“TIDAK LAYAK AKU, TUHAN...
KATAKAN SAJA SEPATAH KATA”
 
(Analisis Narasi dalam menemukan Makna Asli
dan Interpretasi Theologi dari Lukas 7:1-10 )
_oOo_
 
 
I.
Introduksi
 
Tulisan ini saya persiapkan untuk berpartisipasi mengisi artikel di Bulletin Persekutuan Studi Reformed (PSR). Merupakan versi ringkas (abridged) dari tulisan saya mengenai analisis narasi dari perikop. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi perikop sedemikian rupa sehingga kita dapat menemukan makna asli dari perikop tersebut sekaligus menikmati kelimpahan dari refleksi theologi dan aplikatif. Yang dimaksud makna asli adalah makna yang hendak disampaikan oleh penulis perikop ini kepada audiensi asli atau pembaca perikop mula-mula. Untuk itu saya berusaha untuk mengambil posisi seolah-olah saya berada si samping penulis Injil Lukas untuk mencoba mengetahui makna dan pesan apa yang hendak disampaikan oleh penulis, dengan memperhatikan adegan, pemilihan kata-kata kunci (key words), komposisi, serta memperhatikan latar belakang historis ketika perikop itu ditulis dan siapa kira-kira yang menjadi audiensi aslinya. Dengan segala keterbatasan, mudah-mudahan tulisan ini tetap dapat dinikmati untuk menjadi berkat bagi kita dan kemuliaan bagi-Nya. Amin.
 
II.
Kutipan Ayat Lengkap Lukas 7:1-10
 
Lukas 7:1-10
 
  1. Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
     
  2. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
     
  3. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
     
  4. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong,
     
  5. sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami”.
     
  6. Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
     
  7. sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
     
  8. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya”.
     
  9. Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”
     
  10. Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.
 
(Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2005.)
 
III.
Analisis Perikop (Adegan, Makna, dan Interpretasi)
 
Untuk menemukan makna asli, kita mulai dengan menganalisis perikop dengan mengelompokkan ayat-ayat menjadi beberapa adegan (bayangkan sebagai layar bioskop, dan kita sebagai penontonnya). Dari setiap adegan, kita menilai penggambaran suatu peristiwa (kita sebut “bingkai”) yaitu apakah peristiwa tersebut digambarkan luas (panorama) atau sempit (close up). Kemudian kita menilai tempo berjalannya peristiwa, apakah digambarkan secara lambat atau cepat. Selanjutnya, kita berikan suatu topik berdasar fokus dari ayat tersebut dan menentukan pola alur dramatis atau Plot (apakah menunjuk suatu problem, aksi menanjak, titik balik, aksi menurun, dan resolusi) dengan alasannya, dan akhirnya kita menentukan maksud dan pesan penulis dalam menuliskan ayat ini kepada audiensi aslinya dengan analisis kata-kata kunci dan interpretasinya.
 
Untuk perikop Luk. 7:1-10, kita dapat menganalisis perikop sebagai berikut:
 
Adegan 1:
 
(ayat 1) Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
 
Dalam adegan pertama ini, penulis Injil Lukas (selanjutnya kita sebut Lukas saja), menggambarkan adegan dalam bingkai yang luas serta tempo adegan yang relatif cepat, dengan maksud memberikan setting awal pada audiensi. Dengan memperhatikan fokus dari ayat, kita dapat memberikan topik “Hamba Perwira yang Sakit.” Lukas menjadikan ayat-ayat ini sebagai alur dramatis “Problem” yang memerlukan resolusi yang akan dieksplorasi pada ayat-ayat selanjutnya.
 
Kapernaum dalam bahasa Ibrani merupakan “Desa milik Nahum,” terletak 4 km sebelah Barat muara Yordan pada danau Genesaret. Di sini, Yesus menjalankan fungsi sebagai Nabi (mengajar di Sinagoga, Mark. 1:21) dan sebagai Raja dengan melakukan inaugurasi dari era baru yaitu Kerajaan-Nya di mana ditandai dengan melakukan mujizat, yaitu penyembuhan seorang lumpuh (Markus 2:1).
 
(ayat 2) Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
 
Selanjutnya dinarasikan seorang perwira yang mungkin prajurit Romawi yang bertugas untuk Herodes Antipas atau merupakan prajurit asing dalam tentara Herodes (Pett, hal. 210; Pett, Peter. Commentary On Luke’s Gospel. http://uk.geocities.com/petepartington/. Downloaded on April, 1st 2009). Bagaimanapun juga ia bukan seorang Yahudi, dan juga bukan proselit (orang bukan Yahudi yang masuk agama Yahudi), namun ia “seorang yang saleh serta seisi rumahnya takut akan Allah, seperti Kornelius pada Kis. 10:1-2” (Boland, h. 164; Boland, B. J., P. S. Naipospos. Tafsiran Alkitab Injil Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003). Pada ayat ini, Lukas menonjolkan karakter dari Centurion, yang mengasihi hambanya, yang sedang sakit keras dan hampir mati.
 
Adegan 2:
 
(ayat 3) Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
 
Bingkai dan tempo adegan tidak berubah dari adegan 1, adegan ini dapat diberikan topik: Perkataan Para Tua-tua pada Yesus mengenai perwira. Merupakan alur dramatis yang menunjukkan penanjakan, dari problema yang telah diangkat Lukas dalam adegan sebelumnya. Melalui ayat ini, Lukas mempersiapkan audiensinya untuk masuk kepada Titik Balik atau klimaks.
 
“Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus...”
 
Kata yang digunakan untuk “mendengar” adalah “akouo” (verb), dan memiliki beberapa nuansa arti. Di antaranya, yang mendekati adalah “learning hearing” yaitu menerima berita atau informasi mengenai sesuatu (to learn about). Misalnya ketika Yesus mendengar berita kematian Yohanes Pembabtis (Mat. 14:13). Yang lain adalah “obedient hearing” yaitu memberi perhatian penuh untuk menjadi taat. Misalnya pada Mat. 17:5. Ada kemungkinan perwira ini pernah mendengar (learning hearing) tentang Yesus dan segala pengajaran serta mujizat-Nya sehingga menimbulkan benih ketaatan (obedient hearing). Mungkin ia mendengar dari para tua-tua Yahudi sahabatnya atau mungkin dari hambanya yang sedang sakit. Dilandasi kasih kepada hambanya dan benih iman, maka ia meminta para tua-tua (elders) untuk meminta Yesus datang dan menyembuhkan hambanya.
 
Perwira ini adalah seorang yang rendah hati. Dia tidak memerintahkan prajuritnya untuk membawa Yesus kepadanya (sesuatu yang sebenarnya bisa dia lakukan), tidak juga ia datang untuk menunjukkan pengaruhnya sebagai warga Roma. Dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar daripada Roma. Dan dia, sebagai Non Yahudi (gentile), seorang nabi Yahudi tidak akan mau memasuki rumahnya. Jadi dia memilih untuk mendekati beberapa tua-tua dari sinagoge yang telah ia dirikan untuk mereka, dan meminta mereka untuk mewakilinya. Para tua-tua mau melakukannya, ini merupakan indikasi bahwa orang-orang Yahudi mau bersikap baik terhadap gentile yang menunjukkan simpati kepada Yudaisme (Pett, hal. 211).
 
Adegan 3:
 
(ayat 4) Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,...
 
Bingkai dan tempo adegan tidak berubah dari adegan 2, adegan ini memiliki topik yang sama dengan adegan sebelumnya, yaitu: Perkataan para tua-tua pada Yesus mengenai perwira. Merupakan alur dramatis yang menunjukkan penanjakan, dari problema yang telah diangkat Lukas dalam adegan sebelumnya. Melalui ayat ini, Lukas masih mempersiapkan audiensinya untuk masuk kepada Titik Balik atau klimaks.
 
“...mereka meminta pertolongan-Nya,...”
 
Adegan ini memperlihatkan para tua-tua datang kepada Yesus, dan “meminta pertolongan-Nya” (begged ... earnestly), di mana Lukas menggunakan kata “parakaleo” (verb) yang dapat diartikan “memohon,” “meminta,” “berseru,” ditambah oleh “spoudaiwv” (adverb) yang dapat diartikan dengan “sekuat tenaga” atau “dengan rajin.” Lukas ingin menunjukkan betapa kasih yang dipraktikkan oleh perwira kepada kaum Yahudi membuat para tua-tua mengasihi dan mau berkorban untuk meminta pada Yesus.
 
“Ia layak Engkau tolong,...”
 
Para tua-tua berkata: “Ia layak Engkau tolong,...,” Lukas memilih kata “axios” (adjective) untuk “deserving (layak)” yang menggambarkan penilaian para tua-tua Yahudi terhadap perwira tersebut yang layak untuk menerima pertolongan Yesus. Mengapa? Karena perwira tersebut mengasihi bangsa Yahudi melalui perbuatan-perbuatan baiknya.
 
(ayat 5) “...sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami”.
 
“...sebab ia mengasihi bangsa kita...”
 
Lukas memilih kata “agapaw” atau “agapao” (verb) atau “to love” untuk kata “mengasihi.” Dalam Yunani sekular sebelum masa Kristus, kata ini tidak memiliki arti yang dalam, dan sering digunakan bersamaan dengan kata “eros” (sexual love) dan “phileo” (istilah umum untuk “love”). Penulis Alkitab mengambil dan menggunakan kata “agapaw” untuk mendeskripsikan berbagai bentuk cinta manusia (misalnya suami dengan istri, pada Efesus 5:25, 28, 33) dan yang terpenting, makna bahwa Kasih Allah yang sesungguhnya tidak layak diterima oleh orang berdosa. Dengan kata lain, makna yang dalam ini tidak berasal dari Yunani, melainkan dari pengertian Biblikal terhadap kasih Allah (Lihat 1 Yoh 4:9-10; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 3:1,6; Rom. 5:8).
 
“...dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.”
 
“menanggung pembangunan (built),” memiliki kata Yunani “oikodomeo” (verb). Sering digunakan dalam arti normal yaitu membangun struktur fisik seperti rumah (Mat. 7:24-26), menara pengawas (21:33), kuburan (23:29), kota (Luk. 4:29), sinagoge (7:5) dan lain-lain. Namun dapat juga digunakan pada karya Kristus “rebuilding” tubuh-Nya sendiri melalui kebangkitan (Yoh 2:19-22) dan membangun gereja-Nya (Mat. 16:18). Secara arti jasmani, perwira membangun sinagoge, namun secara metafora, ada kemungkinan Lukas ingin menunjukkan, bahwa sebenarnya yang dibangun adalah kebijaksanaan (wisdom), afeksi, kasih karunia, kebajikan, kesucian, dan berkat-berkat melalui kasih agape perwira tersebut kepada orang-orang yang menjadi musuhnya.
 
Adegan 4:
 
(ayat 6) Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
 
Lukas akhirnya membawa kita pada klimaks atau alur dramatis “Titik Balik.” Ini dicirikan dengan bingkai yang dipersempit, di mana penggambaran adegan sangat fokus pada perkataan dari perwira Romawi kepada Yesus (yang disampaikan oleh sahabat-sahabat perwira Romawi). Tempo-pun berjalan lebih lambat, karena Lukas ingin audiensinya membaca dengan perhatian lebih dan mencerna setiap kata demi kata agar tidak kehilangan maknanya sedikitpun. Besar kemungkinan, pada ayat 6 – 8, menjadi jantung makna asli dari perikop. Adegan ini dapat kita beri topik “Perkataan Perwira Romawi pada Yesus”.
 
Tuan, janganlah bersusah-susah...”
 
Lukas menggunakan kata “kurios” (noun) untuk kata “Tuan” (“master,” “lord,” “sir” sebagaimana juga “Lord”). Kata ini paling banyak muncul dalam 2 kitab yang ditulis Lukas (Injil Lukas dan Kisah Para Rasul) yaitu 210 kali, serta Surat-surat Paulus (275 kali). Mungkin karena Lukas dan Rasul Paulus menulis teks untuk audiensi dengan budaya Yunani yang dominan. Dalam pengertian sekular, “kurios” dalam Perjanjian Baru sering diterjemahkan sebagai tuan atas budak (Mat. 15:27; Gal. 4:1) atau majikan (Luk. 16:3, 5). Boland (hal. 58) memberikan komentar bahwa gelar “kurios” di luar Alkitab, dipakai untuk memuliakan atau mendewakan para kaisar atau penguasa-penguasa lainnya. Kita bisa menduga Lukas menggunakan kata ini untuk mengkonfirmasi ulang kepada audiensi aslinya saat itu bahwa gelar Yesus ini menunjuk kepada dua pihak: kepada orang Yahudi (sebab: “kurios” adalah Mesias) dan kepada dunia bangsa-bangsa (sebab dengan demikian dimaklumkan atau diproklamirkan bahwa bukan kaisar atau penguasa lain yang jadi “kurios” dan juruselamat dunia, melainkan Yesus Kristus!). Perwira tersebut secara eksplisit menempatkan dirinya tunduk kepada otoritas Yesus, di mana menjadi mengherankan karena ia sebenarnya dari golongan penjajah dan Yesus dari golongan bangsa yang dijajah olehnya!
 
“...sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;...”
 
Lukas menggunakan kata “ou” (negative adverb) untuk “tidak” dan “hikanos” (adjective) untuk “layak”.
 
“ou” adalah kata yang biasanya dipakai dalam pertanyaan yang mengharapkan jawaban afirmatif, bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban informatif atau direktif. “Hikanos” dapat berarti sesuatu yang cukup, memadai, mampu, atau cukup besar dalam hal kuantitas dan kualitas. Dengan denotasi yang digunakan, Lukas ingin menunjukkan bahwa pernyataan perwira adalah suatu pengakuan tanpa keraguan sedikitpun bahwa dirinya tidak layak di hadapan Yesus. Boland menafsirkan (h. 165) bahwa ini menunjukkan kerendahan hati perwira terhadap Yesus yang mana kerendahan hati juga merupakan bagian dari iman! Selain itu, perwira tersebut menghargai pendapat-pendapat orang Yahudi sehingga ia tidak menginginkan Yesus masuk ke rumahnya sehingga Yesus tidak usah “menajiskan diri-Nya” dengan memasuki rumah seorang yang bukan Yahudi. Pett (hal. 211) menafsirkan bahwa perwira tersebut merasa tidak layak sehingga ia menyuruh sahabat-sahabatnya untuk meminta Yesus untuk tidak datang.
 
(ayat 7) sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
 
“...aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu...”
 
Pada frase “tidak layak” terdapat suatu permainan kata yang menarik. Jika pada ayat 6, perwira berkata bahwa ia tidak layak (hikanos) menerima Yesus di rumahnya, maka pada ayat 7, ia merasa tidak layak untuk datang kepada-Nya. Kata yang digunakan pada ayat ini untuk kata “layak” adalah “axioo” (verb). Sangat menarik, bahwa tua-tua Yahudi pada ayat 4 menggunakan kata yang sama, namun dalam bentuk berbeda, yaitu “axios” (adjective) untuk menunjukkan bahwa perwira Romawi (dinilai, dianggap) layak menerima kedatangan dan mendapatkan pertolongan Yesus. Sebaliknya, perwira Romawi merasa tidak layak “axioo” (verb) untuk datang kepada-Nya!
 
“...katakan saja sepatah kata...”.
 
Lukas memilih kata “Logos” (noun) untuk “kata (word)” yang merupakan kata yang sama digunakan pada Yoh. 1:1. Tidak diragukan lagi, pemakaian ini untuk menunjuk pada Yesus, Sang Firman (Word). Lukas menggunakan kata yang sama pada Luk. 5:1, ketika Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, dan orang banyak mengerumuni Dia untuk mendengarkan firman Allah. Secara eksplisit. Lukas ingin menekankan pada audiensi aslinya, bahwa Yesus sebagai Anak Allah dan Nabi yang menyatakan firman Allah dan sekaligus Sang Firman itu sendiri. Selain itu, perwira tersebut digambarkan haus akan firman dan percaya bahwa firman dari Yesus adalah kunci dari resolusi terhadap masalahnya! Boland (hal. 165), memberi komentar bahwa keyakinan perwira itu adalah kepercayaan yang sungguh, yakni percaya kepada kuasa perkataan yang atas nama Tuhan Allah disampaikan kepada kita dengan perantaraan Yesus Kristus. Dan perkataan itu berkuasa, juga dari jauh. Kepercayaan semacam itu sebenarnya boleh diharapkan terdapat di kalangan kaum Yahudi atau umat Israel (perhatikan pada ayat 9, di mana Yesus membandingkan iman perwira dengan orang Israel).
 
“...maka hambaku itu akan sembuh”.
 
Dengan kesinambungan yang harmonis, Lukas terus membawa audiensinya untuk menunjukkan bahwa hanya Yesus-lah yang dapat memberikan keselamatan. Ini ditandai dengan pemilihan kata “iaomai” (verb) untuk kata “sembuh” (heal), yang berarti kesembuhan secara fisik, yang dapat juga diartikan sebagai restorasi dari keadaan berdosa dan terkutuk. Secara implisit, Lukas menyampaikan kepada audiensinya bahwa keselamatan hanya dianugerahkan oleh Allah dengan mendengarkan firman-Nya dan percaya pada-Nya!
 
(ayat 8) “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya”.
 
Ayat ini menegaskan, betapa perwira tersebut tunduk kepada otoritas Yesus. Ada pergeseran di mana pada awal dikisahkan perwira sangat mengasihi hambanya yang sakit keras dan mau mati, sehingga ia mencari Yesus untuk minta supaya hambanya disembuhkan, bergeser menjadi penundukan otoritas secara total perwira tersebut kepada otoritas Yesus. Sebagaimana dalam kemiliteran, seorang perwira tunduk kepada atasannya, perwira tersebut tunduk kepada Yesus yang memiliki otoritas di atas segala otoritas penguasa-penguasa dunia!
 
(ayat 9) Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”
 
Walau masih dalam satu adegan, Lukas tiba-tiba melakukan “zoom-out” atau menarik fokus bingkai sehingga berubah menjadi lebih luas (setelah sebelumnya fokus pada perkataan perwira Romawi). Lukas dengan cepat menyuguhkan adegan di mana Yesus berbicara pada kumpulan orang banyak (crowd) yang mengelilinginya dan menyatakan kekaguman-Nya pada iman perwira kafir tersebut. Tempo berjalan menjadi sedikit lebih cepat, dan merupakan antiklimaks terhadap problem di awal, menjadikan alur dramatis “aksi menurun.” Dengan melihat fokus ayat, kita dapat memberi topik “Perkataan Yesus pada Orang Banyak mengenai Perwira Romawi”.
 
“Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia...”.
 
Lukas menggunakan “thaumazo” (verb) untuk kata “heran” (amazed, wonder, marvel) untuk menggambarkan kekaguman Yesus terhadap iman yang luar biasa dari perwira. Pett (hal. 212) menyatakan bahwa perwira ini memiliki pandangan yang melampui pemahaman umum mengenai Allah dan mengenai Yesus, suatu hal yang tidak Yesus jumpai sebelumnya, dan memiliki iman yang sejati, sehingga sesungguhnya perwira ini percaya pada Yesus secara implisit. Alkitab mencatat bahwa hanya dua kali Yesus “heran,” yaitu pada iman dari perwira Romawi dan ketidakpercayaan orang-orang di Nazareth (Mark. 6:6).
 
“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai,...”.
 
Lukas menggunakan kata “pistis” (noun) untuk “iman,” yang dalam Perjanjian Baru selalu dikaitkan dengan iman kepada Allah (Mark. 11:2; 1 Tes. 1:8; 1 Pet 1:21; Ibr. 6:1), kepada Yesus (Kis. 3:16; 20:21; 24:24; Gal. 3:26; Ef. 1:15; Kol. 1:4; 1 Tim. 3:13) atau kepada objek yang dipahami sebagai Yesus Kristus (Rom. 1:8; 1 Kor. 2:5; 15:14, 17). Dalam Injil, Yesus menyembuhkan orang sebagai suatu afirmasi pada imannya dan tanda fisik dari kesembuhan rohani yang mereka alami. Dalam nuansa yang lain, memiliki iman dapat berarti ekuivalen dengan menjadi seorang Kristen. Terutama dalam Surat-surat Paulus, misalnya pada Gal. 3:7: “...mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.” Audiensi asli Injil Lukas dengan mudah dan gamblang menangkap maksud Lukas, bahwa dengan afirmasi dari Yesus secara langsung, perwira Romawi ini telah menjadi bagian “anak-anak Abraham!”
 
Adegan 5:
 
(ayat 10) Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.
 
Pada adegan terakhir dari perikop, bingkai dan tempo kembali seperti adegan 1. Problem sudah diselesaikan, ditandai dengan hamba yang telah sehat kembali, sehingga kita dapat identifikasi ayat ini sebagai alur dramatis “Resolusi.” Dengan mudah kita dapat berikan topik “Hamba Perwira Disembuhkan”.
 
“...hamba itu telah sehat kembali”.
 
Lukas menggunakan kata “hugiaino” (verb) untuk kata “sehat” yang memiliki arti bahwa hamba tersebut telah disembuhkan dan sehat secara holistik atau “the whole.” Pada bagian lain dari Injil Lukas, Yesus menggunakan pengertian secara fisik untuk menunjukkan pengertian spiritual, dengan berkata: “...bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Luk. 5:31).
 
Pett (hal. 212-213) memberi catatan bahwa melalui melalui perikop Lukas 7:1-10, Lukas secara tegas hendak membuang paradigma ketidaklayakan dan ketidakberhargaan non Yahudi (gentiles). Makna yang hendak disampaikan kepada pembaca, bahwa Yesus tidak menghalangi dan mau meresponi pada permohonan gentiles. Perkataan-Nya juga ditujukan untuk kaum Non Yahudi.
 
Setelah kita melakukan analisis perikop di atas, kita dapat membuat pola khiastik berdasarkan pembagian topik dengan tujuan menunjukkan lebih jelas jantung dari makna asli perikop ini yang terkandung pada ayat 6 – 8 yang merupakan perkataan perwira pada Yesus, sebagai berikut:
 
 
A -
Hamba Perwira yang Sakit (ayat 1 dan 2): Problem
 
 
B -
Perkataan Para Tua-tua pada Yesus mengenai Perwira (ayat 3 – 5): Aksi Menanjak
 
 
C -
Perkataan Perwira pada Yesus (ayat 6 – 8): Titik Balik
 
 
B1 -
Perkataan Yesus pada Orang Banyak mengenai Perwira (ayat 9): Aksi Menurun
 
 
A1 -
Hamba Perwira Disembuhkan (ayat 10): Resolusi
 
IV.
Analisis Eskternal
 
Pada bagian ini, kita mencoba untuk melakukan analisis eksternal mengingat bahwa perikop yang kita analisis merupakan bagian dari Kitab Injil yang memiliki konteks sejarah, meliputi waktu penulisan, penulis, editor, tujuan, audiensi asli, dan kemungkinan komposisi final.
 
Injil Lukas diperkirakan ditulis pada tahun 57 – 60 M (walau ada beberapa ahli menyatakan pada 70 M) oleh Lukas yang merupakan satu-satunya penulis Injil yang bukan orang Yahudi. Melihat estimasi waktu penulisan, kita dapat membayangkan, saat Injil ini ditulis, kisah tentang riwayat hidup Yesus telah tersebar luas dan komunitas Kristen (yang dianggap “sempalan” dari Yudaisme) baru terbentuk di berbagai tempat dengan anggota-anggotanya yang Yahudi maupun Non Yahudi (gentiles). Situasi ini menimbulkan tantangan, sekaligus problema, salah satunya dalam penegakkan ajaran yang benar serta hubungan antara sesama anggota komunitas Kristen dari berbagai suku bangsa dan latar belakang.
 
Lukas memiliki hubungan dengan Rasul Paulus, karena pada setiap kesempatan dikatakan ia bersama Paulus (Kol. 4:14; Flm. 24; 2 Tim 4:11). Ada kemungkinan juga Lukas bergabung dengan Paulus pada perjalanan terakhirnya ke Yerusalem, dan kemudian terus berangkat ke Roma sendirian. Injil Lukas kemungkinan tidak memiliki editor dalam pembentukan komposisi finalnya. Lukas diperkirakan mengumpulkan sebagian bahan bagi Injilnya dari jemaat di Kaisarea, dan naskah terakhirnya mungkin ditulis di Roma (Drane, h. 212; Drane, John. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Histori – Theologis, diterjemahkan oleh P. G.Katoppo. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2001).
 
Tujuan penulisan Injil ini tercantum dalam Luk. 4:1-4 yaitu Lukas menulis pada seseorang yang bernama Teofilus, “supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” Lukas menulis Injilnya untuk menolong Teofilus dan orang percaya lainnya (yang kemungkinan hidup dalam budaya Yunani yang dominan) agar memperoleh pengertian yang lebih baik tentang iman Kristen. Tetapi penulis berpendapat cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan membeberkan sebanyak mungkin tentang kehidupan dan pengajaran Yesus sendiri. Ia menyadari laporannya kepada Teofilus akan mempunyai bobot jika secara kokoh didasarkan atas fakta-fakta sejarah (Drane, h. 213). Banyak buku tafsiran berbobot, maupun kamus theologi yang memberikan pandangan mengenai tujuan penulisan Injil ini, namun saya cukup membatasi sampai di sini saja.
 
V.
Makna Asli dan Interpretasi Theologis
 
Makna Asli sekaligus Interpretasi Theologis sungguh sangat limpah dari perikop ini, namun saya mencoba membatasinya, dengan membagi menjadi dua, yaitu:
 
1.
Keselamatan tidak terdapat pada Hukum Taurat atau Yudaisme, melainkan melalui iman percaya pada Yesus Kristus yang telah mengasihi lebih dahulu orang berdosa.
 
Dari permulaan perikop, Lukas menggambarkan setting Kapernaum, di mana Lukas ingin menyampaikan kepada audiensinya, bahwa di kota ini Yesus menjalankan fungsi sebagai Nabi, sebagai Raja, melakukan karya utama-Nya, sehingga disebut “Kota-Nya” (Mat. 9:9), tetapi ironisnya, Kapernaum juga disebut kota yang tidak percaya sehingga dihukum lebih berat dari pada Sodom (Mat. 11:23). Lukas ingin mengkontraskan pandangan Kapernaum yang membuat Allah murka karena menolak Yesus, dengan pandangan terhadap iman perwira Romawi yang mengagumkan Tuhan (Ayat 9).
 
Selain itu Lukas juga menunjukkan kepada audiensinya, betapa tua-tua Yahudi mewakili esensi religi Yudaisme yang mengasihi orang yang berbuat baik pada mereka, termasuk penjajah sekalipun. Sementara Yesus, yang adalah Yahudi keturunan Raja Daud, yang mengajarkan firman Allah, dan melaksanakan rencana keselamatan Allah, mereka tolak, mereka hina, bahkan mereka salibkan hingga mati! Yudaisme mengasihi dan menghormati penjajah yang membangun sinagoge, secara ironis menolak dan menyalibkan Yesus yang mendirikan Kerajaan Allah!
 
Lukas hendak menggambarkan tua-tua Yahudi masih “hidup” di era lama, sedangkan Yesus Kristus telah datang dan mendirikan Kerajaan Allah (era baru) yang mana ditolak oleh orang-orang Yahudi, namun disambut oleh perwira kafir! Dengan kuasa Sang Firman, terjadi perubahan pada diri perwira yang disimbolkan oleh hamba perwira. Lukas menggunakan gambaran hamba yang sakit untuk menunjukkan hidup yang lama dari perwira, yang walau sudah melakukan perbuatan baik (dan dianggap layak oleh tua-tua Yahudi), ia tetap tidak dapat berbuat sesuatu apapun terhadapnya. Ketika Yesus berkata-kata kepada perwira tersebut, maka hamba itu sembuh, melambangkan hidup yang baru dari perwira Romawi.
 
Ada kemungkinan, Lukas juga ingin mengkoreksi ajaran yang timbul di antara audiensinya, yang mengajarkan walau sudah menjadi Kristen, tetap dituntut untuk disunat dan taat terhadap hukum Taurat sebagai syarat untuk menjadi warga Kerajaan Allah. Tua-tua Yahudi digunakan Lukas untuk mewakili ajaran yang dipengaruhi Yudaisme yang menyimpangkan firman Allah dengan menganggap untuk memperoleh keselamatan, tetap harus mentaati Hukum Musa atau Hukum Taurat, atau perbuatan baik (good deeds) (sebagaimana pandangan mereka terhadap perwira Romawi yang patut ditolong Yesus karena jasa-jasanya dalam membangun sinagoge), sehingga melaluinya, mereka merasa layak mendapatkan perkenanan Tuhan. Sebaliknya, perwira Romawi mewakili Kekristenan Sejati, di mana dengan segala perbuatan baik yang telah ia lakukan pada kaum Yahudi, ia tetap merasa tidak layak di hadapan Tuhan, sehingga ia mengerti dan percaya bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh berdasar kasih karunia Allah melalui iman saja (disimbolkan oleh kerendahan hati yang merasa diri tidak layak). Ini sejalan dengan afirmasi Yesus yang memuji perwira bukan karena segala perbuatan baik yang telah dilakukan kepada kaum Yahudi, melainkan karena iman yang dimiliki perwira tersebut.
 
Paralel dengan Surat Paulus kepada jemaat Galatia, Paulus sangat keras menentang para penginjil Yahudi yang mengajarkan bahwa setiap orang yang ingin menjadi warga kerajaan mesianik harus menjadi anggota keluarga Abraham melalui penyunatan dan ketaatan terhadap hukum Taurat! (Drane, hal. 324). Bukan suatu kebetulan, kesamaan pesan teologis Lukas dengan Paulus, terjadi karena keduanya adalah rekan sepelayanan, serta waktu penulisan Injil Lukas dan Surat Galatia yang bersinggungan (Injil Lukas sekitar 57 – 60 M, dan Surat Galatia sekitar 56 – 58 M). Lukas, bersama-sama dengan Paulus, telah memainkan peran sebagai tiang penyangga kemurnian ajaran gereja yang baru saja “lahir”.
 
Keselamatan terjadi karena Allah lebih dahulu mengasihi orang berdosa. Untuk menyampaikan makna ini, Lukas menggunakan simbol yaitu perwira Romawi telah mengasihi lebih dahulu orang-orang Yahudi, yang seharusnya dipandang sebagai musuh, sehingga tua-tua Yahudi kemudian mengasihi perwira Romawi tersebut, demikian juga Kristus telah mengasihi lebih dahulu orang berdosa, dengan mati untuk menebus umat-Nya sehingga umat tebusan-Nya bisa mengasihi Kristus.
 
2.
Iman perwira Romawi sebagai benih gereja yang terdiri atas segala suku bangsa.
 
Tujuan Injil Lukas adalah menunjukkan sejarah perkembangan Kekristenan, dengan menjadikan Yudaisme, kisah Yesus Kristus, dan perbuatan para Rasul sebagai dasar untuk fondasi dan perkembangan Kekristenan yang kemudian dikisahkan secara lebih dinamis pada Kisah Para Rasul. Dengan narasi perwira Romawi, Lukas ingin menunjukkan kepada audiensi aslinya pada saat itu, bahwa sebagaimana pengakuan Petrus terhadap Yesus Kristus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20; Mrk. 8:27-30; Luk. 9:18-21), adalah dasar dari Gereja Tuhan, maka iman dari perwira Romawi adalah respons yang paling tepat terhadap undangan Injil bagi setiap orang untuk menjadi benih dari gereja-Nya. Yaitu merasa diri tidak layak dan mau datang, mendengar firman-Nya, dan taat!
 
Bukan suatu kebetulan, Lukas mengisahkan perikop ini setelah perumpamaan dua orang yang membangun rumah yaitu orang yang membangun rumah di atas dasar yang kukuh dan orang yang membangun rumah di atas tanah tanpa dasar. Orang yang membangun rumah dengan menggali dalam-dalam dan meletakkannya di atas batu adalah contoh orang yang mendengarkan perkataan-Nya dan melakukannya. Sedang orang yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ibarat orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar yang ketika banjir melanda, maka segera rubuh dengan kerusakan yang hebat. Perwira Romawi adalah orang yang mendengar dan melakukan firman Tuhan sedang orang-orang Yahudi mendengar namun tidak melakukannya.
 
Lukas ingin menekankan pada audiensinya yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Non Yahudi dengan budaya Yunani yang dominan, bahwa keselamatan adalah bagi sungguh segala bangsa, bahkan gentile digambarkan memiliki iman yang “mengagumkan” Yesus sendiri, sehingga Kristen Non Yahudi (gentiles) tidak perlu merasa menjadi warga negara kelas 2 dalam komunitas Kristen Yahudi, sebagaimana Yesus ditampilkan secara khas sebagai sahabat orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat (Luk. 9:51-56; 10:25-37; 17:11-19) (Drane, hal. 215).
 
Dalam Kisah Para Rasul, Lukas terus mengembangkan pesan ini secara lebih eksplisit dan dinamis, termasuk menggunakan tokoh perwira yang saleh, yaitu Kornelius, yang mengubah paradigma Petrus terhadap konsep kekudusan dan keselamatan terhadap bangsa-bangsa lain (Kis. 10:1-48). Lukas, melalui dua karyanya, telah meletakkan fondasi yang membentuk hubungan antara orang Kristen Yahudi dengan orang Kristen Non Yahudi sebagai satu Tubuh Kristus.
 
VI.
Aplikasi Komunal dan Personal
 
“He Leave Us Stories.” Kalimat ini saya kutip dari Yadi S. Lima, seorang hamba Tuhan yang merupakan modifikasi dari judul sebuah buku “He Gave Us Stories” (karangan Richard L. Pratt, Jr.). Allah telah mewahyukan firman-Nya pada Lukas untuk menjadi saluran berkat-Nya bagi kita dengan menulis Injil Lukas yang esensinya adalah “story” Allah atau “HIS-story” untuk kita. Apa yang ingin Allah lakukan bagi kita? Kita memang hidup di era Alkitab sebagai kanon sudah lengkap dan cukup. Tapi tidak berarti story Allah selesai. Ia ingin kita melanjutkan “story” Allah dengan menghidupinya secara komunal maupun personal.
 
1.
Secara Komunal
 
Gereja sebagai wadah komunal tubuh Kristus dapat menghidupi “story” Allah dengan melanjutkan pesan Injil Lukas, bahwa keselamatan hanya melalui anugerah Allah melalui iman saja, yang diperuntukkan bagi segala suku bangsa. Injil menjadi pemersatu segala perbedaan (unity in diversity). Theology yang dibangun oleh gereja harus dibangun dengan tujuan menjangkau segala strata masyarakat dari berbagai suku bangsa dan golongan melalui kreasi budaya (culture) dan penggunaan berbagai teknologi dengan tetap mempertahankan kemurnian ajaran dan esensi pesan Injil. Sebagaimana Tuhan Yesus mengubah kerohanian perwira Romawi, maka setiap aksi gereja harus dilandasi semangat untuk mengubah manusia dengan firman Allah, sehingga manusia yang sudah diubahkan dapat mengubah lingkungannya maupun masyarakatnya.
 
Gereja Lokal dapat memulai dengan lebih aktif menjangkau keluar (outward) masyarakat yang paling dekat dengannya, melalui program dan proyek yang disesuaikan dengan natur dan dinamika komunitas yang akan dijangkau. Uraian yang saya ajukan memang masih abstrak, namun diharapkan dapat menjadi starting point atau trigger yang menjadi pergumulan untuk menemukan aplikasi yang lebih konkrit.
 
2.
Secara Personal
 
a.
Menjadi Pendengar (pembaca) Firman
 
Iman timbul dari mendengar firman Tuhan, bukan mujizat. Bangsa Israel selama 40 tahun melihat dan mengalami mujizat-mujizat Allah di padang gurun sebelum memasuki tanah Kanaan, namun banyak yang Tuhan harus binasakan karena pemberontakan akibat ketidak percayaan mereka. Augustinus, bapa Gereja yang menginspirasi teolog-teolog besar, mengalami pertobatan setelah membaca Roma 13:13-14. Setelah bertobat, ia menghasilkan karya-karya theologi yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini. Martin Luther yang mencetuskan reformasi Kristen, menganalogikan bahwa pintu gerbang surga telah dibuka dan ia masuk ke dalamnya setelah menemukan makna dari “orang benar hidup oleh iman” (Roma 1:17b) melalui pembacaan dan permenungan yang mendalam akan firman Tuhan. Firman Allah yang diberitakan melalui khotbah atau melalui pembacaan dan permenungan yang mendalam adalah dasar untuk membangun iman yang sejati. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Roma: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).
 
b.
Menjadi Pelaku Firman
 
Perwira tersebut tidak hanya menjadi pendengar firman yang ia dengar (mungkin) dari tua-tua dan atau hamba yang dikasihinya. Ia menyadari walau ia adalah kepala 100 pasukan dari kaum penjajah yang berkuasa, namun ia merasa tidak layak menerima Yesus di rumahnya, bahkan untuk menemuiNya. Ia melakukan firman dengan mempercayakan dirinya dan hambanya sepenuhnya bersandar kepada firman yang keluar dari mulut Tuhan Yesus, walau mungkin ia belum pernah mengalami mujizat. “Therefore I did not even think myself worthy to come to You. But say the word, and my servant will be healed” (Luke 7:7 – NKJV). “But say the word” menjadi deklarasi iman perwira tersebut kepada firman Tuhan Yesus. Menjadi pendengar firman saja tidak cukup. Kita juga harus menjadi pelaku firman.
 
Salah satu aplikasi paling konkrit secara personal yaitu kita, dengan rendah hati, rela untuk memberitakan Injil kepada siapapun pribadi yang Tuhan percayakan untuk berelasi dengan kita. Dengan cara yang disesuaikan dengan waktu, tempat, dan latar belakang budaya dari orang yang kita beritakan Injil, kita dapat menceritakan kisah-Nya (HIS-story) yang diturunkan melalui Lukas kepada kita, sekaligus memelihara kemurnian ajaran gereja. Kita nikmati dari kisah Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, di mana umat Allah yang memberitakan Injil akan selalu mendapat penyertaan dan kuasa dari Allah Tritunggal, maka kita percaya, penyertaan dan kuasa yang sama akan kita peroleh dan nikmati dengan limpah bila kita hidupi kisah-Nya dengan setia.
 
c.
Teladan bagi Kepemimpinan
 
Teladan kepemimpinan kerap merujuk pada Musa, Yosua, Daud, tokoh-tokoh Alkitab lainnya. Namun kita dapat menarik permata kepemimpinan dari si perwira Romawi. Hambanya adalah budak, kemungkinan Yahudi, dan perwira tersebut sangat berkuasa. Namun relasi perwira dan hamba tersebut bukan relasi transaksional. Sebenarnya, ia bisa mengganti hamba yang sakit keras dan hampir mati dengan hambanya yang lain, namun alih-alih demikian, ia malah merendahkan dirinya untuk mencari pertolongan kepada Yesus. Hambanya disembuhkan dan perwira Romawi mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang memberinya keselamatan.
 
Bayangkan seorang General Manager di suatu perusahaan yang cukup besar, dicintai oleh bawahannya dan memiliki kolega-kolega sesama General Manager di perusahaan besar lain. Ia memiliki seorang pembantu rumah tangga yang suatu hari sedang sakit sangat keras dan bahkan hampir mati. Namun ia tidak memberhentikan pembantu itu dan mengirim pulang ke kampung halaman, kemudian mencari pembantu rumah tangga yang baru, melainkan ia meminta bawahannya untuk mencari seorang dokter yang sangat terkenal, dengan jadwal padat dan sangat mahal tarifnya untuk mengobati pembantunya tersebut! Ia bahkan meminta kolega-koleganya untuk mencarikan, kalau perlu ia sendiri yang mencari dan meminta pertolongan dokter! Analogi ini mungkin kurang bisa menggambarkan perwira yang mengasihi hambanya dengan sangat tepat, namun paling tidak memberikan gambaran peristiwa tersebut di masa kini.
 
Dalam Kisah-Nya, hubungan majikan dengan hamba tidak lagi merupakan hubungan transaksional, melainkan un-conditional. Berikut sedikit share pengalaman saya yang semoga memberikan inspirasi bagi pembaca dalam menghidupi Kisah-Nya.
 
Sebagai seorang karyawan dengan jabatan manager yang memiliki beberapa bawahan, saya menyadari sayapun bawahan dari atasan saya. Sebagai bawahan, kadang-kadang saya tidak menyukai atasan saya. Dulu, saya membicarakan keburukan (yang mungkin saja subjektif) dari atasan saya di “belakang”-nya. Kini, saya menyadari, gaya kepemimpinan saya, mungkin menyebabkan saya juga tidak disukai oleh bawahan saya, bahkan ketika itu dilandasi oleh semangat dan motivasi yang tulus untuk mengembangkan bawahan, sehingga ada kemungkinan bawahan saya membicarakan saya di “belakang” saya.
 
saya belajar dari perikop ini, bahwa peran saya sebagai manager, bukan hanya memastikan rencana-rencana kerja dapat dicapai dengan bantuan para bawahan saya, namun saya percaya dan berusaha untuk menggali dan mengembangkan potensi bawahan saya untuk membantu mereka memenuhi fulfillment sebagai “image of God” (yang telah jatuh ke dalam dosa, namun yang Tuhan telah restorasi), dengan cara menjadi guru atau mentor bagi bawahan saya.
 
Kita telah dipanggil Allah keluar dari dosa dan kematian untuk menghidupi Kisah-Nya dan itu dimulai ketika kita hanya dapat berkata: “...Tidak layak aku, Tuhan...katakan saja sepatah kata”.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Ronny JABS ]
Jemaat GRII Matraman