MEMBEDAH PERGUMULAN
MANDAT BUDAYA UMAT KRISTEN
_oOo_
 
 
Lumpuhnya Peran Mandat Budaya Umat Kristen Saat ini
 
Seluruh permasalahan yang dialami oleh orang Kristen di zaman modern terus bertambah dan semakin kompleks yang menyebabkan kita sering seringkali mengalami kesulitan di dalam mencari solusi yang ideal di dalam menghadapinya, baik sebagai orang Kristen maupun sebagai anggota masyarakat. Kemajuan yang telah dihasilkan selama zaman modern di bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan teknologi, ternyata tidak semakin mempermudah kehidupan kita ke depan. Permasalahan dan tuntutan hidup yang selalu berubah dan terus menerpa proses perjalanan hidup kita, semakin mempersulit diri kita untuk meluangkan waktu guna merefefleksi proses perjalanan hidup kita, memenuhi dan menikmati panggilan hidup yang dapat memampukan kita melampaui batas-batas kedirian kita agar bermanfaat bagi kepentingan publik sebagai bagian dari tugas mandat budaya Kristen. Perspektif wawasan dunia yang pragmatis dan dualistis di dalam memahami kompleksitas permasalahan hidup yang terus menerpa diri kita pada akhirnya membentuk pola penggunaan waktu kita sekedar untuk mempertahankan hidup pribadi dan keluarga sehari-hari. Alih-alih berperan menjadi seseorang yang berhasrat untuk melakukan perubahan-perubahan baru di lingkungan kita, justru malah hidup kitalah yang kemudian lebih banyak dibentuk oleh perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar lingkungan kita demi mempertahankan hidup. Akhirnya tanpa disadari, visi hidup kita mulai bergeser dan menjadi sesuatu yang tidak berkesinambungan lagi satu sama lain. Kita telah menjadi manusia yang terasing dengan segala rutinitas yang kita lakukan sehari-hari. Kondisi ini pulalah yang kerap mewarnai perjalanan hidup orang Kristen dewasa ini. Akibatnya, orang Kristen kerap jatuh ke dalam bentuk penyimpangan dari pelaksanaan panggilan mandat budaya yang alkitabiah. Selain ada yang terjatuh ke dalam solusi-solusi pragmatis atau terjebak ke dalam pencarian kiat-kiat di dalam menghadapi permasalahan yang terkait dengan mandat budaya, ada pula orang-orang Kristen yang justru memilih menghindar dari kebudayaan karena dinilai sudah sangat dicemari oleh dosa.
 
Di dalam kalangan Reformed dan kelompok injili, sebagian besar mungkin sudah memahami melalui pembelajaran Alkitab bahwa wujud dari “tanah” dalam konsep Alkitab bisa merupakan tempat di mana kita bekerja, keluarga di rumah, gereja, negara, partai politik, persekutuan, sekolah, lembaga sosial dan lain sebagainya. Kita juga sebagai orang-orang Calvinis secara kognitif mungkin sudah tahu bahwa kita bukanlah pemilik dari “tanah” di mana kita berada, melainkan hanyalah pengurus dari “tanah” yang Tuhan “pinjamkan untuk sementara waktu” kepada kita untuk dikelola dan dipelihara sehingga tanah tersebut berkembang menjadi tanah yang penuh dengan berkat-berkat Tuhan. Tetapi mengapa penyimpangan atas tugas mandat budaya manusia semakin berkembang dari waktu ke waktu?
 
Di dalam Kejadian 1:28, Tuhan memerintahkan manusia untuk “berkuasalah atas bumi dan taklukkan bumi dan seluruh isinya.” Namun yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya. Manusia justru ditaklukkan oleh kemajuan-kemajuan budaya yang dihasilkannya sendiri dari proses pengelolaan kekayaan bumi dan pembelajaran terhadap fenomena alam. Kehidupan manusia di zaman modern bukan saja semakin diatur oleh perkembangan kemajuan teknologi, tetapi juga semakin bergantung pada hasil-hasil teknologi yang diciptakannya. Atas nama efisiensi biaya produksi, kemajuan teknologi telah mengakibatkan peran manusia semakin disisihkan dari proses budidaya kebudayaan yang seharusnya bertujuan membawa semua ciptaan ke tingkatan yang lebih tinggi dan lebih mulia menurut norma-norma ciptaan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Alih-alih membawa semua ciptaan ke tingkatan yang lebih tinggi dan mulia, martabat manusia sekarang ini justru semakin direndahkan di dalam proses kerjanya oleh para pemilik modal kapitalis berkat tersedianya berbagai kemajuan teknologi yang canggih yang dianggap lebih efisien dibandingkan tenaga manusia.
 
Lalu di dalam Kejadian 2:15, Tuhan juga memerintahkan manusia ketika ditempatkan di Taman Eden untuk “mengusahakan dan memelihara taman itu.” Namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya juga. Oleh karena banyak manusia di masa kini telah dicemari oleh wawasan dunia yang menempatkan dirinya sebagai pemilik yang otonom atas “tanah” di dunia ini, maka mereka pun merasa bebas untuk berbuat apa saja yang dikehendakinya atas “tanah” dan setiap ciptaan Tuhan yang diam di “tanah” tersebut, termasuk di dalam mengeksploitasinya demi kepentingan-kepentingan pribadi. Konsep tentang “tanah” tidak bisa kita artikan hanya sebatas suatu cakupan wilayah territorial tertentu, tetapi ia adalah tempat di mana kita sebagai ciptaan-Nya ditempatkan oleh Tuhan untuk menjalankan mandat budaya, yakni mengusahakan dan memelihara “tanah” tersebut sehingga manifestasi dari kemuliaan Tuhan dapat terpancarkan di “tanah” tersebut dan menjadi berkat (bukan kutukan) bagi setiap orang dan ciptaan yang diam di “tanah” tersebut. Tetapi jikalau seseorang berpegang pada wawasan dunia bahwa dirinya adalah pemilik yang otonom atas tanah yang didiaminya, maka tidaklah mengherankan jika sekarang ini korupsi berkembang semakin merajalela dan sistemik, terjadinya penyelewengan kekuasaan oleh para pejabat negara, penyalahgunaan ruang dan tata kota yang menyebabkan terjadinya longsor dan bencana banjir, meningkatnya polusi udara dan sebagainya.
 
Lalu di manakah sekarang orang-orang Kristen, baik yang mengklaim dirinya Calvinis dan injili yang seharusnya berperan menghambat proses penyimpangan terhadap tugas mandat budaya ilahi ini berkembang lebih jauh? Ada beberapa alasan yang menurut analisa penulis telah menyebabkan lumpuhnya peran mandat budaya orang Kristen saat ini, yakni:
 
1.
“Pengkotakkan” di Dalam Memahami Konsep Panggilan Ibadah
 
Salah satu kesulitan utama yang dialami oleh sebagian besar kalangan Kristen masa kini di dalam upaya menghambat penyimpangan yang lebih jauh terhadap tugas mandat budaya manusia disebabkan oleh adanya “pengkotakkan” atau pendikotomian di dalam memahami konsep panggilan ibadah. Kesalahan utama yang kerap dilakukan oleh umat Kristen di dalam memahami konsep panggilan ibadah ini adalah ketika di satu sisi mulai menggolongkan kegiatan penginjilan, berdoa, penyelidikan Alkitab, kebaktian, persekutuan dan berpaduan suara, ditambah lagi dengan “kesalehan” untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar ajaran Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk panggilan ibadah yang primer; sementara kegiatan-kegiatan pengembangan kultural, baik itu di bidang ilmu pengetahuan, seni budaya, ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, terlebih lagi di bidang politik, sering digolongkan sebagai panggilan ibadah yang bersifat sekunder baik sadar maupun tidak sadar (jika tidak mau dikatakan sebagai kegiatan sekuler) karena dianggap tidak banyak terkait dengan “panggilan keselamatan manusia”.
 
“Pengkotakkan” ini disebabkan oleh penekanan yang tidak seimbang oleh sebagian orang Kristen terhadap konsep natur ciptaan yang telah jatuh dalam dosa, sehingga kerap mereka tanpa sadar terseret di dalam menempatkan kegiatan-kegiatan gerejawi sebagai aktivitas yang berada di “atas” atau “jauh lebih penting” daripada kegiatan-kegiatan di luar lingkup wilayah gerejawi. Akibatnya, kegiatan-kegiatan gerejawi seperti penyelidikan Alkitab, berdoa, penginjilan, kebaktian, persekutuan dan berpaduan suara mulai dikategorikan ke dalam wilayah yang berada di dalam anugerah penebusan Kristus, sehingga cenderung mendapat tempat yang lebih utama dari semua kegiatan lainnya karena berkaitan dengan keselamatan manusia. Inilah yang kerap dikategorikan sebagai sebuah “kegiatan beribadah” atau “panggilan beribadah” sebenarnya oleh mayoritas orang Kristen saat ini. Sementara kegiatan pengembangan kultural dipandang sebagai sebuah kegiatan yang sia-sia bagai menggarami air lautan karena berada di dalam wilayah yang sudah sangat dicemari oleh dosa dan berada jauh dari anugerah penebusan Kristus. Mereka percaya bahwa pada hakikatnya nasib umat manusia adalah memang harus menjalani kehidupan yang semakin lama semakin buruk dan hal ini tidak mungkin untuk dilawan. Akibat dari wawasan dunia ini, banyak orang Kristen pun tanpa sadar telah menjauhkan dirinya dari mandat pengembangan budaya karena selain dianggap tidak terkait dengan janji keselamatan Tuhan, mereka juga memiliki pandangan yang pesimistik terhadap mandat budaya manusia di dunia.
 
Sebagai orang-orang Kristen yang berhasil membuktikan komitmennya di dalam mewujudkan tugas mandat budaya dalam sejarah secara nyata, orang-orang Calvinis adalah wujud pewaris budaya Kristen yang dapat melihat panggilan ibadah itu secara utuh tanpa ada pengkotakkan. Orang Calvinis adalah orang Kristen yang dikenal mampu menempatkan dan menerapkan panggilan khusus dan panggilan umum secara seimbang. Henry Meeter dalam buku The Basic Ideas of Calvinisme mendefinisikan seorang Calvinis sebagai “Seorang yang sepenuhnya percaya kepada Allah, dan yang bertekad untuk menjadikan Allah sebagai Allahnya, dalam segenap pemikiran, perasaan dan kemauannya – dalam seluruh aktivitas kehidupan, intelektual, moral dan spiritualnya – dalam semua hubungan individual, sosial dan religiusnya – yang menurut dari kekuatan logika yang paling ketat yang mengatur penerapan semua prinsip dalam pemikiran dan kehidupannya.”11.
Henry Meeter, Pandangan-pandangan Dasar Calvinisme (terj.), (Penerbit Momentum : Surabaya, 2005), h.10.
Bagi seorang Calvinis, iman Kristen tidak hanya berkenan dengan kesalehan personal semata atau dibatasi hanya ke dalam wilayah pribadi, tetapi ia juga berkenan dengan rasa tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat. Mereka juga menyadari bahwa seluruh kehidupannya bersifat religius, tetapi tidak semuanya bersifat gerejawi. Jika ingin mempelajari bagaimana sepatutnya orang Kristen dapat mengemban tugas mandat budaya secara tepat dan komprehensif, maka salah satu langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah pelajarilah teladan hidup dan pemikiran tokoh-tokoh gerakan Calvinis sepanjang sejarah.
 
2.
Menjadikan Doktrin Pemilihan (Predestinasi) sebagai Prinsip Fundamental
 
Kecenderungan seorang Kristen yang percaya bahwa Allah dengan cara yang fatalistik telah menetapkan di mana seseorang akan hidup dalam kekekalan, tanpa disadari dapat menggiringnya terjebak ke dalam pembatasan supremasi Allah hanya dalam lingkup atau pada tindakan tertentu. Bagi seorang Calvinis, Allah bukan saja berdaulat di dalam wilayah moral, yakni menyelamatkan dan melahirbarukan umat pilihan-Nya, tetapi Ia adalah Allah yang juga berdaulat dalam lingkup natural. Doktrin kedaulatan Alllah di dalam lingkup natural dan moral inilah yang harus diletakkan secara seimbang sebagai fondasi jika seorang Calvinis ingin melaksanakan mandat budaya secara tepat. Henry Meeter berpendapat bahwa:
 
 
“Sekalipun kita menginterpretasikan predestinasi sebagaimana mestinya menurut pemahaman seorang Calvinis, doktrin ini tidak dapat menjadi prinsip fundamental Calvinisme. Ini disebabkan berbagai alasan. Predestinasi selalu berkaitan dengan manusia, dengan apa yang akan terjadi atas dirinya. Apa pun yang mungkin terjadi atau tidak akan terjadi atas manusia bukanlah sesuatu yang fundamental bagi seorang Calvinis; tetapi pemikiran akan Keberadaan yang ilahi, keagungan-Nya, kebesaran-Nya, inilah yang terutama menarik minatnya. Selain itu, predestinasi hanya menyangkut tindakan Allah terhadap manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, dan tidak mempertimbangkan tindakan Allah terhadap manusia pertama dalam keadaan yang belum terjatuh. Ini juga membatasi tindakan Allah hanya pada dunia keberadaan yang bermoral, yaitu pada manusia, dan tidak membicarakan, setidaknya tidak secara langsung, mengenai hubungan Allah dengan dunia alam. Seorang Calvinis tidak mengenal pembatasan seperti itu pada pemikiran tentang Allah.”22.
Ibid.,h.11.
 
 
Menurut Meeter, John Calvin dalam karya agungnya, Institutes, tidak membahas doktrin predestinasi sebagai dasar dari sistem Calvinisme, tetapi lebih banyak sebagai kesimpulan daripada sebagai premis bagi doktrin keselamatan. Bagi Meeter, ketimbang menyatakan predestinasi sebagai prinsip fundamental, lebih tepat untuk menyatakan bahwa predestinasi adalah suatu kesimpulan yang logis dari Calvinisme. “Begitu Anda sudah menerima pandangan bahwa Allah adalah Allah dalam seluruh lingkup hubungan-Nya dengan ciptaan-Nya, Anda akan sampai pada predestinasi sebagai kesimpulan yang amat logis”, ungkap Meeter.33.
Ibid., h.11-12.
“Lima Poin Calvinisme” yang dihasilkan oleh para tokoh Calvinis pada tahun 1619 menguraikan tentang lima tahap yang dilalui oleh umat pilihan ketika diselamatkan oleh Tuhan. Kecenderungan seorang Kristen untuk membicarakan doktrin predestinasi secara fatalistik dapat muncul ketika ia gagal menjabarkan secara lebih kaya maksud dan sasaran yang ingin dicapai oleh Allah di dalam lingkup natural (anugerah umum) saat melahirbarukan manusia yang dipilih-Nya serta dampaknya terhadap rasio dan hati nuraninya di dalam pembahasan Lima Poin Calvinisme, yang berakibat logis pada tahap terakhir dari doktrin Lima Poin Calvinisme tersebut yakni perserverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus). Konsekuensi logis dari doktrin ketekunan orang-orang kudus adalah munculnya semangat (spirit or passion) yang berkobar di dalam hati dan pemikiran umat pilihan Tuhan untuk hidup demi menegakkan kebenaran-kebenaran Allah kembali ke seluruh aspek wilayah kehidupan tanpa ada pengkotakkan. Semangat ini muncul dari keyakinan seorang Calvinis sejati bahwa semua ciptaan berada di dalam anugerah penebusan Kristus dan Allah berdaulat atas alam semesta tanpa terkecuali, termasuk atas bangsa Indonesia yang sudah sangat korup sekalipun. Seorang Calvinis percaya bahwa salah satu buah ketekunan umat Kristen setelah menerima kelahiran baru adalah ia tidak bisa tidak memerhatikan dan mengusahakan kehidupan sosial yang lebih baik bagi masyarakat di mana ia ditempatkan.
 
3.
Tidak Memahami Paradoks dari Panggilan Kristen Secara Komprehensif
 
Di satu pihak, kita sebagai orang Kristen percaya bahwa dunia dan seluruh isinya – termasuk manusia – kini berada dalam keadaan rusak sebagai akibat dari dosa. Kita juga melihat dan percaya bahwa maut dan segala kejahatan yang masuk ke dalam dunia adalah sebagai hukuman atas dosa. Yang membedakan diri kita sebagai orang Kristen yang taat atatu tidak adalah bagaimana respon kita terhadap panggilan Kristen di tengah realita dunia seperti ini? Kita mungkin percaya secara kognitif bahwa semua ciptaan telah berada dibawah anugerah penebusan Kristus. Tetapi seperti apa yang pernah diungkapkan oleh James W. Sire dalam bukunya The Universe Next Door bahwa wawasan dunia kita biasanya berada jauh di dalam alam bawah sadar kita, yang jika tidak kita refleksikan dengan susah payah, tidak akan kita sadari. Bahkan ketika kita berpikir kita mengetahui dan mempercayai bahwa seluruh ciptaan telah berada di bawah kuasa anugerah penebusan Kristus, tetapi terkadang tindakan dan perkataan kita mungkin mengingkari apa yang kita ketahui secara kognitif. Pada kenyataannya, kebanyakan orang Kristen, sadar atau tidak sadar, justru meresponi kenyataan ini dengan mengingkari kepercayaan kognitifnya dengan menarik diri dari dunia dan kebudayaan. Manusia duniawi merasa tidak perlu memisahkan diri dari dunia, namun banyak dari orang Kristen sangat menekankan pemisahan diri dari dunia karena tidak memahami paradoks dari panggilan mereka di dalam mengambil bagian untuk meningkatkan kebudayaan dunia dan menjalankan kewajiban mereka menjadi ragi dalam masyarakat manusia.
 
Terkadang, pemisahan diri orang Kristen dari kebudayaan dengan cara mengutamakan panggilan khusus (panggilan keselamatan) “di atas” panggilan umum (panggilan mandat budaya) sering diartikan sebagai wujud tindakan yang semestinya di dalam menghadapi paradoks dari panggilan kehidupan umat Kristen di dunia. Pemahaman ini tidak sesuai dengan prinsip paradoks yang dipahami dalam Calvinisme. Seorang Calvinis yang sejati akan mempertahankan keseimbangan di dalam pelaksanaan kedua hal tersebut (panggilan khusus dan panggilan umum) sebagaimana dituntut oleh Alkitab dan sebagai konsekuensi logis dari ketekunan orang-orang kudus yang telah dilahirbarukan oleh Allah.
 
Henry Meeter mengatakan bahwa “Apabila kita mengambil salah satu fakta tertentu sebagai pemikiran utama dalam ibadah agama kita, misalnya pertobatan atau baptisan, predestinasi atau pembenaran oleh iman yang menyangkut doktrin keselamatan manusia, maka keseimbangan yang benar dalam theologi kita akan hilang. Namun apabila kita sebagai orang Kristen meletakkan pada pusat sistem kita pemikiran agung tentang Allah sebagai Yang Berdaulat atas sejarah dan alam semesta, seperti yang dilakukan seorang Calvinis, maka segala sesuatu akan menempati tempat yang benar dan mendapat penekanan yang seharusnya.”44.
Ibid.,h.41-42
 
Salah satu alasan mengapa Calvinisme mampu mempertahankan keseimbangan yang benar menurut Meeter adalah “karena ketidakraguannya untuk memasukkan kepercayaan-kepercayaan theologisnya ide-ide yang secara logika bertentangan, artinya ide-ide yang tampaknya saling bertolak belakang, yang merupakan paradoks. Seorang Calvinis mempunyai reputasi sebagai orang yang mempunyai penalaran rasional yang kuat; kendati demikian, karena ia menjadikan Alkitab sebagai landasannya yang terutama, ia tidak ragu-ragu untuk memasukkan ide-ide yang tidak dapat diselaraskan dengan rasio, ide-ide yang tampaknya bertentangan secara logika, ke dalam sistemnya, selama Alkitabnya memberi dia alasan untuk melakukan hal itu.”55.
Ibid.
Misalnya predestinasi dan tanggung jawab manusia, dua hal yang secara logika terkesan saling bertentangan. John Calvin dan kaum Calvinis percaya dengan segenap hati pada predestinasi mutlak atau doktrin pemilihan. Tetapi tidak ada orang yang memberikan penekanan yang lebih kuat dalam hal tanggung jawab manusia atau doktrin kovenan anugerah daripada yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan Calvin sendiri dan kaum Calvinis lainnya.
 
Meskipun kaum Calvinis percaya bahwa hasil-hasil budaya dan pemikiran manusia sudah tercemar oleh akibat dosa, tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang Kristen yang tidak takut mempelajari dan menggunakan “wahyu umum” pemikiran-pemikiran non-Kristen sebagai abdi teologi yang ditundukkan untuk melayani Kebenaran Firman Tuhan guna mengembangkan budaya ke tingkat yang lebih tinggi dan mulia. Prinsip ini sesuai dengan Firman Allah kepada Nabi Musa yang memerintahkan bangsa Israel untuk merampas segala kelimpahan kekayaan milik orang-orang Mesir sebelum keluar dari tanah itu agar tidak pergi dengan tangan hampa saat memenuhi misinya menuju Tanah Perjanjian di kitab Keluaran 3:22, “Tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kami kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu”.
 
Sebelum menjadi Reformator, John Calvin sendiri adalah seorang humanis yang sangat menghargai dan mampu menempatkan wahyu umum pada tempatnya di dalam melayani kebenaran Firman Allah, seperti pemikiran-pemikiran Aristoteles dan Cicero. Sebelum Calvin, ada Augustinus yang juga telah memanfaatkan teori Plato dan Plotinus di dalam membangun kerangka doktrin theologinya. Begitu juga dengan Jonathan Edwards yang justru berhasil membangun doktrinnya tentang kehendak Allah dan kebebasan manusia berkat kekayaan pemikiran dari seorang filsuf politik bernama John Locke dan penemu teori gravitasi bernama Isaac Newton. Hal serupa pun dilakukan oleh Abraham Kuyper, William Ames, Herman Dooyeweerd, Gresham Machen, Charles Hodge, Herman Bavinck, Cotton Mather dan masih banyak lagi. Henry Meeter bahkan mengutarakan bahwa Calvin sendiri menuntut agar orang-orang yang hendak belajar untuk pelayanan di Jenewa harus mempunyai pendidikan kultural yang luas lebih dahulu, seperti dia sendiri. Apabila keuntungan-keuntungan ini ditolak, sering kali ini justru merugikan bagi perjuangan Kristen.
 
Apabila saudara bertanya pada seorang Calvinis, “Tetapi bagaimana Anda menyelaraskan kedua hal ini?” Ia akan menjawab, “Itu tidak perlu! Allah yang menyelaraskan keduanya, dan itu cukup bagi saya.” Meskipun ia sedikit banyak dapat menjelaskan keselarasan ini, pada dasarnya ini merupakan misteri dan ia cukup puas untuk membiarkannya demikian. Tidak ada kelompok yang begitu gigih mempertahankan kedua prinsip ini di dalam menjalankan panggilannya seperti kaum Calvinis.
 
Pemahaman kaum Calvinis yang komprehensif terhadap panggilannya yang bersifat paradoks di dunia ini turut mempengaruhi sikap mereka terhadap Alkitab. Alkitab bukan sekadar sebuah kitab yang memberi tahu seorang Calvinis bagaimana ia dapat diselamatkan. Baginya, Alkitab adalah kitab dari Allah, yang berbicara kepadanya dalam setiap halaman dan memberi tahu dia akan segala rancangan dan tujuan Allah yang berdaulat bukan hanya dalam kaitan dengan keselamatannya, tetapi juga dengan kewajibannya dalam setiap bidang kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian, teknologi, ilmu pengetahuan, pendidikan, keluarga dan sebagainya.66.
Ibid., h.82.
 
Kiranya melalui artikel ini, penulis dapat sedikit membantu membuka wawasan dunia orang-orang Kristen yang pesimistik terhadap upaya pengembangan aspek wilayah kehidupan di luar lingkup gerejawi. Cara pandang yang pesimistik terhadap tugas mandat budaya di tengah realita dunia yang berdosa ini, khususnya di Indonesia sekarang ini, sadar atau tidak sadar merupakan bibit penyangkalan terhadap kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta. Selain itu, pihak yang akan dituntut pertanggungjawabannya paling besar oleh Allah kelak karena membiarkan berkembang luasnya pemikiran sekuler non-kristen menguasai kebudayaan seperti yang terjadi di masa sekarang ini, adalah kita orang-orang Kristen yang bukan hanya telah dianugerahi keselamatan, tetapi juga kebenaran ilahi. Marilah kita sambut perayaan Natal 2009 dan siap memasuki Tahun Baru 2010 dengan suatu cara pandang atau wawasan dunia baru yang dapat memampukan kita melampaui batas-batas kedirian kita agar bermanfaat bagi kepentingan publik seperti halnya gerakan-gerakan Calvinisme sebelumnya sebagai bagian dari tugas mandat budaya Kristen. Soli Deo Gloria!!
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ Randy Ludwig Pea ]
Persekutuan Studi Reformed
 
Notes.
 
1
Henry Meeter, Pandangan-pandangan Dasar Calvinisme (terj.), (Penerbit Momentum : Surabaya, 2005), h. 10.
2
Ibid.,h. 11.
3
Ibid., h. 11-12.
4
Ibid.,h. 41-42.
5
Ibid.
6
Ibid., h. 82.