Nubuatan Mesias di dalam Perkataan Bileam
_oOo_
 
 
 
Bilangan 24:17
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set”.
 
 
Pengantar
 
Bileam bin Beor bukanlah orang Israel. Ia berasal dari daerah Petor di tepi sungai Efrat (Bil. 2:6). Ia dikatakan sebagai nabi palsu yang membawa kesesatan dan perusak bagi umat TUHAN (Bil. 31:16, bandingkan Why. 2:14,15), meski demikian ia mengenal TUHAN Allah (Bil. 22:8).
 
Nama Bileam di dalam Bilangan 22-24 memberikan isyarat yang sangat penting, yaitu TUHAN tetap memelihara janji-Nya kepada nenek moyang Israel dan keturunannya sebagai umat perjanjian-Nya. Mereka akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan bangsa-bangsa yang berusaha menggagalkan tujuan itu akan dikutuk. TUHAN tidak akan mengijinkan Bileam mengutuki Israel karena permintaan Balak raja Moab. Demikianlah Bileam memandang Israel sebagai sebuah bangsa yang berdiam di antara bangsa-bangsa lain dan hidup di dalam kemakmuran (Bil. 23:9-10).
 
Bahkan melalui wahyu TUHAN, Bileam melihat ke depan akan datangnya seorang pribadi, yakni bintang dari Yakub yang akan menghancurkan musuh-musuhnya dan memerintah atas bangsa-bangsa (Bil. 24:17,19).
 
Pendahuluan
 
Kitab Kejadian pasal 1 menunjukkan bahwa maksud Allah menciptakan manusia adalah untuk memberkati mereka. Allah memberkati dan memerintahkan mereka untuk beranak-cucu, bertambah banyak dan memenuhi bumi (Kej. 1:28). Meski ketidaktaatan telah membawa manusia jatuh ke dalam dosa, namun rencana Allah untuk memberkati manusia tidak pernah gagal. Allah berjanji akan memulihkan berkat itu melalui “keturunan” (“seed”) yang akan datang dari perempuan itu (Kej. 3:15). Janji itu dimulai melalui pemilihan Allah atas Abraham dan janji keturunan baginya (Kej. 12:1-3). Abraham dan semua bangsa akan diberkati melalui “keturunan” ini.
 
Abraham akan menjadi bangsa besar dan ia akan menikmati tanah yang Allah janjikan itu. Oleh karenanya, ketika umat Allah berada di perbudakan tanah Mesir, Allah mengingat janji-Nya kepada Abraham. Allah membawa mereka keluar dari Mesir dan memberkati mereka.
 
Kita melihat cerita Israel keluar dari tanah Mesir di dalam cerita Firaun memiliki kesejajaran dengan cerita Israel di padang belantara di dalam cerita Bileam (Bil. 22-24). Berikut penulis memberikan kesejajaran di antara kedua cerita tersebut.
 
Keluaran
(Exodus)
Padang Belantara
(Wilderness)
 
Raja Firaun mencoba menghentikan Israel ke tanah perjanjian (Kel. 1:10), sebagai usaha untuk menghentikan berkat yang sudah Allah janjikan kepada Abraham (Kej. 15:16) dan menikmati tanah perjanjian itu.
Raja Balak di dalam kitab Bilangan juga mencoba untuk mengalahkan dan menghalau orang-orang Israel dari dataran Moab karena jumlah mereka yang banyak/terlalu kuat (Bil. 22:6). Seperti halnya Firaun, Balak raja Moab berusaha untuk menggagalkan mereka menuju tanah perjanjian itu dengan mencoba mengalahkan dan menghalau mereka dari negeri Moab (Bil. 22:6)
 
Raja Firaun mencoba 3 kali untuk menahan berkat itu, karenanya raja Firaun berusaha mengurangi jumlah orang Israel. Ia menjadikan umat Allah budak untuk menindas mereka (Kel. 1:11-14), ia memerintahkan pembunuhan atas bayi laki-laki dari perempuan Ibrani (Kel. 1:15-21). Akan tetapi Allah memberikan intervensi dan bidan-bidan itu membiarkan mereka hidup sehingga bertambah banyak dan berlipat ganda.
Balak raja Moab berusaha merintangi berkat atas Israel (Bil. 23:1-12, 13-26, 23:27-24:9). Akan tetapi masing-masing usaha raja Moab untuk mengutuki Israel itu Allah berintervensi dan memberkati Israel (Bil. 23:11-12, 25-26, 24:10-11). “…Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka” (Bil. 24:10).
 
Keluaran pasal 2 menghadirkan peristiwa kelahiran Musa sebagai pembebas (deliverer) umat Allah dari tanah perbudakan Mesir. Musa menjadi bayang-bayang (prototype) dari Mesias.
Bilangan 24 menghadirkan seorang pribadi yang akan datang untuk membebaskan umat Allah dan menghancurkan musuh-musuh-Nya. Ia adalah bintang yang terbit dari Yakub dan tongkat kerajaan timbul dari Israel.
 
Melalui latar belakang ini kita dapat memahami maksud dari penulis kitab Musa (Pentateukh) dan penekanannya pada nubuatan Bileam. Dasar pemikiran dari cerita Bileam adalah penulis kitab Bilangan ingin memberikan perhatian pada janji Allah yang ditujukan kepada Abraham. Melalui janji itu, mereka yang memberkati keturunan ini akan diberkati dan mereka yang mengutuk keturunan ini akan dikutuk.
 
Cerita Bileam dimulai ketika raja Moab, Balak bin Zipor, melihat kegentaran orang-orang Moab terhadap bangsa Israel oleh karena jumlah mereka yang banyak. Itu sebabnya Balak, raja Moab, meminta Bileam mengutuki keturunan Abraham. Allah tidak mengijinkan hal itu terjadi, namun Ia justru memberkatinya. Melalui Bileam keturunan Abraham diberkati dan keturunan Moab dikutuk.
 
Nubuatan Mesias di dalam ucapan Bileam
 
Di dalam Bilangan 23-24 ada tujuh ucapan Bileam yang dicatat, di mana ketujuh ucapan Bileam tersebut berkenaan dengan nasib bangsa Israel dan nasib bangsa-bangsa lain.
 
Sebelum membahas bagian penting berkenaan dengan janji Mesias di dalam ucapan Bileam ini, berikut ini garis besar struktur dari ucapan Bileam di dalam Bilangan 23-24 tersebut.
 
  1. Ucapan Bileam pertama (Bilangan 23:7-10)
     
    Ucapan Bileam yang pertama ini menekankan akan keunikan berkat yang dimiliki Israel dibandingkan dengan bangsa lain, serta ucapan kutuk atas Israel yang diminta Balak raja Moab tidak akan mungkin terjadi karena TUHAN yang berdaulat atas Israel.
     
  2. Ucapan Bileam kedua (Bilangan 23:18-24)
     
    Tema dari ucapan Bileam kedua ini menekankan bahwa TUHANlah yang menjadi sumber berkat bagi Israel, bukan manusia. Allah berbeda dengan manusia dan firman-Nya berbeda dengan perkataan manusia. Allah yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir dan memberi kekuatan bagi umat-Nya. Hanya oleh karena Allah saja, umat Allah mengalami kemenangan.
     
  3. Ucapan Bileam ketiga (Bilangan 24:3-9)
     
    Bagian ini menekankan bahwa berkat atas Israel adalah sesuatu yang mutlak (absolut). Bileam menubuatkan akan gambaran kemuliaan Israel di tanah perjanjian dan Allah menyatakannya melalui visi yang diberikan kepada-nya.
     
  4. Ucapan Bileam keempat (Bilangan 24:15-19)
     
    Adalah klimaks dari ucapan Bileam pada Bilangan 23-24. Klimaks berkat atas Israel berpusat kepada dia yang akan datang sebagai pembebas bagi umat Allah.
     
  5. Akhir dari Ucapan Bileam (Bilangan 24:21-23)
     
    Di akhir ucapan Bileam ini, ada tiga ucapan Bileam dicatat di Bilangan 24:21-23, di mana ketiga ucapan ini menubuatkan akan kejatuhan bangsa-bangsa lain akibat penghakiman Allah atas mereka.
 
Dari salah satu ucapan Bileam di atas, yaitu ucapan Bileam yang keempat melalui visi yang TUHAN Allah bukakan kepadanya, janji kedatangan seseorang yang akan membebaskan umat Allah dan menghancurkan musuh-musuhnya akan datang dari Yakub.
 
 
Bilangan 24:17
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set”.
 
 
Bagi bapak gereja mula-mula maupun pandangan Yahudi mula-mula melihat bahwa “bintang” yang dikatakan terbit dari Yakub dan “tongkat” kerajaan timbul dari Israel hanya ditujukan kepada Mesias seorang bukan kepada Daud.
 
Berikut adalah salah satu pandangan bapak gereja mula-mula yang bernama Justin Martir mengenai Bilangan 24:17 dikaitkan dengan Yesaya 11:1, 51:5 dan beberapa pandangan dari orang Yahudi, yaitu Targum Onkelos dan Targum Jonathan,
 
 
“…A star shall rise out of Jacob, and a flower will come forth from the root of Jesse, and upon his arm will the nations hope. The shining star has risen and the flower has grown from the root of Jesse--this is Christ. For he was by the power of God conceived by a virgin of the seed of Jacob, who was the father of Judah, the father of the Jews, as been explained; Jesse was his ancestor,according to the oracle, and he was the son of Jacob and Judah by lineal succession”. Justin, the Martyr, "The First Apology," The Library of Christian Classics, Vol. I. Early Christian Fathers, trans. and ed. by Cyril C. Richardson (Philadelphia: The Westminster Press, 1953).
 
The Targum Onkelos: “When a mighty king of Jacob's house will reign, and the Messiah will be magnified”.
 
The Targum Jonathan: “When there shall reign a strong king of the house of Jacob, and Messiah shall be anointed, and a strong scepter shall be from Israel…”
 
 
Di antara sarjana Perjanjian Lama sendiri juga memiliki pandangan atau penafsiran berbeda dalam mengerti siapakah bintang terbit dari Yakub? Mereka mempertentangankan hal ini dan menyebutkan bahwa janji itu hanya tertuju kepada Daud dan tidak secara jelas ditujukan kepada Mesias. Salah satunya adalah David W. Kerr di dalam bukunya “Numbers,” The Bible Expositor: The Living Theme of the Great Book menuliskan sebagai berikut:
 
 
“It is better to see the fulfillment of this prophecy in David, the king of Israel who did actually crush both Moab and Edom. The ideal can be transferred to the Messiah only in the sense that the throne of David prefigured the rule of Jesus Christ over an infinitely greater kingdom.”
 
 
Akan tetapi saya tidak setuju dengan pandangan di atas yang menyebutkan bahwa Bilangan 24:17 dapat mungkin ditujukan kepada Mesias hanya dengan pemahaman tahta Daud merupakan gambaran akan Kristus. Sekalipun Daud memang menjadi gambaran lebih dulu (prefigure) akan Kristus, akan tetapi kita tidak bisa memakai pendekatan ini untuk menyimpulkan hal di atas dikarenakan nubuatan itu hanya tertuju kepada satu pribadi saja bukan dua pribadi.
 
Geerhardus Vos sendiri menolak pendekatan ini yang menurutnya hanya teori kompromi. Vos menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui dengan jelas apakah nubuatan itu terbatas hanya kepada Yakub, Yehuda, atau Daud, sampai hal itu jelas dinyatakan. Itu sebabnya Vos lebih mengarahkan kesimpulannya kepada nubuatan yang ditujukan hanya kepada Mesias.
 
 
“A compromise theory points to David as a type of Christ. We object that types are not predicted in the course of revelation. The narrowing down of Jacob, Judah and David is not known until they appear on the scene. The conclusion is that the prophecy is solely messianic.” Geerhadus Vos, “The Eschatology of the Old Testament.”
 
 
Saya sependapat dengan kesimpulan Vos bahwasanya ucapan Bileam akan bintang terbit dari Yakub dan tongkat kerajaan timbul dari Israel menunjuk kepada Mesias. Sekalipun “bintang” dan “tongkat” sebagai simbol kerajaan dapat menunjuk kepada Daud, akan tetapi penggenapannya hanya tertuju kepada figur yang lebih besar dari Daud, yaitu Mesias. Dua kata benda ini, “bintang” dan “tongkat” lambang kekuasaan yang menjadi metafora untuk seorang raja tidak dapat dikatakan menjadi milik dinasti Daud melainkan kepada Mesias, karena kalimat itu secara eksplisit bukan ditujukan kepada satu keluarga kerajaan tetapi kepada satu pribadi, yaitu Daud atau Mesias.
 
Sekali lagi saya berpendapat hal itu menunjuk kepada Mesias sebagaimana halnya nabi-nabi selalu mengharapkan penaklukan atas bangsa-bangsa ada di dalam era Mesianik (Yes. 16:13; 25:9-10; Yer. 48:24; Yeh. 25;12; Maz. 137:7). Saya setuju dengan pernyataan Unger di dalam bukunya Unger's Bible Handbook yang menekankan bahwa Israel maupun kita sendiri hanya menemukan penggenapannya di dalam pribadi yang lebih besar dari Daud yaitu Mesias yang akan memulihkan Israel pada kedatangan kerajaannya yang kedua. Penghancuran musuh-musuh Israel, Moab, Edom, Amalek, Asyur, Eber dan Kittim akan menjadi gambaran kekuasaan bangsa-bangsa lain akan dihakimi.
 
 
“This is the most remarkable of the four parables, containing a magnificent messianic prophecy of “the Star out of Jacob” and a “Sceptre out of Israel,” which “shall smite the corners [ of the head ] of Moab” and destroy “all the sons of Sheth,” Although the royal symbols “star” and “sceptre”' include David, whose empire encompassed the Promised Land (Gen 49:10), yet they find their fulfillment only in the greater David when at the second advent the kingdom is restored to Israel (Acts 1:6). Then Israel's foes, Moab, Edom, Amalek, Asshur, Eber, and Kittim, that portray the latter-day Gentile world powers, will be judged (Mt 25:31-46), before Israel's kingdom is set up”.
 
 
Geerhadus Vos sendiri di dalam bukunya “The Eschatology of the Old Testament,” memberikan beberapa pertimbangan yang menekankan bahwa “bintang” dan “tongkat” itu menunjuk kepada Mesias.
 
  1. emphasis on the kingship of Jehovah is connected with the exodus of Israel from Egypt
     
  2. messianic kingship is the only one that fits in after the emphasis on Jehovah’s kingship
     
  3. the eschatological form of expression with the pronoun used points to the Messiah (cf. “I see him but not now”)
     
  4. late author would not describe the coming of David this way.
 
Maka Bileam seorang penyembah berhala melalui wahyu TUHAN melihat bahwa Israel akan memiliki pembebas yang akan datang, yaitu Dia yang adalah “bintang” dari Yakub. “Tongkat” kerajaan yang ada padanya akan membawa kemenangan umat TUHAN atas musuh-musuhnya. Kepada Dia yang akan datang itu umat TUHAN akan menemukan pengharapannya untuk menikmati berkat yang telah dijanjikan itu.
 
Moab, Edom, dan bangsa-bangsa lain tidak dapat mengutuki ataupun menghancurkan umat perjanjian-Nya. Namun sebaliknya, merekalah yang akan dihakimi dan dihancurkan. Dia yang akan datang itu tidak hanya menghancurkan Moab dan keturunan Set serta berkuasa atas Edom melainkan juga penghukuman dan kekuasaannya berpengaruh hingga atas bangsa-bangsa lain.
 
Di Perjanjian Baru, apa yang menjadi nubuatan Bileam bagi umat TUHAN dan juga bagi bangsa-bangsa telah menemukan penggenapannya di dalam peristiwa kelahiran Kristus di kota Betlehem. Kelahiran-Nya ditandai dengan “bintang” dari Timur sebagai lambang atau simbol bagi seorang raja. Walau “bintang” ini (Mt. 2:2) tidak secara pasti identik sama dengan “bintang” yang Bileam katakan (Bil. 24:17), namun Dia yang dimaksudkan di dalam perkataan Bileam adalah Mesias yang akan datang itu yang kini telah digenapi melalui peristiwa kelahiran Kristus di kota Betlehem.
 
Orang-orang Majus bertanya-tanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem (Mt. 2:2-3).
 
Kelahiran Yesus Kristus yang ditandai dengan “bintang” Betlehem sungguh menggentarkan hati orang-orang Majus, sekaligus menjadi sukacita bagi mereka. Namun bagi Herodes atau bangsa-bangsa lain yang meragukan kedatangan-Nya, kelahiran-Nya tetap menggentarkan hati mereka, namun hal itu sesungguhnya menjadi penghakiman atas mereka.
 
Mesias yang dinantikan itu, raja dari keturunan Yehuda yang dijanjikan bagi umat perjanjian-Nya, sungguh menjadi sukacita bagi umat TUHAN yang ada di dalam kekelaman.
 
Demikian halnya kelahiran Yesus Kristus yang kita rayakan dalam momen Natal ini sungguh memberikan sukacita, pengharapan, dan penghiburan bagi kita, sekaligus membawa kegentaran hati kita kepada Dia yang telah menganugerahkan keselamatan kepada kita.
 
Kesimpulan
 
TUHAN Allah menegaskan sekali lagi akan kesetiaan-Nya terhadap janji-Nya kepada Israel sebagai umat perjanjian-Nya di dalam menghadapi semua penindasan dari bangsa-bangsa lain. Allahlah yang berdaulat dan mengontrol seluruh peristiwa tersebut dari mereka yang ingin mengutuki umat Allah. Janji TUHAN tetaplah kekal dan kepenuhannya sudah digenapi di dalam Kristus Tuhan.
 
Biarlah kita semakin diteguhkan dengan melihat peristiwa Natal sebagai penggenapan (fulfillment) janji TUHAN bagi kita sehingga hidup kita juga boleh menjadi penggenapan (fulfillment) TUHAN atas kita. Marilah kita tetap terus memandang kepada Dia, yang adalah pengharapan kita yang sejati dengan terus setia mengerjakan pelayanan kita kepada-Nya.
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Mulatua Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed