Kehidupan Kristen pada Sekolah Kristen
_oOo_
 
 
Latar Belakang
 
Program pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa juga didukung dengan banyaknya lembaga-lembaga Kristen yang mendirikan sekolah dengan menggunakan nama Kristen. Dan, tidak dapat dipungkiri di beberapa daerah, sekolah-sekolah Kristen mampu menjadi sekolah favorit. Meskipun dengan biaya yang relatif lebih tinggi, sepertinya tidak menyurutkan orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Kristen tersebut. Hal ini dikarenakan orang tua menyadari keterbatasan yang mereka miliki baik waktu, pengetahuan, keterampilan dan lain-lain, namun hal ini bukan berarti melepas tanggung jawab orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Namun sebaliknya, ini merupakan tanggung jawab besar bagi orang tua untuk memilih sekolah yang merupakan partner baginya dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Orang tua bertanggung jawab untuk mencari sekolah-sekolah yang tidak saja menggunakan nama “Kristen” tetapi harus benar-benar menyelenggarakan sistem pendidikan Kristen. Dengan banyaknya lembaga Kristen yang mendirikan sekolah Kristen seharusnya lebih memudahkan orang tua dalam memilih sekolah yang sesuai untuk mendidik anaknya.
 
Namun jika dilihat lebih jauh, sekolah-sekolah Kristen yang ada saat ini, mayoritas hanya menggunakan label “Kristen” dalam institusi saja namun tidak termanifestasi di dalam sistem pendidikan atau kurikulum yang diterapkan atau hanya sebagian saja diterapkan berdasarkan pendidikan Kristen, selebihnya sama dengan sekolah-sekolah umum.
 
Pada satu perguruan Kristen yang berada di bawah satu denominasi suatu gereja tertentu dengan jelas menggunakan “Kristen” di institusi pendidikannya yang meliputi pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan sekolah tinggi. Namun jika dicermati sebagian besar kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berasal dari Kementrian Pendidikan Nasional, bahkan tidak semua pekerjanya termasuk staff pengajar atau guru yang mempunyai iman Kristen. Bagaimana mungkin sistem pendidikan Kristen dapat diterapkan di sekolah Kristen dengan kondisi yang seperti ini?
 
Sekolah Kristen dan tantangan yang dihadapi
 
Berbagai tantangan memang dihadapi untuk melaksanakan sistem pendidikan Kristen di sekolah-sekolah Kristen yang ada saat ini. Namun jika sebuah institusi mempunyai komitmen dan visi yang jelas, tentulah hal ini dapat diatasi. Dalam hal ini kita akan membagi tantangan yang dihadapi sekolah Kristen tersebut di atas ke dalam dua kategori yakni: tantangan dari dalam dan tantangan dari luar.
 
A.
Tantangan Dari Dalam
 
1)
Sumber Daya Manusia
 
Seringkali dalam sekolah Kristen tidak semua pekerjanya memiliki iman Kristen, dan karena tuntutan keilmuan (seseorang yang menguasai bidang ilmu) tertentu adakalanya dalam sekolah Kristen ada pekerja (staff pengajar/guru) yang sama sekali tidak mempunyai iman Kristen. Hal ini sangat memprihatinkan, bagaimana mungkin komunitas Kristen sejati dapat terbentuk jika tidak ada keseragaman visi dari setiap pekerja di suatu sekolah Kristen. Sekolah Kristen yang baik seharusnya memiliki pekerja-pekerja yang memiliki iman Kristen (staff pengajar/guru, staff administrasi, komite sekolah dan lain-lain), sehingga mempunyai visi yang sama dalam membangun suatu komunitas Kristen yang sejati.
 
Seorang pendidik harus mampu membuat perubahan-perubahan pada anak didiknya, sehingga seorang pendidik seharusnya menyadari bahwa apa yang mereka berikan hari ini merupakan investasi yang mereka tanam pada anak didiknya di masa depan. Dan oleh karena guru berperan dalam pembentukan anak didiknya maka disiplin dan peneladanan dalam perilaku akan mempengaruhi seorang anak didik untuk bertindak. Itu sebab, seorang pendidik Kristen harus bertanggung jawab dalam mempersiapkan anak didiknya untuk masuk ke dalam kehidupan komunitas yang kompleks yang didukung oleh berbagai keahlian dari anggotanya. Seorang pendidik Kristen tidak mendidik muridnya dengan cetakan yang sama, namun harus memahami bahwa apapun pekerjaan yang ditekuni anak didiknya tersebut merupakan panggilan mereka masing-masing.
 
2)
Kurikulum Di Sekolah
 
Sekolah Kristen yang baik tentunya akan menerapkan program-program kegiatannya atau kurikulum dengan pengajaran Kristen. Hal ini tidak berarti membatasi materi yang diberikan kepada anak didik, tetapi justru membuka wawasan bagi para anak didik dalam hal bagaimana pengajaran Kristen dapat diterapkan dalam segala aspek keilmuan dalam kehidupan dunia yang kompleks ini, baik ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan bahkan seni. Bukankah dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, di satu sisi akan sangat membantu kehidupan manusia misalnya: penemuan vaksin atau penemuan alat yang memudahkan manusia dalam melakukan aktivitasnya jikalau dalam pengembangannya sekolah tidak jatuh dalam rasionalitas atau logikanya sendiri? Semua pengembangan dan penerapan ilmu teknologi, dan seni tersebut tetap harus tunduk pada otoritas Allah. Dan dalam pengajarannya, kurikulum suatu bidang studi tidak lebih unggul dibanding dengan bidang studi lainnya. Pendidikan Kristen harus mendidik untuk kehidupan seutuhnya dari setiap pribadi yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
 
B.
Tantangan Dari Luar
 
1)
Birokrasi Pemerintahan
 
Tidak dapat dielakkan dalam pemerintahan negara kita, mayoritas kegiatan sekolah atau kurikulum ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Kurikulum tersebut diterapkan tidak hanya di sekolah-sekolah Kristen namun juga di sekolah-sekolah non Kristen. Setiap sekolah harus mematuhi UUD 1945 dan Pancasila yang telah ditetapkan sebagai dasar Negara. Namun tentu saja sebagai sekolah Kristen tidak harus menentang segala kurikulum yang ada. Sekolah Kristen sudah seharusnya memiliki kebijakan-kebijakan sendiri yang terangkum dalam visi pendidikan Kristen itu sendiri, yang dibangun berdasarkan Alkitab. Dan sekolah Kristen malalui para pendidik tetap harus mampu mengarahkan anak didiknya agar menjadi murid yang tidak hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, tetapi juga harus bertanggung jawab sebagai warga negara suatu bangsa di mana Tuhan sudah menempatkan dia. Meskipun menerima ketetapan atau kurikulum dari pemerintah, sekolah Kristen seharusnya mampu melaksanakannya tanpa mengorbankan visi yang diembannya. Terlebih dengan otonomi daerah yang memberikan “kuasa” lebih kepada pemerintah terhadap suatu daerah untuk mengeluarkan kebijakannya sendiri yang terkadang semakin membebani sekolah Kristen saat ini, seperti mengijinkan penggunaan atribut keagamaan lain yang non-Kristen dan kewajiban untuk mendirikan tempat ibadah agama lain di sekolah Kristen dengan intimidasi pencabutan kelangsungan ijin dari sekolah tersebut.
 
2)
Keuangan sekolah dalam menyelenggarakan sistem pendidikan
 
Sekolah Kristen dalam hal ini adalah sekolah swasta yang seluruh biaya operasionalnya didukung oleh lembaga sekolah itu sendiri tanpa adanya bantuan atau subsidi dari pihak pemerintah. Namun seiring dengan biaya operasional sekolah yang semakin meningkat dan perilaku pekerja yang akhirnya jatuh pada keinginan untuk menghasilkan kekayaan, akibatnya terkadang sekolah Kristen harus menurunkan standarnya dengan alasan untuk memenuhi biaya operasional. Sebenarnya sekolah Kristen yang baik tidak akan melakukan hal seperti ini. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk dapat memenuhi biaya operasional ketimbang menurunkan standar sekolah oleh karena hanya masalah finansial. Diskusi dengan para orang tua murid pun dapat dilakukan, karena bagaimanapun juga orang tua dan sekolah merupakan rekanan yang sama-sama bertujuan untuk mendidik anak-anak dalam suatu komunitas Kristen yang baik.
 
 
Penutup
 
Pendidikan Kristen adalah kehidupan Kristen dan bukan sekedar pemikiran Kristen yang akhirnya jatuh pada kompromitas keinginan individual dunia. Sekolah Kristen harus secara keseluruhan menampakkan kehidupan Kristen. Sekolah Kristen bertujuan tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan kemampuan murid, tetapi juga harus mampu menggunakan pengetahuan dan kemampuan itu dalam membentuk kehidupan masa depan anak didiknya di tengah masyarakat yang kompleks.
 
[ Roma Uly Bertha P ]
Persekutuan Studi Reformed