SEJARAH GERAKAN PURITAN
_oOo_
 
 
A.
Sejarah sebagai sarana pembangkit inspirasi
 
Semakin bobroknya kondisi bangsa kita sekarang ini dalam setiap wilayah kehidupan disertai minimnya orang-orang Kristen yang mau “membayar harga” untuk memulihkan “tanah” yang Tuhan sudah percayakan kepadanya, merupakan sesuatu yang sangat meresahkan hati penulis. Contoh-contoh teladan yang baik dari kehidupan para pemimpin formal dan non-formal bangsa kita, telah menjadi sesuatu yang sangat langka belakangan ini. Tetapi penulis bersyukur bahwa di tengah situasi yang sangat mengecilkan hati orang-orang yang ingin hidup benar dan setia menjalankan panggilan Tuhan, umat Kristen dianugerahkan sebuah kekayaan sejarah tentang proses kehidupan orang-orang percaya sepanjang zaman yang sangat bermanfaat sebagai bahan inspirasi bagi orang-orang Kristen baik di masa lalu, masa kini dan di masa depan di dalam upaya menjalankan mandat budaya. Di dalam proses kehidupan tokoh-tokoh Kristen tersebut, kita akan melihat bagaimana Tuhan memakai dan memelihara kehidupan mereka sedemikian rupa sehingga bukan saja Injil Kristus (wahyu khusus) boleh terus diberitakan di manapun dan dalam situasi apapun, tetapi melalui peranan para tokoh-tokoh Kristen itu pula, wahyu umum yang berhubungan dengan penghambatan atas kuasa dosa, penumbuhan kehidupan yang natural dan pemeliharaan tatanan masyarakat yang baik dan teratur, boleh terus ditegakkan sepanjang zaman.
 
Sering kali kita mengabaikan begitu saja proses sejarah kehidupan yang dialami oleh para tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir besar Kristen karena kita tidak melihat adanya relevansi dengan kehidupan yang kita alami, atau manfaatnya di dalam proses pembelajaran doktrin maupun firman Tuhan di Alkitab. Kecenderungan orang-orang Kristen injili masa kini adalah membatasi perkembangan kehidupan rohaninya hanya di dalam lingkup aktivitas gerejawi saja, sementara perkembangan kehidupan masyarakat diserahkan kepada pihak-pihak di luar gereja secara tidak proporsional karena dianggap sebagai wilayah yang yang tidak memiliki sangkut paut dengan perkembangan kerohanian umat Kristen.
 
Tetapi justru pemikiran ini sangatlah bertolak belakang dengan pemikiran yang diwariskan oleh tokoh-tokoh gerakan Puritan, sebuah gerakan Calvinis di abad ke-16 sampai abad ke-18. Selain dikenal sebagai gerakan Kristen yang bertujuan untuk memurnikan kehidupan beragama Kristen dan menyederhanakan tata ibadah gereja, namun perhatiannya yang sangat tinggi di dalam mengembangkan pedoman-pedoman kehidupan saleh yang praktis, berpengaruh besar terhadap arah perkembangan kebudayaan, khususnya di dunia barat. Perhatian gerakan Puritan kepada kesalehan praktis, yakni ungkapan-ungkapan iman dalam kelakuan hidup yang terilhami oleh prinsip “hidup untuk memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya selamanya (to glorify God and to enjoy Him forever),” memacu mereka untuk terus hidup memikirkan bagaimana memulihkan seluruh aspek kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan, bukan hanya di dalam urusan gerejawi, tetapi juga di dalam urusan rumah tangga, negara, pekerjaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Sekarang, mari kita lihat bersama-sama proses berkembangnya gerakan Puritan sebagai salah satu elemen utama dari gerakan Reformasi serta benih yang ditabur oleh gerakan tersebut sehingga menghasilkan buah yang boleh kita nikmati saat ini.
 
B.
Proses munculnya Reformasi Protestan di Inggris
 
Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther tahun 1517, pada umumnya mencapai keberhasilan di wilayah-wilayah kerajaan yang sebelumnya tidak terdapat persetujuan yang erat antara pemerintah setempat dengan Paus.11.
DOUGLAS F. KELLY, MUNCULNYA KEMERDEKAAN DI DUNIA MODERN : PENGARUH CALVIN TERHADAP LIMA PEMERINTAHAN DARI ABAD XVI-XVIII (TERJ.), PUSAT LITERATUR KRISTEN MOMENTUM, SURABAYA, 2001, H.105.
Salah satu kerajaan tersebut adalah Inggris Raya. Terbukanya pintu yang leluasa bagi gerakan Reformasi Protestan di Inggris Raya muncul ketika raja Henry VIII (1509-1547), memutuskan hubungan kerajaannya dengan gereja Katolik Roma dan membentuk sebuah gereja nasional Inggris, yang kemudian dikenal dengan nama gereja Anglikan, melalui Act of Supremacy tahun 1534.
 
Adapun alasan pemutusan hubungan tersebut disebabkan oleh larangan pihak gereka Katolik Roma atas rencana raja Henry VIII yang ingin menceraikan istri pertamanya yakni ratu Catherine of Aragon dari Spanyol karena belum berhasil memberikan keturunan lelaki kepadanya. Karena rencananya dilarang, raja Henry VIII kemudian menunjuk Thomas Cromwell sebagai pemimpin besar gereja di Inggris, yang menyarankan kepadanya untuk memutuskan hubungan dengan gereja Katolik Roma guna memuluskan rencana perceraiannya. Pada tahun 1531, raja Henry VIII secara resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerajaannya dari gereja Katolik Roma dan mengangkat dirinya sebagai pemimpin tertinggi gereja nasional Inggris yang independen. Jadi, Reformasi di Inggris bukan sebuah gerakan yang dipelopori oleh para pemimpin gereja di Inggris seperti di negeri-negeri Eropa lainnya, namun justru tanpa disengaja, dirintis oleh sebuah “keputusan negara” (an act of state) yang diambil oleh raja Henry VIII. Hal ini ditunjukkannya kembali dengan langkah menjual tanah-tanah milik gereja Katolik Roma kepada publik dan membiarkan bangunan milik Katolik Roma tanpa perawatan, yang akhirnya menyebabkan pengikut katolik Roma di Inggris tercerai-berai.22.
SYDNEY E. AHLSTROM, A RELIGIOUS HISTORY OF THE AMERICAN PEOPLE, YALE UNIVERSITY PRESS, NEW HAVEN- LONDON, 1972, H.85.
Seluruh tradisi monastik dan otoritas gereja Katolik Roma yang telah mendominasi kehidupan di Inggris selama 900 tahun, dibuang oleh Henry VIII, dan peristiwa ini turut membuka peluang bagi gerakan Reformasi di daratan Eropa untuk masuk ke wilayah Inggris.
 
Setelah peritiwa ini, beberapa pemimpin Kristen berpengaruh yang muncul di masa pemerintahan Henry VIII merupakan penganut teologi Luther. Salah satunya adalah Thomas Cranmer, yang diangkat oleh raja Henry VIII menjadi kepala uskup di Canterbury pada tahun 1533. Ia berhasil mendorong reformasi terhadap liturgi-liturgi gereja di Inggris dan menerjemahkan bahan-bahan doa yang sebelumnya tertulis dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris.33.
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT. H. 87.
Sebelum Henry VIII wafat, raja Inggris ini juga menyerahkan anaknya, pangeran Edward VI, ke dalam bimbingan pendidikan Thomas Cranmer.44.
IBID, H.86.
Ketika Edward VI (1547-1553) yang berpandangan Reformed ini kemudian menggantikan Henry VIII sebagai raja Inggris pada tahun 1547, pengaruh Reformasi Protestan semakin mendalam dan meresapi kehidupan publik di Inggris. Para pakar teologi Reformed yang sangat brilian dan berpengaruh, diterima sebagai professor untuk mengajar di Oxford dan Cambridge, yang diantaranya adalah Peter Martyr Vermigli, Martin Bucer dari Perancis, dan John Lasco dari Polandia. Cranmer kemudian beralih minat dari teologi Luther ke teologi Reformed, khususnya dalam ajaran tentang doktrin predestinasi, pada masa pemerintahan raja Edward VI.55.
IBID. H.87.
 
Pesatnya perkembangan gerakan Reformasi Protestan di Inggris pada masa pemerintahan raja Edward VI yang adalah seorang Reformed, telah membuka ruang terhadap munculnya berbagai bentuk aliran dari Reformasi Protestan itu sendiri. Ada bentuk gerakan Reformasi Protestan beraliran Presbiterian ajaran Calvin yang dikembangkan oleh John Knox (1514-1572) di Skotlandia (wilayah Inggris bagian utara). Selain itu, muncul pula embrio dari sebuah gerakan Protestan radikal di wilayah Inggris bagian selatan yang pengaruhnya cukup besar terhadap perkembangan sejarah dunia di abad 17 dan 18, yakni gerakan Puritan. Tokoh-tokoh utama yang mempelopori gerakan Puritan di Inggris antaranya ialah Hugh Latimer, Nicholas Ridley, Thomas Cranmer, William Tyndale (orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan dianggap sebagai “the first Puritan”),66.
LELAND RYKEN, WORDLY SAINTS : THE PURITAN AS THEY RELLY WERE, ZONDERVAN PUBLISHING HOUSE, GRAND RAPIDS, MICHIGAN, 1986, H.165.
John Hooper (dikenal sebagai “the father of the Puritan movement”)77.
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT. H.87.
dan John Rogers. Tokoh-tokoh pelopor gerakan Puritan ini banyak dipengaruhi oleh ajaran para Reformator di kota-kota di negeri Swiss seperti Ulrich Zwingli, Heinrich Bullinger dan Oecolampadius, dan para Reformator ini cenderung lebih mengikuti garis teologi Reformed, khususnya ajaran tentang doktrin kovenan dan predestinasi.88.
IBID.
 
Namun gerakan Reformasi yang baru mendapat angin segar di Inggris ini, tiba-tiba harus mengalami penganiayaan ketika raja Edward VI wafat pada tahun 1553 dan diganti oleh ratu Mary I (dikenal dengan nama ratu Mary Tudor atau nama ejekannya “the Bloody Mary”). Ratu Mary Tudor adalah anak raja Henry VIII dari istri yang telah diceraikannya, yakni ratu Catherine of Aragon. Ia adalah seorang penganut Katolik Roma yang fanatik dan semasa pemerintahannya, ia berupaya untuk mengembalikan gereja Inggris ke bawah kuasa gereja Katolik Roma. Bagi Mary Tudor, Reformasi Inggris yang diawali dengan perceraian kedua orang tuanya, merupakan tindakan yang murtad dan illegal. Oleh sebab itu, selama masa pemerintahannya, banyak pemimpin Protestan di Inggris yang juga adalah para tokoh pelopor gerakan Puritanisme seperti Hugh Latimer, Nicholas Ridley, Thomas Cranmer dan John Hooper, dihukum mati dengan diikat di tiang kayu dan dibakar hidup-hidup. Selama masa pemerintahan ratu Mary Tudor, 300 orang pemimpin dan pengikut agama Protestan dihukum mati.99.
LELAND RYKEN, OP.CIT., H.9.
 
Akibat peristiwa penganiayaan tersebut, 800 orang Protestan di Inggris, termasuk John Knox, terpaksa harus lari dan mengungsikan diri ke beberapa kota di daratan Eropa seperti Frankfurt, Basel, Strasbourg dan Jenewa. Selama di dalam pengungsian, mereka justru mendapatkan pendidikan langung dari John Calvin, Zwingli, Bullinger, Oecolampadius dan tokoh Reformator lainnya. Di kota-kota tersebut, mereka menyaksikan adanya upaya untuk mengatur ibadah dan organisasi gereja menurut petunjuk-petunjuk dalam Kitab Suci. Di sana pula mereka terkagum melihat adanya upaya untuk membina kesucian hidup para anggota gereja melalui disiplin yang ketat dengan memakai Alkitab sebagai satu-satunya pedoman hidup.
 
Setelah Mary Tudor wafat tahun 1558 dan diganti oleh ratu Elizabeth I (1558-1603), kaum Protestan Inggris mulai kembali ke negerinya untuk melanjutkan misi Reformasi dengan mencoba menerapkan apa yang mereka pelajari selama masa pengungsian di daratan Eropa. Pada masa ratu Elizabeth I inilah, gerakan Puritan mulai menanamkan pengaruhnya secara lebih luas dan mendalam ke setiap aspek kehidupan bermasyarakat di Inggris, yang kemudian mencapai puncaknya di abad 17 ketika seorang tokoh Puritan bernama Oliver Cromwell menjadi penguasa atau Lord Protector dari wilayah Persemakmuran Inggris Raya.
 
C.
Gerakan Puritan dan dampaknya terhadap perkembangan kebudayaan
 
Istilah “Puritan” sendiri sebenarnya diberikan pada awalnya oleh para pengikut gereja Anglikan sebagai bentuk cemoohan kepada para pengikut Calvinis di Inggris yang ingin berupaya secara radikal mengembalikan segala aspek kehidupan beriman semurni-murninya sesuai dengan apa yang tertulis dalam Firman Tuhan. Hal ini diungkapkan oleh William Bradford, tokoh Puritan abad 17 yang memimpin migrasi pertama kaum Puritan ke benua Amerika, ketika menceritakan tentang perlakuan yang dialami oleh kaum Puritan semasa ratu Elizabeth I:
 
 
And to cast contempt the more upon the sincere servants of God, the opprobriously and most injuriously gave unto and imposed upon them that name of Puritans…1010.
J. A. LEO LEMAY, AN EARLY AMERICAN READER (ED), UNITED STATE INFORMATION AGENCY, WASHINGTON DC, 1988, H.23. PADA AWALNYA, KAUM PURITAN SENDIRI MENOLAK PENGENAAN ISTILAH INI KEPADA DIRI MEREKA DAN BARU BISA MENERIMANYA PADA AKHIR ABAD 17.
 
 
Kaum Puritan adalah “kaum puris di dalam ibadah karena mereka meyakini bahwa apa yang tidak tercantum secara khusus di dalam Alkitab berkenaan dengan hal perayaan religius adalah hal yang dilarang.”1111.
DOUGLAS F. KELLY, OP.CIT., H. 111.
Definisi Professor G.M. Trevelyan lebih memperjelas lagi karakteristik dari gerakan awal Puritanisme:
 
 
The religion of those who wished either to ‘purify’ the usage of the Established Church from the taint of papacy, or to worship separately by forms so ‘purified’.1212.
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT, H. 91.
 
 
Akan tetapi, usaha kaum Puritan untuk memurnikan kehidupan Kristen dan menyederhanakan tata ibadah gereja tidak berhenti di sini saja. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah mereformasi kembali seluruh aspek kehidupan beriman menurut kehendak Allah, baik itu di dalam hal beribadah, teologi, rumah tangga, kesalehan, politik, pekerjaan dan lainnya, di mana Allah harus dimuliakan secara nyata dan secara spesifik harus diatur sesuai dengan perintah maupun prinsip firman Allah.
 
Oleh karena itu, bidang literatur menjadi salah satu bidang yang sangat diperkaya dan dijadikan sarana utama oleh gerakan Puritan di dalam membangun budaya dan etos kehidupan Kristen di masanya. Ciri khas dari karya-karya tulis yang diwariskan oleh tokoh-tokoh Puritan merupakan hasil pengolahan kebenaran Alkitab menjadi sebuah doktrin yang memiliki manfaat secara praktis sebagai (1) pedoman kehidupan beribadah umat Kristen di dalam setiap bidang, (2) ungkapan-ungkapan iman di dalam kelakuan hidup dan, (3) di dalam pengaturan tata ibadah gerejawi. Buku Christian Directory karya Richard Baxter (1615-1691) mencakup penjabaran tentang empat aspek kehidupan Kristen, yakni tentang etika Kristen, ekonomi Kristen (kehidupan berkeluarga), gereja Kristen (kehidupan bergereja) dan politik Kristen (kewajiban umat Kristen terhadap pemerintah dan sesama).1313.
MARK SHAW, SEPULUH PEMIKIRAN BESAR DARI SEJARAH GEREJA (TERJ.), PENERBIT MOMENTUM, SURABAYA, 2003, H.125.
Di dalam mengatasi penyempitan doktrin “pembenaran melalui iman” oleh gereja menjadi sekedar suatu pengakuan iman yang sama sekali tidak memiliki relevansi dengan perubahan hidup, William Perkins (1558-1602) mempelopori pengembangan doktrin mengenai keyakinan/jaminan mutlak melalui pertobatan sejati (kelahiran kembali) yang disuguhkannya dalam karya tulis A Golden Chain. Tetapi salah satu karya monumental yang pernah diwariskan oleh gerakan Puritan adalah buku “Pengakuan Iman Westminster” dan buku “Katekismus Singkat,” di mana hasil pengakuan iman yang diterjemahkan ke dalam dua buku tersebut lahir dari hasil persidangan “Westminister Assembly” pada tahun 1643-1646, persis di tengah masa berkecamuknya Perang Saudara antara pihak parlemen Inggris dan pihak kerajaan.
 
Selain dikenal sebagai sebuah gerakan spiritual yang radikal dalam memperjuangkan penerapan ajaran Calvinisme di dalam ibadah dan tradisi gereja, gerakan Puritan juga banyak memberikan sumbangsih di dalam pengembangan budaya dan ilmu politik. Ketika terjadi Perang Saudara Inggris antara pihak parlemen yang didukung oleh kaum Puritan melawan pihak monarki kerajaan, muncul inovasi-inovasi baru dalam ketatanegaraan yang dilakukan oleh Oliver Cromwell (1599-1658), seorang tokoh Puritan dan jenderal pemimpin pihak parlemen. Setelah pihak monarki kalah dan raja Charles V kemudian dihukum mati pada tahun 1648, Inggris Raya di bawah pimpinan Oliver Cromwell untuk pertama kalinya dalam sejarah menerapkan sistem pemerintahan republik dengan memakai istilah “Persemakmuran (Commonwealth)” dari tahun 1649-1660, menggantikan bentuk pemerintahan monarki yang sudah dianut selama ratusan tahun. Situasi politik yang terjadi selama Perang Saudara maupun di masa pemerintahan Oliver Cromwell, turut mengilhami pemikiran-pemikiran beberapa filsuf politik ternama yang hidup di masa itu seperti John Locke dan Thomas Hobbes di dalam membangun teori-teori politiknya tentang demokrasi dan kekuasaan rakyat. Teori politik John Locke sangat mempengaruhi pemikiran para founding fathers di dalam mendeklarasikan kemerdekaan negara Amerika Serikat pada tahun 1776. Negara Amerika Serikat sendiri pada awalnya hanya terdiri dari koloni-koloni Inggris yang dibangun dan dikembangkan pertama kali oleh rombongan migrasi kaum Puritan Inggris pada tahun 1630. Adapun alasan meningkatnya migrasi kaum Puritan dari Inggris ke benua baru di Amerika disebabkan oleh perkembangan situasi yang semakin tidak kondusif bagi kaum Puritan pada masa itu untuk secara bebas menerapkan “eksperimen suci” keyakinan imannya di dalam kehidupan gerejawi dan kehidupan publik.
 
Pengembangan bidang pendidikan juga menjadi salah satu ciri utama dari gerakan Puritan. Ketika tiba di benua Amerika pada tahun 1630, hanya dalam waktu enam tahun saja, kaum Puritan berhasil mendirikan universitas Harvard yang diharapkan dapat melestarikan visi dan misi mereka ke generasi penerus, yang kemudian disusul oleh pembangunan universitas Yale dan Princeton di awal abad ke-18. Mayoritas buku sejarah Amerika mengakui bahwa negara Amerika Serikat dibangun dibawah fondasi dua pemikiran utama, yakni pemikiran John Calvin dan John Locke, dan ini semua berkat peranan dari kaum Puritan Amerika yang memelihara dan mengolah perpaduan dua pemikiran tersebut melalui lembaga pendidikan. Adapun tokoh-tokoh Puritan yang sangat berkontribusi dalam pengembangan bidang pendidikan adalah William Ames (peletak fondasi dasar pada kurikulum sekolah yang dibangun oleh kaum Puritan di masa kolonial Amerika), John Cotton (salah satu pendiri Harvard College), Increase Mathers (Rektor Harvard College), Cotton Mathers (pendiri Yale College), Jonathan Dickinson (pendiri Princeton College), Jonathan Edwards (Rektor Princeton College dan tokoh gerakan Kebangkitan Besar di Amerika).
 
D.
Kesimpulan
 
Saudara/i, ketika kita melihat kembali peristiwa Reformasi yang dimulai dari daratan Eropa, kemudian menyebar ke Inggris, lalu ke benua Amerika, maka kita akan melihat sebuah proses pemeliharaan Allah atas umat-Nya dan dunia ciptaan-Nya dengan cara-cara-Nya yang unik dengan penuh kekaguman dan takjub. Kita boleh melihat bagaimana Tuhan menggunakan ego raja Henry VIII untuk membuka jalan bagi terjadinya reformasi Kristen di Inggris Raya. Kita melihat bagaimana Tuhan memakai peristiwa penganiayaan terhadap para pemimpin Puritan yang dilakukan oleh ratu Mary Tudor sebenarnya telah membuka jalan bagi para pemimpin Kristen di Inggris untuk bertemu dan mendapat pendidikan langsung dari tokoh-tokoh Reformator seperti Calvin, Zwingli, Bullinger, Oecolampadius, sehingga Reformasi Kristen di Inggris dapat dilakukan secara lebih komprehensif di kemudian waktu. Kita juga melihat bagaimana hambatan-hambatan yang dialami oleh kaum Puritan dalam menerapkan tata ibadah dan prinsip kehidupan yang diyakininya di Inggris, justru digunakan Tuhan untuk mendorong kaum Puritan segera bermigrasi ke “tanah baru” dan mengembangkan kehidupan beribadahnya di Amerika. Kita juga melihat bagaimana Tuhan menggunakan Perang Saudara di Inggris yang dimenangkan oleh kaum Puritan justru menjadi bahan inspirasi di dalam pengembangan teori-teori demokrasi modern yang boleh kita pelajari dan nikmati saat ini.
 
Saudara/i, cara pandang Kristen di dalam melihat proses sejarah berarti memiliki kepekaan untuk melihat adanya suatu keterpaduan (contingency) dalam proses pemeliharaan Tuhan terhadap umat-Nya dan dunia ciptaan-Nya dengan menggunakan sarana apapun yang dikehendaki-Nya di dalam ruang sejarah (baik itu melalui wahyu khusus maupun wahyu umum). Dengan menggunakan cara pandang ini di dalam memahami sejarah, maka diharapkan kita boleh menikmati setiap panggilan yang Tuhan telah berikan kepada kita dan memiliki daya tahan di dalam menjalankannya di manapun kita berada dan dalam kondisi apapun, karena seperti kaum Puritan di masa lalu, kita juga adalah bagian dari aktor-aktor sejarah yang Tuhan pakai untuk memelihara umat dan dunia ciptaan-Nya sekarang ini dan di masa depan.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Randy Ludwig Pea ]
Persekutuan Studi Reformed
 
 
Notes.
 
1
DOUGLAS F. KELLY, MUNCULNYA KEMERDEKAAN DI DUNIA MODERN : PENGARUH CALVIN TERHADAP LIMA PEMERINTAHAN DARI ABAD XVI-XVIII (TERJ.), PUSAT LITERATUR KRISTEN MOMENTUM, SURABAYA, 2001, H. 105.
 
2
SYDNEY E. AHLSTROM, A RELIGIOUS HISTORY OF THE AMERICAN PEOPLE, YALE UNIVERSITY PRESS, NEW HAVEN- LONDON, 1972, H. 85.
 
3
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT. H. 87.
 
4
IBID, H. 86.
 
5
IBID. H. 87.
 
6
LELAND RYKEN, WORDLY SAINTS : THE PURITAN AS THEY RELLY WERE, ZONDERVAN PUBLISHING HOUSE, GRAND RAPIDS, MICHIGAN, 1986, H. 165.
 
7
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT. H. 87.
 
8
IBID.
 
9
LELAND RYKEN, OP.CIT., H. 9.
 
10
J.A. LEO LEMAY, AN EARLY AMERICAN READER (ED), UNITED STATE INFORMATION AGENCY, WASHINGTON DC, 1988, H. 23. PADA AWALNYA, KAUM PURITAN SENDIRI MENOLAK PENGENAAN ISTILAH INI KEPADA DIRI MEREKA DAN BARU BISA MENERIMANYA PADA AKHIR ABAD 17.
 
11
DOUGLAS F. KELLY, OP.CIT., H. 111.
 
12
SYDNEY E. AHLSTROM, OP.CIT, H. 91.
 
13
MARK SHAW, SEPULUH PEMIKIRAN BESAR DARI SEJARAH GEREJA (TERJ.), PENERBIT MOMENTUM, SURABAYA, 2003, H. 125.