Pentingnya Peran Pendidikan
di dalam Memulihkan Perilaku Individualis
_oOo_
 
 
Sumber inspirasi dari perilaku indivudualistis masyarakat modern
 
Seringkali kita mendengar istilah individualistis, sifat yang mementingkan diri sendiri. Ini sudah menjadi sebuah gaya hidup kita sehari-hari. Kita tidak lagi memperhatikan bahkan memikirkan bagaimana keadaan orang lain di sekitar kita. Yang kita pikirkan hanyalah bagaimana memuaskan keinginan, ego, cita-cita dan ambisi kita yang tanpa disadari telah merugikan orang lain. Dalam kehidupan berekonomi, sitat dan perilaku yang egoistis dan individualistis sangat kental diterapkan dalam masyarakat saat ini, khususnya di dunia Barat dengan pola hidup yang sangat menekankan pada prinsip kapitalistis. Dari manakah sebenarnya sumber inspirasi dari berkembangnya perilaku individualistis manusia yang hanya mementingkan diri sendiri di dalam mengejar harta kekayaan tersebut?
 
Menurut Jean-Jacques Rousseau (1712-1778),11.
F. Budi Hardiman; Filsafat Moderen dari Machiavelli sampai Nietz; PT. Gramedia Pustaka Utama; Jakarta; 2007. 120-121.
manusia menurut kodratnya adalah baik, tetapi kemudian dirusak oleh pendidikan. Manusia itu pada dasarnya mempunyai sifat cinta diri dan sifat ini sesuai dengan tatanan alam. Dengan asumsi ini, Rousseau menyarankan agar di dalam pendidikan, naluri-naluri alamiah dan rasa cinta diri seorang anak sebagai manusia itu harus dibiarkan berkembang bebas dan bukannya dibendung. Rousseau menyimpulkan bahwa segala disiplin dan bentuk pendidikan yang bersifat otoritatif hanya akan menghambat perkembangan pengaklualisasian anak secara alamiah yang pada kodratnya adalah baik.
 
Pemikiran Jean-Jacques Rousseau ini kemudian mengilhami pemikiran seorang ahli ekonomi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan perilaku ekonomi masyarakat, yakni Adam Smith (1723-1790).
 
Dengan menganut keyakinan bahwa manusia pada naturnya adalah baik, Rousseau dan Adam Smith kemudian menyimpulkan bahwa hukum pertama dan terutama yang mengatur keberadaan umat manusia adalah hukum mementingkan diri sendiri. Smith juga berpendapat bahwa sejauh manusia mentaati hukum, mementingkan diri sendiri dan secara rasional berusaha untuk meningkatkan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka sendiri, bukan untuk kepentingan umum, maka seluruh masyarakat akan maju dan kemakmuran ekonomi untuk semua orang akan melimpah dengan sendirinya berkat tuntunan “tangan yang tidak kelihatan” (the invisible hand). Menurut Smith, kehidupan ekonomi dalam dunia usaha atau dunia perdagangan mempunyai hukum-hukumnya sendiri, dan jika ia dibiarkan bebas dari peraturan-peraturan agama atau pemerintah, ia akan secara otomatis bertindak demi kepentingan terbaik seluruh masyarakat. Inilah akar religius dari pemikiran kapitalisme Barat, yaitu mementingkan diri sendiri, dan motif religius dari kapitalisme ini sangat mendominasi bukan hanya pada konsep dalam dunia bisnis di masa kini, tetapi juga dalam orientasi pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.
 
Dampak teori pendidikan dan ekonomi sekular terhadap kebijakan sosial
 
Saat ini kita tengah menyaksikan dampak-dampak negatif dari penerapan pemikiran-pemikiran Rousseau dan Adam Smith yang sangat sekular terhadap perkembangan kehidupan bermasyarakat di dunia, khususnya di Indonesia. Teori yang dikemukan oleh Smith dan Rousseau dalam dunia pendidikan telah memberikan kontribusi yang negatif di dalam pengembangan cara pandang dan pola pikir manusia di dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari, dan hal ini mungkin tidak disadari oleh orang-orang yang melaksanakannya. Ini terlihat dalam pengembangan dunia pendidikan di negara kita. Akibat dari cara pandang sekular yang dibangun oleh Rousseau dan Smith di dalam budaya ini, maka yang tertanam dalam pemikiran seorang murid dan mahasiswa ketika memilih minat pelajaran, jurusan dan pekerjaannya hanya bagaimana meraih keuntungan material dan kebahagiaan individualistis. Sungguh zaman sudah berubah jauh, bukan?
 
Dari apa yang dipandang dahulu oleh masyarakat Abad Pertengahan sebagai dosa ketamakan, keegoisan, dan kerakusan, sekarang telah menjadi fondasi religius dari sistem perekonomian dan bahkan telah merasuki seluruh aspek kehidupan. Walter Wink mengungkapkan bahwa “sistem perekonomian kita terlihat sepenuhnya sekular,22.
Brian J. Walsh & J. Richard Middleton; Visi yang memperbaharui pembentukkan cara pandang Kristen; Momentum; jakarta; 2001. 120-130.
tetapi ia memiliki tanda-tanda dari sebuah agama yang beriman karena sistem perekonomian tersebut merupakan perantara yang membawa keselamatan duniawi kita, yakni kehidupan yang baik berupa kemakmuran harta benda dan kesejahteraan yang meningkat atau dengan kata lain berlimpahnya kekayaan dan keamanan ekonomi”.
 
Ternyata gagasan tentang pemerolehan harta benda, menurut ekonom Robert Heilbroner adalah suatu bentuk penghujatan atas cara pandang Abad Pertengahan. Lebih lanjut dia mengatakan, “gagasan dalam memperoleh keuntungan mempunyai kemungkinan untuk dapat mempersatukan sebuah komunitas dan dipandang sebagai sesuatu yang nyaris merupakan kegilaan.” Akan tetapi, justru inilah konsep berekonomi yang dianut dan diajarkan oleh mayoritas institusi-institusi perguruan tinggi di masa kini sehingga ketika seorang mahasiswa lulus dan menghadapi realita dunia, seluruh cara pandang dan motivasi hidup di dalam bekerja, berelasi dengan sesama manusia, bersosial, berpolitik, berseni dan sebagainya tertuju pada bagaimana meraih keuntungan materi dan memenuhi kebahagiaan yang bersifat individualistis. Kebijakan rezim Orde Baru yang sangat mengandalkan pembangunan bangsa dan negara pada konsep pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu dampak dari benih-benih yang ditebarkan oleh roh kapitalisme Barat. Adam Smith tidak memperhitungkan akan adanya “tangan yang tidak kelihatan.” Itu terbukti yaitu tidak hanya tidak kelihatan tetapi juga tidak berdaya, contohnya seperti pekerja anak-anak, kondisi kerja dan kehidupan yang tidak sehat, timbul dan berkembangnya kemiskinan perkotaan, polusi lingkungan, serta inflasi dan pengangguran yang tak terkendali. Semua itu menunjukkan bahwa kemakmuran ekonomi dari para kapitalis yang melayani kepentingan diri mereka sendiri tidak mesti akan membawa perbaikan atau kemajuan bagi masyarakat, dan pada saat ini hal tersebut juga telah terjadi di Indonesia. Banyak orang miskin di perkotaan dan pedesaan, banyak para pekerja yang masih anak-anak berseliweran di seluruh jalan perkotaan Jakarta padahal mereka seharusnya duduk di sekolah-sekolah dasar atau menengah. Banyak pengangguran yang mengakibatkan meningkatnya tindak kejahatan akibat biaya hidup yang semakin tinggi. Inflasi yang tinggi menyebabkan banyak perusahaan besar maupun kecil harus gulung tikar. Ini semua bukannya merangsang terjadinya pertumbuhan ekonomi, melainkan semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat. Inilah dampak yang disebabkan oleh pemikiran-pemikiran sekular yang salah di dalam memahami hukum-hukum ciptaan Tuhan sehingga kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan sangat utopis namun berakibat fatal terhadap kehidupan bermasyarakat. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai umat Kristen dalam memahami peran pendidikan sebagai sarana anugerah umum untuk memulihkan pelaksanaan aspek-aspek kehidupan, khususnya dalam berekonomi dari sitat-sifat individualis tersebut?
 
Reformasi pendidikan sebagai sarana penghambat berkembangnya perilaku sekular yang Individualis
 
Fakta di atas menunjukkan bahwa kita sedang berada di dalam sebuah kebudayaan yang sedang merosot, sebuah kebudayaan yang kehilangan kepercayaan terhadap cara pandang yang mendasarinya. Kita telah terpengaruh cara pandang Barat atau pemikiran Barat yang sekular yang menolak otoritas Allah dan mengesahkan otonomi umat manusia untuk mengatur diri mereka sendiri dan menjadikan diri mereka seorang individualis. Tanpa disadari hal itu telah menjadi berhala bagi diri mereka sendiri, yakni pemuasan diri akan harta melimpah dan keuntungan.
 
Untuk menuntun kehidupan seseorang diperlukan sebuah cara pandang yang berlandaskan Alkitab. Cara pandang tersebut dapat memberikan suatu pemahaman kepada mereka tentang identitas dan tempat, menawarkan sebuah kerangka pembentukan kebudayaan, dan menempatkan kehidupan di dalam sebuah konteks yang berpengharapan. Jika sebuah cara pandang gagal memenuhi tugas-tugas ini, maka pengikutnya hanya dapat menemukan diri mereka berada dalam situasi kekalutan akibat krisis cara pandang. Oleh karena itu, menurut cara pandang Alkitab, kejatuhan manusia dalam dosa telah menjadikan manusia dalam kondisi rusak total (Total Depravity).33.
Edwin H. Palmer: Lima Pokok Calvinisme; The Five Point of Calvinism; Edisi Revisi; Momentum, Jakarta. 2.
Artinya, tidak ada satu pun di dalam diri manusia itu yang baik, sebab kejahatan telah meresapi setiap kemampuan dari jiwa manusia dan setiap bidang kehidupannya termasuk mendasari perbuatan mereka. Manusia tidak lagi taat kepada hukum Allah melainkan membenci Allah dan sesama serta tindakan yang dilakukan adalah melakukan eksploitasi-eksploilasi alam, bukan mengembangkan atau mengurus alam ciptaan yang telah diperintahkan Allah kepada Adam untuk kepentingan masyarakat umum dan mempermuliakan Allah, melainkan hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri dan memperbanyak harta kekayaan. Dampaknya dapat terlihat dalam perekonomian negara kita yang pendistribusian kekayaan negara hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang saja, sementara mayoritas rakyat tidak dapat menikmati hasil kekayaan dari sumber daya alam negara kita. Lalu di manakah tuntunan “tangan yang tidak kelihatan” yang katanya akan mengarahkan pendistribusian kekayaan yang telah dinikmati oleh segelintir orang yang mementingkan diri sendiri untuk kemudian dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat? Adam Smith gagal memahami bahwa teorinya tidak akan mungkin terwujud karena dia dan Rousseau salah memahami natur dari manusia berdosa yang cenderung untuk selalu ingin memperkaya diri tanpa habis-habisnya kalau ada kesempatan. Sebab Alkitab telah menyatakan bahwa manusia telah mati secara rohani dan akibatnya adalah “semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada perbuatan baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir-bibir mereka mengandung bisa, mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah, keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan di jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Roma 3:12-18). Sebab menjelang hari-hari terakhir, Iblis akan dilepaskan untuk sementara dan keadaan akan menjadi seolah-olah isi neraka sedang merajalela di dunia.44.
Ibid... 20.
Oleh karena itu, pendidikan Kristen harus segera dipulihkan kembali sehingga setiap murid dan mahasiswa bukan hanya diberikan berbagai ilmu dan ketrampilan, tetapi di dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan tersebut ditanamkan juga prinsip tentang norma-norma ciptaan Tuhan dan bagaimana menaatinya ketika mereka terjun ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika sudah terjun di dalam pekerjaan. Masalah yang dihadapi oleh negara kita tidak akan dapat diselesaikan secara tuntas, kecuali muncul orang-orang Kristen di jajaran pemerintahan yang memiliki cara pandang yang utuh tentang norma-norma ciptaan Allah dan konsisten menaatinya di dalam memutuskan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kehidupan publik.
 
Dunia dan khususnya Indonesia pada saat ini membutuhkan orang-orang Kristen yang menjalankan prinsip-prinsip Kristen dalam bidang politik, ekonoml, sosial, budaya dan mereka semua muncul, dibina dan diajar melalui lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian, tugas para pengajar Kristen di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi adalah memahami norma-norma ciptaan Allah dan menanamkannya kepada para murid dan mahasiswa di dalam setiap pengajaran yang diberikan sehingga mereka boleh memiliki cara pandang yang alkitabiah di dalam melihat setiap permasalahan dunia, khususnya terhadap perilaku-perilaku individualis yang mendominasi setiap penerapan aspek kehidupan masyarakat pada masa kini. Permahaman dan pembinaan untuk menaati norma-norma ciptaan Tuhan merupakan panggilan akademik yang harus dijalankan oleh setiap umat Kristen, khususnya yang terjun di dalam dunia pendidikan, guna menghambat natur-natur berdosa para murid dan mahasiswa sebagai manusia dari berkembang liar, hal yang ditolak di dalam konsep pendidikan Rousseau. Dan melalui pengetahuan mengenai kerusakan total manusia, seharusnya juga dapat mengajarkan kepada kita bahwa diri kita benar-benar buruk dan berada dalam situasi mengerikan yang membutuhkan Allah sebagai juruselamat dan penebus manusia. Semoga melalui artikel ini dapat memberikan kepada setiap kita kesadaran akan bahaya besar yang sedang mengancam di hadapan kita jika kita tidak mendidik anak-anak kita dengan benar dan taat pada hukum-hukum ciptaan Allah, sebab mereka adalah penerus bangsa ini.
 
[ Setya Asih P ]
Persekutuan Studi Reformed
 
 
Notes.
 
1
F. Budi Hardiman; Filsafat Moderen dari Machiavelli sampai Nietz; PT. Gramedia Pustaka Utama; Jakarta; 2007. 120-121.
 
2
Brian J. Walsh & J. Richard Middleton; Visi yang memperbaharui pembentukkan cara pandang Kristen; Momentum; jakarta; 2001. 120-130.
 
3
Edwin H. Palmer: Lima Pokok Calvinisme; The Five Point of Calvinism; Edisi Revisi; Momentum, Jakarta. 2.
 
4
Ibid... 20.