Pendidikan Kristen dan Seni Untuk Anak
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Saat ini kata “Idola” (idol) merupakan suatu vokabular yang sangat trendi di dalam berbagai media. Semua stasiun televisi terjangkit dan memberi prioritas pada acara-acara yang mengekspos berbagai idola yang terdiri dari berbagai segmen (mulai dari orang tua sampai kepada anak-anak). Hal itu berawal dengan acara “Indonesian Idol” yang mencontoh acara “American ldol.” Acara tersebut sedemikian maraknya sehingga menginspirasi berbagai saluran televisi untuk ikut serta menyajikan acara serupa.
 
Acara-acara semacam hal itu seolah-olah mempunyai sisi positif. Kemenarikan acara ini menutup hal-hal yang sebenarnya membawa dampak negatif bagi watak anak dan sesungguhnya tidak sejalan dengan tujuan pendidikan anak-anak di sekolah, suatu hal yang harus menjadi perhatian kita selaku orang tua Kristen. Aktualisasi diri anak sebagai seorang manusia dengan tujuan mulia untuk membantu kehidupan ekonomi keluarga sering dijadikan alasan mengapa acara tersebut diadakan. Akibatnya anak-anak kita mengalami keterpecahan antara “tanda” dengan “referensi”.
 
Konsep Alkitab Tentang “Tanda” Dan “Referensi”
 
Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa dalam penciptaan oleh Firman hingga kehidupan Israel sebagai umat perjanjian, suatu “tanda” dipahami sebagai sesuatu yang menunjuk kepada suatu “referensi” yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Perjanjian (covenant) antara Tuhan dengan umat-Nya jelas mendefinisikan “tanda” yang dipahami Israel sebagai sesuatu yang menunjuk kepada apa yang Tuhan kerjakan bagi mereka di dalam sejarah, sebagai suatu “referensi.” Kitab Mazmur, salah satunya, menyimpan begitu banyak relasi antara “tanda” dengan “referensi” yang harus kita pikirkan sebagai orang Kristen.
 
  1. Kehadiran Tuhan
    Nyanyian di dalam Mazmur 136 merupakan suatu “tanda” yang menunjuk kepada kehadiran Tuhan dengan kasih dan kesetiaan-Nya yang nyata melalui keselamatan yang Ia kerjakan di dalam sejarah keselamatan Israel.
     
  2. Hukum Tuhan
    Nyanyian di dalam Mazmur pasal 19:8-9; 15:1-2, dan 24:3-4 meninggikan keajaiban hukum Tuhan, di mana di dalamnya diproklamasikan bahwa hukum Tuhan membawa manusia kepada kehidupan yang sejati. Jelas bahwa nyanyian tersebut menunjuk kepada referensi tertentu, yaitu hukum yang dapat membimbing manusia untuk hidup di dalam ikatan perjanjian dengan Tuhan.
     
  3. Berkat dan Kutuk
    Hikmat yang ada di dalam Mazmur 1 menunjuk kepada berkat kebahagiaan bagi orang yang setia dan taat kepada Tuhan (ayat 1 sampai 3). Demikian pula halnya dengan kefasikan yang akan membawa orang fasik kepada kematian.
 
Dari tiga gambaran di atas jelas sekali bahwa perjanjian Tuhan merupakan suatu sistem “tanda” yang menunjuk kepada “referensi” yang jelas dan dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya.
 
Keprihatinan Orang Tua Kristen Terhadap Seni Musik Anak
 
Saat ini berbagai media informasi telah berperan sedemikian besar untuk ikut serta memberi pengaruh kepada anak-anak. Berbagai tayangan hiburan seperti idola cilik telah menjadikan anak-anak sebagai aset dalam industri hiburan yang di belakang semuanya itu terdapat aliran uang dalam jumlah besar. Yang menyedihkan adalah tidak banyak orang tua Kristen yang mengkritisi hal tersebut berdasarkan cara berpikir yang alkitabiah.
 
Seni suara merupakan suatu cabang seni yang menyampaikan dan mengekpresikan suatu “referensi” dengan menggunakan suara dan nyanyian. Seni suara untuk anak haruslah ditujukan untuk mendidik anak agar dapat menyampaikan “referensi” yang benar dengan menggunakan suara atas sesuatu yang mereka rasakan dan nikmati. Yang terjadi saat ini adalah kita melihat anak-anak telah menyanyikan lagu-lagu bertema cinta, yang seharusnya dinyanyikan oleh orang dewasa. Anak-anak kita menyanyikan lagu-lagu yang “referensi”-nya belum ada dalam fase kehidupan mereka.
 
Di sisi lain kita melihat peranan buku-buku pendidikan musik saat ini yang walaupun sudah menyuguhkan lagu-lagu anak-anak yang bertemakan sesuai dengan pelajaran yang diajarkan, disuguhkan dengan tidak merangsang minat anak. Selain itu pelajaran tersebut dijadikan sebagai pelajaran yang sifatnya tambahan (ekstra-kurikuler). Belum lagi persoalan di mana dalam pelajaran tertentu anak-anak diinstruksikan untuk menghapal sebuah lagu tanpa diharuskan mengerti atau mengapa mereka harus membawakan lagu-lagu yang ada dalam buku tersebut.
 
Yang paling instan saat ini adalah ikut sertanya anak-anak di dalam tayangan program musik pop yang sekarang sangat digandrungi seluruh lapisan masyarakat, tanpa harus mengenal atau mengerti apa yang menjadi “isi” (content) tersebut, cocok atau tidak yang penting membawa setiap orang atau audience bisa menikmati. Karena memang salah satu unsur dari pada musik adalah menyenangkan audience-nya. Mari kita melihat beberapa aspek yang berkaitan dengan seni musik atau seni suara.
 
  1. Musik bersifat ethical
    Seni musik atau seni suara berfungsi untuk menyenangkan orang yang mendengarkannya. Akan tetapi sekali lagi oleh karena pengaruh dosa, keadaan yang menyenangkan ini menjadi berbeda. Hal yang menyenangkan bagi orang Kristen adalah ketika puji-pujian kepada Tuhan menjadi kekuatan bagi kita dan juga meneguhan bagi kita sebagai anak-anak Tuhan. Sejak kecil anak-anak seharusnya diperkenalkan kepada lagu-lagu yang temanya mengapresiasi ciptaan Tuhan. Kenyataan yang kita lihat saat ini adalah lagu-lagu bertema anak-anak tidak menjadi favorit baik bagi anak itu sendiri maupun pendengarnya. Lagu yang mereka senang dengar adalah justru lagu-lagu dengan tema persoalan orang dewasa, misalnya tentang percintaan. Ini berarti kita sedang membiarkan anak-anak kita mengasosiasikan “tanda” yang ada dengan “referensi” yang tidak mereka ketahui, dan itu memicu disintegritas.
     
  2. Musik bersifat sosial
    Manusia adalah makhluk sosial. Itu sebab seni musik mengajar anak-anak untuk memahami aspek sosial manusia dengan adanya koreografer, latar belakang vocal dan penyampai pesan lagu yakni penyanyi atau pembawa lagu. Semua berinterkasi satu dengan yang lain sehingga menghasilkan karya musik yang indah tentunya yang dapat dinikmati. Orang tua dan intelektual Kristen masa kini hendaknya melihat bahwa acara-acara di televisi tentang musik digandrungi dan dinikmati oleh semua lapisan, termasuk acara yang dibawakan anak-anak pun bisa dinikmati oleh remaja dan orang tua, karena lagu tersebut merupakan konsumsi remaja dan dewasa. Kalau kita melihat dengan kacamata kita sebagai orang tua Kristen, sebenamya kita bisa melihat bahwa ini bukan merupakan pengembangan bakat bagi anak, tetapi anak sedang dimanfaatkan guna mencapai tujuan orang-orang yang mempunyai kepentingan.
     
  3. Musik bersifat ekonomi
    Penyajian acara anak-anak terlebih acara-acara musik yang dinikmati oleh banyak pemirsa saat ini menjadikan anak-anak kita aset dari suatu industri hiburan. Tanpa kita sadari anak-anak kita sedang dieksploitasi sedemikian rupa. Di balik acara itu ada konsumsi pulsa SMS yang besar omzetnya. Melihat hal di atas kita dapat menyimpulkan bahwa anak-anak kita telah menjadi korban. Yang bernyanyi adalah anak-anak dan pemirsanya juga adalah anak-anak. Kita tidak memikirkan dampaknya bagi mereka kelak.
 
Refleksi
 
Melihat hal tersebut, para orang tua dan guru Kristen dihimbau untuk mengkritisi dengan sungguh-sungguh berbagai fenomena yang terjadi. Merubah dunia bukan hal yang untuk kita lakukan. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk menjalankan perintah dan panggilan Tuhan bagi kita. Mari kita kembalikan anak-anak kita kepada “referensi” yang benar berdasarkan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Dengan demikian kita membentuk mereka sejak kecil menurut maksud dan rencana Tuhan bagi mereka.
 
[ Eva Paula Marpaung ]
Persekutuan Studi Reformed