Memuliakan Allah dan Menikmati-Nya
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan dalam hidup ini. Sebagian orang menikmati kehidupan dengan cara berbelanja, menonton televisi, bertamasya, bahkan dalam budaya Barat modern kenikmatan dilambangkan dengan cara berendam di bak hangat dengan semburan sauna yang menyenangkan hati mereka. Di dalamnya, mereka juga dapat beristirahat sambil menghabiskan waktu. Dalam artikel ini, penulis akan membahas mengenai warisan kekristenan di dalam menyikapi tema kenikmatan ini.
 
Sering kali kita hanya terpaku kepada Allah yang memberi perintah yang keras, Allah yang marah dan Allah yang menuntut kita untuk melakukan hal yang tidak kita sukai di mana kita tidak diberikan kesempatan untuk menikmati kesenangan kita. Namun menurut Alkitab yang benar justru sebaliknya. Alkitab berkata: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Maz. 16:11); “Maka aku akan dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku” (Maz. 43:4); “Semoga Allah, sumber pengharapan memenuhi kamu dengan sukacita, damai sejatera dan sukacita oleh Roh Kudus,” (Rom. 14:17).
 
Pembahasan
 
A.
Apakah kenikmatan?
 
Kata kenikmatan (enjoyment) lebih dekat dengan satu kata di dalam bahasa Yunani “eudaimon” yang artinya “bahagia.” Sementara itu Webster Dictionary sendiri menjelaskan kenikmatan sebagai pikiran yang puas; sensasi atau emosi yang serasi; perasaan yang dihasilkan oleh sukacita atau pengharapan akan kebaikan. Jadi, kenikmatan merupakan kondisi ideal yang diharapkan setiap manusia yaitu suatu kondisi di mana manusia merasa bahagia dan bisa menikmati hidupnya. Yang membuat suatu kenikmatan benar, baik dan berharga adalah apa yang menyertainya. Kita harus memperhatikan motivasi dan akibat dari apa yang kita nikmati. Apakah kenikmatan yang datang maupun yang dicari itu dapat diterima dengan suatu ucapan syukur sebagai berkat yang Tuhan sediakan bagi kita? Jika kenikmatan yang dihasilkan itu hanya untuk menyukakan diri dan bukan untuk menyukakan Allah maka kita akan terperangkap ke dalam kenikmatan dunia dan dosa (Luk. 8:14).
 
Pada hakekatnya ada 2 (dua) macam kenikmatan yaitu: kenikmatan yang berdosa dan kenikmatan yang suci. Kenikmatan yang berdosa adalah kenikmatan yang bertentangan dengan penyangkalan diri. Kenikmatan ini hanya dimiliki oleh orang-orang tidak percaya, di mana Iblislah yang menjadi sumber dari kenikmatan ini. Sementara itu, kenikmatan yang suci adalah kenikmatan yang dimiliki tanpa membuang penyangkalan diri. Kenikmatan ini bersumber dari Allah dan tujuan akhirnya hanya pada Allah.
 
Orang yang menyangkal dirinya bagi Kristus adalah orang-orang yang melihat kepentingan, keinginan dan kehendak Allah melebihi keinginan dan kehendak pribadi. Pertanyaannya sekarang adalah: “Apakah Allah menginginkan kita menderita tanpa kenikmatan seumur hidup kita?”
 
B.
Cara pandang manusia melihat kenikmatan
 
Berikut adalah lima cara pandang bagaimana manusia melihat kenikmatan, yakni:
 
  1. Mengejar kenikmatan sementara
     
    Cara pandang ini dimiliki oleh setiap manusia sejak manusia jatuh dalam dosa. Segala kenikmatan dan kebahagiaan seolah-olah menjauh dari manusia. Hubungan antara sesama manusia menjadi rusak karena adanya penderitaan dan kesulitan hidup yang dihadapi. Itu sebab, dengan segala pemikirannya manusia berusaha mencari jalan keluar dari penderitaan-penderitaan yang dihadapinya. Manusia berusaha mencari Allah dengan segala keberadaannya dengan cara beribadah dengan harapan Allah tidak memberikan penderitaan. Manusia berharap Allah memberikan kebahagiaan dan kenikmatan hidup seperti yang dibutuhkan oleh manusia.
     
    Kenikmatan sementara lainnya bisa dalam bentuk uang. Uang dianggap sebagai jalan keluar dari segala permasalahan yang dihadapi. Dengan uang, manusia dapat membeli segala kenikmatan yang ada seperti mobil mewah, apartemen mewah, dan kemewahan lainnya. Namun realitanya uang bukanlah jaminan kenikmatan kekal yang manusia butuhkan. Uang tetap menjadi kenikmatan sementara karena uang bukan solusi atau jalan keluar dari segala kesulitan yang adai. Pada akhirnya, ketika uang dan usaha manusia tidak mampu membuat manusia keluar dari kesulitannya, maka sebagian orang mungkin akan mengambil jalan pintas misalnya dengan bunuh diri atas kekecewaan hidup yang dialami atau sebagian orang akan kembali kepada Allah dan tetap berharap akan ada jalan keluar dari semua kesulitannya.
     
  2. Membuang semua kenikmatan sementara
     
    Cara pandang ini mengajarkan jika kita ingin mendapatkan kenikmatan kekal maka kita harus membuang kenikmatan sementara karena kenikmatan sementara hanya membuat manusia berdosa dan menjauhi Penciptanya. Maka lebih baik menjauhi semuanya dan membuang segala keinginan menikmati kelimpahan, kepuasan dan kenikmatan.
     
    Dalam pikiran mereka, hal yang lebih berguna adalah kenikmatan kekal yang sudah disediakan Pencipta. Apa yang ada di dunia tidak dapat dibandingkan dengan apa yang ada di surga. Pekerjaan di surga lebih besar daripada di dunia. Pikiran mereka terus tertuju pada kenikmatan dan kepuasan kekal yang ada di surga, misalnya dengan banyak beribadah, berdoa dan berkorban untuk melayani Penciptanya. Di samping itu kenikmatan ini juga dapat mereka rasakan pada saat beribadah di mana saat-saat seperti itu mereka dapat merasakan penyertaan, penghiburan dan perlindungan Allah dalam hidup mereka. Mereka juga dapat merasakan ketenangan dan persetujuan dari Allah atas hidup mereka yang tidak sama dengan orang-orang berdosa lainnya yang hidup hanya untuk memuaskan nafsunya. Kita mengetahui bahwa kenikmatan tertinggi adalah ketika kita memikirkan dan mengharapkan kenikmatan kekal yang dijanjikan itu suatu saat akan kita nikmati.
     
    Jika kita melihat, seringkali Allah hanya dijadikan alasan di mana kita tidak boleh menikmati segala kenikmatan sementara. Kita menganggap Allah tidak menghendaki umat percaya untuk menikmati segala kesenangan dan kenikmatan di dunia ini. Allah hanya ingin umat-Nya menikmati kenikmatan hanya dalam ibadah kepada-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah manusia dilarang menikmati semua kenikmatan dunia? Apakah tidak boleh manusia menikmati mobil mewah, rumah mewah dan kenikmatan dunia lainnya?
     
  3. Membuang sebagian dan mengejar sebagian
     
    Cara pandang ketiga ini dimiliki oleh orang-orang yang tidak ingin mengejar kenikmatan sementara tetapi ingin menjadi orang-orang yang bisa membuang semua kenikmatan sementara itu, walaupun mereka menyadari bahwa banyak kenikmatan yang mereka perlukan untuk bisa memuaskan hidup mereka. Orang-orang ini berada di persimpangan. Mereka terkadang merasa diri seperti orang saleh atau orang berdosa yang tidak sanggup menahan keinginan diri untuk menikmati kenikmatan yang ditawarkan dunia ini. Di samping itu mereka juga meragukan pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh agama yang fanatik yang sepertinya melarang kenikmatan itu semua.
     
  4. Menikmati tetapi tanpa hasrat untuk mengejar kenikmatan
     
    Seringkali kita merasa kaget atau kagum melihat orang-orang yang kelihatannya begitu pasrah menerima segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini, di mana mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar kepuasan, kebahagiaan dan kenikmatan. Apapun yang terjadi terhadap diri mereka, mereka bisa menerimanya karena mereka tidak merasa bisa melakukan sesuatu untuk merubahnya. Begitu banyak orang ketika melihat orang-orang seperti ini merasa iri dan bahkan menginginkan untuk menjadi seperti mereka sehingga hidup bisa lebih tenang dan menerima realita.
     
    Orang-orang ini tidak mengejar sekaligus tidak membuang kenikmatan sementara. Tidak menjadi orang-orang yang terlalu bebas mengejar kenikmatan sementara yang memuaskan nafsu, tetapi juga tidak menjadi orang-orang yang fanatik sampai harus membuang kenikmatan sementara. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang realistis tetapi cenderung pasif. Jika kenikmatan itu datang, diterima saja tetapi tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkannya karena semuanya sudah ada yang mengatur.
     
  5. Kenikmatan sementara adalah anugerah Allah untuk memuliakan-Nya dan belajar menikmati-Nya.
     
    Cara pandang ini melihat bahwa ketika Allah selesai mencipta, Ia mengatakan, “Sungguh amat baik”. Ada kepuasan dan kenikmatan di dalam-Nya. Ia memberikan kenikmatan ini kepada manusia yang dicipta menurut gambar-Nya. Manusia bisa berpikir, merasakan, menikmati dan puas, baik di dalam hubungannya dengan Penciptanya maupun dengan ciptaan lainnya. Hanya manusia yang dapat menikmati semua relasi itu dengan baik.
     
    Permasalahannya adalah manusia telah jatuh dalam dosa sehingga membuat semua kenikmatan itu otomatis juga tercemar oleh dosa. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti kita harus membuang semua kenikmatan yang ada yang pada awalnya adalah pemberian Allah bagi manusia.
     
    Dalam pemikiran orang-orang yang memiliki cara pandang kelima ini, kenikmatan sementarapun adalah anugerah Allah yang harus ditebus dan dikuduskan terlebih dulu, dalam pengertian adanya perubahan atau transformasi dari kenikmatan sementara yang telah dicemari dosa menjadi kenikmatan sementara yang kudus dan suci. Kenikmatan sementara itu harus dinikmati karena itu pemberian Allah yang harus dihargai.
     
    Semua yang belum ditebus dan dikuduskan adalah duniawi, tetapi semua yang sudah ditebus dan dikuduskan adalah rohani, suci dan sakral. Bagi orang najis semuanya najis, tetapi bagi orang suci semuanya suci. Siapa yang menebus dan menguduskan? Allah sendiri yang melakukan semuanya. Manusia hanya mencari, melihat semua anugerah itu dan menikmatinya.
     
    Selain itu, kenikmatan sementara tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran untuk menikmati kenikmatan kekal. Kenikmatan sementara ini bukan hanya kenikmatan yang berdiri sendiri untuk kesementaraan ini, melainkan juga bagian dari pembelajaran di dalam menikmati segala kenikmatan yang lebih baik, suci dan murni di dalam kekekalan. Bahkan kenikmatan yang sementara ini justru harus dinikmati untuk menikmati sumber kenikmatan itu sendiri yaitu Pencipta itu sendiri.
     
    Jadi, Allah yang adalah sumber kenikmatan yang memberikan anugerah kenikmatan kepada kita, Dialah yang harus kita muliakan. Sebagai sumber dari kenikmatan, Allah adalah kenikmatan yang tertinggi dan termurni. Tidak ada yang lebih indah, agung, cantik, manis melebihi Allah. Tidak ada yang lebih bisa menghibur, menguatkan, membuat kita tertawa, bahagia dan bersukacita yang melebihi Allah.
     
    Menjawab pertanyaan, “Di mana Allah saat saya menikmati?” Allah menjadi sumber yang menyertai dan yang menjadi tujuan akhir di dalam kenikmatan kita.
 
C. Tinjauan Alkitab mengenai kenikmatan
 
Teologi Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu harus dikembalikan untuk meninggikan Kristus di atas segalanya. Rasul Paulus mengajarkan hal ini di dalam Filipi 1:20-21, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Mengapa Kristus harus dipermuliakan? Pdt. Dr. Stephen Tong pernah memberikan jawaban, yaitu Kristus harus dimuliakan karena Dia pernah direndahkan. Kemuliaan Kristus tidak bisa dilepaskan dari kehinaan yang ditanggung-Nya. Artinya, Kristus baru bisa dipermuliakan setelah Ia mengalami penghinaan kayu salib. Lebih lanjut dengan mengutip konsep Marthin Luther, dia mengatakan bahwa Theology of glory (teologi kemuliaan) harus dimengerti dalam kerangka pikir Theology of the cross (teologi salib). Konsep ini menyadarkan kita bahwa tanpa penderitaan tidak akan ada kemuliaan. Kita baru bisa mendapatkan kemuliaan setelah kita ditempa oleh Tuhan melalui penderitaan bagi-Nya.
 
Katekismus Singkat Westminster dalam Pasal 1 memberikan pertanyaan dan jawaban yang sangat penting bagi kita yaitu: “Apakah tujuan utama manusia?” Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah (1 Kor. 10:31; Wahyu 4:11) dan menikmati Dia selamanya (Maz. 73:25-26). Katekismus ini merupakan penjabaran dari pengajaran John Calvin di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion yang menggabungkan antara pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri. Ketika kita mau mengenal diri, kita harus mengenal Allah sebagai Pencipta kita, demikian sebaliknya. Dengan semakin mengenal Allah, kita semakin mengenal diri bahwa kita memiliki tujuan ultimat yang harus dicapai, yaitu memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya. John Piper dalam bukunya Desiring God mengganti kata “dan” dengan kata “dengan” (by). Maksudnya adalah tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dengan menikmati Dia selamanya. Dengan penggantian kata ini, kita akan lebih mendapatkan gambaran jelas bagaimana memuliakan Allah. Kita bisa memuliakan Allah dengan cara menikmati Dia. Sekarang pertanyaannya adalah “Apakah arti menikmati Allah?” Sebelum menjawabnya, kita perlu membedakan dua hal yaitu menikmati Allah dan menikmati berkat-berkat Allah. Banyak orang Kristen lebih suka menikmati berkat-berkat Allah daripada menikmati Allah. Kondisi ini menjadi suatu keanehan dan kebahayaan besar bagi kekristenan. Kita tahu bahwa menikmati berkat-berkat Allah itu bersifat fana (tidak kekal), sedangkan menikmati Allah itu kekal adanya.
 
Mari kita menelusuri apakah pengertian menikmati Allah. Menikmati Allah berarti:
 
  1. Menikmati pribadi Allah itu sendiri. Menikmati berarti suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Gambaran inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen, yaitu menikmati pengalaman bersama Allah. Menikmati pengalaman bersama Allah harus didahului oleh mengenal pribadi Allah. Pengalaman rohani sejati yang menikmati pribadi Allah mampu membedakan mana yang benar dan kudus (Rom. 12:2), karena ketika kita menikmati pribadi Allah artinya kita juga akan mengenal karakter Allah yang Maha kudus dan Maha agung adanya. Inilah yang dialami oleh Asaf di dalam Mazmur 73:25-26. Konteks ayat itu menjelaskan ketika Asaf harus diperhadapkan pada suatu realita yang bahwa orang fasik semakin kaya, sedangkan orang percaya semakin miskin. Pertama-tama, Asaf sempat “protes” kepada Tuhan, sampai ia masuk ke dalam hadirat Tuhan (ayat 17), ia baru mengerti rencana-Nya di balik semuanya itu. Ketika itu, ia baru menyadari bahwa tidak ada lain yang diingini di bumi kecuali Tuhan saja. Ini berarti ketika kita menikmati Pribadi Allah sambil mengenal-Nya, kita baru tahu seberapa agung Allah itu jika dibandingkan dengan hal-hal lain yang fana. Beranikah kita memiliki pengalaman menikmati pribadi Allah ini?
     
  2. Menikmati Firman Allah. Kita dipanggil bukan hanya menikmati pribadi Allah itu sendiri, tetapi kita juga harus menikmati Firman-Nya di dalam hidup kita. Adalah sungguh aneh jika kita sebagai orang Kristen justru tidak dapat menikmati Firman-Nya. Jika kita bosan membaca Alkitab, itu menandakan spiritualitas kita dalam keadaan bahaya. Itu sebab, marilah kita dengan segera menyadarinya. Kita menikmati Firman-Nya dengan membaca berulang kali, mengerti, memahami serta melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus terus mengoreksi semua konsep kita yang salah dan hidup baru sesuai Firman-Nya.
 
Kesimpulan
 
Ketika membicarakan tentang bagaimana Allah menikmati, maka kita sudah melihat bahwa Allah menikmati kemuliaan-Nya. Maka seharusnya motivasi kitapun ketika menikmati segala kenikmatan yang ada termasuk kenikmatan yang sementara adalah untuk kemuliaan Allah. Ketika kita mengejar segala kenikmatan sesungguhnya dengan motivasi untuk kemuliaan Allah. Selama kenikmatan yang kita kejar hanya untuk keinginan kita apalagi hanya untuk pemuasan nafsu yang berdosa, ketika kita beribadahpun sesungguhnya kita sedang berbuat dosa. Sama seperti apa yang dikatakan Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 10:31, ketika kita makan, minum dan melakukan segala sesuatu, biarlah itu kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Biarlah motivasi tertinggi kita dalam menikmati segala sesuatunya adalah kemuliaah bagi Tuhan.
 
Selamat Natal 2008 dan Tahun Baru 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Ellya Rosa Natalena Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed