Pandangan Kristen Terhadap
Undang-Undang Perlindungan Anak
_oOo_
 
 
Pendahuluan
 
Secara umum baik orang Kristen maupun orang non Kristen mengerti bahwa anak merupakan anugerah Tuhan kepada setiap pasangan suami isteri serta generasi dan penerus bangsa. Oleh karenanya setiap orang tua harus memelihara dan menjaga hidup anaknya dalam segala bidang mulai dari pendidikan, kesehatan (fisik dan mental), sosial dan agama. Anak juga harus dijaga dari tindakan-tindakan yang membahayakan mereka. Orang Kristen juga harus mengerti bahwa selain merupakan anugerah Tuhan, seorang anak yang baru lahir tetap adalah orang berdosa, sebagaimana dikatakan oleh Mazmur 58:4 “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.” Orang Kristen harus mendidik anaknya terutama untuk takut akan Allah sebagai Pencipta dan menyadari agar seluruh kehidupannya harus berlandaskan dan terfokus kepada Allah.
 
Di Indonesia masalah anak merupakan masalah yang penting, karena kemiskinan yang merajalela, masalah-masalah ekonomi dan sosial menjadi kendala yang berarti bagi kelangsungan hidup anak-anak, sehingga banyak anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa diperlakukan tidak adil. Itu sebab pemerintah perlu membuat suatu ketentuan khusus untuk melindungi anak-anak.
 
Satu hal yang patut kita syukuri adalah bahwa melalui anugerah umum, Tuhan memakai Pemerintah Republik Indonesia untuk mengeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang “Perlindungan Anak.” Memang sebelumnya sudah ada ketentuan yang mengatur tentang kesejahteraan anak seperti ini, tetapi UU RI No. 23 tahun 2002 ini mengatur dengan lebih luas berbaqai aspek perlindungan anak seperti pendidikan, kesehatan, sosial, agama, anak asuh dan pengangkatan anak, sampai pada instansi/lembaga (pemerintah, masyarakat maupun lembaga-lembaga sosial lainnya dan perorangan) yang terlibat bahkan ikut berperan dalam menangani masalah tersebut.
 
Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak
 
Mengenai UU perlindungan anak ini, penulis tidak membahas secara keseluruhan, melainkan hanya hal-hal pokok berikut:
 
A.
Alasan-alasan dibentuknya UU Perlindungan Anak
 
  1. Berkailan dengan Hak Asasi Manusia termasuk perlindungan terhadap hak-hak anak.
     
  2. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
     
  3. Anak merupakan tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan dan negara pada yang akan datang.
     
  4. Agar kelak setiap anak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial dan berakhlak mulia. Untuk itu perlu dilakukan upaya perlindungan serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa adanya perlakuan diskriminasi.
 
B.
Asas dan tujuan perlindungan anak
 
  1. Asas
     
    Non diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan
     
  2. Tujuan
     
    Menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.
 
Hal-hal lain yang diatur secara ringkas di dalam Undang-Undang tersebut antara lain bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan agama serta perlindungan terhadap tindakan-tindakan yang membahayakan kehidupan mereka.
 
Dari hal-hal pokok mengenai UU Perlindungan Anak tersebut, seharusnya ketentuan ini dapat menjadi ancaman bagi setiap orang atau orang tua agar tidak menelantarkan anak-anaknya. Memang, dalam faktanya kehidupan anak-anak yang ada di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Masih begitu banyak anak-anak di bawah umur (anak-anak jalanan) yang bekerja sebagai loper koran atau mengamen dari pagi sampai malam, yang berarti bahwa mereka tidak bersekolah.
 
Hal lainnya adalah penganiayaan, pelecehan seksual maupun pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa terhadap pada anak-anak di bawah umur. Pengangkatan maupun pengambil-alihan hak asuh anak ada kalanya tidak dilakukan dengan tujuan yang baik tetapi untuk kepentingan pribadi orang tua angkatnya. Kehidupan yang sangat keras di jalan amat membentuk karakter anak-anak itu baik dari cara mereka berbicara maupun tingkah lakunya. Ada kalanya kita melihat anak-anak itu begitu kasar selayaknya orang-orang dewasa.
 
Melihat hal-hal di atas jelas bahwa ketentuan yang telah dikeluarkan pemerintah untuk melindungi anak-anak di bawah umur tidaklah dapat langsung menangani persoalan-persoalan di atas. Memang banyak hal yang sesungguhnya melatarbelakangi persoalan-persoalan di atas seperti masalah kemiskinan, ekonomi, sosial dan sebagainya.
 
Pandangan Kristen Terhadap Perlindungan Anak
 
Dari alasan, asas dan tujuan dibentuknya Undang-Undang Perlindungan Anak tersebut, penulis melihat bahwa hal tersebut merupakan kebaikan-kebaikan yang Tuhan kerjakan di dalam anugerah umum. Undang-Undang tersebut memang dperlukan untuk menjaga dan mengatur kehidupan anak-anak agar tidak terlantar, sekalipun disadari bahwa Undang-Undang ini memang tidak dapat menjawab persoalan-persoalan di atas secara tuntas. Alasan, asas dan tujuan Undang-Undang tersebut secara keseluruhan memang terfokus pada bagaimana anak itu dapat dilindungi kehidupannya dan bagaimana agar anak itu dapat berguna bagi bangsa dan negara, padahal yang terutama adalah bahwa sejak dini anak itu harus dibentuk untuk memahami keberadaannya di bumi ini sebagai orang berdosa dalam watak takut akan Allah Penciptanya.
 
[ Saur Rotua Marpaung ]
Persekutuan Studi Reformed