Hukuman Tuhan vs Didikan Tuhan
_oOo_
 
 
Ibrani 12-5
“Jangan anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya”
 
 
Sangatlah penting bagi kita untuk dapat membedakan dengan jelas antara hukuman Tuhan dan didikan Tuhan. Perbedaannya sangat sederhana, tetapi sering kali dilupakan. Umat Allah tidak akan pernah dihukum atas segala dosa mereka, karena Allah telah menghukumnya melalui kematian Yesus di kayu salib. Tuhan Yesus yang menggantikan kita, menanggung hukuman sepenuhnya atas kesalahan kita.
 
Keadilan dan kasih Allah tidak akan membiarkan kita melakukan pembayaran atas dosa-dosa kita sendiri. Hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena yang bisa melakukannya hanya Yesus Kristus.
 
Berikut adalah 3 (tiga) perbedaan antara hukuman Allah dan didikan Allah, antara lain:
 
  1. Peran Allah dalam melakukan hukuman dan didikan. Saat memberi hukuman Allah bertindak sebagai Hakim dan saat memberi didikan Allah bertindak sebagai Bapa. Menjatuhkan hukuman merupakan tindakan yang dilakukan sebagai seorang hakim. Hukuman tidak akan pernah dijatuhkan pada anak-anak Allah dalam pengertian yudisial, karena seluruh dosa mereka telah ditanggung oleh Yesus Kristus. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1 Pet. 2:24). Akan tetapi, meskipun dosa kita sebagai orang percaya tidak akan dihukum, namun kita akan tetap mengalami didikan Tuhan. Sebagai orang Kristen, kita memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan dengan orang yang belum percaya. Kita adalah anggota keluarga Allah dan hubungan yang terjadi antara kita dan Allah adalah hubungan antara anak dan orang tua. Sebagai seorang anak, kita harus didisiplinkan ketika kita melakukan pelanggaran.
     
  2. Para penerima hukuman dan didikan. Yang menjadi sasaran hukuman-Nya adalah musuh-musuh-Nya, sedangkan yang menerima didikan-Nya adalah anak-anak-Nya. Sebagai Hakim atas dunia ini, Allah akan membalaskan semua kejahatan musuh-Nya. Sebagai Bapa dalam keluarga-Nya Allah menerapkan disiplin terhadap semua anak-Nya. Yang pertama bersifat yudisial, yang kedua bersifat sebagai orang tua.
     
  3. Tujuan hukuman dan didikan. Tujuan dari hukuman adalah balasan yang setimpal dari kejahatan yang dilakukan, sedangkan didikan diberikan untuk memperbaiki. Hukuman muncul karena kemarahan-Nya, sedangkan didikan muncul karena kasih-Nya. Hukuman Allah tidak pernah dimaksudkan untuk mendatangkan kebaikan bagi para pendosa, tetapi mendatangkan penghormatan terhadap hukum-hukum Allah dan menegakkan pemerintahan-Nya. Akan tetapi didikan diberikan untuk mendatangkan kesejahteraan bagi anak-anak-Nya.
 
Ketiga perbedaan di atas seharusnya menjadi pegangan atau pedoman bagi setiap kita sebagai orang Kristen. Ketika kita sedang dipukul oleh tongkat Allah kiranya kita tidak berkata bahwa Allah sedang menghukum kita karena dosa-dosa kita. Hal ini tidak boleh terjadi. Ketika didikan itu datang, Allah sedang memperbaiki kita dalam kasih, bukan memukul kita dalam kemurkaan-Nya. Didikan berawal dari kebaikan dan kesetian-Nya yang merupakan salah satu berkat terbesar yang patut kita syukuri. Didikan membuktikan keberadaan kita sebagai anak Allah yang dikasihi.
 
Selamat Natal 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati.
 
[ Ellya Rosa N. Siregar ]
Persekutuan Studi Reformed