Kebahagiaan Hidup
Di Dalam Memenuhi Panggilan Tuhan
_oOo_
 
 
A. Kebahagiaan hidup yang kita inginkan yang ditawarkan oleh dunia
 
Siapakah dari kita yang tidak menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan? Pasti semua orang – termasuk kita pun – menginginkannya, bukan? Pemahaman setiap orang yang berbeda di dalam memaknai arti kebahagiaan hidup itu sendiri, telah menghasilkan berbagai macam upaya yang dikembangkan oleh manusia sepanjang sejarah demi meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Ada yang mengaitkan kebahagiaan dengan penemuan seorang pasangan hidup yang ideal sehingga hasrat hidupnya diarahkan untuk mencari hal tersebut. Ada juga yang mengaitkan kebahagiaan hidup dengah kekayaan (richness) sehingga hidupnya diarahkan di dalam upaya mengumpulkan uang dan materi sebanyak mungkin. Ada pula yang mengaitkannya dengan kesuksesan di dalam pekerjaan, menjadi orang tenar, memiliki jabatan yang prestise, disukai oleh banyak orang, memiliki rumah yang besar, kehidupan yang bebas, memperoleh pekerjaan yang dinikmati dan sebagainya. Inilah sebagian besar dari gambaran hidup yang kita dambakan, di mana kepuasan dan kebahagiaan hidup benar-benar terpenuhi. Tetapi apakah betul jika hal tersebut telah terpenuhi, maka kita akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan hidup di dunia ini?
 
B. FRUI dan UTI
 
Ketika kita memiliki kecintaan (desire) terhadap sesuatu atau seseorang, pastilah kita mengharapkan sesuatu atau seseorang tersebut dapat memberikan kepuasan/kenikmatan (satisfaction) bagi kita, bukan? Banyak orang yang mengasihi (a desire to love) pasangan suami/istri/pacar dengan harapan dia akan menerima kepuasan/kenikmatan dalam hubungannya bersama suami/istri/pacarnya tersebut. Ada pula orang yang mencintai pekerjaannya karena memberikan kepuasan/kenikmatan dalam hidupnya, entah itu karena bentuk pekerjaannya, hasil uang yang dihasilkan atau suasana di dalam lingkungan kerja.
 
Augustinus (354-430 M), seorang bapa gereja dan pemikir besar Kristen menjelaskan bahwa ketika kita memiliki kecintaan terhadap sesuatu atau seseorang, belum tentu apa yang kita cintai itu mampu memberikan kepuasan/kenikmatan yang kita harapkan darinya. Relasi antara mencintai (a desire for something/someone) dan pemenuhan kepuasan dari apa yang kita cintai tersebut (a satisfaction fulfilled from what we desire), tidak selalu berbanding lurus. Oleh karena itu, Augustinus menggunakan dua kata yang berbeda dalam bahasa Latin untuk menerjemahkan kata “mencintai/mengasihi” (desire) di mana masing-masing kata memiliki makna dan penafsiran yang berbeda, yakni kata “FRUI” dan “UTI”.11.
Kuliah umum on Integrated Christian Studies (ICS) tentang “Happiness, Well-Being and Christian Worldview” oleh Oleh Pdt. Joshua Lie P.hd (Cand.), 07 September 2008 di Jakarta Design Center, Slipi, Jakarta.
Tujuan Augustinus di sini semata-mata agar umat Allah bisa memiliki pemahaman yang tepat dan alkitabiah di dalam menghubungkan antara cinta (desire) dan kepuasan (satisfaction) yang diterima dari hal yang kita cintai tersebut.
 
Penerjemahan terhadap arti “mencintai” (desire) dalam penggunaan kata “frui” dapat ditafsirkan/dimaknai sebagai berikut: ketika kita mengasihi/mencintai sesuatu, maka kita pun akan menerima kepuasan dan kenikmatan dari hal yang sama tersebut. Makna dari arti kata “frui” digunakan oleh Augustinus untuk menjelaskan hubungan antara manusia dan Allah.
 
“FRUI” =
Saya mencintai suatu hal dan saya mendapatkan kenikmatan dari hal yang sama tersebut (menjelaskan konsep hubungan antara manusia dengan Tuhan).
 
Saya mencintai Tuhan
 
 
SAYA
-
TUHAN
 
 
Tuhan dapat memberikan kepuasan kepada saya
 
Sementara penerjemahan terhadap arti “mencintai” (desire) dalam penggunaan kata “uti” dapat ditafsirkan/dimaknai sebagai berikut : ketika kita mengasihi/mencintai sesuatu yang bukan Allah (a desire for something worldly), misalnya seperti pekerjaan, pasangan hidup, negara, aktivitas olahraga, ideologi, kemajuan teknologi dan lainnya, maka kepuasan atau kenikmatan itu tidak akan kita dapatkan dari hal tersebut, melainkan kita mendapatkannya dari luar, yakni dari Allah. Makna dari arti kata “uti” di sini digunakan oleh Augustinus untuk menjelaskan hubungan antara manusia dengan dunia dan antar sesama manusia.
 
“UTI” =
Saya mencintai suatu hal, namun saya tidak mendapatkan kenikmatan dari hal tersebut, tetapi saya mendapatkan kenikmatannya justru dari luar (menjelaskan konsep hubungan antara manusia dengan dunia dan antar sesama manusia).
 
Saya mencintai dunia dan seluruh ciptaan Allah di dalamnya
(pekerjaan, pasangan hidup, uang dan lain-lain)
 
 
SAYA
-
DUNIA
 
 
Namun, jangan mengharapkan dunia/pekerjaan/uang/pasangan,
hidup saya di dunia ini mampu memberikan kepuasan kepada saya,
melainkan saya harus mengharapkan dari Allah.
 
Salah satu kisah Alkitab yang mungkin dapat mempermudah kita memahami makna dari kata “uti” adalah kisah percakapan antara Tuhan Yesus dan perempuan Samaria (Yoh. 4:13-15), di mana Tuhan Yesus mengatakan “Barangsiapa minum air ini (air dari sumur), ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Dari kalimat di ayat ini, kita mempelajari bahwa harapan yang paling utama yang ingin dipenuhi oleh semua manusia dalam tatanan strukturnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan ketika ingin meminum air bukanlah demi kesehatan tubuhnya, melainkan untuk memuaskan dahaga atau rasa hausnya. Air diciptakan Tuhan salah satunya untuk memuaskan dahaga manusia dan manusia memerlukan air sebagai sumber pemuas dahaganya. Maka di sini kita bisa melihat bahwa ada hubungan fundamental yang saling melengkapi antara air dan manusia dalam tatanannya sebagai ciptaan Tuhan.
 
Namun, ketika perempuan Samaria itu memberikan respon terhadap panggilan Tuhan Yesus dengan berkata, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus lagi dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air”, maka terungkaplah di sini bahwa ada kepuasan/kenikmatan yang tidak diterima oleh perempuan Samaria dari meminum air yang ditimbanya dari sumur. Air di sumur yang adalah ciptaan Tuhan yang seharusnya berfungsi untuk memuaskan rasa haus manusia, ternyata tidak dapat memuaskan dahaga seperti yang diharapkan oleh perempuan Samaria tersebut. Oleh sebab itulah, perempuan samaria itu kemudian dengan penuh kesadaran memohon dan berharap kepada Tuhan Yesus untuk dapat memberikan “air hidup” yang dapat memuaskan dahaga jiwanya.
 
Saya yakin bahwa hampir semua aktivis gereja/persekutuan menyetujui bahwa dirinya benar-benar memiliki kecintaan (frui) terhadap Tuhan dan percaya betul bahwa hanya Tuhan-lah yang mampu memberikan kepuasan bagi hidupnya. Tetapi apakah betul itu yang kita aplikasikan di dalam seluruh aspek kehidupan kita? Mungkin hanya di saat kita melaksanakan kegiatan-kegiatan yang kita golongkan “rohani” seperti di gereja dan persekutuan saja, kita betul-betul memiliki kecintaan untuk memuliakan Allah (a desire to glorify God) serta menerima dan mengharapkan kepuasan dari-Nya. Namun, bagaimanakah dengan aktivitas kita di luar gereja/persekutuan? Bagaimanakah diri kita di saat menikmati pekerjaan di kantor, menjalin hubungan dengan pacar atau suami-istri, membaca buku-buku non-Kristen, berolahraga, mengembangkan bisnis, bersosial, berpolitik, menikmati liburan, mengumpulkan harta kekayaan dan lain sebagainya? Bukankah motivasi terutama yang memicu kerajinan banyak orang (termasuk pula banyak aktivis gereja) di dalam bekerja atau mengembangkan bisnis usahanya adalah untuk mengumpulkan uang dan membeli sebanyak mungkin materi yang sering dianggap sebagai sumber kepuasan dan kebahagiaan hidup di dunia? Bukankah banyak orang yang aktif dalam aktivitas sosial-politik mengharapkan kepuasan dan kebahagiaannya dari perwujudan ideologi-ideologi yang dihasilkan oleh manusia? Tetapi, bukankah kepuasan-kepuasan yang kita terima dari hal-hal yang duniawi tersebut sifatnya terbatas karena toh kita semua pada akhirnya akan mati (Luk. 12:13-20)? Lalu, bagaimanakah semestinya kita mencari kepuasan hidup di dunia ini?
 
C. Kepuasan di dalam memenuhi panggilan Tuhan
 
Saudara/i, ketika kita belum menemukan kepuasan dalam hidup kita, maka sudah pasti kita akan menjalani kehidupan ini dengan terus mencarinya. Hasrat seseorang untuk mencari kepuasan dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang alami, karena kehidupan di dunia merupakan arena pergumulan bagi setiap manusia di dalam mencari makna dirinya di tengah proses perkembangan sejarah. Namun ketika hasrat tersebut tidak dibimbing oleh kebenaran Firman Tuhan, maka hidup kita akan penuh dengan kekecewaan karena kepuasan yang akan kita terima hanyalah bersifat semu. Oleh sebab itu, hasrat di dalam mencari kepuasan dari sesuatu atau seseorang yang kita cintai atau sukai harus diarahkan kepada Allah sang Pencipta karena Dialah yang telah menetapkan diri kita dan seluruh ciptaan-Nya di dalam kekekalan. Artinya, kepuasan hidup kita hanya akan terpenuhi di dalam menemukkan dan melaksanakan panggilan hidup yang Tuhan telah tentukan kepada kita di dalam kekekalan.
 
Tidak semua orang diciptakan Tuhan untuk menjadi dokter, pengusaha atau pejabat pemerintah. Begitu juga tidak semua orang terlahir untuk menjadi orang kaya. Kepuasan hidup di dunia tidak akan kita temukan dari sesama ciptaan Tuhan (pekerjaan, pasangan hidup, materi, ideologi, teknologi, dan lain-lain), melainkan kita mendapatkannya dari Allah Sang Pencipta itu sendiri. Oleh sebab itu, menempati posisi panggilan hidup yang tepat yang telah ditetapkan oleh Allah Sang Pencipta merupakan sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang dapat diperoleh umat Allah di dalam hidupnya, di mana Tuhan sudah pasti akan melengkapi diri setiap umat-Nya agar mampu mengerjakan panggilan tersebut (1 Kor. 7:17).
 
Setiap upaya yang dilakukan seorang umat Allah untuk memenuhi panggilan tersebut merupakan bukti ketaatannya terhadap Tuhan. Inilah yang seharusnya memicu kecintaan atau hasrat kita (uti) di dalam melakukan setiap hal atau aktivitas di dunia ini, yakni mengetahui bahwa kepuasan tidak akan kita terima dari aktivitas atau seseorang yang kita cintai/sukai, melainkan hanya dari Allah sajalah yang memberinya kepada kita melalui Firman-Nya sehingga kita boleh menikmati setiap pekerjaan, aktivitas atau relasi yang kita kembangkan di dunia ini. Selain itu pula, dikarenakan sifat panggilannya yang kekal karena telah ditentukan oleh Allah di dalam kekekalan, maka kepuasan yang akan kita terima pun di dalam memenuhi panggilan tersebut bersifat kekal (melampaui kematian).
 
Pergumulan seorang Kristen di dalam mencari makna kehidupannya secara terus menerus (to seek the meaning of life) adalah sebuah proses untuk memenuhi panggilan Tuhan (fulfilling God’s Calling). Pergumulan seseorang di dalam mencari makna kehidupannya hanya akan terpuaskan bila diterangi oleh kebenaran Firman Tuhan, sumber pemuas dahaga manusia. Oleh sebab itu, memiliki kesadaran bahwa hanya Firman Tuhanlah satu-satunya sumber kebenaran yang dapat menerangi proses pergumulan hidup manusia, merupakan stimulus yang mampu memberikan kenikmatan dan kepercayaan diri bagi kita dan setiap orang Kristen dalam upayanya memenuhi panggilan Tuhan di tengah tantangan dunia.
 
Lalu, bagaimanakah kita boleh memperoleh kepuasan dan menikmati proses pemenuhan panggilan hidup yang Tuhan telah berikan kepada kita, bila kejahatan dan kerusakan moral terus menggrogoti setiap pengembangan aspek kehidupan dunia saat ini? Kejahatan yang semakin berkembang di zaman ini, seharusnya tidak membuat orang Kristen kurang percaya diri atau minder berperan sebagai garam dan terang menghadapi tantangan-tantangan dunia. Kebobrokkan moral yang semakin meningkat di dalam proses pengembangan setiap aspek kehidupan, tidak mesti membuat orang Kristen malah menjauhkan diri atau menekan hasratnya terhadap aspek kehidupan yang diminati. Sebaliknya, justru orang Kristen wajib melaksanakan setiap kegiatan, pekerjaan, aktivitas atau relasi yang dijalankannya dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati, tekun dan penuh hasrat/kesukacitaan (passion) di dalam melakukannya, guna menghambat penggerogotan dosa berkembang lebih jauh di dalam aspek-aspek kehidupan dunia tersebut. Cotton Mather, seorang Kristen Puritan dan pendiri Yale College di Amerika, mengatakan bahwa “nilai sebuah pekerjaan/aktivitas/relasi yang dijalankan oleh seseorang tidak terletak pada pekerjaan/aktivitas/relasi itu sendiri, melainkan ia harus dipandang sebagai sarana di mana dirinya dapat memiliki dan menikmati relasi yang hidup bersama Tuhan”.
 
Saudara/i seiman, ketika kita menikmati relasi yang hidup bersama Tuhan di dalam pekerjaan/aktivitas/relasi kita, terlebih lagi ketika kita tetap merasa puas dan menikmatinya di tengah situasi yang sulit dan tidak nyaman, maka kita sebenarnya telah menemukan arti dari kebahagiaan hidup di dunia ini, yakni memuliakan Tuhan dalam memenuhi panggilan-Nya dan menikmati-Nya selamanya (to glorify God in fulfilling His calling and to enjoy Him forever).
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Randy Ludwig Pea ]
Persekutuan Studi Reformed
 
 
Notes
 
1
Kuliah umum on Integrated Christian Studies (ICS) tentang “Happiness, Well-Being and Christian Worldview” oleh Oleh Pdt. Joshua Lie P.hd (Cand.), 07 September 2008 di Jakarta Design Center, Slipi, Jakarta.