KETIDAKADILAN
DALAM KEMATIAN YESUS
YANG PENUH MAKNA
_oOo_
 
 
Pendahuluan
 
Adilkah apabila kita dihukum, terlebih-lebih dengan suatu hukuman mati, sekalipun itu sama sekali tidak dikarenakan oleh kesalahan kita? Tentu kita tidak dapat menerima itu semua. Kita akan melakukan berbagai cara untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah, meskipun pada akhirnya kita tetap harus menjalani hukuman itu. Saat ini di dalam dunia yang penuh dengan dosa, apakah ada keadilan yang benar-benar adil? Dalam banyak hal, keadilan telah diputarbalikan dimana yang benar dipersalahkan sedangkan yang salah dibenarkan. Ada kasus-kasus atau perkara-perkara tertentu yang telah diputuskan oleh badan pengadilan atau yang berwenang dalam menangani suatu perkara dimana kesalahan vonis atas seseorang telah terjadi. Walaupun orang-orang yang terlibat dalam menangani suatu kasus seperti pengacara, jaksa, hakim dan lain-lainnya telah berusaha mencari bukti-bukti, apa benar seseorang itu melakukan suatu kejahatan. Ini merupakan ketidakadilan secara umum dan masih banyak lagi orang-orang yang mendapatkan ketidakadilan dalam dunia ini seperti dalam pekerjaan, ibadah dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Dalam bukunya Seri Pembinaan Iman Kristen: Dosa, Keadilan dan Penghakiman, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa tuntutan keadilan merupakan salah satu hak asasi manusia dan ekspresi naluri manusia yang paling mendasar (fundamental) karena manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah. Karena Allah adil adanya, maka manusia mempunyai sifat hukum di dalam hatinya. Apabila manusia mendapatkan ketidakadilan pada dirinya, hati nurani manusia akan berusaha untuk menuntut keadilan untuk membereskan ketidakadilan. Tapi seringkali manusia mencari keadilan dengan motivasi untuk kepentingan pribadi atau kepentingan orang-orang tertentu tanpa menyadari bahwa manusia hanyalah ciptaan Allah yang harus mempunyai keadilan.
 
Bagaimana dengan kematian Yesus? Apakah Yesus sama dengan seorang penjahat sehingga harus mendapatkan hukuman? dan apakah Dia juga berusaha untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri? Kematian-Nya benar-benar merupakan suatu peristiwa sejarah yang tidak bisa disangkal. Lukas 23:33-49 menggambarkan dengan jelas tentang penyaliban Yesus Kristus.
 
Kematian Kristus Melalui Pengadilan Rakyat
 
Ketika kita berbicara mengenai pengadilan rakyat, tidak jauh berbeda ketika kita berbicara mengenai hukum rimba, yang tidak ada aturannya. Jikalaupun ada, aturan tersebut akan dilanggar dan siapa terkuat pasti akan menang. Pada akhirnya keadilan hanya ditentukan dari siapa yang terkuat dan siapa yang terlemah. Terlebih, kepentingan pribadi akan mendasari semuanya itu. Sama seperti halnya dengan kematian Kristus. Kita tahu bahwa kematian-Nya bukanlah dikarenakan kejahatan yang dilakukan. Dakwaan-dakwaan yang dijatuhkan kepada-Nya hanya didasarkan atas kepentingan pribadi dari orang-orang tertentu yang membenci-Nya. Namun demikian, Yesus Kristus harus tetap menanggung penderitaan itu dan kematian-Nya pun harus terjadi meskipun hal itu akibat dari sebuah ketidakadilan.
 
Sebelum peristiwa kematian-Nya, Yesus dibawa ke Mahkamah Sanhedrin sebagai terdakwa. Sidang tersebut hanya terfokus pada jati diri Yesus, mengenai siapa sebenarnya Dia. Dalam perjalanan pelayanan-Nya, Yesus selalu menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Pengertian Mesias bagi orang Yahudi adalah seorang pembebas yang diutus Allah untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Itu sebab, ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, hal itu sebenarnya bukanlah sebuah kejahatan, karena pengertian mereka mengenai Mesias sangat berbeda dengan apa Yesus maksudkan. Pengertian Mesias yang Yesus maksudkan adalah kehadiran-Nya di bumi sebagai perwujudan kehadiran Allah (Luk 22:69).
 
Alasan lain Yesus dianggap sebagai penjahat adalah pengajaran-Nya yang dianggap oleh para pemimpin agama dapat membahayakan posisi mereka. Mahkamah Sanhedrin akhirnya tetap pada keputusannya untuk menghukum mati Yesus, meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki kekuatan hukum untuk melaksanakan hukuman itu karena hal itu merupakan kewenangan pemerintah. Apabila tuduhan mereka hanya bersifat teologis mengenai jati diri Yesus Kristus, pemerintah dalam hal ini yang diwakili oleh Pilatus, tidak mau campur tangan. Namun oleh karena kebusukan hati para imam di Mahkamah Sanhedrin itu, akhirnya mereka tetap mengajukan 3 (tiga) tuduhan kepada Yesus Kristus seperti yang ditulis dalam Lukas 23:2, antara lain:
 
  1. Pengajaran Yesus dianggap telah menyesatkan bangsa Yahudi dan telah menimbulkan kebimbangan dan ketidakpastian di tengah masyarakat mengenai apa yang sebelumnya sudah diajarkan ahli-ahli Taurat.
     
  2. Adanya larangan untuk membayar pajak pada Kaisar Tiberius. Hal ini bertentangan dengan ketentuan yang berlaku pada saat itu dimana Pilatus sebagai wakil dari Kaisar harus memungut pajak untuk diserahkan pada Kaisar Romawi. Pajak menggambarkan loyalitas mereka kepada Kaisar. Semakin besar pajak yang mereka bayarkan kepada Kaisar, maka semakin tinggi pula kesetiaan mereka kepada Kaisar.
     
  3. Pengakuan Yesus yang menyatakan Dia adalah Raja.
 
Setelah mendengar ketiga tuduhan tersebut, Pilatus berpendapat bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidak dapat dibuktikan. Seperti larangan membayar pajak, Yesus tidak menolak pembayaran pajak kepada Kaisar, sebagaimana perkataan-Nya pada Lukas 20:25: “Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Dengan perkataan ini, Pilatus tidak dapat menemukan adanya kesalahan yang dituduhkan mereka mengenai pembayaran pajak.
 
Kemudian mengenai pengakuan Yesus yang menyatakan Dia adalah seorang Raja, Pilatus juga sama sekali tidak mendapati adanya pemberontakan yang dipimpin oleh-Nya. Pertanyaan Pilatus yang dilontarkan kepada Yesus Kristus pada Lukas 23:3 adalah: “Engkaukah Raja orang Yahudi?” Jawab Yesus “Engkau sendiri yang mengatakannya.” Di sini pun Pilatus mengakui bahwa dia tidak dapat menemukan kesalahan apapun pada diri Yesus (Luk. 23:4). Meskipun demikian, orang-orang Yahudi tetap mendesak Pilatus untuk menjatuhkan hukuman mati pada-Nya dengan cara disalibkan. Hukuman salib pada jaman itu adalah hukuman yang paling mengerikan. Oleh karena di satu sisi adanya desakan dari orang-orang Yahudi dan di sisi lain dia tidak mau menghukum orang yang tidak bersalah, maka Pilatus berusaha mencari jalan pintas untuk menghindari dilema ini. Oleh karena Pilatus tahu bahwa Yesus berasal dari Galilea yang merupakan daerah kekuasaan Herodes, maka ia berinisiatif mengirim Yesus Kristus pada Herodes. Tindakan yang diambil Pilatus hanyalah sebuah tindakan “cuci tangan,” karena pada dasarnya ia memang tidak mau menghukum Yesus yang tidak bersalah itu dan tindakan ini juga bertujuan untuk mendamaikan permusuhan yang terjadi antara dia dan Herodes.
 
Setelah Yesus ada di tangan Herodes untuk diperiksa, ternyata Herodes juga tidak mendapati kesalahan yang dilakukan Yesus sebagai dasar untuk menghukum-Nya. Kemudian Herodes kembali menyerahkan Dia kepada Pilatus (Luk. 23:14-15). Setelah menerima Yesus, Pilatus memutuskan untuk mencambuk-Nya dan kemudian melepaskan-Nya (Luk. 23:16). Pilatus berharap dengan hukuman seperti ini dapat memuaskan hati para pemuka agama dan orang-orang Yahudi pada waktu itu. Namun realita yang terjadi berbeda dengan harapannya, ternyata orang-orang Yahudi tetap pada pendiriannya meminta untuk menghukum mati Yesus. Di hadapan tekanan orang-orang Yahudi itu, Pilatus sekali lagi menyatakan bahwa dia tidak mendapati kesalahan pada diri Yesus sebagai dasar untuk melaksanakan hukuman mati. Menyadari Pilatus yang tidak akan menjatuhkan hukuman mati pada Yesus, membuat orang-orang Yahudi tersebut marah hingga membuat suasana semakin tak terkendali. Dalam kondisi ini, mereka menempuh jalur di luar hukum dengan berteriak, “Enyahkanlah Dia, lepaskan Barabas bagi kami!” (Luk. 23:19). Dengan tindakan yang ditempuh orang-orang Yahudi tersebut, sebenarnya tidak membuat hati Pilatus berubah. Pilatus tetap beranggapan bahwa tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan hukuman mati pada Yesus. Kemudian untuk ketiga kalinya Pilatus bertanya kepada mereka mengenai kejahatan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Yesus oleh karena dia tidak melihat suatu kesalahan apapun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati (Luk. 23:22). Perkataan Pilatus ini ternyata tidak mampu merubah pendirian orang-orang Yahudi itu. Mereka meminta Yesus tetap disalibkan dan meminta Barabas dilepaskan. Di bawah tekanan yang besar itu, akhirnya Pilatus menyerah pada teriakan orang-orang Yahudi itu, bukan pada hukum yang berlaku.
 
Dari pemaparan cerita di atas, kita melihat sebuah bentuk pengadilan rakyat dimana peraturan yang berlaku tidak diindahkan lagi. Hukum dan keadilan ditentukan hanya berdasarkan teriakan orang-orang Yahudi. Teriakan-teriakan mereka, telah membuat orang yang tidak bersalah harus di hukum mati dan orang yang terbukti bersalah, seorang penjahat masyarakat, dibebaskan (Luk. 23:25). Itulah realita yang dihadapi Yesus. Mesias dan Anak Allah itu harus mati di dalam ketidakadilan.
 
Kematian Yesus Kristus yang Penuh Makna Merupakan Rencana Allah
 
Jika dilihat dari perspektif kemanusiaan kita, kematian Yesus merupakan suatu bentuk ketidakadilan. Tetapi benarkah demikian? Berbicara mengenai keadilan, kita tidak dapat melepaskannya dari fakta dosa, meskipun keadilan dan dosa merupakan dua hal yang bertentangan. Pdt. Stephen Tong dalam bagian pertama dari bukunya Seri Pembinaan Iman Kristen:Dosa, Keadilan dan Penghakiman, mengatakan bahwa yang benar akan menghakimi yang berdosa dan yang berdosa berarti sudah melawan kebenaran. Dimana ada dosa, disana ada perlawanan terhadap keadilan dan kebenaran yang sudah ada yaitu Allah sendiri. Jadi sebenarnya keadilan itu adalah Allah sendiri, karena Allah adalah pencipta dunia beserta isinya dan semua keberadaan yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Allah yang mengatur dan memberikan aturan atau hukum pada dunia ini.
 
Dengan demikian, kematian Yesus juga merupakan ketentuan atau rencana Allah. Kematian-Nya sebenarnya juga merupakan penghakiman Allah yang ditimpakan pada-Nya oleh karena dosa manusia, seperti yang tercatat dalam Yesaya 53:10: “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.” Kematian Yesus tidak boleh hanya dilihat dari pengadilan Pilatus dan orang-orang Yahudi itu, tetapi juga harus dilihat dari kacamata rencana Allah demi keselamatan manusia. Allah menyatakan rencana keselamatan-Nya melalui seorang manusia yang tidak berdosa yaitu Anak-Nya, Yesus Kristus yang melalui-Nya kita dapat melihat kemulian Allah. Kolose 1:15 berkata: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Melalui kematian-Nya, kita beroleh keselamatan.
 
Tindakan Pilatus dan orang–orang Yahudi yang membuat Yesus harus mati di salib hanya alat yang dipakai Allah untuk menggenapi rencana-Nya. Ini juga merupakan sebuah gambaran akan dampak dari kejatuhan manusia di dalam dosa dimana mereka tidak lagi mengindahkan hati nuraninya. Sama halnya dengan Pilatus, yang pada awalnya hatinya berpendirian bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak layak dihukum mati, tetapi demi kepentingan pribadi dan upaya menjaga stabilitas politik di wilayahnya agar tidak mengancam kedudukannya sebagai wakil Kaisar pada waktu itu, maka Pilatus menyerahkan kematian Yesus Kristus pada pengadilan rakyat bukan pada hukum yang berlaku.
 
Kesimpulan
 
Kita melihat kematian Yesus terkesan tidak adil, namun ini bukan persoalan adil atau tidak adil, tetapi berkaitan dengan rencana Allah yang agung. Kematian-Nya memang harus terjadi karena sudah dinubuatkan oleh para Nabi dan semuanya ada di dalam rencana Allah sejak di dalam kekekalan. Tindakan Pilatus dan orang-orang Yahudi hanya dipakai Allah untuk menggenapi rencana-Nya. Kematian-Nya bertujuan untuk mendamaikan Allah dengan manusia berdosa, oleh karena manusia berdosa atas inisiatif dan kekuatannya sendiri tidak mungkin mampu mendamaikan dirinya dengan Allah. Saudara/i terkasih, kematian-Nya terkesan tidak adil, bagi manusia berdosa itu merupakan sebuah kekalahan, namun bagi Allah itu adalah kemenangan karena rencana melaluinya rencana keselamatan dari Allah tergenapi.
 
Melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, Allah berdamai dengan manusia berdosa. Itu sebab seruan pertobatan sejati dan pemberitaan kebenaran sejati harus terus dikumandangkan meskipun harus menempuh jalan penderitaan dan kesulitan. Kita percaya bahwa Allah masih terus menyatakan kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya.
 
Saudara/i terkasih, biarlah melalui momen Paskah ini kita terus mengingat bahwa Yesus Kritus yang adalah Anak Allah, rela menderita dan mati bagi demi keselamatan kita. Oleh karena itu, biarlah setiap kita mau terus berjuang dan tidak mudah menyerah di dalam setiap penderitaan dan pergumulan kita melayani Tuhan di dunia ini. Kita tetap bangkit dan setia mengerjakan apa yang menjadi panggilan-Nya bagi hidup kita.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Saur Rotua Marpaung ]
Persekutuan Studi Reformed