EVERYDAY THEOLOGY:
TUGAS KULTURAL KRISTEN
_oOo_
 
 
Tugas Kultural Kristen
 
We are in the world, but we are of the world/ Kita berada di dalam dunia tetapi kita bukan berasal/bagian dari dunia ini”. Pernyataan ini menjadi sebuah panggilan sekaligus tantangan kita sebagai orang Kristen yang Tuhan tempatkan hidup di tengah dunia ini. Realita kita hidup “in the world” tidak dapat dilepaskan dari Tuhan sebagai pencipta (Creator) dan pemilik dari dunia ini dan kita sebagai ciptaan (creature) yang hidup di dalamnya. Ketika Tuhan menempatkan kita pada realita “in the world,” maka realita ini tidak dapat dilepaskan dari tujuan ultimat Tuhan menempatkan kita di dalamnya. Alkitab dengan jelas memberikan jawaban atas hal tersebut. Tuhan sebagai Pencipta menempatkan manusia di Taman Eden dengan satu perintah yang jelas: “Pelihara dan usahakanlah taman itu.” “Berkuasalah atas bumi dan taklukkanlah bumi” (Kej. 2). Manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah ditempatkan sebagai wakil Allah di dalam dunia dan diberikan mandat penuh untuk memegang kendali atas seluruh ciptaan. Manusia diberikan hak untuk menggali, mengolah dan mengembangkan seluruh kekayaan ciptaan menjadi produk kebudayaan yang pada akhirnya harus dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan, sang Pencipta dan pemilik atas seluruh ciptaan. Dengan demikian, perintah “Berkuasa dan taklukkan bumi” menjadi sebuah tugas kultural Kristen yang harus dikerjakan setiap orang Kristen yang hidup di tengah dunia ini. Tugas kultural Kristen terkait dengan panggilan kita untuk membawa segala aspek ciptaan Tuhan untuk tunduk di bawah Ke-Tuhan-an Kristus.
 
Berkenaan dengan tugas kultural Kristen, ada 2 (dua) pandangan ekstrem yang muncul berkaitan dengan bagaimana sikap orang Kristen memandang dunia ini, antara lain:
 
  1. Orang kristen menarik diri dari dunia dan tidak mau terlibat dalam tugas kebudayaan. Pandangan ini beranggapan bahwa dunia atau kebudayaan sudah tercemar oleh dosa, oleh sebab itu sedapat mungkin kita menghindari keterlibatan langsung di dalamnya. Orang Kristen tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di dalam dunia ini dan tidak mau berbagian di dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan. Orang Kristen dilarang untuk terjun di dunia politik, dilarang untuk menjadi ekonom, dilarang menjadi ahli hukum atau yang lainnya karena hal itu bertentangan dengan iman Kristen. Orang Kristen seharusnya memfokuskan diri hanya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani yang “bernilai kekekalan”. Michael S. Horton di dalam bukunya Where in the World is Church? melihat hal ini sebagai akibat dari kesulitan pemahaman dari sebagian orang Kristen di dalam melihat hubungan mereka dengan dunia ini. Horton berpendapat bahwa sebagian orang Kristen memandang realita dunia ini telah dikuasai oleh setan, itu sebab sebaiknya kita mengkonsentrasikan diri kita hanya di dalam kegiatan-kegiatan penginjilan atau kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pertumbuhan rohani daripada harus terlibat di dalam aktivitas-aktivitas sekuler. Hal ini pada akhirnya membawa orang Kristen pada sikap dualisme.
     
  2. Orang Kristen melebur menjadi satu dengan dunia ini dengan menghilangkan identitas dan keunikannya sebagai orang Kristen. Sebagian orang Kristen mencoba mengadopsi budaya yang berkembang di dalam dunia dengan sembarangan tanpa menilai dan mengkritisinya di depan lensa Firman Tuhan. Hanya dengan cara menambahkan label “istilah-istilah rohani” pada budaya tersebut, maka dengan mudahnya kita menerimanya sebagai suatu kebenaran. Hal ini tanpa sadar menjebak mereka untuk bersikap kompromistis terhadap dunia ini. Pada akhirnya kondisi ini membawa mereka terjebak masuk mengikuti derasnya arus dunia yang tidak berkenan kepada Tuhan dan tidak selaras dengan kekudusan-Nya. Orang Kristen menjadi serupa dengan dunia yang berujung pada hilangnya identitas dan keunikannya hidup di tengah dunia ini. Sebuah ironi yang menyedihkan adalah ketika kita melihat gereja yang Tuhan utus di dalam dunia untuk mewarnai dunia dengan kebenaran Tuhan, sekarang mulai terjebak ke dalam arus budaya dunia ini yang bertentangan dengan kebenaran itu. Beberapa contoh sebagai berikut: trend genre house music yang biasa dinyanyikan di diskotik digunakan di dalam irama lagu “rohani,” ibadah kepada Tuhan yang dilakukan dengan suasana cafe atau diskotik, menyanyikan lagu pujian dengan melompat-lompat tanpa kontrol bak suasana pertunjukan konser musik rock, atau orang yang mengaku “hamba Tuhan” yang berkhotbah menggunakan bahasa “gaul” dengan alasan “menjangkau anak muda,” dan bentuk-bentuk lainnya. Beberapa contoh di atas menggambarkan bagaimana ibadah Kristen telah kehilangan pengagungan dan penghormatannya kepada Tuhan.
 
Atas kedua pandangan tersebut di atas, Alkitab dengan tegas menolaknya. Setiap orang Kristen tidak dipanggil menarik diri dari dunia oleh karena faktanya Tuhan menempatkan kita di dalam dunia (in the world). Kita juga tidak dipanggil melebur di dalam dunia oleh karena faktanya kita bukan berasal dari dunia (of the world). Meskipun kita juga bahwa dunia atau kebudayaan telah tercemar oleh dosa, namun Tuhan tetap menyatakan anugerah-Nya melalui anugerah umum (common grace) sehingga kita tetap dimampukan untuk mengerjakan tugas kultural kita. Seperti apa yang dikatakan oleh H. Henry Meeter di dalam bukunya “Pandangan-pandangan Dasar Calvinisme” pada bab 7 mengenai kebudayaan manusia: “Jadi, di mana pun muncul buah dari anugerah umum Allah ini, adalah kewajiban kita untuk memanfaatkannya dengan rasa syukur, untuk menghormati Allah dan perluasan kerajaan-Nya.” Selain itu, sebagai orang Kristen kita wajib berpartisipasi dalam tugas kultural dunia ini. Kita tidak boleh menarik diri. Sebab bagi kita hari ini diberikan perintah, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah”.
 
Theologi sebagai Tugas Spiritual Kristen
 
Mendengar istilah “theologi” sering kali menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi sebagian orang Kristen. Hal ini bisa terjadi dikarenakan kesalahpahaman atau ketidakmengertian di dalam memandang sebuah theologi. Mereka memandang theologi sebagai suatu disiplin ilmu yang abstrak dan bersifat teoritis dan doktrinal yang tidak berhubungan atau tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu mereka juga menganggap theologi menjadi komoditas intelektual yang diperuntukkan hanya bagi para theolog-theolog dan sarjana-sarjana Alkitab yang bergelut dalam mempelajari disiplin tersebut. John M.Frame di dalam salah satu tulisannya berjudul “Studying Theology as a Servant of Jesus” yang diterbitkan Reformed Theological Seminary mengkritisi pandangan tersebut. Frame melihat cara terbaik untuk mendefinisikan theologi adalah dengan melihatnya sebagai sebuah aplikasi dari keseluruhan Alkitab di dalam seluruh kehidupan manusia. Theologi bukanlah sebuah cara untuk mengartikulasi perasaan kita tentang Tuhan, tetapi sebuah cara untuk memperoleh kebenaran objektif atau menempatkan kebenaran di dalam tempat yang seharusnya karena Alkitab sudah melakukan hal itu secara sempurna. Theologi bukan sekedar pengajaran Alkitab untuk tujuan pemenuhan kebutuhan manusia tetapi juga menjadi jawaban atas seluruh pertanyaan manusia. Itu sebab, Frame memunculkan sebuah slogan: “Theology is application.” Dengan slogan ini, Frame tidak bermaksud untuk memfokuskan secara khusus hanya pada sisi aplikasi atau praktis dengan menomorduakan teori atau doktrin, tetapi dia melihat bahwa doktrin dan aplikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, dalam pengertian bahwa kedua hal tersebut harus berjalan secara sinergis di bawah otoritas Alkitab. Dengan demikian theologi bukanlah sesuatu yang jauh dari hidup kita, karena itulah yang mewarnai keseharian hidup kita. Apa yang kita lakukan di dalam keseharian kita seharusnya mencerminkan theologi seperti apa yang kita yakini. Doktrin yang kita pegang dan yakini akan mempengaruhi seluruh tindakan aplikatif yang kita lakukan. Jika doktrin kita tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka tindakan kita juga tidak akan sesuai dengan kebenaran Alkitab, dan demikian sebaliknya.
 
Selain itu, theologi juga bukan hanya milik para theolog atau sarjana Alkitab karena theologi bersumber dari otoritas Alkitab dan Alkitab adalah juga milik orang percaya. Setiap orang Kristen yang adalah murid Kristus memiliki hak yang sama untuk mempelajari theologi.
 
Everyday Theology sebagai Tugas Kultural Kristen
 
Pada pembahasan di atas kita telah melihat 2 (dua) point penting, pertama, bagaimana Tuhan memberikan sebuah tugas kultural yang harus dikerjakan oleh setiap orang Kristen yang di tempatkan Tuhan di tengah dunia ini. Kedua, bagaimana theologi juga memainkan peran penting di dalam memberikan kita suatu direction untuk menjalankan kehidupan praktis di keseharian kita (our everydayness). Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas bagaimana relasi antara theologi, everydayness, dan tugas kultural kita sebagai orang Kristen yang hidup di zaman modern ini dengan segala kompleksitasnya. Kevin J.Vanhoozer memunculkan satu istilah menarik untuk menggambarkan relasi ketiga hal tersebut, yaitu Everyday Theology. Dalam pengertian sederhana, Everyday Theology merupakan sebuah tugas reflektif dan praktis bagi setiap orang Kristen yang hidup sebagai murid Kristus di tengah dunia ini secara aktif hari demi hari setia berjalan di dalam kebenaran dengan satu tujuan yaitu kemuliaan Tuhan. Theologi tidak hanya ada dan diperuntukkan hari minggu ketika kita berada di gereja, tetapi juga dalam keseharian kita yaitu berkenaan dengan bagaimana iman kita teraplikasi di dalam tindakan dan perilaku kita setiap hari.
 
Di dalam bukunya Everyday Theology: How to Read Cultural Text and Interpret Trends, Vanhoozer mencoba mengkaitkan theologi dengan budaya (culture) dan tugas kultural kita sebagai orang Kristen. Ketika hidup di tengah dunia ini, kita tidak mungkin dapat dilepaskan dari kultur yang akan mempengaruhi kehidupan kita baik itu positif maupun negatif. Itu sebab, kita harus memiliki suatu kepekaan atas kultur apa yang muncul dan berkembang di dunia kita, bagaimana hal itu mempengaruhi kita dan bagaimana kita mempengaruhi hal itu. Oleh karenanya seperti apa yang dikatakan Vanhoozer bahwa setiap orang Kristen seharusnya memiliki kemampuan untuk membaca (reading) teks kultur (cultural text) dan mampu untuk menginterpretasi trend yang muncul di dunia dimana kita hidup melalui lensa Alkitab sebagai otoritas tertinggi sebagai bagian dari tugas kultural Kristen.
 
Teks kultur berkenaan dengan produk kultur yang dapat mengkomunikasikan suatu meaning dan menuntut suatu interpretasi. Beberapa bentuk dari teks kultur yang selalu mewarnai hidup kita antara lain: televisi, film, buku, internet, handphone, dan lain sebagainya. Bentuk teks kultur tersebut mampu mempengaruhi seluruh kehidupan manusia baik itu pengaruh positif maupun negatif, oleh karena dibalik semuanya itu ada spirit yang mendasarinya dan ada nilai atau value yang ditawarkan. Itu sebab, setiap orang Kristen harus memiliki kepekaan dan ketajaman dalam membaca sekaligus menilai di hadapan lensa Firman Tuhan, apakah produk kultur yang tengah hadir dan mewarnai kehidupan kita itu telah sesuai dengan kebenaran Allah. Berikut ini adalah beberapa alasan, mengapa kita harus memiliki kemampuan untuk membaca teks kultur sebagai bagian dari everyday theology yang kita kerjakan.
 
  1. Kita perlu membaca teks kultur karena Alkitab dengan jelas memerintahkan kita untuk bertanggung jawab atas dunia di mana kita hidup melalui tugas kultural yang diletakkan di pundak setiap orang Kristen.
     
  2. Kita perlu membaca teks kultur agar kita mampu melihat dengan jelas prinsip-prinsip apa yang tersembunyi di balik kultur tersebut, sehingga kita mampu memberikan respon yang benar terhadap pengaruh positif maupun pengaruh negatif yang dihasilkannya.
     
  3. Kita pelu membaca teks kultur untuk memastikan apakah tindakan keseharian kita yang juga dipengaruhi oleh kultur di sekitarnya telah sesuai atau tidak bertentangan dengan Alkitab.
     
  4. Kita perlu membaca (reading) teks kultur agar kita juga mampu menulis (writing) kultur sesuai dengan Alkitab.
 
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita atau apa yang harus kita lakukan untuk membaca teks kultur yang ada di hadapan kita? Berkaitan dengan pertanyaan itu, berikut ini beberapa hal yang perlu kita perhatikan:
 
  1. Untuk membaca suatu teks kultur, kita harus mencari dan menggali lebih mendalam informasi yang berkaitan dengan teks kultur tersebut.
     
  2. Kita harus mengamati lebih dalam pengaruh apa saja yang ditimbulkan dari teks kultur tersebut di dalam kehidupan kita.
     
  3. Oleh karena teks kultur harus diinterpretasikan di bawah otoritas Alkitab, maka setiap kita dituntut untuk mempelajari Alkitab lebih mendalam. Alkitab membawa kita kepada kepekaan yang mendalam atas apa yang terjadi di dalam dunia yang kita hadapi.
 
Penutup
 
Melalui pembahasan ini, kita sebagai orang Kristen hendaknya mulai berfikir dan bergumul merenungkan apa yang menjadi bagian kita ketika Tuhan menempatkan kita di dalam dunia ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk mengerjakan panggilan Injil, tetapi kita juga dipanggil untuk mengerjakan tugas kultural kita. Oleh sebab itu, Everyday Theology memiliki peran yang signifikan di dalam tugas kultural kita, di mana melaluinya kita boleh sungguh membaca dan menilai diri kita di dalam tindakan keseharian kita dan menilai dan membaca apa yang terjadi di dalam dunia kita di hadapan terang otoritas Alkitab. Kita tidak hanya dipanggil untuk reading kultur kita tetapi kita juga dipanggil untuk writing kultur kita, membawa dan menggembalakannya ke dalam keTuhanan Kristus.
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ Nikson Sinaga ]
Persekutuan Studi Reformed