PENGGENAPAN KRISTUS
DI DALAM HUKUM MUSA
_oOo_
 
 
Introduksi: Prinsip dasar di dalam memahami teologi Perjanjian Lama
 
Perjanjian Lama memberikan kepada kita warisan yang sangat besar. Akan tetapi bagaimana kita dapat membuka warisan itu? Kristus itu sendiri menjadi kunci bagi kita untuk membuka warisan kekayaan dari Perjanjian Lama. Hanya di dalam Kristus kekayaan dari berita (message) di dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan sebab:
 
  • Pertama dari semuanya, Kristus adalah Tuhan dengan segala kemuliaan-Nya sudah ada di dalam kekekalan. Dia adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah Bapa dan Dia itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Oleh sebab itu seluruh kitab Perjanjian Lama adalah merupakan perkataan Kristus kepada kita, sama halnya perkataan Allah Bapa kepada kita melalui Firman-Nya.
     
  • Kedua, Perjanjian Lama mengajarkan kita mengenai Kristus. Kristus adalah pusat dari berita Perjanjian Lama. Dia adalah satu-satunya yang kepada-Nya berita para nabi maupun juga simbol-simbol di dalam Perjanjian Lama menuju kepada Kristus.
     
  • Ketiga, Kristus tidak hanya memberi perintah akan tetapi juga membangun persekutuan dengan kita melalui Firman-Nya. Kita tinggal di dalam Kristus karena Firman-Nya tinggal di dalam kita (Yoh. 15:7). Kristus berbicara kepada kita secara pribadi melalui Alkitab termasuk Perjanjian Lama.
     
  • Keempat, Kristus merubah dan memperbaharui kita melalui Firman-Nya, sehingga ketika kita membaca kitab Perjanjian Lama kita sepatutnya berdoa bahwa Kristus akan mencerahkan dan memperbaharui kita. Karena Perjanjian Lama sama halnya dengan Perjanjian Baru adalah perkataan Kristus.
     
  • Kelima, Kristus itu sendiri adalah pusat dari wahyu Perjanjian Baru, namun Perjanjian Baru melengkapi cerita yang sudah dimulai di dalam Perjanjian Lama, sehingga Kristus juga adalah pusat dari cerita Perjanjian Lama.
 
Maka ketika kita membaca kitab Perjanjian Lama, kita sedang membaca sebuah cerita (story) yang besar yaitu cerita mengenai Kristus yang menjadi pusat dari cerita di dalam Perjanjian Lama. Sekalipun ada jarak waktu yang sangat jauh dengan kita sekarang ini akan tetapi cerita atau story di dalam Perjanjian Lama itu tetap menjadi tali benang merah yang tidak terputus dengan cerita atau story kita, karena kita juga adalah bagian dari story tersebut yang sudah dan akan terus Tuhan Allah kerjakan di dalam Kristus.
 
Oleh karena itu di dalam edisi Natal ini dan edisi berikutnya kita akan menelusuri jauh ke belakang mengenai bayang-bayang Kristus yang sudah ada di dalam hukum Musa yang dimulai ketika Musa memimpin Israel keluar dari Mesir dan mengajar mereka di padang gurun, salah satunya yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah sepuluh perintah Allah (The Ten Commandments) yang diberikan kepada Israel melalui nabi Musa sebagai bagian dari hukum Musa di dalam Perjanjian Lama.
 
Sepuluh perintah Allah adalah perjanjian Allah dengan umat-Nya
 
Hukum Allah yang diberikan kepada umat-Nya Israel memainkan peranan yang sangat penting di dalam komunitas umat Allah pada masa pelayanan Musa. Sepuluh perintah Allah menjadi inti dari seluruh hukum yang secara khusus Allah berikan kepada Israel. Allah memperkatakan langsung sepuluh perintah Allah kepada orang-orang Israel di atas gunung Sinai melalui Musa (Kel. 20:1-21; Ul. 4:10-13) dan dituliskannya oleh Allah sendiri pada dua loh batu (Ul. 4:13, 10:4). Ketika Allah memberikan sepuluh perintah Allah kepada umat-Nya, Israel, maka sepuluh perintah Allah itu tidak sama dengan dokumen undang-undang (legal document) maupun kode etik atau moral bagi suatu bangsa, melainkan sepuluh perintah Allah ditulis untuk membangun pemisahan dan identitas yang unik bagi umat-Nya di mana Allah membangun sebuah kovenan dengan mereka. Karena sepuluh perintah Allah adalah merupakan bagian dari sebuah perjanjian atau kovenan yang Allah buat dengan Israel umat perjanjian-Nya.
 
Bagi bangsa-bangsa Timur kuno khususnya bangsa Hittite kuno, mereka memiliki dokumen perjanjian yang dibuat antara raja yang menaklukan dan berkuasa (suzerain) dengan para penguasa yang ditaklukan (vassal). Demikian juga kovenan di dalam Perjanjian Lama umumnya memiliki kesetaraan terhadap struktur dan pola perjanjian yang buat oleh bangsa Hittite, sekalipun demikian tetap memiliki perbedaan di antara keduanya, karena yang mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel adalah Allah sendiri yang bertindak sebagai raja yang berkuasa (suzerain). Ketika bangsa Hittite membuat perjanjian maka ada dua buah dokumen perjanjian yang dihasilkan yaitu satu untuk raja yang menaklukan (suzerain) dan satu lagi untuk penguasa yang ditaklukan (vassal). Sepuluh perintah Allah di dalam kitab Keluaran maupun kitab Ulangan dipastikan juga memiliki pola yang sama dengan teks-teks dokumen perjanjian dari bangsa-bangsa timur kuno khususnya adalah bangsa Hittite. Oleh karena itu sepuluh perintah Allah yang ditulis pada dua loh batu diyakini bahwa tiap loh batu terdiri dari sepuluh perintah Allah, oleh karena ada dua loh batu maka ada dua sepuluh perintah Allah (gambar A). Bukan sepuluh perintah Allah dibagi menjadi dua bagian yaitu perintah pertama sampai dengan perintah keempat (hubungan antara Allah dengan manusia) ditulis pada loh batu yang pertama, sedangkan perintah kelima hingga kesepuluh (hubungan antara sesama manusia) ditulis pada loh batu yang kedua (gambar B). Karena kita harus mengerti bahwa konteks yang mendasari dari sepuluh perintah Allah adalah sebuah kovenan atau perjanjian antara Allah dengan umatNya.
 
 
 
1
2
 
1
2
 
Gambar A
 
Gambar B
 
Dua loh batu yang mencakup sepuluh perintah Allah itu ditaruh pada tabut perjanjian (Kel. 25:21; Ul. 10:1-5). Allah tidak perlu memanggil ilah-ilah dari bangsa-bangsa lain untuk menyaksikan akan perjanjian yang Dia buat dengan Israel karena sepuluh perintah Allah pada dua loh batu tersebut menjadi saksi perjanjian-Nya dengan umat-Nya yang ditaruh di dalam tabut. Ada banyak perintah-perintah Allah yang diberikan kepada Israel melalui Musa ditempatkan bukan di dalam tabut perjanjian TUHAN melainkan di samping tabut perjanjian TUHAN (Ul. 31:24-26), supaya hukum yang Allah berikan menjadi saksi antara TUHAN dengan umat perjanjian-Nya. Sepuluh perintah Allah yang ditaruh di dalam tabut menjadi sebuah dokumen perjanjian yang disimpan oleh Raja yang berkuasa.
 
Bagi bangsa Israel hal ini sangat jelas bahwa sepuluh perintah Allah yang merupakan hukum Allah adalah merupakan hukum perjanjian dan di dalam hukum Allah itu, Dia berjanji akan memelihara dan memberkati umat-Nya, dan umat-Nya berjanji untuk setia dan taat kepada-Nya. Sepuluh perintah Allah tidak hanya mengekspresikan akan pemerintahan Allah atas Israel, tetapi juga mengekspresikan akan kekudusan, kebenaran, keindahan dan kebajikan Allah sendiri.
 
Penggenapan hukum Taurat menurut Injil Matius
 
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat. 5:17-18).
 
Lima buku Musa (Kejadian–Ulangan) mencakup banyak pengajaran dan penghukuman. Akan tetapi pengajaran di dalam buku Musa hanya mungkin dapat dipahami dan diterapkan bagi kita sekarang ini ketika kita melihat signifikansinya di dalam Kristus. Karena apa yang diajarkan di dalam hukum Musa pada Perjanjian Lama dilengkapi oleh Perjanjian Baru. Perkataan Kristus Tuhan pada Matius 5:17-18 menegaskan akan kontinuitas dari kovenan di dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengatakan bahwa seluruh hukum yang Allah berikan kepada Israel melalui Musa yaitu hukum Taurat tidak akan berlalu sampai semuanya itu dipenuhi (Mat. 5:18). Kristus Tuhan menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi oleh karena keduanya menunjuk kepada Dia, dan Kristus adalah penggenapan dari hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa yang menjadi bayang-bayang dari hukum Taurat maka sekarang telah tiba kepada realitas yang sebenarnya. Apa yang Tuhan Yesus ajarkan tidak hanya mengulangi seluruh peraturan dari hukum Taurat, tetapi membawanya kepada maksud semula dari hukum Taurat, yaitu kedalam realitas yang sesungguhnya didalam penggenapan Kristus. Kita sering kali cenderung melihat bahwa hukum Allah sebagai aturan untuk ditaati (obey), akan tetapi Tuhan Yesus melihat bahwa hukum Allah tidak hanya sebagai peraturan yang harus ditaati, akan tetapi juga adalah sesuatu yang digenapi atau dipenuhi (fulfill). Melalui Kristus hukum Taurat sudah digenapi melalui ketaatan-Nya. Karena Kristus Tuhan adalah akhir (the end, the goal, the telos) dari hukum Taurat itu.
 
Penggenapan Sepuluh perintah Allah di dalam Kristus
 
Kedatangan Kristus tidak hanya mentaati dan menggenapi seluruh hukum Taurat akan tetapi juga merubah seluruh pengertian atau pemahaman dari hukum Taurat itu sendiri di dalam Kristus. Demikian juga sepuluh perintah Allah, bagaimana Kristus memberikan perubahan yang baru di dalam pemahaman atau pengertian atas arti dari masing-masing sepuluh perintah Allah di dalam penggenapan Kristus.
 
Perintah pertama: “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku.” (Kel. 20:1-3)
 
Perintah Allah yang pertama ini menentukan semua perintah Allah yang lain, karena di dalam perintah yang pertama ini, Dia menyatakan diri-Nya, identitas-Nya dan otoritas-Nya melalui perkataan TUHAN Allah yang disampaikan langsung kepada Israel untuk ditaati. Allah memulainya dari sejarah penebusan yang menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir sebagai penggenapan janji Allah atas nenek moyang mereka. Perkataan Allah pada Musa mengingatkan kepada Israel bahwa Allah bapak leluhur mereka adalah TUHAN Allah yang telah menebus Israel. Akan tetapi TUHAN Allah sebagai penebus Israel kini telah datang kepada umat-Nya di dalam Kristus Tuhan. Kristus Yesus adalah Tuhan Allah bagi kita yang menyatakan diri-Nya sebagai Penebus dan Juruselamat kita. “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku,” telah digenapi di dalam Kristus Tuhan kita, di mana Allah menyatakan “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika Allah memerintahkan kita untuk mendengarkan perkataan Kristus, maka kita menghormati dan mentaati perintah pertama ini, sebab di dalam penyembahan kita kepada Kristus Tuhan kita menyembah satu-satunya Allah yang sejati, yang menebus kita dari perbudakan Mesir dan perbudakan dosa. “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku,” memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan pikiran kita.
 
Perintah kedua: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi aku menunjukan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Kel. 20:4-6)
 
Perintah Allah yang kedua ini menegaskan bahwa hanya Allahlah yang dapat membuat segala sesuatu yang ada di langit atau di bumi, baik di atas atau di bawah menurut gambar-Nya. Allah tidak mengijinkan umat-Nya untuk mencoba membuat sebuah rupa (image) Allah. Ketika hukum Taurat disampaikan di gunung Sinai, orang-orang Israel tidak melihat rupa Allah. Mereka hanya mendengar suara dan tidak dapat melihat secara utuh mengenai rupa Allah. Demikian juga pada tabut perjanjian memiliki tutup pedamaian dari emas di mana ada dua buah bentuk kerubim. Meskipun kemuliaan Allah diam di atas kerubim-kerubim tersebut, namun penutup pada tabut perjanjian itu, yang diketahui sebagai tahta kekuasaan (the “mercy seat” – KJV) tetap kosong. Kekosongan itu adalah menunjuk kepada sebuah janji. Seseorang akan datang dan tempat itu sudah disiapkan. Tahta itu dipersiapkan bagi Kristus Yesus Tuhan. Tidak ada satupun seseorang ataupun ilah-ilah yang boleh duduk di tahta itu dan Allah yang cemburu tidak akan membiarkan ilah-ilah menempatinya, karena Allah akan mengutus Anak-Nya sebagai gambar/rupa Allah yang sejati yang akan menerima tempat itu. Inkarnasi Kristus menjadi penggenapan dari perintah kedua ini, di mana Kristus menjadi gambar (image) Allah yang sejati. Inkarnasi Kristus bukan usaha manusia untuk menciptakan sebuah gambar (image) Allah yang hidup, melainkan Kristus adalah karunia Allah yang begitu besar bagi umat-Nya sebagai image yang diurapi, dan kita tidak hanya diijinkan tetapi diperintahkan untuk menyembah Dia. Kristus adalah manusia yang sejati tetapi juga adalah Allah yang sejati yang kita sembah.
 
Perintah ketiga: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan”. (Keluaran 20:7)
 
TUHAN Allah memerintahkan kepada umat-Nya untuk menghormati nama TUHAN, karena ketika mereka memakai nama TUHAN Allah dengan sembarangan maka mereka tidak menghormati Allah. Salah satu kasus yang tidak menghormati nama TUHAN Allah adalah penggunaannya di dalam sumpah dusta (Im. 19:12). Bagi orang Yahudi sangat takut menyalahgunakan nama TUHAN Allah sehingga hanya Imam Besar yang boleh menyebutkan dan itupun hanya pada hari penebusan (the Day of Atonement). Pada Perjanjian Baru, perintah Allah yang ketiga ini ditransformasi oleh Tuhan Yesus melalui penyebutan nama Allah sebagai “Bapa.” Di dalam Perjanjian Lama adakalanya juga menyebutkan nama Bapa kita (Yes. 63:16, Mal. 2:10) meskipun ini hanya memberikan kepada kita pandangan sekilas akan kasih kebapaan dari Allah. Kita datang kepada Bapa melalui Yesus Tuhan, karena Yesus mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di dalam Dia, di dalam nama Anak-Nya, Yesus Tuhan. Nama-Nya ditinggikan di atas segala nama dan kemuliaan Bapa dinyatakan melalui Yesus. Nama Bapa menyimpulkan semua nama-nama Allah di dalam Perjanjian Lama, maka nama “Yesus” menggenapi seluruh janji akan atribut nama Allah Bapa di dalam Perjanjian Lama, karena Allah tidak akan membagi kemulian-Nya kepada yang lain melainkan kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu ketika kita menghormati nama Yesus Tuhan maka kita juga menghormati Allah Bapa. “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan” berarti menghormati nama itu di dalam seluruh hidup kita, serta menyaksikan di dalam perkataan dan perbuatan kita.
 
Perintah keempat: “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Keluaran 20:8-11)
 
Sabat adalah perintah Allah yang mengekspresikan perjanjian Allah dengan umat-Nya. Sabat tidak hanya berkaitan dengan penciptaan melainkan juga penebusan. Orang-orang Israel menjaga Sabat sebagai peringatan akan penebusan mereka dari perbudakan Mesir dan membawa mereka kepada Tanah Perjanjian di mana mereka menemukan perhentian (rest) yang sejati. Akan tetapi Sabat yang diberikan kepada mereka tidak hanya menandai mereka bebas dari tirani Mesir melainkan membawa mereka kepada damai dan perlindungan di dalam Allah. Pada akhirnya Sabat tidak hanya melihat ke belakang kepada perhentian Allah ketika Dia menyelesaikan pekerjaan penciptaan, tetapi memandang ke depan kepada Sabat yang akan diberikan oleh Kristus Tuhan. Yesus adalah Tuhan atas Sabat itu sendiri dan Sabat diberikan kepada manusia bukan manusia atas Sabat. Hanya melalui Kristus kita boleh menemukan perhentian (rest) yang sejati.
 
Perintah kelima: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Kel. 20:12)
 
Di dalam Kristus, perintah untuk menghormati ayah dan ibu dipenuhi. Rasul Paulus merasakan akan realitas keluarga Kristus ketika ia berdoa kepada Bapa di sorga. “yang dari pada-Nya semua turunan (keluarga, family) yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.” (Ef. 3:15). Seluruh keluarga, gereja Kristus, menerima namanya dari Bapa karena telah disatukan dengan Anak-Nya. Maka kemudian Paulus menulis bagaimana Yesus Tuhan mentransformasi perintah ini: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1-3). Nilai (value) keluarga Kristen adalah di dalam Tuhan karena di dalam Tuhan merubah relasi antara orang tua dengan anak yaitu relasi yang membawa kepada Tuhan. Keluarga di dalam Kristus adalah keluarga di mana Kristus menjadi kepala dari keluarga seperti halnya Kristus adalah kepala gereja. Maka orang tua memiliki tugas dan hak khusus untuk menyatakan ketuhanan Kristus atas kehidupan anak-anak mereka, dan kemudian diperintahkan bagaimana anak-anak di dalam keluarga Kristus harus menghormati orang tua mereka.
 
Perintah keenam: “Jangan membunuh.” (Keluaran 20:13)
 
Perintah Allah yang keenam ini melarang umat TUHAN untuk mengambil hidup orang lain secara tidak adil dan mereka yang membunuh harus dihukum. Karena nilai hidup manusia itu sendiri merefleksikan akan gambar Allah. Namun di dalam Matius 5:21, Tuhan Yesus memberikan pemahaman yang lebih dalam dan luas mengenai perintah ini. Dia mengatakan bahwa setiap orang yang marah kepada saudaranya harus dihukum, karena tidak hanya membunuh orang lain maka ia telah merusak atau memutuskan perintah Allah ini, melainkan membenci, mengumpat juga merusak perintah Allah ini. Maka perintah “Jangan membunuh” adalah memerintahkan kita untuk mengasihi dan melindungi kehidupan dan gambar Allah di dalam manusia.
 
Perintah ketujuh: “Jangan berzinah.” (Kel. 20:14)
 
Ketika Tuhan Yesus berkata tentang perzinahan, maka Tuhan Yesus membawa pemahaman perintah Allah yang ketujuh ini kepada kemurnian di dalam hati manusia. Tuhan Yesus membawa pemahaman yang baru mengenai perintah Allah yang ketujuh ini, bahwa setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya maka ia sudah berzinah (Mat. 5:28). Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kekudusan dari suatu pernikahan adalah membawa kita kembali kepada maksud semula Allah membangun lembaga pernikahan di dalam penciptaan. Tuhan Yesus memanggil kita kepada kekudusan yang dimulai dari hati kita dan dinyatakan didalam kesaksian hidup, yang kemudian hal ini menjadi dasar akan kekudusan di dalam pernikahan yang dimulai dari hati yang murni kepada Tuhan. Pernikahan adalah merupakan refleksi dari sebuah kovenan atau perjanjian yang Allah buat dengan umat-Nya.
 
Perintah kedelapan: “Jangan mencuri.” (Kel. 20:15)
 
Perintah kedelapan melarang seseorang untuk mengambil kepemilikan orang lain, karena pencurian akan merusak hubungan terhadap kepemilikan seseorang. Kepemilikan manusia tersebut sangat dekat dengan kekuasan yang sudah diberikan, dan hal ini meniru kepada kekuasaan Allah sebagai pemilik atas dunia ini. Properti adalah merupakan suatu pendukung yang penting untuk mendukung dan meningkatkan hidup manusia. Sehingga pencurian atau pengambil alihan milik orang lain adalah merupakan serangan dan penghancuran atas kehidupan manusia. Di dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perintah kedelapan ini, bahwa Kristus telah memberikan diri-Nya sendiri sebagai kepunyaan kita. Warisan kita lebih daripada berkat Allah, lebih daripada langit dan bumi yang baru akan tetapi warisan yang sesungguhnya adalah Tuhan Allah itu sendiri dan Roh Kudus menjadi jaminan kepemilikan Tuhan atas kita. Oleh karena itu dikatakan hendaklah “Jangan mencuri”.
 
Perintah kesembilan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Kel. 20:16)
 
Perintah Allah yang kesembilan ini tidak hanya merujuk kepada kebohongan secara umum tetapi juga kepada saksi yang palsu di dalam pengadilan. Keadilan Israel bergantung pada kesaksian mereka karena tidak ada penuntut perkara di dalam jaman Israel dahulu. Di dalam Perjanjian Baru perintah Allah yang kesembilan ini menekankan akan Kristus Yesus Tuhan sebagai kebenaran yang sejati di mana seluruh kebenaran Allah ada pada-Nya. Namun Tuhan Yesus juga memiliki saksi yang lain (witness) yaitu kesaksian Allah Bapa yang mengutus Kristus Yesus Tuhan (Yoh. 8:16-18). Kesaksian yang benar kepada Allah Bapa adalah juga menyaksikan Yesus Tuhan. Dia adalah kebenaran Allah yang berinkarnasi dan membawa realitas bayang-bayang Perjanjian Lama di dalam satu pribadi Allah itu sendiri. Maka kita kini sekarang dipanggil untuk menjadi saksi Allah yang menyaksikan akan pekerjaan Allah di dalam Tuhan Yesus kepada dunia yang belum mengenal Dia.
 
Perintah kesepuluh: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” (Keluaran 20:17)
 
Perintah Allah yang kesepuluh memerintahkan umat-Nya untuk tidak mengingini segala apapun yang bukan menjadi miliknya. Perintah ini tidak hanya fokus kepada perbuatan atau tindakan melainkan kepada keinginan (desire) akan apa menjadi milik orang lain. Sebagaimana kita sudah mengetahui bahwa sepuluh perintah Allah menunjuk kepada Kristus Yesus Tuhan. Sepuluh perintah Allah mengajarkan kepada kita untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita. Maka di dalam perintah Allah yang kesepuluh ini prinsip dasar yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita adalah bagaimana kita harus mengasihi sesama kita karena Allah telah mengasihi kita. Perintah Allah yang kesepuluh tidak melarang kita untuk mengingini segala sesuatu yang ada di dalam penciptaan Allah bahkan termasuk berkat Allah, karena keinginan di dalam hati kita adalah sesuatu yang diberikan Allah, akan tetapi dosa telah memutar-balikkan atau membelokkan keinginan tersebut kepada keinginan hati yang tidak lagi kepada Allah. Tuhan Yesus mentransformasi maksud dari perintah Allah ini, yaitu Tuhan Yesus meminta kepada kita bukan hanya sekedar keinginan, tetapi juga memerintahkan kita untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dengan seluruh hati kita. Kita perlu refleksi untuk menemukan apa yang menjadi keinginan, kerinduan hati kita kepada penggenapan atau pemenuhan kehendak Allah atas kita. Keinginan kita seharusnya tidak lagi pada keinginan yang hanya memenuhi keinginan hati kita yang akhirnya kita jatuh kepada iri hati, cemburu dan bahkan mengingini atas apa yang menjadi milik orang lain. Akan tetapi keinginan kita sekarang hanyalah Tuhan Allah dan kita menyelaraskan dengan apa yang menjadi keinginan Tuhan.
 
Penutup
 
Kedatangan Kristus Yesus Tuhan kepada umat-Nya tidak untuk meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapi hukum tersebut karena hukum Taurat menunjuk kepada Kristus, dan Kristus adalah penggenapan hukum Taurat. Sepuluh perintah Allah tidak hanya telah dipenuhi oleh Kristus Tuhan akan tetapi juga telah merubahnya di dalam pemahaman yang baru akan arti dari sepuluh perintah Allah di dalam kepenuhan kasih Kristus. Kasih yang telah memenuhi hukum tersebut adalah kasih yang mana Kristus Tuhan telah memberikan hidupnya untuk menebus mereka yang telah diberikan Allah Bapa kepada-Nya. Maka seluruh perintah Allah itu mencerminkan kesempurnaan kebenaran Yesus Kristus. Kristus secara penuh telah mencerminkan standar kebenaran Allah di dalam hidup manusia. Oleh karenanya Natal tetap menjadi suatu peristiwa yang besar di dalam sejarah ini, sebab hanya melalui kedatangan Kristus Yesus Tuhan ke dunia ini maka seluruh maksud dan kehendak Allah Bapa di dalam hukum Musa telah digenapi.
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ Mulatua Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed