di tengah medan pertempuran.
     
  2. Husai menggambarkan sekali lagi kepada Absalom bahwa ayahnya adalah seorang prajurit sejati yang tidak akan membiarkan rakyat tertidur. Di sini ia mengingatkan Absalom bahwa Daud dan orang-orangnya akan tetap berjaga-jaga dan hal ini sekali lagi dimaksudkannya untuk mematahkan nasihat Ahitofel.
     
  3. Husai menggambarkan kepada Absalom secara imajinatif mengenai kesiagaan Daud dan orang-orangnya dengan mengatakan bahwa pada saat itu Daud sedang bersembunyi dalam salah satu lobang atau di suatu tempat lain dan mereka siap untuk menewaskan beberapa saja pasukan Absalom agar mengesankan bahwa rakyat yang mengikuti Absalom telah menderlta kekalahan (ayat 9). Kesan yang ditimbulkan oleh pengikut Daud itu pada akhirnya akan membuat pengikut Absalom yang paling gagah perkasa sekali pun menjadi tawar hati sama sekali dan dengan demikiah menyadarkan Absalom bahwa pengiriman dua belas ribu orang itu merupakan pemborosan dan akan berakhlr dengan sia-sia (ayat 10).
 
Dengan imajinasi dan metafora ini nyata bagi Absalom bahwa nasihat yang disampaikan Ahitofel kepadanya mempunyai banyak kelemahan.
 
Nasihat Husai kepada Absalom
 
Oleh karena itu kinilah saatnya Husai menyampaikan nasihatnya kepada Absalom. Husai mengusulkan agar Absalom mengumpulkan seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba untuk berkumpul dengannya, sehingga jumlah mereka seperti pasir di tepi laut banyaknya, demi mengepung Daud di mana Absalom sendiri harus turut bertempur.
 
  1. Dengan demikian, paper Husai kepada Absalom, apabila Daud dan orang-orang yang menyertainya bertahan di suatu tempat saat Absalom dan pendukungnya mendatangi Daud di mana ia dan pengikutnya sedang bertahan mereka pasti akan dapat menyergapnya. Sepasti embun akan jatuh ke bumi, sepasti itulah pula Daud akan dapat disergap oleh Absalom (ayat 12). Husai menggambarkan kepada Absalom bagaimana dengan strategi seperti itu tidak akan ada seorangpun akan lolos baik Daud maupun orang-orang yang menyertainya.
     
  2. Demikian pula sebaliknya, apabila Daud dan orang-orang yang menyertainya mengundurkan diri ke suatu kota, maka seluruh Israel akan mengepung kota itu supaya mereka dapat menyeret seluruh kota itu sampai ke sungai dan pada saat itulah Daud akan tertangkap (ayat 13). Perhatikan di sini bagaimana Husai menggambarkan penyergapan itu dengan metafora pengikatan tali pada suatu kota. Hal itu dia maksudkan agar Absalom mempunyai imajinasi bagaimana Daud akan kalah dan dia akan menang.
Bagaimana hasil usaha Husai ini?
 
3.
Husai berhasil mematahkan nasihat Ahitofel
 
Berdasarkan apa yang Husai sampaikan itu akhirnya berkatalah Absalom bahwa “Nasihat Husai, orang Arki itu, lebih baik dari pada nasihat Ahitofel” (II Sam. 17:14). Mengetahui bahwa usahanya berhasil maka Husai memberitahukan kepada imam Zadok dan imam Abyatar mengenai apa yang Ahitofel dan ia nasihatkan secara tersendiri kepada Absalom. Kepada kedua imam itu ia meminta agar mereka segera menyuruh orang untuk memberitahu Daud agar segera meninggalkan tempat persembunyiannya di tempat-tempat penyeberangan di padang gurun sehingga dengan demikian Daud dan orang-orangnya dipastikan terhindar dari sergapan Absalom.
 
Singkatnya, seiring dengan waktu yang berjalan, saat Daud akan maju memimpin pengikutnya untuk berperang dengan pasukan Absalom, para tentara Daud mengatakan kepadanya agar tidak maju berperang. Menurut mereka, sekalipun mereka melarikan diri dan separuh dari mereka mati, mereka tidak akan dihiraukan oleh Absalom dan pasukannya. Hanya nyawa Daud seoranglah yang sesungguhnya Absalom inginkan. Oleh karena itu para pasukan Daud memintanya agar tetap tinggal dan memimpin mereka dari Mahanaim (II Sam. 18:3). Dengan demikian yang terjadi adalah kebalikan dari situasi yang direka oleh Ahitofel di mana Absalom tidak berada di tengah medan tempur tetapi Daud akan jatuh ke tangannya. Dengan keadaan ini maka Absalom akan berada di tengah medan perang, akan tetapi Daud tidak. Daud diwakili oleh panglima perangnya, Yoab.
 
Dari situ Absalom terperangkap di dalam suatu pertempuran dengan orang-orang Daud. Dalam pertempuran itu Absalom tersangkut pada pohon tarbantin sehingga ia tergantung sedangkan bagal yang dikendarainya berlari terus (II Sam. 18:9). Pada saat itu Yoab, panglima perang Daud, tidak mau menyia-nyiakan hal itu untuk menikamkan tiga lembing yang ada di tangannya pada dada Absalom (II Sam. 18:14-15). Perjalanan cerita ini berakhir pada kematian Absalom (II Sam. 18:17).
 
4.
Apa yang kita pelajari
 
Nasihat Ahitofel terdengar sangat strategis dan mendatangkan hasil dengan cepat. Apabila Absalom memilih untuk mengikuti nasihat Ahitofel maka dapat dipastikan Daud akan jatuh ke tangannya. Hal itu adalah karena Ahitofel memang mempunyai tujuan untuk mencelakakan Daud. Bukankah untuk dapat membunuh Daud seharusnya Absalom mengikuti nasihat Ahitofel? Akan tetapi hal itu bukan kehendak Tuhan (II Sam. 17:14). Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya atas takhta Daud itu dengan menggunakan nasihat Husai. Nasihat Husai terdengar imajinatif dan penuh dengan metafora. Hal itu merupakan jalan yang Tuhan pakai untuk mengarahkan jalannya “kisah” ini, Tujuan Husai adalah menyelamatkan Daud. Imajinasi dan metafora yang Husai gunakan ternyata lebih memancing Absalom. la terbayang akan menaklukkan Daud di medan pertempuran dan pulang ke Yerusalem sebagai pemenang. Oleh imajinasi dan metafora itulah Absalom pada akhirnya justru memilih nasihatnya; hal mana akan membawanya pada kematian.
 
Mengkomunikasikan kebenaran berdasarkan “mengerti” teks Alkitab
 
Bahasa yang dipergunakan Ahitofel merupakan bahasa reduksi. Sebagaimana halnya di dalam dunia modern segala pencapaian harus dapat dikuantifikasi menurut waktu yang dihabiskan, biaya yang dikeluarkan serta hasil yang dicapai. Kita, orang Kristen modern, hidup di dalam iklim seperti ini. Oleh karena itu ada baiknya orang Kristen belajar untuk menyampaikan kebenaran dengan menggunakan imajinasi dan metafora. Hal-hal itu lebih membukakan dan mencerahkan. Ia tidak tereduksi. Inilah prinsip-prinsip yang Alkitab sesungguhnya maksudkan agar sebagai orang Kristen kita dapat mengkomunikasikan kebenaran yang kita nikmati itu dengan kreatif dan berkelimpahan agar kebenaran menjadi nyata di dalam segala hal.
 
Kesimpulan
 
Kita sadar bahwa hidup di dalam dunia yang berdosa ini memang bukan hal yang mudah. Teknologi bergerak sangat cepat. Perubahan terjadi secara terus menerus tanpa henti. Waktu yang diperlukan untuk bekerja di dalam satu hari pun semakin panjang. Hidup semakin kompleks. Sementara waktu yang tersedia untuk beristirahat apalagi memikirkan dan merenungkan kehendak Tuhan semakin singkat. Dengan meningkatnya kompleksitas ini kita seakan-akan dipaksa untuk mengambil berbagai keputusan yang menyangkut pekerjaan, bisnis bahkan kehidupan pribadi dalam waktu sesegera mungkin. Di sinilah kita mengalami pengreduksian. Hidup kita tersempitkan hanya pada aspek tertentu saja termasuk cara kita mengkomunikasikan kebenaran sekalipun pada akhirnya tereduksi oleh orientasi kita pada tujuan-tujuan tertentu saja. Sesaknya kehidupan ini seolah-olah telah meniadakan ruang bagi kita untuk menghidupi kelimpahan kebenaran teks Alkitab.
 
Perhatikan bagaimana di ketinggian Yeruselem yang terletak di atas gunung Sion itu Pemazmur, secara imajinatif, menggambarkan Israel dalam metafora peziarah di mana berbagai bahaya mengintai perjalanan panjang mereka hingga akhirnya mereka boleh tiba di ketinggian kota Yerusalem. Pada ketinggian kota Yerusalem gunung merupakan pemandangan sejauh mata mereka memandang. Dengan bahasa Walter Brueggemann, di dalam bukunya The Message of the Psalms (Augsburg, Minneapolis, 1984), dapat kita katakan bahwa keberadaan gunung-gunung yang mengelilingi Yerusalem mengorientasikan mereka kepada kesetiaan Tuhan Perjanjian yang menjaga dan memelihara hidup mereka. Akan tetapi sekalipun gunung merupakan pemandangan yang biasa bagi kota Yerusalem mereka mengakui adanya ancaman bahaya musuh yang selalu mengintai mereka dari baliknya. Di sini terjadi disorientasi. “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?” (Mazmur 121:1). Lalu, siapakah Israel saat mereka boleh tiba di ketinggian kota Yerusalem itu? Sampai akhirnya Pemazmur terorientasi kembali ia kemudian berkata “Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2). Di dalam reorientasi ada kelegaan.
 
Seberapapun sesaknya kehidupan modern ini di dalamnya tetap akan selalu tersedia kelegaan yang Tuhan berikan pada kita untuk menghidupi berlimpahnya makna teks Alkitab.
 
Penutup
 
Kita tidak mungkin dapat mengkomunikasikan kebenaran dengan berlimpah tanpa belajar dan berlatih. Kita tidak mungkin dapat belajar dan berlatih dengan baik apabila kita tidak memiliki sahabat dan rekan-rekan sekerja Kristus yang bersama-sama menyadari panggilan Tuhan yang mulia ini. Persekutuan Studi Reformed merupakan wadah yang di dalamnya kita selalu dikuatkan agar selalu terorientasi kembali kepada apa yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. Di dalamnya mari kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita.
 
Selamat Paskah 2016.
[ Jessy Victor ]