KEMATIAN YANG BERHARGA
_oOo_
 
 
Pengantar
 
“Kematian yang berharga.” Ini merupakan salah satu pernyataan menggembirakan dan menghiburkan hati di dalam Alkitab berkenaan dengan peristiwa besar yang paling tidak disukai manusia yaitu kematian. Seandainya umat Tuhan lebih sering berdoa dan mempelajari firman Tuhan dengan penuh keyakinan mengenai kepergian mereka dari dunia ini, maka kematian bukanlah menjadi suatu hal yang mengerikan bagi mereka.
 
Pembahasan
 
Untuk dapat memahami permasalahan ini, pertama-tama kita harus membedakan satu hal yaitu asal mula kematian pada kehidupan manusia, bukan pada hewan atau tumbuhan. Sekarang, mari kita kembali kepada pertanyaan mengenai kematian manusia. Apakah kematian manusia diakibatkan oleh dosa? Dan apakah manusia tetap akan mati sekalipun tidak jatuh dalam dosa? Meskipun kebanyakan theolog Kristen baik dari Katolik maupun Protestan berpendapat bahwa kematian manusia diakibatkan oleh dosa namun ada sebagian theolog berpandangan berbeda, salah satunya adalah Karl Barth. Barth berpandangan bahwa kematian manusia bukanlah akibat dari dosa. Barth memang mengakui bahwa kematian manusia berkaitan dengan dosa atau kesalahan dan kematian juga merupakan tanda hukuman Allah atas manusia. Tetapi pandangan Barth tidak berhenti disitu, dia juga membedakan antara aspek penghukuman dan aspek alamiah dari kematian. Menurut Barth, kematian adalah hal yang lumrah karena hidup manusia pada akhirnya memang akan menuju pada titik terminus ad quem (mati dan tidak ada lagi) atau dengan kata lain, hidup manusia memang ada batasnya. Dengan demikian, bagi Barth kematian manusia bukan diakibatkan kejatuhan manusia ke dalam dosa melainkan hanya sebuah aspek dari ciptaan Allah yang baik. Allah telah menetapkan dari sejak semula bahwa hidup manusia di bumi ini hanya sementara.
 
Sebagai orang Kristen yang percaya pada Alkitab, kita harus menolak pandangan Barth ini karena hal itu bertentangan dengan apa yang Alkitab nyatakan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kematian bagi manusia bukanlah sebuah aspek alamiah dari ciptaan Allah yang baik, tetapi sebagai konsekuensi dari kejatuhan manusia dalam dosa. Kejadian 2:16-17 dengan jelas berkata: “Lalu Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Ayat ini merupakan salah satu bagian dari Alkitab yang berbicara dengan jelas mengenai hubungan antara dosa dan kematian. Allah memberi perintah kepada Adam untuk tidak memakan pohon pengetahuan itu, karena apabila tidak taat dan tetap memakannya, maka Tuhan akan menghukum dengan kematian. Bagian ini dengan jelas menyatakan bahwa kematian merupakan konsekuensi dari dosa akibat ketidaktaatan manusia terhadap perintah Tuhan.
 
Dalam cerita kejatuhan Adam dalam dosa pada Kejadian 3, kematian di sini harus dipahami dari 2 (dua) aspek yaitu kematian secara rohani dan kematian secara fisik. Ketika Adam jatuh, penghukuman Tuhan jelas di mana ia harus mengalami kematian. Namun kematian Adam pada Kejadian 3 harus dipahami sebagai kematian rohani, artinya Adam harus terpisah dari sumber kehidupan, yaitu Allah sendiri. Relasi antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan menjadi rusak. Meskipun demikian, kita juga melihat bahwa kematian Adam tidak hanya dipahami sebagai kematian rohani saja, karena pada Kejadian 5:5 Alkitab juga menyatakan bahwa setelah berumur 930 tahun, Adam juga mengalami kematian secara fisik. Dengan demikian, sejak kejatuhan Adam maka hidup manusia dari jaman ke jaman tidak dapat dilepaskan dari realita kematian.
 
Pertanyaan ke-42 dari Katekismus Heidelberg menyatakan: “Jika Kristus telah mati untuk kita, mengapa kita masih harus mati? Jawabannya demikian, “Kematian kita bukanlah untuk membayar dosa, tetapi kematian dari segala dosa dan untuk masuk ke dalam hidup yang kekal.” Hanya Kristus yang mati untuk dosa, bukan kita. Dan oleh karena Kristus adalah Pengantara kita -Adam kedua-, maka Dia harus menjalani kematian sebagai ganti dari hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung. Itu sebab, bagi kita yang beriman kepada Kristus, kematian bukan lagi untuk menjalani hukuman dosa karena kematian Kristus telah menanggung kutukan itu. Bagi kita kematian justru menjadi sumber berkat karena melaluinyalah kita dapat masuk ke dalam kekayaan dari kehidupan kekal bersama Tuhan.
 
Kesimpulan
 
Dari pembahasan di atas, sekarang kita tahu bahwa musuh terakhir kita yaitu maut (1 Kor. 15:26) kini telah menjadi “sahabat” kita melalui karya penebusan Kristus. Musuh yang paling menakutkan itu telah menjadi “hamba” yang akan membukakan kita pintu masuk ke dalam sukacita sorgawi. Itu sebab, kematian bagi orang yang beriman kepada Kristus bukanlah sebuah akhir tetapi sebuah awal dari suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Ellya Rosa Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed