PENGALAMAN PENGLIHATAN
ATAU
PERJUMPAAN DENGAN TUHAN
_oOo_
 
 
Pendahuluan
 
Akhir-akhir ini kita begitu sering menyaksikan sebuah fenomena dimana banyak orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan yang mengklaim dirinya pernah menikmati pengalaman penglihatan atau perjumpaan dengan Tuhan serta pengalaman mengunjungi surga. Fenomena akan hal-hal ajaib dan di luar akal manusia, pada saat ini sedang melanda kekristenan. Dan seringkali mereka yang mengaku sebagai orang kristen begitu terpukau dengan fenomena tersebut. Pertanyaannya adalah apakah fenomena pengalaman-pengalaman itu benar-benar berasal dari Tuhan sehingga gereja pun harus menerima dan mempercayainya?
 
Dengan keprihatinan melihat fenomena ini, penulis bermaksud membahas apakah pengalaman penglihatan atau perjumpaan dengan Tuhan yang terjadi pada masa kini sama dengan apa yang dialami oleh para tokoh yang dicatat dalam Alkitab? Apakah pengalaman penglihatan atau perjumpaan dengan Tuhan dari beberapa tokoh Kristen yang diklaim sebagai wahyu Allah sesuai dengan pernyataan Allah di Alkitab?
 
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, pertama kita perlu melihat terlebih dahulu beberapa contoh dari para tokoh-tokoh di Alkitab yang pernah mengalami penglihatan dan perjumpaan dengan Tuhan. Kedua, kita akan melihat tujuan penglihatan dan perjumpaan tersebut itu terjadi dan membandingkan dengan fenomena yang ada.
 
Tokoh dalam Perjanjian Lama
 
Berikut contoh dari tokoh-tokoh di Perjanjian Lama yang pernah mengalami penglihatan atau perjumpaan dengan TUHAN, antara lain:
 
  1. Adam dan Hawa, mereka mengalami perjumpaan dengan TUHAN pada saat mereka berada di Taman Eden (Kej. 2 & 3)
     
  2. Nuh, ia mengalami perjumpaan dengan TUHAN ketika mendapat perintah TUHAN untuk mendirikan bahtera (Kej. 6).
     
  3. Musa, ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam pengalamannya melihat semak berduri yang terbakar oleh api, namun tidak hangus. Kita dapat melihat bahwa apa yang dialami Musa itu merupakan pernyataan Tuhan yang hendak mengutus Musa menjadi pemimpin umat Israel keluar dari perbudakan Mesir (Kel. 3-4). Penglihatan itu juga disertai tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang bertujuan untuk meneguhkan pengutusan Musa. Pemeliharaan Tuhan lewat pengalaman penglihatan masih dirasakan oleh umat-Nya selama masa perjalanan mereka di padang gurun menuju ke Tanah Perjanjian. Pemeliharaan-Nya di padang gurun berujung pada pemberian Taurat sebagai perjanjian Sinai. Mereka dipanggil untuk berpegang teguh pada Taurat Tuhan itu untuk menuntun mereka menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan dan mengalami berkat-Nya yang berkelimpahan.
     
  4. Daniel, ia mendapatkan pengalaman penglihatan yang tercatat pada Daniel 7-12. Penglihatan itu hendak menunjukkan kepada dirinya maupun bangsanya yang sedang berada dalam pembuangan bahwa Tuhan berdaulat atas semua ciptaan dan berkuasa mengatasi segala kehebatan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Daniel mendapatkan hikmat Tuhan melalui penglihatan tersebut untuk mengerti isi mimpi Nebukadnezar dan menafsirkannya dengan tepat (Dan. 2). Tujuan Allah memberikan mimpi itu kepada Raja Babel sejalan dengan tujuan penglihatan yang dialami Daniel. Pengalaman Daniel itu memperteguh imannya pada Tuhan yang melalui Taurat-Nya telah menyatakan diri sebagai Tuhan atas semua bangsa.
 
Tokoh di dalam Perjanjian Baru
 
  1. Petrus, ia mendapatkan penglihatan sebelum menginjili dan membaptis Kornelius (Kis. 10)
     
  2. Yohanes, ia mencatatkan pengalaman penglihatannya di kitab Wahyu yang menyatakan rencana dan kedaulatan TUHAN atas dunia ini.
     
  3. Paulus, ia mengalami perjumpaan dengan Kristus dan hal itu menjadi titik pertobatannya(Kis. 9).
 
Bagaimana Menyikapi Fenomena Itu
 
Dari pemaparan tentang pengalaman penglihatan atau perjumpaan dengan Tuhan dari beberapa tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di atas, kita bisa melihat bahwa pengalaman-pengalaman tersebut terjadi atas inisiatif Tuhan memimpin umat-Nya, menguatkan dan meneguhkan para hamba-Nya dalam pelayanan dan menyatakan kedaulatan atas semua hal.
 
Alkitab adalah wahyu Allah untuk memberi pedoman hidup umat Tuhan sepanjang zaman dalam mengikut Tuhan. Karena pewahyuan Allah itu sudah lengkap dan tidak muingkin salah, maka kita tidak memerlukan lagi petunjuk-petunjuk lain untuk mengerti kehendak-Nya. Alkitab sudah cukup bagi kita untuk memahami rencana Allah dan mengimani kedaulatan serta kebaikan-Nya atas umatnya.
 
Kesimpulan
 
Dengan menjadikan Alkitab sebagai standar satu-satunya untuk mengukur fenomena di sekeliling kita, maka setiap pengalaman penglihatan yang di klaim berbagai orang pada saat ini harus ditolak. Klaim wahyu baru itu harus ditolak karena mengingkari Alkitab sebagai wahyu yang sudah lengkap karena hal ini dapat membuka peluang untuk memasukkan unsur-unsur subjektif bahkan bukan tidak mungkin dapat ditunggangi Iblis.
 
Selamat Paskah 2009, Tuhan memberkati.
 
[ Bintang Vera Sihite ]
Persekutuan Studi Reformed