Memahami Pemilihan Allah
Di Dalam Terang Perjanjian Lama
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Adalah penting mengakui bahwa ketika berbicara mengenai tema atau konsep pemilihan (election), kita tidak boleh melepaskannya dari Perjanjian Lama. Ketika Rasul Paulus menuliskan mengenai tema ini dalam tulisan-tulisannya, Paulus memakai latar belakang Perjanjian Lama untuk menjelaskannya. Pada artikel ini penulis ingin menjelaskan biblical story dari pemilihan Allah yang dimulai dari pemilihan atas Abraham, pemilihan atas Yakub, pemilihan atas bangsa Israel dan akan berpuncak pada pemilihan atas Mesias, hamba Allah, yang akan datang itu untuk menggenapi rencana-Nya.
 
Pemilihan atas Abraham
 
Cerita pemilihan (the story of election) dimulai bukan dari Perjanjian Baru tetapi dari Perjanjian Lama ketika Allah memilih dan memanggil Abraham, seseorang yang berasal dari keluarga penyembah allah lain (berhala), untuk keluar dari negerinya Ur-Kasdim, dari sanak saudaranya dan dari rumah bapanya menuju ke tanah yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya (Keluaran 12:1). Kepadanya Allah berjanji untuk memberkatinya, menjadikannya bangsa yang besar dan melaluinya semua bangsa akan memperoleh berkat. Nehemia 9:7 mencatat peristiwa ini dengan menyatakan demikian, “Engkaulah TUHAN, Allah yang memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham.” Yosua juga mencatat hal ini sebagai latar belakang yang signifikan untuk memahami lebih dalam atas pemilihan Abraham. “Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, disitulah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi aku memanggil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh Tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya”” (Yosua 24:2-3).
 
Dalam ancient society, tanah (land), keluarga (family) dan keturunan (inheritance) menjadi sangat signifikan perannya. Tanah menjadi sumber kehidupan sekaligus sebagai representasi dari identitas politik (political identity), keluarga atau keturunan merepresentasikan masa depan (the future) di mana melalui keturunanlah generasi yang baru akan terbentuk. Ketika Abraham keluar dari negerinya dan meninggalkan keluarganya, ini menggambarkan bagaimana Abraham dengan iman meletakkan kehidupannya, identitasnya, keamanannya, dan bahkan masa depannya di tangan Allah. Apakah yang menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi Abraham untuk melakukan hal itu? Satu-satunya jawaban adalah iman dan ketaatan dengan mata yang terus melihat kepada janji Allah (promise of God) dan Allah juga berjanji akan menjadi perisai (shield) yang akan selalu melindungi Abraham (Kejadian 15:1). Kejadian 17:7, Alkitab menyatakan bahwa Allah membangun dan mengikat perjanjian dengan Abraham. “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu”.
 
Dari uraian diatas, dengan latar belakang pemilihan Abraham yang adalah keturunan dari keluarga penyembah allah-allah lain, kita melihat satu hal yang sangat penting yaitu dasar pemilihan Allah atas Abraham semata-mata hanya oleh karena anugerah dan kedaulatan-Nya bukan karena sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Robert A. Peterson dalam buku Election and Free Will: God’s Gracious Choice and Our Responsibility menegaskan hal ini dengan mengatakan demikian,
 
 
“God, the Creator of all things, makes Abram (Josh. 14:3), a son of idolaters, the father of the covenant nation. This means that God’s choice of him is all of grace, for on his own Abram never would have chosen God. In fact, God chooses someone ignorant of the true God to highlight His grace and saving initiative.
 
In fact, God chooses Abraham, out of all the idolaters in the world, for salvation and to be the father of the covenant nation that will ultimately through Christ bring salvation to the world.” (Robert A. Peterson, “Election and Free Will: God’s Gracious Choice and Our Responsibilty,” Phillipsburg New Jersey: P&R Publishing Company, 2007)
 
 
Pemilihan atas Yakub
 
Cerita pemilihan atas Yakub dimulai dari satu narasi ketika Ishak berdoa untuk istrinya Ribka yang pada saat itu mengalami kemandulan. Tuhan mendengarkan doa Ishak dan mengandunglah Ribka. Namun sesuatu terjadi, kedua anak kembar di kandungannya itu saling bertolakan di dalam rahimnya. Ribka berespon meminta penjelasan Tuhan atas kondisi ini. Tuhan menjawab, Firman TUHAN kepadanya: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (Kejadian 25:23). Kedua anak yang dilahirkan itu diberi nama Esau dan Yakub. Bagian selanjutnya Alkitab mencatat bahwa Allah lebih memilih Yakub daripada Esau. Pemilihan Allah atas Yakub tidak pernah didasarkan atas apa yang Yakub lakukan bagi Allah, bukan juga karena jasa yang sudah diberikan ataupun kebaikan yang dilakukan tetapi oleh karena Yakub adalah orang yang Tuhan pilih dan tentukan sebelum kelahirannya sebagai penerima kasih Allah secara khusus (the special recipient of His love).
 
Sebagai fakta yang menjadi dasar pemilihan Yakub di atas adalah kasih Allah, beberapa bagian Alkitab ternyata tidak menutupi dosa-dosa dan kegagalan-kegagalan yang dilakukan Yakub antara lain: kelicikan dan tipu dayanya untuk memperoleh hak kesulungan dari Esau (Kejadian 25:31-33), menipu ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan (Kejadian 27:19, 24, 35). Mengenai bagian ini Maleakhi 1:2-3 mencatat perkataan/ firman Tuhan kepada Israel demikian: “… Namun aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau…” dan kemudian dikutip Rasul Paulus dalam Roma 9:13. Kedua ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Allah memilih Yakub dan menolak Esau. Kata “Allah memilih” di sini dapat diartikan Allah mengasihi Yakub sebelum dia dilahirkan, sebelum dia melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya (Roma 9:11). Paulus kembali menekankan hal ini dalam Roma 9:15-16: “…Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa aku mau menaruh belas kasihan dan aku akan bermurah hati kepada siapa aku mau bermurah hati.” Jadi hal ini tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” J. Barton Payne dalam buku The Theology of the Older Testament menyatakan, “Jacob is “the most outstanding example of unconditional election to be found in all of Scripture”.
 
Dari narasi pemilihan individual (individual election) Allah atas Abraham dan Yakub di atas, Robert A.Peterson dalam buku Election and Free Will: God’s Gracious Choice and Our Responsibility, memberikan 2 (dua) kesimpulan teologis yaitu:
 
  1. Individual election is for salvation and service. Allah memilih Abraham untuk keselamatan umat-Nya ketika Allah mengikat perjanjian kekal dengannya dan keturunannya di mana Dia akan menjadi Allahnya dan Allah keturunannya.(Kejadian 17:7). Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya Ur ke tanah Kanaan dan ketika Abraham dengan rela menyerahkan anaknya Ishak untuk dipersembahkan sebagai korban kepada Allah, hal ini menunjukkan akan ketaatan Abraham yang mutlak atas perintah Allah sekaligus mecerminkan pelayanan dia yang terbaik kepada Allah. Demikian pula dengan Yakub, melalui keturunannya akan membawa keselamatan.
     
  2. Individual election is based on God’s love and will. Kita mengetahui bahwa pemilihan individual atas Abraham dan Yakub bukan berdasarkan jasa atau iman yang Tuhan lihat sebelumnya, tetapi semata-mata hanya oleh karena kasih dan kehendak-Nya. Pada pembahasan di atas, kita mengetahui bahwa Allah justru memilih Abraham yang adalah seorang keturunan penyembah allah lain (berhala) dan Allah juga memilih Yakub yang adalah seorang penipu. Charles H.H.Scobie dalam buku The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology, berkata: “In Genesis 12, the choice of Abraham is totally unexpected and unexplained; it depends entirely on divine initiative, divine grace, and divine love”.
 
Pemilihan atas bangsa Israel
 
Perjanjian Lama selain berbicara mengenai pemilihan Allah secara individual, tetapi itu semua tetap akan terfokus atau terpusat kepada pemilihan Allah secara corporate yaitu pemilihan Israel sebagai bangsa pilihan-Nya.
 
Kita akan berkonsentrasi pada pembahasan beberapa bagian Alkitab berikut yang secara khusus berbicara tentang pemilihan Israel.
 
  1. Ulangan 4:37-38
     
     
    “Karena Ia mengasihi nenek moyangmu dan memilih keturunan mereka, maka Ia sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatan-Nya yang besar, untuk menghalau dari hadapanmu bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, untuk membawa engkau masuk ke dalam negeri mereka dan memberikannya kepadamu menjadi milik pusakamu, seperti yang terjadi sekarang ini”.
     
     
    Bagian ini berbicara tentang hubungan atau relasi antara pemilihan Allah atas Israel dengan tindakan Allah membawa bangsa itu keluar dari perbudakan mesir. Tindakan penebusan Allah itu jelas didasarkan atas kasih Allah, demikian pula dengan pemilihan Allah yang juga didasarkan atas kasih Allah.
     
  2. Ulangan 7:6-8
     
     
    “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allah-mu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan lebih banyak jumlah-mu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu- bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?-tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir”.
     
     
    Bagian ini berbicara dan menjelaskan tentang pemilihan Allah atas bangsa Israel. Musa melihat ke masa lampau di mana Allah telah memilih umat-Nya untuk menjadi umat yang kudus yang terpisah dari orang Kanaan. Dalam pemikiran Musa, pemilihan Israel berkaitan dalam konteks sebuah relasi perjanjian (Covenant relationship) dengan Allah. Pemilihan Allah atas Israel tidak didasarkan pada suatu nilai kebaikan atau jasa dari bangsa itu dan bukan pula didasarkan banyaknya jumlah bangsa itu, tetapi hanya didasarkan pada perjanjian kasih (Covenant of Love) antara Allah dan umat-Nya dan kesetiaan-Nya kepada perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub.
     
    Pemilihan Allah atas bangsa Israel juga bersifat eksklusif di mana di antara sekian banyak bangsa di dunia ini, Allah memutuskan pilihan-Nya kepada bangsa Israel untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Sebagai umat kesayangan-Nya, bangsa Israel diberikan tanggung jawab besar untuk menjaga kekudusannya, menjadi umat yang kudus terpisah dari bangsa-bangsa lain yang menolak Allah dan melakukan kehendak Allah.
     
  3. Ulangan 10:14-15
     
     
    “Sesungguhnya TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini”.
     
     
    Bagian ini berbicara tentang bagaimana hubungan atau relasi antara Allah yang besar, Allah yang memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta isinya dengan pemilihan Allah atas Israel. Allah yang besar itu tetap mengasihi Israel dan memilihnya menjadi umat kepunyaan-Nya.
     
  4. Ulangan 14:2
     
     
    “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi”.
     
     
    Sama halnya dengan Ulangan 7:6-8, bagian ini berbicara tentang status bangsa Israel sebagai umat yang kudus bagi TUHAN dan yang telah dipilih dari segala bangsa menjadi umat kesayangan-Nya. Sebagai umat yang kudus, Israel diberikan tugas dan tanggung jawab yang besar untuk menjaga kekudusan sebab Allah yang memilih mereka adalah Allah yang kudus adanya. Bagian ini dengan jelas menghubungkan antara pemilihan Allah dengan kekudusan Allah dan kekudusan umat-Nya.
 
Dari penjelasan tentang pemilihan Allah atas Israel di atas, kembali Robert A.Peterson dalam buku yang sama, memberikan 4 (empat) kesimpulan teologis, yaitu:
 
  1. Election is Both Individual dan Corporate. Meskipun pemilihan atas Abraham merupakan pemilihan individual, tetapi dampak dari pemilihan itu berkaitan dengan keselamatan dunia. Melalui Abraham, Tuhan memberikan bangsa Israel, umat pilihan-Nya dan melalui Israel, Tuhan membawa Kristus yang mana melalui Dialah perjanjian Abraham digenapi.
     
  2. God’s election of Israel is based on His grace. Dasar dari pemilihan Allah atas Israel bukan berasal nilai kebaikan atau jasa yang dimiliki oleh bangsa itu, karena realitanya Israel tidak lebih baik dari bangsa-bangsa lain, bahkan bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang tidak setia dan taat kepada Tuhan. Pemilihan ini juga tidak didasarkan pada luas wilayah atau jumlah penduduk yang besar, karena realitanya banyak bangsa-bangsa di bumi ini yang wilayahnya lebih luas dan jumlah penduduknya lebih besar dari Israel. Dari pemahaman ini, kita dapat menyimpulkan bahwa jelas pemilihan Allah atas Israel adalah sepenuhnya anugerah Allah. William W.Klein dalam bukunya “The New Chosen People: A Corporate View of Election” berkata demikian,
     
     
    “What motivated God to choose Israel? The Old Testament writer overwhelmingly assert that Israel could not attribute her election to anything within the nation herself. Beginning with God’s selection of patriarch Abraham (Gen 18:18-19; Cf. 12:1-4; 17:1-8; Deut 4:37). Israel owes its existence as God’s people solely to his gracious, unmerited choice ….God’s lovingkindness alone can explain his choice”.
     
     
  3. God’s election of Israel is not arbitrary. Kita mengetahui bahwa Alasan tindakan Allah untuk memilih bangsa Israel menjadi umat perjanjian-Nya dari bangsa-bangsa lain adalah kasih dan kehendak Allah yang berdaulat bukan sebuah kerjasama antara manusia dan Allah.
     
  4. God’s election of Israel produces result. Pemilihan Allah atas Israel menghasilkan 3 konsekuensi logis yaitu: kepemilikan (ownership), penebusan (redemption) dan tanggung jawab (responsibility). Allah memilih Israel menjadi umat kepunyaan-Nya artinya Allah adalah satu-satunya yang berhak atas kepemilikan bangsa itu. Pemilihan Allah tidak bisa dilepaskan dari tindakan penebusan Allah bagi bangsa Israel di mana Allah telah melepaskan mereka dari perbudakan Mesir. Pemilihan Allah juga bersifat un-conditional dan conditional, artinya bahwa benar pemilihan Allah didasarkan atas anugerah-Nya (un-conditional), namun di dalam anugerah itu Allah juga menuntut tanggung jawab (conditional) yaitu terus menjaga kekudusan dan setia melayani-Nya.
 
Pemilihan atas Mesias
 
Pada akhirnya, kita melihat klimaks dari tema pemilihan dalam Perjanjian Lama tertuju kepada satu figure yang akan datang sebagai hamba Allah (servant of the Lord) yang dengan jelas dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Yesaya 42:1, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepada-Nya aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atas-Nya, supaya Ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Dia yang akan datang itu adalah Mesias, the chosen one’. Cerita Perjanjian Lama dimulai dengan berbicara tentang Allah yang memanggil Abraham secara individual dan kemudian akan menuju ke pemilihan bangsa Israel (corporate). Ketika bangsa Israel gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai umat Allah dan tidak menjadi terang bagi bangsa lain, maka Tuhan menghukum mereka dengan membawa mereka ke pembuangan.Tetapi rencana Allah tidak pernah gagal, Dia mengutus Mesias, Yesus Kristus, untuk mengembalikan rencana Allah pada tempatnya semula. Mesias, dipilih Allah yang mana kematian dan kebangkitan-Nya memberikan jaminan keselamatan bagi orang percaya.
 
Penutup
 
Dari pembahasan di atas kita mengerti bahwa konsep pemilihan Allah ternyata berakar dari Perjanjian Lama. Di mana Allah memilih Abraham dan Yakub dan Allah mengikat perjanjian-Nya dengan mereka dan kemudian fokus pemilihan itu menuju kepada satu bangsa yaitu Israel dan berpuncak kepada Mesias. Dasar pemilihan Allah jelas bukan karena nilai kebaikan dan jasa yang mereka punya tetapi semata-mata hanya oleh karena kasih dan kedaulatan-Nya. Demikian pula kita sebagai umat pilihan-Nya, kita dipilih Allah oleh karena anugerah-Nya semata, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan. Ketika Allah memilih kita, Allah tidak melepaskan kita dari tanggung jawab sebagai anak Tuhan. Kita diberikan tugas yang mulia untuk menjaga identitas kita sebagai umat pilihan-Nya dengan menjaga kekudusan kita dan selalu taat pada perintah-Nya. Ketaatan kita ada buah dari pemilihan Allah atas kita. Biarlah melalui peristiwa Natal ini kita terus diingatkan bahwa Allah Bapa telah memilih Yesus Kristus untuk datang ke dunia untuk menggenapkan rencana keselamatan bagi kita umat pilihan-Nya. Dia rela mati dan bangkit menebus kita. Biarlah kita meresponi anugerah itu dengan bekerja melayani-Nya seumur hidup kita.
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Nikson Sinaga ]
Persekutuan Studi Reformed