Pendidikan, Kemerosotan Budaya
dan Reformasi Kristen
_oOo_
 
 
Sumber dari peradaban Barat
 
Di dalam dunia modern saat ini, setiap aspek kehidupan mengalami proses sekularisasi secara progresif yang diiringi oleh runtuhnya norma-norma etika dan moralitas di dalam pelaksanaan aspek-aspek kehidupan tersebut. Peradaban Barat yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat di dunia sejak dua abad terakhir (termasuk budaya kehidupan di Indonesia), sesungguhnya bertumbuh dan berkembang di atas dua warisan peradaban, yakni peradaban Greco-Roman (Yunani dan Romawi) dan peradaban Judeo-Christian (Yahudi dan Kristen). Bila peradaban Greco-Roman telah mewariskan dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan gagasan-gagasan politik dan hukum yang berpijak pada rasionalitas dan prinsip-prinsip penalaran/logika, maka peradaban Judeo-Christian telah mewariskan nilai-nilai agamis dan etis yang sanggup menempatkan rasionalitas dan logika itu pada tempatnya yang tepat. Dengan demikian, standar-standar etika dan moralitas yang digunakan sebagai pijakan bagi pengembangan aspek-aspek kehidupan dalam peradaban Barat, baik itu di bidang budaya, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial, seni dan sebagainya, sebenarnya bersumber dari Alkitab, fondasi dan elemen utama yang membangun peradaban Judeo-Christian.
 
Dampak Reformasi terhadap pengembangan peradaban Barat
 
Peristiwa Reformasi Protestan tahun 1517 merupakan titik kulminasi dari proses perkembangan peradaban barat ke depan, yang berhasil meruntuhkan pandangan dualistis kehidupan dari warisan Abad Pertengahan (476-1453) yang mendikotomikan antara kehidupan yang sakral dan yang duniawi. Peristiwa Reformasi bukan hanya suatu peristiwa pengevaluasian besar terhadap doktrin-doktrin maupun tatanan gereja yang dinilai sudah menyeleweng dari ajaran Kitab Suci oleh para pemimpin gereja, tetapi juga merupakan awal dari upaya untuk mengembalikan tatanan relasi antara manusia, dunia dan Allah pada tempatnya yang tepat sesuai prinsip-prinsip Alkitab. Salah salu pilar utama dari gerakan Reformasi Kristen yang paling berkontribusi di dalam upaya menempatkan kembali tatanan hubungan antara Allah, manusia dan dunia secara komprehensif sesuai ajaran Alkitab adalah John Calvin (1509-1564) dan gerakan Calvinisme.
 
Perkembangan peradaban Barat semasa abad ke-16 sampai dengan abad ke-18 sangat didominasi, baik langsung maupun tidak langsung, oleh upaya gerakan Calvinisme di dalam menaklukkan kembali seluruh kehidupan dunia bukan lagi pada otoritas hierarki gereja, tetapi hanya pada otoritas Alkitab. Bagi gerakan Calvinisme, hanya Injil saja, bukan institusi gereja, yang memiliki kekuatan untuk mereformasi dan menebus seluruh aspek-aspek kehidupan dunia. Dorongan hidup untuk mengintegrasikan pengembangan kehidupan kultural dan kehidupan rohani merupakan semangat zaman yang mendominasi hati dan pemikiran orang-orang Kristen di masa itu, khususnya di kalangan kaum Calvinis. Salah satu aspek kehidupan yang paling mengalami kemajuan pesat di dunia Barat akibat dampak dari gerakan Reformasi adalah bidang pendidikan, dan doktrin yang menjadi sumber inspirasi bagi kaum Calvinis di dalam mengembangkan dunia pendidikan pada masa itu adalah doktrin tentang “panggilan” (calling).
 
Doktrin panggilan: Sumber inspirasi pengembangan pendidikan Kristen
 
Di dalam buku Teologi Sistematika, Louis Berkhof mengemukakan bahwa doktrin panggilan itu dibedakan oleh teolog Reformed ke dalam dua bentuk, yaitu panggilan khusus (special calling) dan panggilan umum (general calling). Berkhof menyatakan bahwa “panggilan khusus adalah panggilan ilahi yang bersifat supranatural pada manusia melalui pemberitaan Firman Tuhan, yaitu penginjilan.” Sementara panggilan umum adalah “panggilan yang datang kepada manusia melalui wahyu umum Allah, suatu wahyu tentang hukum Allah dan bukan injil, untuk mengakui, takut dan menghormati Allah sebagai pencipta. Semua datang pada mereka dalam benda-benda (res) dan bukan kata-kata: dari alam semesta dan sejarah, dari lingkungan di mana mereka tinggal dan dari pengalaman hidup mereka. Panggilan ini sama sekali tidak berkaitan dengan Kristus, dan oleh karena itu tidak membawa kepada keselamatan. Pada saat yang sama, penting juga artinya dalam hubungannya dengan penghambatan atas kuasa dosa. Penumbuhan kehidupan yang natural dan pemeliharaan tatanan masyarakat yang baik dan teratur”.
 
Dengan demikian, kita memahami doktrin panggilan umum sebagai panggilan bagi umat Kristen untuk (1) menghambat kuasa dosa atas kehidupan dunia. (2) menumbuhkan kehidupan yang natural serta (3) memelihara tatanan masyarakat yang baik dan teratur. Perpaduan di dalam doktrin panggilan inilah yang kemudian memberi inspirasi bagi kaum Calvinis di abad ke-16 sampai abad ke-18 untuk berupaya membangun institusi pendidikan sebagai sarana yang dinilai sangat efektif untuk menciptakan suatu peradaban atau kebudayaan manusia yang tunduk di bawah prinsip hukum dan kebenaran Allah.
 
Cara Pandang pendidikan yang Calvinistik
 
Kaum Calvinis sangat menekankan upaya pengembangan di bidang pendidikan untuk memastikan kemajuan kehidupan spiritual dari para murid-muridnya, bukan untuk kepentingan kesejahteraan kehidupan material mereka, karena bagi kaum Calvinis, musuh utama manusia adalah kebodohan, khususnya di dalam memahami isi Alkitab. Increase Mather, rektor Harvard college dari tahun 1685-1701, mengungkapkan bahwa “kebodohan merupakan biang dari segala kebidatan.” William Perkins juga berpendapat bahwa “di mana ada kebodohan, di situlah juga dosa berkuasa.” Seorang pujangga Inggris, John Milton, mengungkapkan bahwa “sasaran pendidikan sebenarnya terfokus pada pembangunan relasi seorang murid dengan Allah, yang bila dilakukan dengan benar, akan membentuknya menjadi seorang Kristen yang lebih baik.” Milton bahkan mendeskripsikan pendidikan sebagai sebuah proses pengkudusan hidup seseorang, yang tertuju untuk memberikan kepada seseorang pengetahuan yang benar tentang Allah sehingga dari pengetahuan tersebut akan lahir dorongan baginya untuk semakin mengasihi Tuhan, ingin menjadi serupa dengan-Nya dan ingin menjadi seperti Dia.
 
Oleh karena itu, fokus pendidikan dari sekolah yang dibangun oleh gerakan Calvinisme semasa abad ke-16 sampai dengan abad ke-18 – baik itu sekolah dasar sampai perguruan tinggi seperti Harvard, Yale dan Princeton ketika itu – sangat terpusat di dalam membentuk seseorang murid menjadi melek Alkitab (Bible literate). Namun meskipun tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh kaum Calvinis bersifat religius dan sangat mementingkan hermeneutika (penerjemahan dan penafsiran teks) Alkitab, tetapi mereka menyadari betul bahwa kepintaran berteologi secara kognitif tanpa diiringi oleh ketrampilan untuk memfungsikannya secara praktis di dalam pengembangan kehidupan publik, hanya akan membuat teologi itu sendiri menjadi kering dan mengecilkan berkat Tuhan yang seharusnya tertuju ke luar (outward), bukan ke dalam saja (inward).
 
Idealisme pendidikan Calvinis adalah pendidikan yang menghasilkan manusia komprehensif yang bukan saja melek Alkitab, tetapi juga trampil di dalam menjalankan fungsi keimamatannya di tengah dunia. Oleh karena itu, isi (content) dari pendidikan di sekolah-sekolah yang dibangun oleh gerakan Calvinisme juga merupakan pembelajaran ilmu-ilmu yang tercakup di dalam liberal arts (logika, filsafat, retorika, geometri, sejarah, gramatika, sastra, fisika, aritmatika), sebuah standar pendidikan yang diwariskan oleh semangat gerakan humanis Renaissance. Kaum Calvinis menyadari betul bahwa sebuah pendidikan Kristen tidaklah lengkap jika hanya mencakup pembelajaran teologi semata, sehingga mereka melihat perlunya umat Kristen untuk juga mempelajari ilmu-ilmu dalam liberal arts sebagai sarana pengembangan nalar berpikir yang praktis (practical reasoning) guna membimbing (to conduct) tingkah laku hidup manusia, termasuk di dalam hal beribadah.
 
George Marsden dalam bukunya The Soul of the American University: From Protestant Establishment to Established Nonbelief, menjelaskan bahwa pengertian liberal arts di sini memiliki makna yang berbeda dengan pengertian liberal arts pada zaman sekarang. Liberal arts pada masa pasca-Reformasi digunakan oleh guru-guru penganut ajaran Calvinisme untuk melepaskan umat Protestan dari bentuk-bentuk tradisi ibadah yang bersifat mistik yang selama ini dijalankan oleh gereja Katolik Roma (yang pada saat ini sedang “naik daun” lagi tidak hanya di kalangan gereja Katolik, tetapi justru mendominasi gereja-gereja Protestan). Selain itu, liberal arts juga digunakan oleh penganut Calvinisme – yang juga sangat menghargai rasionalitas di dalam beribadah – sebagai salah satu sarana rasional yang dapat membantu mengembalikan ibadah Kekristenan sesuai ajaran Alkitab.
 
Dengan demikian, kurikulum pendidikan yang Calvinistik merupakan perpaduan antara teologi (wahyu khusus) dan liberal arts (wahyu umum), seperti layaknya perpaduan antara doktrin panggilan khusus dan panggilan umum. Doktrin-doktrin Alkitab yang kita raih melalui pembelajaran teologi, boleh menemukan sarana pengembangan praktisnya di dalam kehidupan dunia sehingga bermanfaat bagi kehidupan publik melalui pendidikan ilmu-ilmu liberal arts. Gerakan Calvinisme di masa abad ke-16 sampai dengan abad ke-18 berhasil menempatkan ilmu-ilmu pengetahuan – khususnya yang tercakup di dalam liberal arts – menjadi abdi teologi, sehingga implementasi praktis dari ilmu-ilmu pengetahuan di dunia Barat pada masa itu menjadi berkat bagi pengembangan kehidupan sosial budaya manusia. Hanya di dalam cara pandang pendidikan yang Calvinistik-lah tercipta integrasi antara (1) pendidikan. (2) pembangunan relasi dengan Tuhan. (3) panggilan keimamatan orang Kristen dan (4) pelaksanaan mandat budaya yang alkitabiah.
 
Sekularisasi cara pandang terhadap pendidikan
 
Ketika semangat moderenitas di akhir abad ke-17 (memasuki Abad Pencerahan) mulai menempatkan ilmu-ilmu pengetahuan – termasuk ilmu-ilmu dalam liberal arts – bukan lagi sebagai abdi teologi, tetapi sebagai sesuatu yang otonom yang terlepas dari kebenaran Alkitab, maka terbukalah pintu bagi benih-benih sekularisme merasuki pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di dunia Barat. Rasionalisme dan prinsip-prinsip logika yang dijadikan pijakan bagi pengembangan gagasan-gagasan baru di dalam peradaban Barat (warisan dari peradaban Greco-Roman), mulai dilepaskan dari penempatannya yang tepat, yakni taat di bawah prinsip-prinsip kebenaran Alkitab (warisan peradaban Judeo-Christian). Akibatnya, tugas pengembangan kultural (cultural mandate) di dunia barat menjadi sesuatu yang tidak tunduk lagi di bawah hukum-hukum Allah, tetapi menjadi sesuatu yang diarahkan sendiri oleh manusia dan diatur oleh rasionalitas manusia secara otonom. Mandat budaya yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia dalam kitab Kejadian 1:28 untuk memenuhi dan menaklukkan bumi, telah diselewengkan oleh semangat sekular modern menjadi upaya pengeksploitasian alam dan manusia.
 
Motif religius dengan dasar Allah Tritunggal yang telah menuntun kebudayaan Barat selama berabad-abad telah diganti dengan sebuah model yang baru. Humanitas modern telah menaruh kepercayaan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terbatas (berarti tidak tunduk di bawah norma-norma). Ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi penuntun yang berdiri sendiri, diangkat dari tempat mereka dalam ciptaan Allah, serta dimutlakkan dan ditinggikan menjadi berhala-berhala. Apakah tujuan akhir dari kemajuan ilmu dan teknologi ini? Jawabannya adalah pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran harta benda, atau menggunakan bahasa yang kita kenali sehari-hari: “Mencarl Untung!”
 
Brian Walsh dan Richard Middleton di dalam bukunya Visi yang Membaharui, membongkar visi dan motif religius dari gerakan sekularisme tersebut, demikian: “pada puncak dari dunia allah sekular berdiri sebuah ketritunggalan yang tidak suci, satu allah dalam tiga pribadi, satu berhala dalam tiga kemutlakan. Ketiga kemutlakan tersebut adalah saintisme, teknisisme, dan ekonomisme...Allah yang tinggi, yakni saintisme, dalam kemahatahuannya membuahkan sebuah rencana ilahi dan mengirimkan anaknya, yakni penguasaan teknis untuk menaklukkan alam bagi kepentingan kita. Pikiran ilahi menjadi daging dalam penaklukan dunia alami lewat ilmu dan teknologi. Ketika murid-murid dari agama baru ini berkumpul pada saat revolusi industri, roh kapitalisme dituangkan. Dan sekarang, pada hari-hari terakhir ini, kita dipenuhi oleh roh ini dan dikuatkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan besar berupa produksi dan konsumsi, untuk mengharapkan dan mempercepat hari tatkala “tangan yang tidak kelihatan” (the invisible hands) akan menyebabkan berkat-berkat dari era ekonomistis menetes ke seluruh bangsa. Pada hari itu setiap orang, besar dan kecil, akan memiliki kemakmuran. Sejak permulaan zaman belum pernah ada hari seperti hari itu; kekayaan dan kemakmuran akan menutupi bumi, dan ratapan dan jerih payah tidak akan ada lagi.” Sebuah visi yang sangat indah, bukan?
 
Sejak abad ke-18 sampai sekarang, visi sekularisme inilah yang justru mendominasi dan menjadi semangat yang menggairahkan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan baik di institusi-institusi pendidikan dan dalam diskusi-diskusi ilmiah, termasuk di Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kampus-kampus dan sekolah Kristen di Indonesia akhir-akhir ini, walau mengklaim bahwa mereka menjalankan visi dan misi kristiani yang beriman pada Allah Tritunggal, tetapi kenyataannya hanya sebatas pada label saja, tidak sampai pada penerapan akademiknya. Saintisme, teknisisme dan ekonomisme telah dimutlakkan secara eskatologis oleh dunia pendidikan modern sebagai unsur penentu baik atau buruknya masa depan seseorang dan masyarakat umum dalam kehidupannya di dunia, bukan Allah Tritunggal lagi.
 
Banyak sekali sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Kristen sekarang telah kehilangan keunikan dan identitasnya yang membedakan mereka dengan sekolah dan perguruan tinggi non-Kristen. Meskipun model kurikulum dan metode yang digunakan bernuansa kristiani, tetapi paradigma dan cara pandang terhadap aspek pendidikan tidak jauh berbeda dengan kampus-kampus atau sekolah non-Kristen. Para murid dan mahasiswa digiring oleh institusi-institusi pendidikan Kristen ke dalam bentuk vocation yang sedang laku/trend di pasar dunia dengan paradigma pengejaran kekayaan materil dan kebahagiaan hidup yang bersifat individualistis, tanpa ditanamkan pengertian yang lebih dalam kepada mereka tentang keunikan panggilan hidup dari diri kita masing-masing sebagai manusia ciptaan Allah (baik Kristen maupun non-Kristen), dan cara mengintegrasikannya ke dalam tugas mandat budaya yang Tuhan ajarkan di Alkitab.
 
Cara pandang pendidikan yang telah tersekularisasi ini mengakibatkan dunia pendidikan seolah-olah berjalan di dalam dunia tersendiri yang otonom dan terasing dari keyakinan religius para guru, dosen, murid dan mahasiswa sebagai ciptaan Tuhan. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sarana pembangunan relasi seorang murid dan mahasiswa dengan Allah atau sebagai proses pengudusan hidup seseorang. Tetapi telah direduksi menjadi sarana bagi pemberhalaan logika/rasio manusia. peningkatan kehidupan ekonomi dan pengejaran kebahagiaan individualistis seseorang secara bebas tanpa terikat oleh norma-norma ciptaan.
 
Apa yang harus kita lakukan?
 
Sebagai orang Kristen, tidak memberikan respon adalah perbuatan yang tidak konsisten dengan cara pandang Alkitab dan akan merupakan ketidaktaatan pada Tuhan kita sendiri. Kerusakan kultural yang disebabkan oleh gerakan sekularisasi modern, menuntut respon kita untuk memulihkannya kembali, seperti yang pernah dilakukan oleh para Reformator di abad ke-16 ketika memulihkan doktrin-doktrin gereja dan peradaban Barat keluar dari cara pandang Abad Pertengahan yang dualistis. Lalu, bagaimanakah langkah yang efektif bagi gereja dan umat Kristen untuk memulihkan kondisi budaya yang terus melanggar hukum-hukum penciptaan?
 
Menurut pandangan Brian Walsh dan Richard Middleton, karena institusi perguruan tinggi berada pada “pusat syaraf” dari kebudayaan Barat, maka orang Kristen akan menjadi agen pemulihan kultural yang efektif hanya jika mereka juga menjadi saksi dan memberikan sumbangsih di sana. Mengapa demikian? Karena gagasan-gagasan yang dikembangkan di lembaga pendidikan disempurnakan dan diterapkan ke dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara ilmu-ilmu dan teori-teori yang berkaitan dengan pembangunan budaya dan kehidupan publik terus dikembangkan ke arah yang semakin sekular oleh para kaum intelektual di perguruan tinggi, sebaliknya gereja sejak abad ke-19 justru semakin mengasingkan iman Kristen ke sebatas wilayah spiritual saja yang tidak terkait dengan urusan publik.
 
Inilah yang terjadi di dunia Barat sejak dua abad terakhir dan berakibat pada kehidupan di dunia sekarang, termasuk kehidupan umat Kristen di Indonesia. Roh-roh zaman yang berlawanan dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan, diolah dan ditebar benihnya ke dalam kehidupan publik melalui riset-riset dan beragam diskusi ilmiah di perguruan-perguruan tinggi, sementara kehidupan iman Kristen hanya diposisikan oleh para pemimpin gereja dan umat Kristen sendiri sebatas pada kegiatan-kegiatan persekutuan kampus, penyelidikan Alkitab, dan penginjilan. Pola pendikotomian kehidupan duniawi dan rohani yang dahulu diruntuhkan oleh gerakan Reformasi dan kaum Calvinis, ditumbuhkan kembali oleh gereja dan umat Kristen sendiri. Tanpa orang Kristen melakukan pemikiran atau perenungan akademik secara serius seperti yang telah dilakukan oleh para pemikir Calvinis pasca-Reformasi di dalam mengembangkan kurikulum pendidikan berupa perpaduan antara teologi dan liberal arts, maka kesaksian kultural mereka akan kekurangan baik kedalaman maupun wawasan. Kekurangan seperti itu tampak jelas dalam banyak upaya untuk memberikan kesaksian kultural Kristen hari ini.
 
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa pendidikan telah direduksi oleh dunia sekular modern menjadi sarana bagi pemberhalaan logika/rasio manusia, peningkatan kehidupan ekonomi dan pengejaran kebahagiaan individualistis seseorang secara bebas tanpa terikat oleh norma-norma ciptaan, maka inilah yang harus menjadi fokus utama perlawanan umat Kristen di dalam memberikan kesaksian-kesaksian akademiknya. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa seluruh ciptaan, termasuk manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, alam dan sebagainya, adalah milik Allah dan semuanya terikat secara perjanjian pada Sang Pencipta. Seluruh ciptaan tanpa terkecuali memiliki unsur-unsur dan natur-natur di dalamnya yang terikat pada perjanjian dengan Allah. Selain itu, Alkitab pun mengajarkan bahwa semua perjanjian mempunyai syarat. Jika syarat itu ditaati, berkat akan mengalir, namun jika dilanggar, kutukan akan terjadi. Dunia Barat, dipandang dari segi hubungan perjanjiannya dengan Allah, saat ini sedang mengalami kutukan perjanjian yang diakibatkan oleh ketidaktaatannya terhadap prinsip-prinsip hukum ciptaan.
 
Dengan demikian, respon yang taat pada norma-norma penciptaan Allah merupakan hal yang sangat mendasar bagi kesaksian kultural Kristen dan hanya Injil Kristus-lah yang dapat menyembuhkan kebudayaan kita. Banyak orang melihat masalahnya, tetapi tidak dapat menyediakan norma apa pun karena mereka tidak memiliki dasar Alkitab. Oleh karena itu, maka panggilan akademik Kristen untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5), menjadi sangat relevan di dalam menghadapi tantangan zaman saat ini. Apabila tantangan zaman yang melatarbelakangi lahirnya peristiwa Reformasi Kristen tahun 1517 adalah memperbaiki doktrin-doktrin maupun tatanan ibadah yang telah diselewengkan oleh gereja masa itu dan membangunnya kembali sesuai Firman Tuhan, maka tuntutan “Reformasi Kristen Jilid II” di zaman sekarang adalah memperbaiki dunia keilmuan (baik itu di bidang politik. budaya, sosial, ekonomi, pendidikan, teknik, fisika, biologi, kesehatan, psikologi dan sebagainya) dengan menawarkan versi-versi alternatif barunya yang tunduk pada hukum dan norma-norma penciptaan Allah. Panggilan pemulihan kultural ini tidak cukup dilakukan hanya dengan mengandalkan pada kesalehan hidup, semangat penginjilan dan kepandaian doktrinal semata, tetapi memerlukan pemikir-pemikir dan praktisi-praktisi Kristen yang telah diperbaharui wawasan, cara pandang dan sikapnya terhadap hukum ciptaan Allah untuk mengembalikan tatanan relasi antara manusia, dunia dan Allah pada posisinya yang tepat menurut norma-norma ciptaan di setiap bidang kehidupan. Di sinilah kita melihat mengapa peran institusi pendidikan (selain gereja) dan para pendidik Kristen menjadi sangat penting sekali sebagai pilar utama di dalam mewujudkan “Reformasi Kristen Jilid II,” dan hanya dengan memakai cara pandang pendidikan yang Calvinistik-lah kesaksian akademik Kristen akan sanggup memulihkan budaya (minimal menghambat proses kemerosotan budaya) masa kini secara komprehensif. Inilah tantangan dan panggilan zaman kita, sehingga kesaksian akademik Kristen menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi baik untuk penginjilan maupun untuk tanggung jawab penggembalaan kita.
 
[ Randy Ludwig Pea ]
Persekutuan Studi Reformed