Kristus adalah Pahlawan Ilahi
 
(Christ is The Divine Warrior)
 
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Di dalam pendekatan Biblical Theology, Alkitab dipahami secara organis, artinya pewahyuan Allah disingkapkan secara progresif (progresif revelation), dimulai dari Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru yang seluruh penggenapan dan kepenuhannya menuju pada satu titik, yaitu pribadi Yesus Kristus. Ini berarti bahwa Kristuslah yang menjadi telos atau tujuan utama dari seluruh pewahyuan Alkitab. Itu sebabnya tema utama Alkitab tidak bisa dilepaskan dari apa yang Kristus kerjakan di dalam sejarah, yaitu karya penebusan yang dikerjakan-Nya melalui karya kematian dan kebangkitan-Nya untuk menebus orang berdosa. Dengan pemahaman ini, kita dapat mengatakan bahwa Alkitab adalah “the story of Jesus Christ” dengan tema utama “the story of redemption”.
 
Pendahuluan
 
Di dalam sejarah bangsa Israel, tema peperangan (war) dan pahlawan perang (warrior) menjadi tema sentral di dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Lama. Dengan menggunakan pendekatan Biblical Theology, tema ini tidak hanya dipahami hanya sebagai suatu peristiwa sejarah (historical event) yang terjadi di dalam sejarah Israel di mana TUHAN/Yahweh bertindak sebagai pahlawan Ilahi (Divine Warrior) yang memimpin umat-Nya itu di dalam peperangan melawan musuh-musuhnya, membebaskan dan memberikan kemenangan bagi mereka, tetapi juga harus dipahami sebagai sebuah bayang-bayang (foreshadow) dari Kristus yang bertindak sebagai pahlawan Ilahi bagi umat pilihan-Nya. Kristus sebagai pahlawan Ilahi bukan berperang melawan musuh-musuh Israel secara fisik, tetapi berperang secara spiritual melawan belenggu kuasa dosa. Itu semua dilakukan-Nya melalui karya kematian dan kebangkitan-Nya di kayu salib. Oleh karena itu, tema pahlawan Ilahi tidak dapat dilepaskan dari cerita penebusan (the story of redemption).
 
Konsep Holy War dalam Perjanjian Lama
 
Di dalam perjanjian lama, kita melihat bagaimana perjalanan bangsa Israel tidak dapat dilepaskan dari sebuah peperangan, di mana Israel harus terus berperang melawan musuh-musuhnya. Di dalam konsep pemikiran mereka, seluruh kehidupan yang mereka jalani bersifat religius, begitu pula halnya dengan peperangan. Peperangan menjadi suatu yang bersifat religius karena mereka sadar bahwa peperangan itu sendiri adalah inisiatif TUHAN dan bagi mereka yang berperang adalah TUHAN sendiri.
 
Tremper Longman III dan Daniel G. Reid di dalam bukunya God is a Warrior, membagi konsep Holy War ke dalam tiga bagian yaitu: sebelum peperangan (before the war), selama di dalam peperangan (during the war) dan setelah peperangan (after the war).
 
Berikut adalah penjelasan untuk ketiga bagian tersebut:
 
  1. Sebelum peperangan
     
    Holy war selalu merupakan inisiatif dari Yahweh, bukan Israel. Itu sebabnya ketika Israel akan berperang, ada beberapa hal yang perlu mereka perhatikan antara lain:
     
    Pertama, mereka harus mencari kehendak TUHAN. TUHAN tidak akan memberikan jaminan kemenangan ketika Israel bertindak seturut dengan kehendak mereka sendiri. Ada dua cara bagaimana TUHAN menyatakan kehendak-Nya di dalam mengarahkan Israel maju ke medan peperangan, yaitu: melalui pengantara perjanjian (Covenant Mediator). Contoh paling jelas adalah pada peristiwa penaklukkan tanah Kanaan di mana TUHAN menyatakan kehendak-Nya dengan memerintahkan Musa yang berperan sebagai pengantara perjanjian untuk menumpas habis bangsa Kanaan (Ul. 7:1-2). Selain itu, TUHAN juga menyatakan kehendak-Nya melalui petunjuk yang Dia nyatakan kepada pemimpin dalam peperangan. Contohnya: ketika orang Filistin berperang dan melakukan penjarahan di kota Kehila, Daud sebagai pemimpin dalam peperangan bertanya dan meminta petunjuk dari TUHAN, apakah dia harus berperang melawan Filistin dan menyelamatkan kota Kehila? TUHAN menjawab, “Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkan Kehila” (1 Sam. 23:1-6).
     
    Kedua, mereka harus melakukan persiapan rohani (spiritual preparation). Oleh karena dalam pemahaman bangsa Israel bahwa peperangan merupakan sesuatu yang bersifat religius, di mana Allah juga hadir di dalam peperangan itu, maka mereka harus melakukan persiapan rohani. Contohnya: pada saat setelah Daud menghamili Betsyeba, istri Uria, dia menyuruh Uria untuk pulang ke rumahnya agar dapat meniduri istrinya Betsyeba, namun Uria menolaknya. Penolakan yang dilakukan Uria didasarkan atas perlunya persiapan rohani sebelum maju ke medan peperangan. Pemahaman ini dipegang oleh Uria di dasarkan pada Kitab Imamat 15:16-18 yang berbicara tentang tradisi pada saat itu di mana ketika laki-laki dan perempuan melakukan persetubuhan, maka mereka berdua dianggap najis (uncleanness) sampai periode tertentu. Oleh kerena itu mereka membutuhkan satu periode tertentu di mana mereka harus melakukan ritual pembersihan untuk memulihkannya. Penolakan Uria ini dilakukannya agar ia dapat kembali melanjutkan peperangan.
     
  2. Selama peperangan
     
    Salah satu aspek terpenting dalam holy war adalah relasi antara TUHAN dan bangsa Israel. Mereka meyakini bahwa ketika berperang mereka melawan musuh-musuhnya, TUHAN hadir ditengah-tengah mereka. TUHAN sendiri yang akan berperang bagi mereka dan memberikan kemenangan. Itu sebabnya mereka tidak perlu kuatir dengan minimnya jumlah tentara dan peralatan perang yang mereka miliki, karena mereka berperang bukan dengan kekuatan mereka sendiri, tetapi dengan kekuatan dan kebesaran TUHAN. Gambaran dramatis mengenai hal ini terjadi pada cerita Daud berhadapan muka dengan muka melawan Goliat. Dengan kekuatan dan peralatan yang terbatas, sangat jauh berbeda dengan apa yang dimiliki Goliat, Daud berperang. Dan dengan kekuatan TUHAN, Daud berhasil membunuh Goliat. Kemenangan Daud adalah kemenangan TUHAN, karena TUHAN sendirilah yang berhadapan langsung dan berperang (1 Sam. 17:45-47).
     
    Pada saat bangsa Israel berada di medan peperangan, mereka berbaris sambil menyanyikan pujian pengagungan kepada TUHAN. 2 Tawarikh 20:20-23 menggambarkan hal ini di mana tentara Israel terus memuji TUHAN dengan berseru, “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (2 Taw. 20:21).
     
    Relasi TUHAN dengan Israel di dalam peperangan juga dinyatakan dengan kehadiran TUHAN di tengah-tengah mereka. Oleh karena TUHAN adalah roh yang tidak kelihatan (invisible spirit), kehadiran-Nya dinyatakan melalui simbol-simbol dan salah satunya adalah tabut perjanjian. Ketika mereka berada di medan peperangan, tabut perjanjian harus selalu dibawa dan berada di dekat mereka sebagai tanda kehadiran TUHAN di tengah-tengah mereka.
     
  3. Setelah peperangan
     
    Ketika TUHAN berperang melawan musuh-musuh Israel dan memberikan kemenangan, salah satu respon yang mereka lakukan adalah menyanyikan pujian kemenangan itu. Salah satu contoh gambaran atas hal ini adalah ketika Musa memimpin bangsa Israel menyanyikan pujian kepada TUHAN setelah kemenangan mereka atas kekuatan tentara Mesir di Laut Teberau (Kel. 15:1-21). “Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Keluaran 15:1). Contoh lainnya dapat dilihat pada Hakim-Hakim pasal 4 dan 5 yang menceritakan kemenangan bangsa Israel yang dipimpin oleh Debora dan Barak melawan Yabin, raja Kanaan, beserta panglima tentaranya, Sisera. Setelah kemenangan itu, Debora dan Barak bernyanyi bagi TUHAN. “Dengarlah, ya Raja-raja! Pasanglah telingamu, ya pemuka-pemuka! Kalau aku, aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN, Allah Israel. TUHAN ketika Engkau bergerak dari Seir, ketika Engkau melangkah maju dari daerah Edom, bergoncanglah bumi, tirislah juga langit, juga awan tiris airnya; gunung-gunung - yakni Sinai - bergoyang di hadapan TUHAN, Allah Israel.” (Hak 5:3-5).
 
Tremper Longman III dan Daniel G. Reid dalam buku yang sama berkata demikian:
 
 
If the battles were divinely willed holy war, the conclusion was certain. God would deliver the enemy “into the hands” of Israel. The only proper response, upon recognition that victory was God’s gift to his people, was praise. The primary vehicle for that praise was song.
 
(Tremper Longman III & Daniel G. Reid, “God is a Warrior,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1995, p. 43)
 
 
Image Pahlawan Ilahi di dalam Perjanjian Lama
 
Gambaran tema pahlawan Ilahi di dalam Perjanjian Lama tidak dapat dilepaskan dari latar belakang konseptual holy war di dalam sejarah bangsa Israel. Patrick D. Miller di dalam bukunya The Divine Warrior in Early Israel, yang dikutip oleh Bruce K. Waltke dan Charles Yu di dalam bukunya an Old Testament Theology, mengatakan demikian:
 
 
The conception of God as warrior played a fundamental role in the religious and military experience of Israel….One can only go so far in describing the history of Israel, or its religion, or the theology of the Old Testament without encountering the wars of Yahweh. In prose and poetry, early and late material alike, the view that Yahweh fought for or against his people stands forth prominently. The centrality of the conviction and its historical, cultic, literary, and theological ramifications can hardly be overestimated.
 
(Bruce K. Waltke with Charles Yu, “an Old Testament Theology,” Grand Rapids: Zondervan, 2007, p. 394)
 
 
Berikut ini kita akan melihat salah satu bagian dari Alkitab Perjanjian Lama di dalam kitab Keluaran khususnya pada pasal 14 dan 15 yang secara jelas berbicara mengenai tema ini:
 
  1. Keluaran 14:14
    “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja”
     
    Bagian ini diawali dengan sebuah narasi ketika bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa lari keluar dari perbudakan Mesir. Di tengah pelarian tersebut, tentara Firaun beserta peralatan perang yang dimilikinya terus mengejar mereka hingga pada suatu waktu tentara Firaun semakin mendekati mereka. Di dalam situasi ini, ketakutanlah bangsa itu dan berseru kepada TUHAN. Mereka berkata kepada Musa dengan keluhan, lebih baik mereka kembali ke Mesir dan bekerja di sana daripada harus mati di padang gurun. Kemudian Musa meneguhkan mereka dengan berkata, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Frase “TUHAN akan berperang” di dalam konteks ini mengindikasikan originalitas dari konsep TUHAN sebagai pahlawan ilahi.
     
  2. Keluaran 15:2-3
    “TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah Bapaku, kuluhurkan Dia. TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya”.
     
    Bagian ini merupakan sebuah nyanyian kemenangan yang diserukan oleh Musa dan bangsa Israel ketika mereka terlepas dari cengkeraman tangan Firaun, Raja Mesir, yang telah memperbudak mereka. Nyanyian ini di latar belakangi oleh sebuah peristiwa besar dan dramatis ketika TUHAN menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran tentara Firaun di tengah-tengah Laut Teberau. Dengan mengulurkan tangannya ke atas laut, Musa membelah air laut itu hingga menjadi tempat kering dan bangsa Israel dapat berjalan melewatinya. Ketika tentara Firaun dengan kereta kudanya mencoba mengejar mereka sampai di tengah-tengah laut itu, maka atas perintah TUHAN, Musa kembali mengulurkan tangannya ke atas laut, maka berbaliklah air laut itu dan menenggelamkan tentara Firaun beserta kereta kudanya (Kel. 14:15-31). Sangat jelas, nyanyian Musa ini merupakan suatu nyanyian yang hanya ditujukan kepada TUHAN yang bertindak sebagai pahlawan Ilahi yang telah membebaskan dan memberikan kemenangan bagi mereka. NIV The Spirit Reformation Study Bible di dalam tafsirannya menggambarkan peristiwa kemenangan besar dan nyanyian Musa ini dengan berkata demikian,
     
     
    The poem in verses 1-18 is a victory song expressed in the first person singular as a song of Moses. It celebrates the Lord’s majestic power in saving Israel at the sea (vv. 1-12) and claims his power in planting Israel in the land (vv. 13-18). The song contains many archaic expression.
     
    (“NIV Spirit Reformation Study Bible,” Grand Rapids: Zondervan, 2003, p. 120)
     
 
Peter Enns di dalam salah satu tafsirannya, The NIV Application Commentary:Exodus, menyatakan nyanyian Musa di dalam Kitab Keluaran 15 ini sebagai “Nyanyian Penebusan” (song of redemption) atas tindakan pembebasan yang TUHAN kerjakan (the act of deliverance). Enns mengatakan,
 
 
Singing is what God’s people do in respon to what He has done for them. Many of Psalm, for example, praise God not in the abstract but for some concrete act of deliverance, whether on a personal or a national level. Exodus 15, however, is not just another psalm. It differs in that it occurs in a narrative context. It is a break in the action, so to speak- a hymnic interlude in the mids of a story of deliverance.
 
(Peter Enns, “The NIV Application Study Bible,” Grand Rapids: Zondervan, 2000, p. 307)
 
 
Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat dengan jelas bahwa tema TUHAN sebagai pahlawan Ilahi tidak dapat dilepaskan dari tindakan penebusan (the act of redemption) yang dikerjakan TUHAN sendiri bagi umat-Nya.
 
Kristus adalah Pahlawan Ilahi melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya
 
Pada pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tema pahlawan Ilahi di dalam Perjanjian Lama berkaitan erat dengan tindakan penebusan yang dikerjakan TUHAN bagi umat-Nya. Tindakan penebusan itu dengan jelas dinyatakan melalui tindakan TUHAN yang memimpin umat-Nya masuk ke medan peperangan, berperang melawan musuh-musuh Israel secara fisik dan memberikan kemenangan bagi mereka.
 
Motif peperangan ini secara progresif juga dinyatakan di dalam Perjanjian Baru, namun bukan lagi dalam pengertian peperangan secara fisik tetapi peperangan secara rohani atau spiritual melawan kuasa dosa atau kuasa-kuasa rohani yang bermusuhan dengan Allah. Figur pahlawan Ilahi di Perjanjian Lama hanya bayang-bayang dari figur pahlawan Ilahi sejati di Perjanjian Baru yang akan digenapkan dalam diri Yesus Kristus melalui kedatangan-Nya di dalam dunia.
 
Kristus yang datang itu dipahami oleh bangsa Israel sebagai Mesias yang akan menjadi pemimpin militer yang gagah perkasa yang nantinya akan memimpin mereka di dalam peperangan melawan musuh-musuh Israel. Kristus, sang Mesias itu, nantinya akan dinobatkan menjadi pahlawan perang bagi mereka. Namun apa yang mereka pahami dan harapkan sangat berbeda dengan realita yang terjadi. Kristus tidak datang sebagai seorang pahlawan dengan kekuatan militer yang besar, tetapi Dia datang sebagai manusia yang akhir hidupnya harus menghadapi kematian di kayu salib Golgota. Pahlawan perang yang mereka nantikan dan harapkan itu ternyata mati di salib.
 
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tujuan kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah untuk menggenapi rencana keselamatan yang Allah Bapa tetapkan di dalam kekekalan. Kedatangan-Nya bukan untuk melepaskan Israel dari cengkeraman musuh-musuh politisnya tetapi untuk melepaskan umat-Nya dari cengkeraman belenggu kuasa dosa. Untuk dapat melepaskan belenggu ini, tidak ada cara lain selain melalui kematian-Nya di kayu salib. Namun demikian, kematian-Nya tidak akan berdampak apa-apa jika Ia tidak dibangkitkan. Kebangkitan-Nya adalah sebuah proklamasi kemenangan-Nya atas belenggu kuasa dosa atau kuasa maut. Rasul Paulus di dalam Surat 1 Korintus 15:54-57 menegaskan hal ini dengan mengatakan demikian: ... “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.
 
Kematian dan kebangkitan Kristus di kayu salib yang membuktikan kemenangan-Nya atas belenggu kuasa dosa menjadi gambaran Kristus sebagai pahlawan Ilahi. Gambaran ini dengan jelas terlihat di dalam Kolose 2:14-15: “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Tiga kata kerja yang digunakan Paulus dalam bagian ini sering dipakai dalam konteks militer atau peperangan yaitu: melucuti (stripped/apekdyomai/apekdysamenos), menjadikan tontonan (disgraced/edeigmatisen) dan kemenangan atas (triumphed over/ thriambeusas). Berikut penjelasan atas maksud penggunaan ketiga kata kerja ini khususnya di dalam konteks Kolose 2:14-15:
 
  1. Kristus “melucuti” (apekdysamenos) para pemerintah dan penguasa. Maksudnya ialah Kristus melucuti dari diri-Nya sendiri kekuatan-kekuatan musuh yang dengan erat berpegangan pada-Nya di kayu salib seperti melepaskan sebuah jubah.
     
    Pengunaan kata kerja “melucuti” (apekdysamenos) para pemerintah dan penguasa di Kolose 2:14 ini paralel dengan penggunaan kata “penanggalan” (apekdysis) akan tubuh yang berdosa di Kolose 2:11 dan kata “menanggalkan” (apekdysis) manusia lama di Kolose 3:9. J.B Lightfoot dalam bukunya St. Paul’s Epsitles to Colossians and Philemon, yang dikutip oleh Tremper Longman III dan Daniel G. Reid di dalam buku God is a Warrior, mengenai bagian ini berkata demikian,
     
     
    It is reasonable to assume tha Paul in Collosian 2:15 uses apekdyomai as a true middle, thus establishing a parallel between what Christ had done on the cross and what Christ had done on the cross and what was also to be true of Christian experience. Christ did not strip the powers, divesting them of their weaponry or clothing; in dying on the cross, he stripped off the principalities and powers from Him self. In this way the cross was an instrument not of the shame but of triumph.
     
    (Tremper Longman III & Daniel G.Reid, “God is a Warrior,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1995, p. 148)
     
     
  2. Kristus “mempertontonkan” (edeigmatisen) para pemerintah dan penguasa di depan umum. Maksudnya ialah setelah menanggalkan otoritas para pemerintah dan penguasa, Kristus mempertontonkan ketidakberdayaan mereka sekaligus mempermalukan mereka di hadapan dunia.
     
  3. Kristus “menang” (thriambeusas) atas para pemerintah dan penguasa di depan umum. Maksudnya ialah kemenangan Kristus digambarkan sama seperti prosesi kemenangan Romawi kuno di mana jenderal dan tentaranya yang menang didahului oleh para tawanan perang yang berbaris di sepanjang kota Roma untuk merayakan keberhasilan mereka.
 
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penobatan Kristus sebagai pahlawan Ilahi dinyatakan melalui pengorbanan-Nya mati di kayu salib ketika Ia harus berperang melawan belenggu kuasa dosa dan kebangkitan-Nya menjadi bukti kemenangan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya inilah Kristus menebus dan melepaskan umat-Nya dari belenggu kuasa dosa. Namun demikian, kemenangan-Nya itu akan mencapai kepenuhannya di dalam kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai raja yang akan memerintah untuk selama-lamanya.
 
Hidup Kristen adalah Sebuah Peperangan Rohani
 
Konsep pahlawan Ilahi yang termanifestasi di dalam kemenangan Kristus di kayu salib tidak dapat dilepaskan dari konsep “already/not yet” di dalam Theologi Perjanjian Baru. Melalui kebangkitan Kristus, kuasa dosa atau kuasa maut sudah ditaklukkan, namun belum mencapai kepenuhannya karena dosa masih ada dan merajalelala di dalam dunia meskipun kuasanya sudah dikalahkan. Kepenuhan dari kemenangan itu akan terealisasi di dalam kedatangan-Nya yang kedua kali. Itu sebabnya periode antara kedatangan-Nya yang pertama dan yang kedua mengakibatkan terjadinya ketegangan eskatologis oleh karena peristiwa salib Kristus.
 
Orang Kristen yang sudah berbagian di dalam kemenangan Kristus juga harus hidup di dalam ketegangan ini. Oleh karena itu, orang Kristen dipanggil untuk terus hidup di dalam sebuah peperangan rohani (spiritual war), berjuang bukan lagi melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). Perjuangan ini hanya dapat dilakukan ketika orang Kristen mengambil dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (the armour of God) yaitu: berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, kaki yang berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, menggunakan perisai iman untuk dapat memadamkan semua panah api dari si jahat dan menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh yakni Firman Tuhan. (Ef. 6:14-17).
 
Paulus menggunakan frase “senjata Allah” di dalam bagian ini mengacu pada senjata yang digunakan tentara Romawi ketika berperang. Dengan menggunakan frase ini yang mengekspresikan terminologi sebuah peperangan, Paulus ingin mengatakan bahwa hidup orang Kristen adalah sebuah peperangan rohani yaitu peperangan melawan keinginan daging yang tidak berkenan di hadapan TUHAN dan membawa kepada kebinasaan. Namun demikian, ketika TUHAN memanggil untuk berjuang di dalam peperangan itu, Dia juga akan menganugerahkan perlengkapan senjata Allah untuk menghadapinya.
 
Penutup
 
Kemenangan Kristus atas kuasa dosa dan kuasa maut melalui karya Kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa Kristus adalah seorang pahlawan Ilahi (Divine Warrior). Ketika TUHAN mengutus kita ke dalam dunia, Dia mengutus kita untuk masuk ke dalam medan peperangan. Tetapi puji TUHAN, sekarang kita memiliki Kristus, pahlawan Ilahi kita. Dia yang akan berperang bagi kita dan yang akan memberikan kita kemenangan-kemenangan. Biarlah momentum Paskah ini mengingatkan kita sekali lagi bahwa di dalam setiap pergumulan yang kita alami tidak membuat kita mundur dan berputus asa tanpa pengharapan, karena justru sekarang kita memiliki satu pengharapan sejati dan pengharapan itu hanya ada di dalam satu pribadi yaitu Kristus TUHAN, Pahlawan Ilahi kita (our Divine Warrior) yang akan memberikan kemenangan-kemenangan bagi kita.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Nikson ]
Persekutuan Studi Reformed