KERUSAKAN TOTAL dan ANUGERAH TUHAN
_oOo_
 
 
Kej. 2:16-17
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”.
 
Kej. 3:6
Perempuan itu melihat , bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia dan suaminyapun memakannya.
 
Kej. 3:12
Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan”.
 
 
Pendahuluan
 
Sungguh tidaklah mengherankan, sering kali kita menemukan seseorang yang kelihatannya begitu baik, hidup sesuai dengan norma agama yang diyakininya, dan menjalankan ibadah agamanya dengan taat, tetapi tiba-tiba “menjual” Tuhan-nya hanya demi untuk pasangannya atau demi harta kekayaan. Atau seorang anak kecil yang dengan pandainya membohongi orang tuanya, misalnya dengan cara menangis sekeras-kerasnya agar orang tuanya mau memenuhi semua keinginannya. Demikian halnya dengan kita, terkadang kita juga pernah melakukan suatu kebohongan-kebohongan “kecil” yang tanpa disadari kita menganggapnya hanya suatu hal yang biasa dan dalam batas kewajaran, namun tidak menutup kemungkinan kita akan menganggapnya bukan sebuah dosa. Contoh lainnya, ketika kita berada pada situasi yang mengancam misalnya adanya permasalahan di dalam pekerjaan, terkadang kita tidak mau dipersalahkan dalam masalah tersebut, sehingga dengan bermacam cara dan alasan kita mulai melempar kesalahan tersebut kepada orang lain. Dari beberapa contoh di atas, kini kita menyadari satu hal bahwa konsekuensi dari kejatuhan manusia dalam dosa begitu telah merusak seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia mengalami kerusakan total.
 
Kerusakan total (Total Depravity) merupakan salah satu point dari ajaran 5 (lima) pokok Calvinisme. Kata “kerusakan total” sepertinya sudah menjadi sebuah kata yang menakutkan dan membuat resah bagi sebagian orang, karena kata ini seringkali dipahami dengan salah. Kata ini seringkali ditafsirkan dengan bahwa manusia seolah-olah tidak punya harapan lagi untuk bisa berbuat baik atau tidak ada lagi kebaikan di dalam diri manusia. Manusia selalu berbuat kejahatan, bahkan bisa betindak dengan sejahat-jahatnya.
 
Kerusakan Total (Total Depravity)
 
Tujuan Allah menciptakan manusia pertama adalah agar manusia memuliakan-Nya. Allah menciptakan manusia pertama, Adam, untuk tidak dibiarkan hidup sendiri, itu sebab Dia menciptakan Hawa yang akan menjadi pendamping sekaligus penolong yang sepadan baginya. Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di Taman Eden sebagai tempat mereka bernaung hidup. Taman itu juga akan menjadi sumber dari kehidupan mereka. Taman itu dilalui oleh empat aliran sungai, sehingga tidaklah mengherankan jika kehidupan di sekitarnya begitu melimpah. Manusia ditempatkan di taman itu untuk bekerja mengusahakan dan memeliharanya. Dengan demikian, bekerja sesungguhnya merupakan suatu tanggung jawab yang Allah bebankan kepada manusia. Sebelum kejatuhan, manusia diberikan Tuhan kemampuan dan kemauan untuk bekerja melakukan seluruh pekerjaan yang Tuhan perintahkan dengan baik, yang semuanya pada akhirnya bertujuan hanya untuk kemuliaan-Nya. Tuhan juga memberikan segala sesuatu yang ada di taman itu untuk dikuasai, dikelola dan dipelihara agar manusia dapat memperoleh semua yang diperlukan manusia untuk kehidupannya. Ketika Tuhan menempatkan manusia di taman itu, Tuhan juga memberikan kehendak bebas (free will) kepada manusia. Namun kehendak bebas itu tidak pernah bertujuan untuk membuat manusia bisa berbuat segala sesuatu dengan sebebas-bebasnya sekehendak hatinya, tetapi Tuhan tetap memberikan suatu batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan itu bisa berbentuk perintah yang harus ditaati atau berupa larangan yang tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan yang Tuhan tetapkan sesungguhnya tidak pernah bermaksud untuk mengekang kebebasan manusia, tetapi ingin menunjukkan bahwa manusia bukanlah pusat dari semuanya. Kehendak bebas manusia dan batasan Tuhan dengan jelas dinyatakan ketika Tuhan memberi perintah kepada Adam dan Hawa bahwa semua buah pepohanan yang ada di dalam taman itu boleh mereka makan dengan bebas, tetapi Tuhan melarang mereka memakan pohon pengetahuan yang baik dan jahat di tengah taman itu, karena pada waktu mereka memakannya, maka mereka pasti mati (Kej. 2:16-17).
 
Namun apa yang terjadi, ketika Adam berusaha mencari kebenaran tanpa takluk kepada Firman Tuhan, maka Adam jatuh dalam dosa dan secara total berada di dalam kesalahan. Ketika Adam meletakkan otoritas Allah di bawah otoritasnya, maka Adam menganggap perbuatan yang di lakukannya itu bukanlah suatu hal yang dilakukannya secara nyata atau aktif, tetapi merupakan sesuatu yang memang inheren di dalam penciptaan itu sendiri. Dengan kata lain, ia menganggap kejatuhannya merupakan bagian dari karya penciptaan Allah dimana ia melemparkan kesalahannya itu kepada Tuhan Pencipta. Inilah yang disebut dengan Kerusakan Total. Adam yang tidak taat dan takluk pada otoritas Allah, dan bahkan menganggap kebenaran itu berasal dari dirinya sendiri, telah jatuh dalam dosa. Kejatuhannya mengakibatkan seluruh keturunannya juga ikut terkontaminasi dan mewarisi dosanya, termasuk anak yang masih di dalam kandungan ibunya.
 
Sikap hati yang jahat telah menggambarkan betapa mengerikannya konsekuensi dari kejatuhan manusia dalam dosa. Seluruh aspek dari kehidupan manusia, baik itu kehendak, rasio, hati, tubuh dan jiwa manusia, telah tercemar. Apakah ini berarti bahwa manusia bisa menjadi manusia sejahat-jahatnya dan sama sekali tidak ada kebaikan di dalam dirinya? Tidak! Karena Tuhan masih memberikan anugerah umum kepada manusia. Tuhan masih memberikan hati nurani kepada manusia untuk menahan kejahatannya sedemikian rupa sehingga manusia tidak bertindak sejahat-jahatnya seperti binatang. Meskipun kita menyadari juga bahwa kejahatan akan tetap ada dan mungkin akan terus berkembang, tetapi kita percaya pemeliharaan Tuhan tetap ada dan dinyatakan.
 
Sebelum kejatuhan manusia mempunyai kemampuan untuk berbuat baik, tetapi ketika jatuh manusia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk berbuat baik, karena kini kecenderungan hatinya akan selalu membuahkan kejahatan (Kej. 6:5). Dengan demikian, kita menyadari bahwa kerusakan total inilah yang menjadi sumber dari seluruh permasalahan yang terjadi di dalam dunia ini. Seorang manusia yang membenci Allah pasti juga akan membenci makhluk sesamanya karena manusia merasa tidak perlu lagi tunduk kepada Allah. Kenakalan remaja, pertikaian, huru-hara, pencurian, korupsi, penyelewengan, pemakaian narkoba, atau bentuk kejahatan lainnya kini menjadi realita dari kerusakan total manusia.
 
Dengan realita ini, manusia tidak mungkin dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang timbul dengan tuntas. Ketika akan mencoba menyelesaikan masalah yang satu, maka akan timbul masalah yang lain. Contohnya, seorang anak yang melakukan kesalahan terhadap orang tuanya, dengan berbagai cara mereka akan berusaha untuk melepaskan diri dari hukuman tersebut, misalnya dengan melakukan kebohongan. Apabila hal itu terus dilakukan, maka anak itu akan melakukan kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
 
Penutup
 
Melalui pemahaman kita mengenai kerusakan total ini, seharusnya menyadarkan kita akan betapa dasyatnya dosa dan akibat yang ditimbulkannya. Kita juga harus menyadari betapa dalamnya kita telah jatuh dan betapa dalamnya kasih Allah yang dinyatakan kepada kita. Kita tidak akan mungkin melepaskan diri dari belenggu dosa, jika bukan Tuhan sendiri yang melakukannya. Hanya oleh anugerah-Nya lah kita dilepaskan, ditebus dan diselamatkan. Biarlah melalui perenungan ini membuat kita lebih taat lagi mengerjakan panggilan-Nya, memberitakan Injil keselamatan kepada yang belum percaya supaya mereka juga ikut berbagian di dalam keselamatan yang Tuhan anugerahkan.
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ Eva Paula Siburian ]
Persekutuan Studi Reformed