Pendidikan Kristen:
Membangun Keilmuan yang Kristiani
_oOo_
 
 
Problematika Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan
 
Di dalam dunia pendidikan saat ini ketika tuntuntan kemajuan ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi semakin maju maka dunia pendidikan dituntut untuk dapat mengakomodir kebutuhan itu sehingga salah satu penekanannya adalah membangun pendidikan di atas logika atau pikiran rasional, karena bagi dunia pendidikan, rasionalitas memegang kendali dan kekuasaan atas ilmu pengetahuan. Contohnya adalah “Mind Map” suatu metode pembelajaran yang memungkinkan terciptanya kreatifitas individu sehingga secara otomatis “memaksa” setiap individu untuk berpikir melampaui batasannya, “Critical Thinking” mengajar seorang siswa untuk berpikir secara logika sedangkan emosi dan perasaan tidak menjadi substansi yang utama. Akibatnya, konsep ini membentuk pendidikan yang menjadikan siswa yang kita sebut “rationalistic humanism”.
 
 
“'Those autonomous human beings are capable of solving the problems of the world and bringing about a new world of freedom, prosperity, justice, and the truth with their own rational resources. Human beings are the source of their own redemption, as well as the ultimate arbiter of right and wrong, good and bad, true and false. And it is especially our rationality that can deliver the goods. Science enables us to do two things: control the non-human creation by technology and rationality organize society - politic, economic, education, etc. If we faithfully follow this path we will progress by our own powers to build a better world of happiness, freedom, material prosperity, truth and justice.” (Or. Michael Goheen, “Understanding our Cultural Context,” The Christian Teachers Journal).
 
 
Akibatnya, dunia akademik atau pendidikan telah jatuh kepada semangat saintisme yang memutlakkan ilmu pengetahuan ke dalam wilayah rasionalitas dan meninggikan aspek logika sebagai model untuk pengetahuan yang sejati. Di samping itu reduksionisme menjadi sebuah godaan yang memikat dalam dunia keilmuan yaitu seluruh aspek keilmuan direduksi menjadi sebuah sistem logika dan aktifitas keilmuan tidak lagi didasarkan kepada hal-hal religius sehingga seorang siswa tidak lagi tunduk pada otoritas kebenaran atau nilai-nilai kebenaran yang mutlak (absolute) tetapi kepada pikiran rasionalitasnya sendiri. Hal ini terjadi karena pendidikan modern membangun ilmu pengetahuan yang mengakui bahwa pikiran rasional adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Akal dianggap sebagai hukum atas dirinya sendiri, tidak tunduk pada hukum yang lain. Tidak ada lagi otoritas di dalam pendidikan itu sendiri karena bagi dunia, otoritas itu menghalangi kebebasan dan membelenggu rasio itu sendiri. Inilah realitas pendidikan sekarang, bahwa ketika dunia pendidikan mengalami kemajuan dengan kemampuan di dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan industri serta kemanusiaan yang rasionalistik menjadi yang utama bukan lagi iman atau religius, maka dunia pendidikan kita diperhadapkan pada reduksionitas pada nilai-nilai moral ataupun spiritualitas. Hal ini menjadi krisis bagi pendidikan kita saat ini yang tanpa kita sadari mungkin telah masuk di dalam dunia pendidikan Kristen.
 
Panggilan Pendidikan Kristen dalam Iimu Pengetahuan
 
Pendidikan Kristen bukanlah soal pembelajaran atau pelatihan rasionalitas (rationalistic exercise) tetapi pendidikan Kristen atau sekolah Kristen adalah untuk mempersiapkan siswa untuk menjalani suatu kehidupan.
 
 
“Education is more than knowledge management but education is more than learning how to make a living”.
 
 
Pendidikan Kristen di dalam dunia ilmu pengetahuan bukanlah sebuah aktifitas keilmuan yang netral secara religius dari manusia yang “rasional” tetapi aktifitas keilmuan yang bersifat religius. Pendidikan yang mengintegritaskan antara studi (learning) dan iman (faith), tidak ada dualisme di dalam dunia pendidikan Kristen yang memisahkan wilayah spiritual misalnya persekutuan siswa, penyelidikan Alkitab dan aspek kehidupan yang lainnya seperti penelitian di laboratorium, penulisan ilmiah, dll. Itu sebab aktifitas keilmuan di dalam dunia pendidikan Kristen khususnya sekolah-sekolah Kristen tidak selalu didasarkan kepada rasionalitas, karena ketika kita mencari interpretasi kebenaran ilmu pengetahuan tanpa melalui perspektif iman maka akan membawa kehancuran dan kesaksian akademik Kristen di dalam dunia ilmu pengetahuan menjadi dangkal dan tidak utuh. Kita harus menyadari bahwa kita memerlukan Allah yang memiliki rasionalitas self-conscious dan sempurna. Seluruh ciptaan Allah ini yang di dalamnya manusia membangun ilmu pengetahuan tidak dapat dibatasi hanya oleh logika. Logika itu sendiri tunduk di bawah hukum Allah atas seluruh aspek kehidupan tersebut. Bagaimanakah membangun dunia pendidikan keilmuan yang Kristiani? Untuk mewujudkan pendidikan Kristen di dalam dunia ilmu pengetahuan yang Kristiani tidak bisa lepas dari cara pandang praktisi pendidikan, pengolah pendidikan, guru, orang tua, secara Kristen (Christian Worldview).
 
 
“Hubungan antara cara pandang, filsafat dan dunia keilmuan mempunyai dua implikasi. Pertama, jika semua aktifitas keilmuan adalah religius. maka orang Kristen tidak unik. Karena dunia keilmuan secara hakiki berakar pada komitmen religius (meskipun komitmen tersebut adalah pada akal itu sendiri), pertanyaan yang sebenarnya bukanlah bagaimana “mengintegrasi” irnan dan dunia keilmuan. Iman dan dunia keilmuan selalu terintegrasi. Pertanyaan satu-satunya yang sesungguhnya adalah: Iman yang mana? Banyak orang Kristen, kerena tidak menyadari sifat religius yang tersirat dari dunia keilmuan, menemukan diri mereka melakukan aktivitas keilmuan dari perspektif iman yang berlawanan dengan iman Kristen mereka. Oleh karena itu, melakukan aktifitas keilmuan secara Kristen berarti secara sadar mempersilakan iman kita untuk mengarahkan kajian-kajian kita.” (Brian J. Walsh & J. Richard Middleton, “The Transforming Vision: Shaping a Christian World View,” Illinois: InterVarsity Press, 1984).
 
 
Oleh sebab itu dunia pendidikan Kristen di dalam seluruh aktifitas keilmuan tidak memisahkan antara keyakinan religius dan dunia keilmuan, yang bagi saintisme maupun dunia pendidikan, aktifitas keilmuan tidak didasarkan kepada hal-hal religius, ilmu pengetahuan harus dianggap sesuatu yang netral terhadap religius dan berdiri sendiri (otonom).
 
Dooyeweerd seorang filsuf Kristen mengatakan bahwa ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang otonom, oleh karena itu ketika kita menganggap ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang murni dan tidak memuat sesuatu yang religius maka dialog ilmiah di dalam aktifitas keilmuan tidak mungkin terjadi. Hal inilah harusnya mendorong pendidikan Kristen untuk membangun dunia keilmuan dengan kesadaran diri bahwa semua aktifitas keilmuwan menjadi sesuatu aktifitas religius yang berorientasi kepada Allah dan semua pengetahuan berakar dari religius. Seperti yang dikatakan oleh Bruce C. Wearne, seorang pemikir yang mengembangkan pemikiran Herman Dooyeweerd:
 
 
“Calvin in the Institutes considers self-consciousness to be religious activity oriented to God, placing before us; in effect. our need to acknowledge our dependent creatureliness. Dooyeweerd also takes this view and makes it his own. A truly Christian approach in scientific thought will be effected, he says. when in science one can knowledge. In so doing he is pointing us to a self-critical appraisal of the current modes of scientific thought. This must have basic implications for teachers and teachers-trainees seeking a Christian science of pedagogy, and it is to this goal that all teachers in our Christian schools must self-critically strive.” (Bruce C. Wearne, Artikel: “Break Out and Unfold Calvin and Dooyeweerd”).
 
 
Karena di dalam pemikiran John Calvin ataupun Herman Dooyeweerd, mereka memahaminya di dalam wilayah kedaulatan Allah. Bagi Dooyeweerd ilmu pengetahuan ada di dalam wilayah kedaulatan Allah sehingga ilmu pengetahuan itu sendiri tidak dapat memiliki maknanya atau meaning-nya sendiri di luar wilayah kedaulatan Allah. Semua disiplin ilmu pengetahuan memiliki arti atau meaning hanya sebagai ciptaan Allah.
 
 
“That science has its own sense and possess sovereiqnty in its own sphere does not mean, however, that is has its meaning of self. It does not have meaning of itself any more than any other sphere does. Every sphere has meaning only as a creation of God, and its sovereignty is one that is subject to the absolutely sovereign God and the bounds he has set for it. Dooyeweerd was particularly strict as to the last point. Everything has its meaning it its relation to God, who is the true source of meaning. Everything is in relation to God.” (Robert B. Knudsen, “Dooyeweerd's Doctrine of Science,” Westminster Theology Seminary Philadelphia, Pennsylvania).
 
 
Maka dari pemikiran John Calvin dan Dooyeweerd bagi pendidikan Kristen khususnya para pendidik atau guru-guru Kristen dapat memberikan suatu pendekatan baru yaitu pendekatan Calvin terhadap ilmu pengetahuan adalah bersifat memulihkan bukan destruktif maupun mereduksi dan membawa kembali kepada panggilan pendidikan Kristen yang sesungguhnya yaitu dipakai menjadi pelayanan kepada Allah dengan prinsip-prinsip tertinggi dalam Firman Allah yang menciptakan dan memelihara.
 
Sebagai contoh seorang pelajar kimia Kristen ataupun ahli kimia Kristen memahami seluruh struktur ikatan kimia dipahami sebagai sebuah kedinamisan dari strukur ciptaan Allah. Maka pelajar atau ahli kimia Kristen akan menganalisa dan memperhatikan bagaimana fungsi-fungsi kimia berhubungan dengan aspek-aspek lain di dalam konteks kemajemukan dimensi.
 
Jadi semua aktifitas keilmuan di dalam pendidikan Kristen dimengerti sebagai sebuah bentuk religius bukan rasionalitas, dan tidak mereduksi seluruh aspek keilmuan hanya menjadi sebuah sistem logika. Sekolah ataupun akademik Kristen di dalam mewujudkan dunia keilmuan harus berpegang erat pada tatanan Allah atas ciptaan dan bertanggung jawab atas kemajukan dimensi kehidupan di dalam membangun atau mengembangkan perspektif dan kesaksian Kristen dalam dunia keilmuan yang Kristiani.
 
Penutup
 
Kristus memanggil kita untuk menaklukan segala sesuatu dalam kehidupan kita, termasuk kajian-kajian ilmiah kita di bawah ketuhanan Kristus. Semua aktifitas keilmuan di dalam perspektif Kristen dipahami sebagai panggilan akademik Kristen untuk “menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5). Oleh sebab itu orang Kristen dari berbagai disiplin ilmu perlu mengembangkan kelompok-kelompok belajar dan kelompok-kelompok diskusi tidak hanya di dunia akedemik (sekolah, perguruan tinggi) tetapi juga pada komunitas-komunitas Kristen untuk melakukan aktifitas keilmuan mereka yang kristiani. Demikianlah Persekutuan Studi Reformed sebagai komunitas orang percaya bersama-sama memikirkan akan kajian-kajian di dalam aspek pendidikan sebagai salah satu kurikulum persekutuan ini yaitu wawasan dunia Kristen (Christian worldview).
 
[ Mulatua Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed