Tanah Perjanjian: Dipersiapkan Allah
Bagi Anak-Nya Yang Tunggal
_oOo_
 
 
Mikha 5:1
“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”
 
 
Ayat di atas merupakan nubuat Nabi Mikha akan lahirnya seorang Juruslamat,Yesus Kristus, bagi manusia di tengah-tengah bangsa Israel. Mengapa Kristus lahir di Tanah Perjanjian dan berstatus sebagai seorang Yahudi? Mengapa Kristus lahir pada saat bangsa Israel tidak berkuasa penuh atas Tanah Perjanjian, melainkan pada masa penaklukan bangsa Romawi?
 
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita harus memahami cara pandang yang benar terhadap bangsa Yahudi dan Tanah Perjanjian. Dalam memandang keduanya sangat penting bagi kita untuk tidak pernah lepas dari tokoh utama yang menjadi pusat cerita dari keseluruhan Alkitab, yaitu Yesus Kristus.
 
Tanah Perjanjian menurut sejarahnya adalah sebuah tempat yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya untuk dikuasai dan didiami selamanya. Abraham mendapatkan janji dari Allah bahwa ia dan keturunannya akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa di seluruh dunia, namun hal tersebut harus dipahami dalam konteks misi Allah untuk menyatukan kembali diri-Nya dengan ciptaan-Nya setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Tanah perjanjian dengan segala karakteristik alam dan letak geografisnya, didesain untuk mendukung maksud dan tujuan Allah. Letak geografisnya sebagai wilayah yang menghubungkan tiga benua memiliki arti yang cukup strategis dalam sejarah penebusan umat manusia dan penyebaran ajaran-ajaran Kristus.
 
Pada saat kedatangan-Nya ke dunia, Kristus memiliki musuh yang cukup banyak. Akan tetapi ada tiga musuh utama Kristus yang cukup menonjol yaitu Kaisar Romawi, Herodes dan para pemuka agama Yahudi. Pada kesempatan kali ini, penulis hanya akan membahas hal yang berkaitan dengan klaim atas Tanah Perjanjian oleh ketiga musuh Kristus tersebut. Kita akan melihat siapa sebenarnya yang paling berhak atas Tanah Perjanjian.
 
Pada masa kekaisaran Romawi, kaisar mendapat perlakuan yang cukup mulia dari rakyatnya dan bahkan sudah dianggap sebagai dewa. Kerajaan Romawi sebagai penguasa dan penakhluk banyak kerajaan di dunia pada masa itu, juga membuat hukum atas seluruh aspek kehidupan di wilayah yang dikuasainya. Romawi membangun kuil-kuil tempat ibadah mereka dan membangun kota jajahannya sesuai dengan konsep dan kehendak kaisar. Sebagai salah satu wilayah yang ditaklukkan oleh Romawi, Tanah Perjanjian, juga tidak lepas dari hal tersebut. Pada masa Kristus, hukum Romawi menguasai seluruh aspek kehidupan bangsa Yahudi dan secara langsung juga mempengaruhi kelahiran, kehidupan, kematian dan pelayanan Kristus.
 
Walaupun Tanah Perjanjian dalam penguasaan Romawi, Kristus tidak pernah sedikitpun dikuasai oleh Kaisar Romawi. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah memerintah dan berdaulat penuh atas bumi dan surga. Hal ini tidak bisa ditolak oleh manusia sekeras apapun usaha yang dibuat. Allah tidak pernah, dalam keadaan apapun, melepaskan kekuasaan-Nya atas seluruh ciptaan dan memberikannya kepada seorang manusia. Dia bisa berbuat apapun sesuai kehendak-Nya dan tidak ada seorangpun di antara manusia di bumi ini yang mampu mencegahnya (Dan. 4:35). Maka sekarang kita dapat mempertanyakan, apakah Kaisar Romawi sungguh berkuasa atas Tanah Perjanjian terutama pada saat Kristus lahir di Betlehem? Semasa kehidupan Kristus di dunia, kerajaan yang sangat besar ini selalu gusar dan memiliki niat jahat untuk melawan kekuasaan Allah dan Anak-Nya. Namun pada akhirnya, Romawi harus mengakui bahwa Kristus telah memenangkan pertempuran itu karena banyak orang di wilayah kekuasaan Romawi mengikuti, mengelu-elukan dan menyembah Dia dan tidak lagi menyembah kaisar.
 
Herodes memerintah pada masa kelahiran Kristus dan memiliki pengaruh dan kekuasaan yang cukup besar atas Tanah Perjanjian. Herodes membangun banyak sekali bangunan-bangunan yang cukup tinggi sebagai tempat untuk berlindung dari para musuhnya. Pada saat kelahiran Yesus, Herodes mendapat masukan dari para penasehatnya agar membunuh setiap bayi yang baru lahir. Hal itu dilakukan karena ada kekhawatiran bahwa Yesus, Raja yang diurapi itu, akan datang merebut takhta kerajaannya. Namun sampai pada akhir hidupnya Herodes tidak pernah berhasil membunuh Yesus. Namun sebaliknya, Yesus dan para pengikut-Nya bisa bebas berpergian ke wilayah-wilayah kekuasaan Herodes termasuk Tanah Perjanjian.
 
Musuh Yesus yang ketiga adalah para pemuka agama Yahudi. Bangsa Israel pada masa kekuasaan Romawi tetap tidak mau melepaskan kedaulatan untuk menentukan nasib mereka sendiri terutama dalam urusan kepercayaan Yahudi. Kepentingan para pemuka agama Yahudi dan cara pandang bangsa Yahudi akan Tanah Perjanjian telah berbenturan dan menimbulkan konflik dengan maksud dan tujuan Allah melalui kelahiran Kristus. Dalam Yohannes 11:48, digambarkan bagaimana pandangan para pemimpin Yahudi mengenai pelayanan Yesus dalam hubungannya terhadap kedaulatan mereka dalam menentukan nasib bangsa Yahudi. Dalam bahasa aslinya, ayat tersebut lebih memberi penekanan pada kata ganti kepemilikan: “tempat suci kita dan bangsa kita akan diambil oleh bangsa Romawi oleh karena Dia.” Oleh karena merasa “paling berhak” itulah, mereka (pemimpin Yahudi) harus menyalibkan-Nya demi menyelamatkan Tanah Perjanjian jatuh ke tangan Romawi sekaligus untuk menyelamatkan ajaran agama Yahudi dari pengaruh Yesus. Bangsa Yahudi merasa paling berhak atas Tanah Perjanjian oleh karena dalam pemahaman mereka, hak tersebut merupakan konsekuensi dari janji yang diberikan oleh Allah kepada Abraham dan keturunannya. Tanah Perjanjian harus dikuasai dan didiami oleh bangsa Yahudi dari generasi ke generasi sampai selama-lamanya. Mereka sungguh tidak memahami maksud dan tujuan Allah dalam satu rangkaian cerita yang cukup panjang untuk mempersiapkan sebuah tempat bagi kedatangan Anak-Nya, Yesus Kristus, yang membawa misi untuk menebus dosa manusia dan membangun Kerajaan-Nya di dunia.
 
Pada masa pelayanan-Nya di dunia, Kristus membuktikan kebenaran akan kekuasaan-Nya atas Tanah Perjanjian. Hal ini bisa dilihat mulai dari kabar akan kelahiran-Nya di Betlehem yang membuat gentar hati Herodes dan kerajaannya. Kemudian juga kota Nazareth, tempat Ia dibesarkan dan tempat dimana untuk pertaman kalinya membuka rahasia akan maksud dan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Padang gurun Yudea dan sungai Yordan juga menjadi saksi betapa kebesaran Kristus diperlihatkan secara jelas dan nyata kepada bangsa Yahudi oleh Yohanes Pembaptis dan bahkan oleh Allah sendiri! (Luk. 3:16,22). Demikian pula kota-kota lain seperti Yerusalem, Samaria, Kapernaum, Galilea dan seterusnya yang telah dijelajahi Kristus dalam rangka menjalankan misi-Nya untuk menunjukkan kepada seluruh manusia bahwa Allah telah mempersiapkan Tanah Perjanjian bagi Dia, karena dari tempat inilah Kristus membangun Kerajaan Allah di seluruh dunia dan seluruh umat manusia menyembah-Nya untuk selama-lamanya.
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ David M. Siambaton ]
Persekutuan Studi Reformed