Peranan Orang Tua Kristen
Terhadap Pembentukan Moral Anak
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Kita menyadari bahwa saat ini dunia media telekomunikasi telah berkembang dengan sangat maju. Film-film untuk anak-anak telah dibuat dengan teknologi tinggi. Anak-anak kita telah sedemikian dekat dengan teknologi. Sejak berusia empat tahun banyak di antara mereka telah mengenal permainan anak-anak yang dikemas dalam program-program simulasi play station dan berbagai game lainnya. Tanpa kita sadari hal itu mempengaruhi perkembangan anak-anak kita yang telah kita didik dengan sedemikian disiplinnya di rumah, di gereja dan di sekolah-sekolah.
 
Kita sering dikejutkan ketika beberapa dari perbuatan-perbuatan mereka seperti memukul, menendang dan berkata kasar, yang tentu saja tidak pernah kita ajarkan, mereka lakukan sekali pun tindakan mereka itu memang merupakan bagian dari proses perkembangan. Permainan-permainan (games) yang ada disimulasikan, misalnya, suatu perkelahian kontak fisik keras serta adegan memenangkan suatu balap mobil dengan kecepatan sangat tinggi.
 
Peranan Keluarga Kristen?
 
Dalam tulisan ini saya ingin menyoroti di manakah peranan keluarga Kristen apabila demikian adanya. Dari manakah keluarga Kristen memulainya? Bukankah kita telah menyekolahkan anak-anak kita di sekolah-sekolah Kristen serta rajin mengantar mereka ke gereja? Bukankan kita mengajarkan mereka untuk berkata-kata dengan sopan, hormat dan lembut? Bukankah kita telah juga mengajarkan mereka sejumlah disiplin untuk hidup sehari-hari? Apa yang kita bangun sebagai realita di dalam hidup keluarga Kristen tampak tidak seiring dengan realita yang ada di dalam masyarakat. Bagaimana kita sebagai orang tua Kristen memandang hal tersebut berdasarkan iman Kristen?
 
Titik Tolak Iman Kristen
 
Dalam buku “Visi Yang Membaharui” Brian J. Walsh dan J. Richard Middleton menjelaskan mengenai titik tolak dari mana setiap individu Kristen seharusnya berangkat untuk memahami dan menjawab semua persoalan. Menurut mereka titik tolak tersebut adalah komitmen iman. Komitmen iman merupakan cara kita menjawab empat pertanyaan dasar yang sesungguhnya pasti dihadapi oleh setiap orang. Empat pertanyaan tersebut adalah:
 
  1. Siapakah saya?
    Pertanyaan ini berkaitan dengan persoalan mengenai sifat, tugas dan tujuan hidup manusia.
     
  2. Di manakah saya berada?
    Pertanyaan ini berkaitan dengan sifat atau natur dari dunia dan alam semesta di mana kita hidup sekarang.
     
  3. Apakah yang salah?
    Pertanyaan ini berkaitan dengan masalah atau rintangan dasar yang menghalangi kita dalam mencapai sesuatu. Juga berhubungan dengan bagaimana kita memahami masalah kejahatan yang ada.
     
  4. Apakah jalan keluarnya?
    Pertanyaan ini berkaitan dengan bagaimana kita dapat mengatasi rintangan tersebut. Hal ini juga berhubungan dengan bagaimana kita menemukan jalan keluar itu.
 
Cara Pandang Kristen: Titik Tolak Keluarga Kristen
 
Berdasarkan komitmen iman hendaklah keluarga Kristen berangkat dari empat pertanyaan mendasar di atas untuk menjawab persoalan yang ada di dalam masyarakat kita dan yang telah mempengaruhi anak-anak kita. Komitmen iman tersebut berakar pada Yesus Kristus, yang adalah: Jalan, Kebenaran dan Hidup. Hal tersebut harus kita pelajari agar sebagai orang tua maupun pendidik Kristen kita tidak jatuh kepada cara pandang yang berlainan dengan cara pandang yang didasarkan atas Alkitab. Suatu cara pandang Kristen memiliki koherensi internal. Cara pandang Kristen selalu konsisten dengan komitmen imannya. Apabila tidak, ia tidak memiliki integritas. Bagi kita orang Kristen, kriteria tertinggi untuk menilai cara pandang kita adalah Alkitab. Alkitab adalah wahyu Allah tentang realita. Cara pandang Kristen itu adalah Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan.
 
Tugas Orang Tua Kristen Mendidik Anak
 
“Cara pandang” bukan sesuatu yang ilmiah dan bersifat teoritis. la merupakan sesuatu yang dihidupi dan dijalani, tetapi mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil. Tugas orang tua Kristen dalam hal ini adalah menanamkan cara pandang tersebut kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Berdasarkan empat pertanyaan yang diformulasikan oleh Brian J. Walsh dan J. Richard Middleton itu di bawah ini disampaikan apa yang orang tua Kristen dapat lakukan di rumah mereka.
 
  1. Siapakah saya?
    Mengajarkan anak-anaknya untuk mengenal identitas diri mereka sejak kecil, apa panggilan dan tujuan hidup mereka sesungguhnya di dalam Kristus.
     
  2. Di manakah saya berada?
    Menanamkan kepada anak-anaknya mengenai natur dari dunia dan alam semesta di mana kita hidup sekarang. yaitu dosa. Dunia dimana kita berada saat ini adalah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Itu sebab, kita menemukan begitu banyak kejahatan dan kekerasan. Anak-anak harus sadar bahwa semua keadaan itu merupakan keadaan yang sesungguhnya tidak sesuai lagi dengan maksud semula dari ciptaan.
     
  3. Apakah yang salah?
    Memberikan pengertian kepada anak-anak mengenai apa yang sesungguhnya menjadi masalah atau rintangan mendasar yang mengganggu atau menghalangi anak-anak kita dalam mencapai sesuatu. Kejahatan tidak boleh menjadi alat untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Anak harus memahami bahwa apa yang ia capai dan bagaimana ia mencapainya haruslah memuliakan Tuhan.
     
  4. Apakah jalan keluarnya?
    Membukakan kepada anak-anak sejak kecil bahwa jalan keluar sesungguhnya atas semua permasalahan yang kita hadapi adalah penebusan Kristus yang telah memperbaharui dunia ini dan mengarahkannya kepada tujuan akhirnya kelak (bersifat eskatologis).
 
Pekerjaan Rumah Orang Tua Kristen
 
Panggilan orang tua Kristen apabila demikian adalah sebagai berikut:
 
  1. Menanamkan identitas anak untuk mengenal dirinya dengan benar.
    Anak-anak sejak kecil harus sudah diperkenalkan akan realitas ciptaan berdasarkan apa yang Alkitab ajarkan. Dunia sudah berdosa tetapi ditebus dan diperbaharui oleh Kristus, Anak Allah.
     
  2. Menyadarkan bahwa dunia di mana kita hidup ini telah jatuh ke dalam dosa.
    Sejak kecil anak-anak harus sudah diberi pengertian bahwa kita hidup di dalam dunia yang diciptakan oleh Tuhan dengan firman-Nya. Kita tidak sedang hidup di dalam dunia yang diciptakan oleh iblis. Itu sebab, dosa ada tetapi tetap dalam kontrol kedaulatan Tuhan Pencipta dan Penebus.
     
  3. Menjelaskan fakta dosa.
    Anak-anak sejak kecil sudah diberi pengertian bahwa dunia ini tidak “baik” lagi adanya, sebagaimana dimengerti oleh paham modernisme. Dosa adalah realita dan ia telah meresap ke dalam seluruh aspek hidup manusia dan kebudayaannya.
     
  4. Penebusan Kristus sebagai pengharapan hidup kita sesungguhnya.
    Anak-anak harus dibukakan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus telah memberikan kita pengharapan pada saat ini, sehingga sekali pun dosa dan kejahatan terus menerus terjadi, mereka memahami bahwa semua itu kelak akan berakhir pada saat kedatangan-Nya kelak yang kedua kali. Tugas semua orang Kristen baik orang tua maupun anak-anak adalah menggenapinya pada saat ini menurut apa yang menjadi panggilan mereka masing-masing.
 
Kesimpulan
 
Peranan orang tua sangat penting dalam mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang dapat mempermuliakan Tuhan di dalam segala aspek kehidupan. Sungguh suatu sukacita, Tuhan telah menganugerahkan suatu wadah yaitu Persekutuan Studi Reformed yang di dalamnya kita dapat belajar dan bertumbuh bersama di dalam kebenaran Firman Tuhan. Biarlah setiap kita, para orang tua dan pendidik Kristen terus tetap setia dan taat kepada kebenaran Firman Tuhan di dalam melakukan tugas panggilan yang Tuhan percayakan .
 
[ Bintang Sihite ]
Persekutuan Studi Reformed