Pendidikan Kristen:
Membentuk Intelektual Kristen
_oOo_
 
 
Pendahuluan
 
Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan manusia. Kegagalan dalam pendidikan merupakan sebuah kegagalan bagi kehidupan di masa depan. Salah satu peran dari pendidikan adalah membentuk suatu profit manusia yang memiliki intelektual yang tinggi. Demikian halnya Pendidikan Kristen, tidak hanya berperan dalam membentuk intelektual seseorang dalam pengertian memiliki pengetahuan yang berlimpah tetapi lebih dari pada itu yang terpenting adalah bagaimana mengarahkan intelektual seseorang tersebut dipergunakan bagi kemuliaan Allah atau dengan kata lain pendidikan Kristen harus juga mampu membentuk seorang intelektual Kristen.
 
Intelektual
 
James W. Sire di dalam bukunya Habits of The Mind mendefinisikan seorang intelektual sebagai berikut:
 
 
Seorang intelektual adalah seorang yang menyukai ide-ide, yang berdedikasi untuk menjelaskan ide-ide itu, mengembangkannya, mengkritiknya, membolak-balikannya, melihat implikasi-implikasinya, menumpuknya, menyusunnya, duduk berdiam diri sementara ide-ide baru bermunculan dan ide-ide lama terlihat menyusun dirinya sendiri, bermain-main dengannya, bergurau dengan terminologinya, menertawakannya, memperhatikan mereka bertubrukan, memungut kepingan-kepingannya, mulai dari awal lagi, menilainya, mencoba tidak menilainya, mengubahnya, membawanya ke dalam kontak dengan padanan-padanannya dalam sistem-sistem pemikiran lain, mengundang mereka untuk bersantap dan berpesta, tetapi juga menggunakan mereka untuk melayani di dalam kehidupan biasa. (James W.Sire, “Habits of The Mind,” Surabaya: Penerbit Momentum, 2007)
 
 
Berdasarkan pemahaman Sire mengenai Intelektual di atas, berikut ini beberapa hal yang patut kita perhatikan.
 
  1. Seorang intelektual tidak mungkin dapat dipisahkan dari ide-ide atau pemikiran-pemikiran.
     
  2. Seorang intelektual adalah seorang yang sangat mencintai sekaligus memiliki gairah yang kuat terhadap ide-ide yang datang kepadanya. Ketika ide-ide itu datang misalnya ide-ide yang benar, ide-ide yang salah, ide-ide yang umum, ide-ide yang ganjil, ide-ide yang sedehana, ide-ide yang mendalam, ide-ide yang menarik, ide-ide yang destruktif maupun ide-ide yang konstruktif, seorang intelektual dengan bergairah akan menyambutnya.
     
  3. Seorang intelektual adalah seorang yang memiliki daya kritisi yang kuat terhadap segala bentuk ide-ide yang muncul dan mereka terima. Ketika seorang intelektual menerima berbagai bentuk ide-ide yang dianggap tidak terumus dengan baik atau bentuknya tidak beraturan, mereka segera akan mencoba untuk memfokuskannya, meluruskannya dan menelaah implikasi-implikasinya dan mencoba untuk menemukan kebenaran dan akurasi dari ide-ide tersebut.
     
  4. Seorang intelektual adalah seorang yang bersedia maju ke medan peperangan menghadapi setiap ide-ide yang seringkali saling bertubrukan, berkontradiksi dan tidak koheren satu dengan yang lain. Seorang intelektual harus mampu untuk memperhatikan, mengumpulkan setiap kepingan ide-ide yang bertubrukan tersebut, mencoba menyusun dan mengarahkan kembali kepada sebuah ide yang benar.
     
  5. Seorang intelektual adalah seorang yang memiliki pandangan yang jernih tentang panorama wawasan-wawasan dunia; hal ini memberikan kepada mereka suatu keluasan perspektif dan memampukan mereka untuk melihat setiap ide di dalam konteks yang lebih luas. Mereka akan dapat memahami apa sesungguhnya presuposisi-presuposisi dari ide-ide mereka sendiri dan juga memahami dengan jelas presuposisi-presuposisi dari ide-ide orang lain yang berhubungan dengan mereka. Itu sebab, seorang intelektual seharusnya tidak dengan cepat menilai dan memberi kesimpulan dan bahkan menghakimi setiap ide yang ada.
 
Intelektual Kristen
 
Menurut Sire dalam buku yang sama, pengertian intelektual Kristen adalah sama dengan definisi intelektual di atas, namun perbedaannya terletak pada tujuan atau fokus dari intelektual itu sendiri. Seorang intelektual Kristen harus menggunakan segala daya intelektulitasnya hanya bertujuan bagi kemuliaan Tuhan semata. Sire berpendapat konsep intelektual Kristen tidak hanya sekedar mengambil ide Kristen dan menambahkannya kepada ide intelektual dan mencapai tuiuan kita, tetapi seluruh konsep tentang intelektual akan berubah ketika implikasi-implikasi dari “bagi kemuliaan Allah” dijabarkan.
 
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam penjabaran frasa “bagi kemuliaan Allah,” antara lain:
 
  1. Seorang intelektual Kristen harus terus memelihara dan menumbuhkan suatu hasrat akan kekudusan yaitu suatu hasrat untuk menjadi seperti Yesus. Setiap pembelajaran yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memuaskan keinginan akan pengetahuan kognitif saja tetapi menjadi suatu sarana untuk menumbuhkan sikap “takut akan Tuhan.” Bapa Gereja, Augustinus, menyatakan bahwa insentif bagi pembelajaran yang begitu banyak bukan semata-mata penguasaan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri; ambisi seperti ini menjadikan akal budi congkak dan menjadikannya sebuah objek penyembahan seperti berhala. Apa yang menjadikan kesarjanaan Kristen yang gigih dan sangat baik di dalam diri orang Kristen adalah “takut akan Tuhan”.
     
  2. Seorang intelektual Kristen harus terus memelihara dan menumbuhkan suatu hasrat untuk mengetahui dan melakukan kebenaran. Sebagai seorang intelektual Kristen, pergumulan yang ada tidak hanya pergumulan dalam mempelajari kebenaran itu tetapi bagaimana menjadikan kebenaran itu sebagai tujuan vital dalam hidupnya. John Calvin pernah mengatakan bahwa memenuhi intelek dengan kebutaan yang terus menerus sehingga tidak memberinya intelegensi apapun yang dideskripsikan adalah hal yang memuakkan, bukan hanya bagi Firman Allah tetapi juga bagi pengalaman umum. Kita melihat bahwa yang telah ditanamkan di dalam akal budi manusia suatu hasrat khusus untuk meneliti kebenaran, dan akal budi tidak mungkin akan mencari kebenaran jika sebelumnya hasrat akan kebenaran itu tidak ada.
 
Sebagai seorang Kristen, kita harus melakukan segala sesuatunya bagi kemuliaan Allah dan sebagai seorang intelektual Kristen, kita harus berpikir hanya bagi kemuliaan Allah. Perhatikan apa yang dikatakan A.G Sertillanges dalam bukunya The Intellectual Life yang ditulis pada tahun 1921, dan dikutip oleh Sire di dalam buku Habits of The Mind.
 
 
Seorang intelektual harus merupakan seorang intelektual sepanjang waktu. Apa yang disarankan St. Paulus kepada orang Kristen: baik ketika kalian makan atau minum atau hal lain apapun yang kalian lakukan, lakukanlah semua itu bagi kemuliaan Allah, harus teraplikasi pada orang Kristen dalam pencarian akan terang. Baginya, hal yang benar adalah kemuliaan Allah: dia harus mengingat ini terus dalam benaknya dan tunduk kepadanya di dalam setiap hal. (James W. Sire, “Habits of The Mind,” Surabaya: Penerbit Momentum, 2007)
 
 
Pendidikan Kristen membentuk Intelektual Kristen
 
Seorang intelektual Kristen tidak dapat lahir tanpa adanya suatu proses pembelajaran. Itu sebab, peran pendidikan Kristen dalam melahirkan seorang intelektual Kristen sangat penting. Pendidikan Kristen diharapkan tidak hanya melahirkan seseorang dengan intelektual tinggi dengan pengetahuan yang berlimpah namun kehilangan aspek religius di dalamnya. Pendidikan Kristen tidak boleh menjadi suatu pendidikan tanpa Allah (Godless Education) dalam pengertian pendidikan tidak dilandaskan akan motivasi untuk mempermuliakan Allah. Bagian prakata dari buku Dasar Pendidikan Kristen yang ditulis Louis Berkhof & Cornelius Van Till menyatakan:
 
 
Alkitab mengungkapkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang harus memuliakan Allah, sehingga pendidikan tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga moralitas hidup yang sesuai dengan panggilan dan tuntutan moralitas Allah. (Louis Berkhof & Cornelius Van Till, “Foundation of Christian Education,” Surabaya, Penerbit Momentum, 2007)
 
 
Pertanyaan besar yang harus dijawab oleh pendidikan Kristen adalah bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk melahirkan intelektual-intelektual Kristen yang takut akan Allah. Berikut beberapa hal yang perlu dipikirkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut:
 
  1. Pendidikan Kristen harus melihat kehidupan intelektual sebagai suatu panggilan Kristen. Os Guinness di dalam buku The Call yang juga dikutip oleh Sire dalam prakata buku Hebits of The Mind mengatakan:
     
     
    Panggilan adalah kebenaran bahwa Allah memanggil kita bagi diri-Nya sendiri dengan cara yang sedemikian menentukan sehingga segenap diri kita, segenap hal yang kita lakukan, dan segenap milik kita dipenuhi dengan devosi, dinamisme, dan arah yang khusus, yang dijalankan sebagai suatu tanggapan terhadap seruan-Nya dan sebagai pelayanan bagi-Nya. (James W. Sire, “Habits of The Mind,” Surabaya: Penerbit Momentum, 2007)
     
     
    Berfikir yang merupakan bagian dari kehidupan intelektual juga merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dengan panggilan kita sebagai Anak Tuhan untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi kita (Lukas 10:27).
     
  2. Pendidikan Kristen harus mampu mempersiapkan dan memperlengkapi seseorang dengan pengetahuan dan iman untuk dapat memberikan daya kritisi yang tajam atas ide-ide maupun pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan sekaligus mampu untuk mengarahkan ide-ide maupun pemikiran-pemikiran tersebut pada arah dan tempat yang sebenarnya.
     
  3. Pendidikan Kristen harus mampu mengarahkan bahwa setiap pembelajaran yang dikerjakan tidak boleh terlepas dari suatu motivasi atau tujuan untuk mempelajari kebenaran.
 
Penutup
 
Membangun intelektual Kristen bukanlah perkara yang mudah, diperlukan sebuah kerja keras khususnya bagi para pendidik Kristen untuk mewujudkannya. Proses pembelajaran yang terus menerus untuk menggali seluruh pengetahuan dan juga diperlengkapi dengan pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan mutlak diperlukan sehingga melalui pendidikan Kristen dapat lahir intelektual-intelektual Kristen yang takut akan Tuhan dan mampu menjadi berkat bagi dunia.
 
[ Nikson Sinaga ]
Persekutuan Studi Reformed