Terang Yang Dinanti Itu Telah Menyinari Kegelapan
_oOo_
 
 
Lukas 2:8-9
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan”.
 
 
Pengantar
 
Banyak pemikiran telah dikembangkan mengenai turunnya berita kelahiran Kristus kepada para gembala dengan meneliti apa dan bagaimana kehidupan para gembala di sekitar Betlehem itu.
 
 
Among the occupations, shepherding had a lowly place. Shepherds were considered untrustworthy and their work made them ceremonially unclean. ... Finally, in both OT and NT shepherds symbolize all the ordinary people who have joyfully received the Gospel and have become in various ways pastors to others. / Di antara sekian banyak kedudukan, gembala berada di tempat yang rendah. Gembala dipandang sebagai orang yang tidak patut dipercaya dan pekerjaan mereka dipandang membuat mereka tidak tahir menurut ukuran ibadah. ... Pada akhirnya, di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru gembala melambangkan semua orang biasa yang menerima Injil dengan sukacita dan dalam berbagai cara telah menjadi pembimbing bagi orang-orang lainnya. (Barker & Kohlenberger, “NIV Bible Commentary,” Volume 2: New Testament, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994).
 
Due to the proximity to Jerusalem, some scholars have suggested that the flocks here are the temple flocks raised for sacrifice. This narrative would have challenged the values of many religious people, who despised shepherds; shepherds’ work kept them from participation in the religious activities of their communities. / Oleh karena dekatnya dengan Yerusalem, beberapa ahli berpendapat bahwa domba di sini merupakan domba-domba Bait Suci yang dipelihara untuk dijadikan korban ibadah. Narasi ini pasti telah menantang nilai dari banyak orang beragama, yang telah mengucilkan para gembala; pekerjaan gembala dipandang menjadikan mereka tidak layak untuk berbagian dalam kegiatan-kegiatan peribadatan masyarakat mereka. (Craig S. Keener, “The IVP Bible Background Commentary,” New Testament, Downers Grove: InterVarsity Press, 1993).
 
 
Dalam tulisan ini, dengan kerangka biblical theology, penulis bermaksud membahas lebih dalam mengenai turunnya berita kelahiran Kristus kepada para gembala tersebut berdasarkan aspek historis atau formatif dari konsep “malam” di dalam perspektif penulis Perjanjian Baru.
 
Dengan pembahasan ini penulis membukakan bahwa turunnya berita kelahiran Kristus kepada para gembala yang sedang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam itu akan membawa kita kepada pemahaman akan betapa besarnya pengharapan yang dimiliki oleh Israel, umat Tuhan itu, yang telah sekian lama hidup di dalam kesuraman dan kegelapan yang menaungi tanah perjanjian.
 
Lukas 2:8
 
Lukas mencatat turunnya berita kelahiran Kristus itu dengan setting waktu “malam”. Akan tetapi harus kita sadari bahwa ayat 8 tidak boleh hanya dimengerti dengan pola subyek-predikat-obyek. Apabila polanya demikian, maka yang terjadi adalah: Di daerah itu dipahami sekadar sebagai keterangan tempat, demikian pula gembala sebagai subyek, menjaga sebagai predikat, kawanan ternak sebagai obyek dan pada waktu malam sebagai keterangan waktu. Dengan demikian ayat tersebut seolah-olah hanya bermaksud sekadar menerangkan waktu dari turunnya berita kelahiran Kristus.
 
Oleh karena itu penting dipahami dua hal berikut ini:
 
  1. Salah satu tugas utama gembala adalah menjaga kawanan ternak mereka.
     
  2. Ancaman terhadap keamanan kawanan ternak terjadi bukan hanya pada waktu malam. Itu dapat terjadi setiap waktu. Maka gembala harus bekerja menjaga kawanan ternak mereka pada tiap waktu yaitu pagi, siang dan malam.
Kedua hal tersebut bagi Lukas jelas merupakan suatu kebiasaan (custom) yang ada di daerah sekitar Betlehem. Maka, apabila ayat 8 hanya dipahami sebatas bahwa Lukas bermaksud untuk menerangkan waktu dari turunnya berita itu, maka sesungguhnya tidak ada hal yang penting dengan catatan itu.
 
Oleh karena itu pemakaian keterangan waktu “malam” yang digunakan tersebut harus dipahami dalam kontras dengan terang yang diakibatkan sinar kemuliaan Tuhan sebagaimana dikatakan dalam ayat 9.
 
Konsep tentang “malam” di dalam Alkitab
 
Di dalam Perjanjian Lama konsep “malam” merupakan sesuatu yang banyak dikontraskan dengan terang. Umumnya ia merupakan sesuatu yang berhubungan dengan berlangsungnya kegelapan dan kesuraman yang harus dilewati umat perjanjian, seperti masa perbudakan, pembuangan dan masa sesudahnya, sebelum pada akhirnya Tuhan menebus dan memulihkan kembali umat-Nya.
 
Oleh karena itu penulis mengajak kita memikirkan konsep tentang kegelapan berdasarkan apa yang Alkitab ajarkan:
 
  1. Kejadian 15:12
     
    “Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abraham dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan”.
     
    Penulis kitab Kejadian menyejajarkan gelap gulita yang turun saat Abraham tertidur (ayat 12) dengan kegelapan dan kesuraman masa perbudakan yang kelak akan dialami oleh keturunannya selama empat ratus tahun lamanya di suatu negeri yang bukan kepunyaan mereka (ayat 13), sebelum pada akhirnya Tuhan akan menebus mereka kembali.
     
  2. Yesaya 8:23
     
    “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain”.
     
    Yesaya menggambarkan parahnya akibat penghakiman Tuhan terhadap kerajaan utara yang diwakili oleh Zebulon dan Naftali itu bagaikan suatu kesuraman yang menaungi suatu negeri yang terimpit. Pemulihan atas negeri yang terimpit itu digambarkan dengan pemuliaan yang nanti kelak termanifestasi pada saat Kristus, Anak Allah, datang melayani di tanah yang dahulu direndahkan Tuhan, di daerah-daerah yang dahulunya terletak di wilayah kerajaan utara itu.
     
  3. Yesaya 9:1
     
    “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar”.
     
    Yesaya menggunakan gambaran tentang kegelapan untuk menunjuk pada pembuangan yang dialami baik oleh kerajaan utara (akibat invasi Asyur) dan kerajaan selatan (akibat invasi Babel) sebelum pada akhirnya mereka mencicipi pemulihan dengan kembali ke tanah perjanjian, hal mana dikontraskan dengan suatu terang besar yang kelak termanifestasi saat Mesias yang dinanti dari keturunan Daud itu datang untuk menebus umat-Nya.
     
  4. Zakharia 1:8
     
    “Tadi malam aku mendapat suatu penglihatan: tampak seorang yang menunggang kuda merah! Dia sedang berdiri di antara pohon-pohon murad yang di dalam jurang; ...”
     
    Nabi Zakharia menerima penglihatan akan seorang penunggang kuda merah pada malam hari. Melihat bahwa penunggang kuda merah tersebut adalah Malaikat Tuhan yang tidak lain adalah Mesias itu sendiri, yang sedang datang melawat umat-Nya di kedalaman jurang, kita diingatkan bahwa malam di mana Zakharia menerima penglihatan itu bermaksud untuk menggambarkan kegelapan dan kesuraman dari sesuatu yang melampaui pembuangan yaitu kuasa maut.
     
  5. Lukas 1:79
     
    “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera”.
     
    Lukas mencatat bahwa imam Zakharia menggambarkan mereka yang hidup di dalam dosa bagaikan berada di dalam kegelapan dan di dalam naungan kuasa maut, hal mana dikontraskan dengan sinar yang bercahaya yang kelak akan dibawa oleh Kristus yang kedatangan-Nya itu harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh Yohanes, anak imam Zakharia.
 
Kontras antara “malam” dalam Lukas 2:8 dengan “terang” dalam Lukas 2:9
 
Dengan pola tersebut Lukas bermaksud membukakan kita bahwa berita kelahiran Kristus yang turun kepada para gembala itu merupakan suatu pengharapan yang sungguh mengejutkan bagi Israel di tengah berlangsungnya kegelapan dan kesuraman yang sangat panjang atas mereka. Saat berita itu datang sesungguhnya kegelapan dan kesuraman masih menaungi tanah itu, hingga seorang malaikat Tuhan tiba-tiba berdiri di dekat para gembala itu dan sinar kemuliaan sorgawinya meliputi mereka.
 
Ketakutan para gembala akan pemandangan tersebut merupakan hal yang beralasan. Pertama, mereka adalah orang berdosa. Kedua, pada umumnya gembala adalah orang-orang yang tidak dapat dipercaya, suka berbohong dan mencuri, hal mana telah menyebabkan masyarakat memandang mereka sebagai golongan orang yang tidak layak untuk mengikuti ibadah. Akan tetapi pada hari itu mereka telah mewakili seluruh Israel, yang dahulu oleh Yesaya digambarkan sebagai “bangsa yang berjalan di dalam kegelapan” itu, untuk “melihat terang yang besar.” Jaman baru kini telah tiba.
 
Realita kehidupan para gembala itu telah disentuh oleh terang sorga yang kekal. Kerutinan menjaga kawanan ternak yang mereka jalani setiap hari itu telah disentuh oleh jejak pekerjaan Tuhan yang ajaib. Daerah di mana para gembala itu berjaga telah tersinari oleh kemuliaan Tuhan. Betapa besar ternyata pengharapan yang dimiliki Israel itu. Di atas mereka yang diam di negeri kekelaman, terang telah bersinar.
 
Kesimpulan
 
Kehidupan yang masing-masing kita jalani ini memiliki rutinitasnya sendiri, apakah itu bekerja, berkeluarga, membuat rencana keuangan baik untuk masa sekarang serta masa depan dan sebagainya. Akan tetapi kerutinan itu tidak boleh merenggut atensi kita kepada pekerjaan Tuhan yang kekal dan ajaib. Di dalam Kristus hidup kita sudah diberi makna yang baru. Kini saatnya melalui segala sesuatu yang Tuhan beri di dalam kehidupan kita, kita memproklamasikan makna yang Tuhan beri itu demi kemuliaan-Nya. Kita tahu bahwa saat ini krisis keuangan global mengancam dunia, termasuk kita umat tebusan-Nya. Dunia bagaikan ada di bawah naungan kesuraman dan kegelapan yang tiada hentinya. Tetapi rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, sehingga segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tetap ada di dalam kendali kedaulatan Tuhan, empunya hidup kita. Semua orang yang menjadikan uang sebagai Tuhan mereka, hendaknya memikirkan kepada siapa sesungguhnya mereka harus taat. Kuasa dosa yang selama ini berkembang karena manusia lebih memilih uang ketimbang Tuhan ternyata tidak dapat dijadikan pegangan. Akan tetapi pemeliharaan Tuhan cukup bagi umat-Nya. Situasi kelam dan suram yang menaungi keuangan global ini tidak boleh membuat kita kehilangan pegangan, melainkan sebaliknya, kita dapat menjawab tantangan jaman ini untuk membawa banyak jiwa kepada pertobatan, kembali kepada Tuhan Yesus, bersandar kepada-Nya dan hidup bagi-Nya.
 
Penutup
 
Kekelaman dan kesuraman krisis dunia ini tidak boleh membuat setiap kita berdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Sebaliknya setiap kita harus menyadari bahwa tangan Tuhan sedang menenun hidup kita, menjadikan kita Rumah-Nya serta memberi kesempatan kita untuk berbagian menggenapi pekerjaan-Nya yang kekal yang telah Ia persiapkan sebelumnya bagi kita. Setiap kita disadarkan untuk berbagian menggenapi rencana Tuhan (fulfilment), bukan dengan sekadar mengejar apa yang hendak kita capai (achievement). Bukan sekadar membuat target untuk memiliki sesuatu, atau menghitung apa yang belum kita capai, melainkan dengan gentar seharusnya kita mempertanyakan apa yang sudah kita kerjakan bagi Tuhan. Apa yang belum kita kerjakan dalam hidup kita untuk mempermuliakan Dia? Selama Tuhan memberikan waktu kepada kita jangan buang kesempatan itu. Pada Natal ini penulis mengajak kita untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar untuk mempermuliakan Kristus, Juruselamat kita. Persekutuan Studi Reformed sebagai komunitas orang percaya merupakan wadah di mana umat tebusan-Nya dapat bertumbuh dan melayani Tuhan. Melalui persekutuan ini setiap kita boleh terus mengerjakan panggilan-Nya dengan sukacita.
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Deby Adelina Hutagalung ]
Persekutuan Studi Reformed