TEKS ALKITAB
DAN
METODE HISTORICAL-CRITICAL
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Sebagai kumpulan teks-teks historis Alkitab menghadapi berbagai analisa dan kritik dari pemikiran yang berkembang di setiap jaman. Apabila gereja tidak setia kepada firman Tuhan gereja tidak akan sanggup membimbing dan mengarahkan orang Kristen dalam menyikapi dan mengkritisi berbagai analisa dan kritik yang berkembang tersebut. Dalam artikel ini penulis membukakan salah satu analisa yang pernah dikembangkan atas teks-teks Alkitab ini.
 
Metode Historical-Critical
 
Metode historical-critical merupakan suatu metode yang dikembangkan pada abad ke-18 dan ke-19 untuk mengukur keabsahan teks-teks historis, termasuk teks-teks Alkitab. Oleh metode ini mau tidak mau pembaca moderen didorong untuk memisahkan studi Alkitab dari komitmen iman mereka dan menjadikan studi Alkitab sebagai sesuatu yang bersifat saintifik.
 
Metode historical-critical ini adalah pemikiran yang dikembangkan oleh Ernst Troeltsch. Metode ini mempunyai tiga prinsip dasar yang disemangati oleh jaman Pencerahan (Enlightenment). Tiga prinsip dasar metode historical-critical tersebut adalah:
 
 
According to the principle of criticism, no documents of the past can be accepted as authoritative; all claims about the past must be weighed by the modern critic. At most, we can arrive at a greater or lesser probability concerning the past, never a certainty. / Menurut prinsip kritisisme, tidak satu pun dokumen masa lampau dapat diterima sebagai sesuatu yang otoritatif, semua klaim akan hal yang telah lampau harus ditimbang berdasarkan kritik moderen. Hal yang paling mungkin bagi kita dalam menilai masa lampau adalah kita tiba pada suatu kesimpulan yang kebenarannya bisa lebih besar atau lebih kecil dari yang sebenarnya.
 
According to the principle of analogy, the present is the key to the past. Events of the past must all be analogous to what is possible today. / Menurut prinsip analogi, masa kini dipahami sebagai kunci untuk memahami masa lampau. Peristiwa-peristiwa masa lalu dipandang sebagai suatu analog terhadap apa yang mungkin terjadi pada masa kini.
 
According to the principle of causality, history is a closed continuum of events, in which every event has an antecedent immanent cause and there is no divine intervention (miracle) in history. Troeltsch saw that since the assumptions of the method already denied traditional Christianity, the results would necessarily confirm this denial. / Menurut prinsip kausalitas, sejarah dipahami sebagai suatu rangkaian tertutup dari berbagai peristiwa, yang di dalamnya setiap peristiwa dipandang mempunyai sebab imanennya sendiri dan keberadaan intervensi Tuhan tidak diakui. Troeltsch melihat bahwa karena asumsi-asumsi dari metode ini melawan Kekristenan, hasilnya akan sesuai dengan penolakan itu.
 
(Vern S. Poythress, “Science and Hermeneutics,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1988, p.19)
 
 
Firman Tuhan: natur dan medianya
 
Untuk membangun pemahaman bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi metode tersebut penulis mengajak kita memahami natur dari firman Tuhan berdasarkan buku Perspectives on the Word of God: An Introduction to Christian Ethics, yang ditulis oleh John M. Frame.
 
  1. Firman Tuhan merupakan kuasa (power) yang melaluinya Tuhan menggenapkan segala sesuatu sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (Efesus 1:11). Memang gagasan bahwa kuasa Allah yang secara umum dihubungkan dengan “firman” merupakan hal yang sulit ditemukan di dalam teologia klasik. Akan tetapi para Kalvinis pada era paska-Reformasi selalu mengkaitkan semua rangkaian peristiwa di dalam sejarah sebagai efek dari firman Tuhan yang sejalan dengan ketetapan dan kehendak-Nya. Kuasa Tuhan menentukan apa yang akan terjadi (what will happen).
     
  2. Firman Tuhan merupakan perkataan yang otoritatif (authoritative speech). Otoritas Tuhan menentukan segala suatu yang seharusnya terjadi (ought to happen). Dengan natur ini dapat kita katakan bahwa tidak sesuatu pun dapat terjadi di luar kehendak-Nya.
     
  3. Firman Tuhan merupakan kehadiran Tuhan secara pribadi di tengah-tengah makhluk ciptaan-Nya (God’s personal presence with his creatures). Di dalam bahasa manusia saja sering kita sulit memisahkan “seseorang yang berkata-kata” dari “apa yang diperkatakannya.” Demikianlah pula kita sulit memisahkan Tuhan dari firman-Nya. Firman Tuhan identik dengan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.
 
Dengan natur seperti itulah firman Tuhan disampaikan kepada manusia. Dalam kaitannya dengan teks Alkitab maka Alkitab digolongkan sebagai media perkataan (word-media) Tuhan yang dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian Alkitab merupakan perkataan Tuhan dalam bentuk tulisan dengan ketiga naturnya: berkuasa, otoritatif serta menyatakan kehadiran diri-Nya.
 
Pemikiran Poythress mengenai metode Historical-Critical
 
Poythress mengatakan pada dasarnya klaim atas obyektifitas saintifik merupakan sesuatu yang menarik, namun sayang, hal itu merupakan suatu ilusi. Studi akademik tidak akan pernah vakum nilai. Ia kemudian menegaskan bahwa penelitian historis tidak mungkin dilakukan tanpa suatu presuposisi; sehingga dengan demikian setiap peneliti harus terlebih dahulu membuat suatu praanggapan tertentu akan sejarah, mengenai hal-hal apa yang secara historis mungkin terjadi, dan mengenai standar-standar apa saja yang dapat digunakan untuk menimbang bobot keabsahan teks-teks kuno.
 
Maka, bagi orang Kristen, penetapan kriteria dalam menilai keabsahan atas segala sesuatu yang bersifat historis itu tidak mungkin dilepaskan dari cara pandang seseorang akan sejarah serta pemahamannya akan aktualitas providensia Tuhan. Oleh karena itu Poythress mengajak orang Kristen untuk mengkritisi pemikiran historical-critical Ernst Troeltsch yang dibangun atas dasar asumsi-asumsi Pencerahan berdasarkan prinsip Alkitab.
 
 
Historical-criticism method aspired to scientific objectivity, but in the nature of the case it could not succeed. In freeing biblical study from commitments to denominational doctrine, it made study subject to the philosophical commitments of rationalistic, antisupernaturalistic historiography and metaphysics and to the ethical commitments of contemporary humanism. / Metode historis-kritisisme mengarahkan kita kepada obyektifitas yang ilmiah, akan tetapi apabila metode ini diterapkan atas studi Alkitab ia tidak akan berhasil. Dalam membebaskan studi Alkitab dari komitmen terhadap doktrin Alkitab, metode ini menjadikan studi tersebut tunduk kepada komitmen-komitmen filosofis yang rasionalitik, historiografi dan metafisika yang antisupranatural serta kepada komitmen-komitmen etis humanisme kontemporer.” (Vern S. Poythress, “Science and Hermeneutics,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1988, p.19)
 
 
Menurut Poythress, metode historical-critical tidak akan menghasilkan kesepahaman dengan apa yang dimaksudkan oleh teks-teks Alkitab. Sebaliknya yang terjadi adalah penolakan atas apa yang Alkitab katakan. Dengan demikian sikap kita terhadap historical-criticism adalah demikian:
 
  1. Teks Alkitab memang merupakan dokumen masa lalu, akan tetapi sebagai firman Tuhan ia bersifat otoritatif. Ia mengubah dan memperbarui dengan terus-menerus hidup kita pada masa moderen ini.
     
  2. Untuk dapat diterima keabsahannya, peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab tidak harus analog terhadap peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi pada masa kini. Masa kini bukan kunci untuk menilai masa lalu. Sebaliknya, teks Alkitab yang historis itu merupakan kunci untuk menafsirkan setiap masa termasuk masa kini. Semua peristiwa di dalam Alkitab kita terima sebagai fakta yang benar-benar terjadi untuk mengajar kita yang hidup pada masa kini (II Timotius 3:16).
     
  3. Sejarah bukan merupakan rangkaian tertutup dari berbagai peristiwa sebab-akibat. Segala sesuatu yang terjadi di dalamnya berada di bawah kendali Tuhan yang mengarahkan segala sesuatunya itu kepada rencana-Nya.
 
Kesimpulan: Sikap intelektual Kristen terhadap teks Alkitab
 
Dalam bukunya Evolution and the Modern Christian, Henry M. Moris mengatakan, “The decision between two hypotheses, then, becomes mainly a moral and spiritual decision instead of a scientific decision.” (Henry M. Moris, “Evolution and the Modern Christian,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1967, p.12). Maksudnya, saat seorang ilmuwan Kristen diperhadapkan kepada dua hipotesa, ia harus memutuskan untuk memilih satu di antaranya lebih berdasarkan pertimbangan moral dan rohani ketimbang pertimbangan ilmiahnya. Ilmu pengetahuan sekali pun harus mengakui keterbatasannya. Dengan demikian seorang ilmuwan Kristen harus menempatkan praanggapannya akan kebenaran teks Alkitab di atas semua hasil pengamatan dan penyelidikannya.
 
Kekristenan harus kembali kepada iman ortodoks akan ineneransi (inerrancy) dan infalibilitas (infallibility) Alkitab.
 
Penutup
 
Menyadari bahwa dirinya berada di tengah-tengah bergolaknya ide dan pemikiran manusia, dengan sikap rendah hati dan takut akan Tuhan Persekutuan Studi Reformed menempatkan dirinya sebagai penyelenggara anugerah berbekalkan warisan pemikiran bapa-bapa gereja yang setia kepada panggilannya.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Jessy Victor Hutagalung ]
Persekutuan Studi Reformed