Menghadapi Realita Kemiskinan
_oOo_
 
 
A. Pandangan Kekristenan tentang kemiskinan
 
Seiring dengan berjalannya waktu, kerap kali kita menghadapi masalah kemiskinan yang tak pernah kunjung berhenti. Permasalahan ini selalu terjadi hampir di seluruh negara di dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang. Bagaimanakah dengan kita sebagai orang Kristen menghadapi realita kemiskinan pada masa kita sekarang ini? Bagaimanakah kita mesti memahami masalah kemiskinan ini jika dihubungkan dengan moment Natal yang sebentar lagi kita jelang? Tindakan apakah yang harus kita ambil?
 
Penulis mengambil beberapa landasan pemikiran yang dihasilkan oleh kaum Puritan (komunitas Kristen Reformed di Inggris dan Amerika di abad 17-18) tentang bagaimana sepatutnya kita memahami realita kemiskinan di dunia ini.
 
  1. Tingkat kerohanian seseorang tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan ekonomi orang tersebut. Orang yang hidup dengan tingkat kerohanian yang tinggi, tidak otomatis diberikan Tuhan sebuah kehidupan yang berkelimpahan. Begitu pula orang yang hidupnya miskin tidak dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sedang mengalami kemurkaan Tuhan. Namun, bukankah justru pemikiran yang membenarkan bahwa tingkat kerohanian seseorang berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan ekonominya, kini malah ramai ditanamkan oleh gereja-gereja kontemporer zaman sekarang?
     
  2. Kemiskinan itu tidak identik dengan sesuatu yang memalukan atau yang buruk. Menurut Alkitab dalam surat Yakobus pasal 2:5 yang menyatakan bahwa bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang telah mengasihi Dia? Seringkali kesulitan ekonomi yang dialami oleh seorang anak Tuhan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikkan pertumbuhan imannya sebagai orang percaya. Penderitaan yang dialami akibat kehidupan miskin membuat orang untuk berdoa memohon anugerah pertolongan Tuhan dan mengandalkan hanya pada pertolongan Tuhan semata. Bukankah orang-orang kaya jarang sekali membutuhkan Tuhan sebab dia merasa sudah memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan di dunia ini?
     
  3. Menurut beberapa pandangan tertentu yang berkembang dalam agama Budha, Hindu, dan sebagian pandangan Katolik, untuk mencapai tingkat kehidupan rohani yang tinggi, seseorang sepatutnya menghindari godaan-godaan yang bersifat duniawi dalam kehidupan dunia ini dengan cara menekuni kehidupan yang bersifat monastik, seperti menjalani hidup yang miskin, atau menyendiri dan menjauhkan diri dari kehidupan bermasyarakat agar tidak tergoda oleh hal-hal duniawi. Bagi kekristenan, menjalani kehidupan yang miskin bukanlah suatu jalan untuk menghindar dari godaan duniawi dalam kehidupan ini. Sebab dalam pemikiran orang miskin pun juga tertanam hasrat keinginan untuk menikmati tawaran-tawaran dunia yang belum tentu mereka bisa nikmati dalam masa kehidupannya berupa kelimpahan kekayaan material.
     
  4. Kekristenan menolak pandangan yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu bentuk nasib sial yang harus diterima seseorang dengan pasrah dalam kehidupan ini atau merupakan takdir yang harus dijalani oleh orang-orang miskin. Menurut pandangan kita sebagai orang kristen, kita harus berusaha untuk menanamkan kepada setiap manusia bahkan kepada orang miskin sekalipun bahwa kemiskinan bukanlah takdir hidup yang harus dijalankan secara pasrah atau sasaran yang harus dicapai oleh seseorang dalam kehidupannya. Baik orang miskin maupun orang kaya diberikan Tuhan peran dan kapasitas masing-masing di dalam memenuhi panggilannya melayani dan memuliakan Tuhan. Orang kaya harus membantu kesejahteraan hidup orang-orang yang miskin dan orang miskin tidak boleh hidup iri hati terhadap orang-orang yang kaya. Panggilan Tuhan terhadap setiap umat percaya bersifat kekal sehingga tidak dapat diukur dengan materi.
 
B. Fungsi orang Kristen di dalam memahami problema kemiskinan
 
Kesalahan yang seringkali terjadi di masa kontemporer seperti sekarang ini adalah orang-orang Kristen seringkali mengaitkan kekristenan lebih kepada masalah perasaan/emosi. Hal ini lantaran problema sosial yang semakin kompleks di masa kini mengakibatkan seseorang membutuhkan sesuatu yang dapat mengisi jiwanya di dalam mengatasi kondisi dirinya sebagai orang kaya dan orang miskin, sebagai pemimpin dan yang dipimpin, sebagai pejabat dan rakyat biasa. Ketika kita memahami kekristenan hanya sebagai obat candu yang efektif guna memenuhi dan memuaskan perasaan diri kita dan manusia di tengah realita kehidupan yang semakin sulit dan kompleks, maka makna dan fungsi Kekristenan sebenarnya telah direduksi menjadi sebuah agama yang berfungsi hanya untuk memenuhi kebutuhan egoistis manusia semata. Akibat dari pandangan ini, maka sudah pasti Kekristenan tidak akan dapat berperan sebagaimana mestinya untuk menjadi garam dan terang dunia, menjadi berkat bagi masyakarat dan publik, khususnya di dalam mengatasi problema Kemiskinan. Mengapa demikian? Karena kita telah menjadikan iman dan kepercayaan kita hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan diri, bukan untuk menjadi berkat, sehingga bagaimanakah kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang problem kemiskinan, apalagi untuk terlibat di dalam mengatasi problema kemiskinan? Kekristenan bukan hanya mengakui Kristus, tetapi juga Allah Trinitas – Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Itulah sebabnya, Pengakuan Iman Rasuli di awali dengan: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi.” Pernyataan ini secara eksplisit menegaskan bahwa Iman Kristen bersangkut paut dengan alam, pemerintahan, hubungan antar sesama, dan sebagainya, yang berarti juga termasuk mengatasi masalah kemiskinan.
 
Oleh sebab itu, kita sebagai orang Kristen harus bersedia menjadi saksi di tengah dunia saat ini, khususnya dalam mengatasi masalah kemiskinan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Kita tetap memohon pimpinan Allah untuk bertindak dalam kehidupan kita sehingga tindakan kita hanya untuk memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, kita membutuhkan pimpinan yang mengarahkan diri kepada prinsip-prinsip yang benar, termasuk juga di dalam menghadapi realita kemiskinan di tengah dunia dan bagaimana kita berperan di dalam mengatasi realita tersebut secara benar sesuai Firman Tuhan. Dalam masyarakat yang tidak lagi menghargai keadilan, mereka yang lebih kuat memanfaatkan kaum yang lemah dengan cara-cara yang seringkali tak dapat dihindari atau dilawan oleh kaum yang lemah dalam posisinya sebagai sebagai orang-orang lemah. Dengan kesadaran akan tanggung jawab kita kepada Allah untuk melindungi yang lemah, serta kesadara bahwa kehidupan yang kita jalani ini memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang kekal dimana masing-masing umat Allah diberikan panggilan yang unik yang tidak bisa diukur dengan materi dan seluruh kekayaan yang ditawarkan oleh dunia ini, niscaya kita dapat menjadi berkat di dalam menghadapi problema kemiskinan.
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Setya Asih Pratiwi ]
Persekutuan Studi Reformed